Kosovo Menuntut Serbia Tarik Pasukan dari Perbatasan

Kosovo pada Sabtu (30/9) menuntut Serbia agar menarik mundur pasukannya dari perbatasan bersama dan mengatakan negara itu siap melindungi integritas teritorialnya.

Ketegangan antara kedua negara telah meningkat sejak Minggu (24/9) pekan lalu ketika polisi Kosovo baku-tembak dengan sekitar 30 orang Serbia bersenjata berat yang menyerbu Desa Banjska di Kosovo. Para penyerang kemudian membarikade diri mereka di sebuah biara Ortodoks Serbia. Tiga penyerang dan satu polisi tewas dalam insiden itu.

Baku-tembak tersebut memicu kekhawatiran internasional baru terkait stabilitas di Kosovo yang mayoritas penduduknya merupakan etnis Albania. Kosovo mendeklarasikan kemerdekaan dari Serbia pada 2008 setelah pemberontakan gerilya dan intervensi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) pada 1999.

“Kami menyerukan kepada Presiden (Aleksandar) Vucic dan lembaga-lembaga Serbia untuk segera menarik mundur seluruh pasukan dari perbatasan dengan Kosovo,” kata Pemerintah Kosovo dalam pernyataannya.

“Pengerahan pasukan Serbia di sepanjang perbatasan Kosovo adalah langkah berikutnya oleh Serbia untuk mengancam integritas teritorial negara kami.”

Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengatakan kepada koran Financial Times bahwa dia tidak berniat memerintahkan pasukannya untuk melintasi perbatasan menuju Kosovo. Menurutnya, eskalasi konflik akan merugikan aspirasi Belgrade untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Pada Jumat (29/9), Amerika Serikat (AS) mengatakan pihaknya memantau pengerahan militer Serbia yang meresahkan di sepanjang perbatasan Kosovo yang mendestabilisasi kawasan itu.

“Kosovo, berkoordinasi dengan mitra-mitra internasional, makin bertekad untuk melindungi integritas teritorialnya,” kata Pemerintah Kosovo.

“Pengerahan ini juga termasuk pengerahan sistem-sistem antipesawat dan artileri berat.”

Pemerintah Republik Kosovo mengatakan pihaknya “sudah berhubungan terus-menerus dengan AS dan negara-negara Eropa mengenai ancaman serius ini dari Serbia.”

NATO, yang masih menempatkan 4.500 tentara di Kosovo, mengatakan pada Jumat (29/9) bahwa pihaknya “sudah mengizinkan penambahan pasukan untuk menanggapi situasi saat ini.” [ft/ah]

Sumber Berita

Pos terkait