Feed

Kontribusi Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia



Jakarta (ANTARA) – Situasi geopolitik global semakin kompleks. Eskalasi konflik dan perang secara kualitatif terus meningkat, dengan kompleksitas yang seakan sulit diurai. Politik domestik dan rivalitas geopolitik dunia sudah pada fase mengancam peradaban, seperti yang terjadi di Gaza hari ini.

Sejarah memperlihatkan, begitu rivalitas geopolitik masuk dalam satu konflik, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan konflik menjadi semakin lama, bahkan konflik akan menjadi semakin berlarut sebagaimana terjadi pada perang Rusia dan Ukraina.

Berdasar pengalaman selama ini, bahwa konflik hanya dapat diselesaikan jika para pihak yang bersengketa, memiliki keinginan untuk berdamai. Dalam beberapa peristiwa, terkesan sulit mendorong para pihak yang berkonflik untuk meninggalkan pendekatan zero-sum game.

Itu sebabnya perlu ikhtiar khusus, untuk mendekati dan meyakinkan pihak-pihak yang sedang bertikai, bahwa selalu ada pendekatan lain di mana seluruh pihak akan sama-sama memperoleh hasil yang optimal (win-win solution).

Muncul salah persepsi, bahwa berdamai dengan pihak lain acapkali diartikan sebagai sebuah kekalahan.

Menjadi tantangan para negara mediator, salah satunya adalah Indonesia, yang harus dapat meyakinkan para pihak bahwa menciptakan perdamaian bukan berarti sebuah kekalahan, melainkan lebih mendahulukan keadilan di atas kekerasan, mengutamakan persaudaraan di atas permusuhan.

Sesuai bunyi sila kelima dalam Pancasila, bahwa prinsip kemanusiaan di atas segalanya. Berdasarkan fakta di lapangan, dalam setiap konflik, warga sipil dan rentan, selalu yang paling terkena dampaknya.

Stabilitas regional

Indonesia memiliki jejak panjang sebagai mediator perdamaian dan dekolonisasi, bermula sejak menjadi inisiator Konferensi Asia-Afrika di Bandung (1955), yang menghasilkan Dasasila Bandung.

Dalam waktu yang hampir bersamaan dikirim juga pasukan perdamaian Kontingen Garuda I di bawah payung PBB, ke Gurun Sinai.

Dalam kasus Palestina, Indonesia berada di garis depan dalam membela keadilan dan kemanusiaan bagi bangsa Palestina. Indonesia juga berada di depan menggalang bantuan kemanusiaan dan mengupayakan lebih banyak negara agar dapat mengakui Palestina.

Pemberian dukungan terhadap Negara Palestina, adalah salah satu wujud nyata dukungan terhadap solusi dua negara, sekaligus dukungan terhadap perdamaian.

Indonesia beruntung karena kebijakan politik luar negeri bebas aktif, dan tidak terafiliasi dengan kekuatan besar mana pun. Mandat konstitusi juga jelas, bahwa Indonesia harus aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.

Indonesia memiliki ruang yang memadai dan argumentasi kuat untuk memainkan peran dalam upaya penyelesaian konflik. Upaya ini tidak hanya terbatas pada mediasi, tetapi juga peace building.

Stabilitas regional dalam lingkup ASEAN bisa dijadikan role model, mengingat posisi Indonesia sebagai poros ASEAN, agar kawasan Asia Tenggara tetap damai, stabil, dan dinamis.

Dialog terbuka merupakan kata kunci dari keberhasilan ASEAN menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan. Dialog juga menjadi cara bagi ASEAN menjaga hubungan baik dengan mitra di Asia Timur, utamanya China.

Kondisi positif ini yang menempatkan ASEAN menjadi salah satu pusat pertumbuhan dunia.

Hubungan baik yang terbina antara ASEAN dan China adalah berkat terjaganya ruang dialog dimaksud. Baik China maupun ASEAN menyadari bahwa setiap pihak saling tergantung.

Selaras dengan pernyataan Menhan Prabowo Subianto, yang juga Presiden terpilih, dalam sesi Special Address di sela-sela Shangri-La Dialogue di Singapura, awal Juni 2024.

Tiga prinsip yang disampaikan Prabowo dalam forum tersebut adalah kemauan hidup berdampingan dengan damai (coexistence), kolaborasi, serta membangun kompromi.

Untuk itu Indonesia mendorong pentingnya dialog yang inklusif, menjalin kerja sama konkret, seraya terus-menerus memperkuat implementasi hukum-hukum internasional.

Prabowo memastikan, sebagai negara nonblok, Indonesia tidak akan berpihak kepada poros tertentu. Menurut Prabowo, Indonesia akan lebih mengedepankan sikap saling menghormati eksistensi, martabat, dan kedaulatan setiap negara, mengingat tidak ada satu narasi tunggal untuk semua hal.

Capaian besar ASEAN sejak berdiri pada tahun 1966, adalah tidak adanya perang antarnegara di kawasan Asia Tenggara. Situasi damai dan stabil ini memungkinkan pembangunan ekonomi. ASEAN terbiasa menggelar dialog dan juga menyediakan jembatan atau mediasi, dalam berbagai forum, baik di kawasan Asia maupun Pasifik.

Di tengah situasi dunia yang dihadapkan pada ketidakpastian, tatanan regional sebagaimana dicapai ASEAN adalah hal penting, terlebih saat saat pusat pertumbuhan mulai bergeser dari Eropa ke Asia. ASEAN dan China tumbuh bersama dalam beberapa tahun terakhir. China adalah mitra dagang terbesar ASEAN. Nilai perdagangan tahun 2023 mencapai 911,7 miliar dolar AS.

Capaian ini telah membawa kemakmuran bagi 2 miliar penduduk ASEAN dan China. Bersamaan dengan peringatan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika, dan prinsip hidup berdampingan secara bebas.

Dalam sebuah kesempatan Menlu China Wang Yi mengatakan, China sangat mendukung terbentuknya masyarakat ASEAN dan sentralitas ASEAN dalam arsitektur kawasan.

“Kita bersama mendorong perdamaian, stabilitas, dan pertumbuhan,” kata Wang Yi.

Perang terbuka

Selaras dengan gagasan Menhan Prabowo, baik di kawasan maupun global, Indonesia akan lebih memosisikan diri sebagai “tetangga yang baik” (good neighbour policy).

Di kawasan, kebijakan ini mengakar pada nilai-nilai Asia yang lebih menitikberatkan pada sisi harmoni daripada keakuan, lebih pada rasa ketimbang semata-mata rasio.

Gagasan Prabowo berbasis pada tradisi di negeri kita, bahwa tetangga merupakan pihak yang dekat, yang akan menolong kita ketika sedang menghadapi kesulitan.

Tetangga yang akan segera datang menolong, bukan saudara kandung yang tinggal berjauhan. Good neighbour policy diyakini bisa diterapkan dalam kehidupan bernegara. Sikap saling menghormati dan menghargai, menjadi opsi untuk penyelesaian sengketa wilayah yang terjadi.

Namun yang terjadi hari ini ada paradoks, ketika di kawasan Asia Tenggara terjadi potensi konflik yang tak kunjung terselesaikan, yaitu di Laut Cina Selatan (LCS).

Tak berapa lama setelah Shangri-La Dialogue berakhir, sudah terjadi insiden tabrakan kapal China dan Filipina pada pertengahan Juni lalu. Insiden seperti ini sudah berkali-kali terjadi, kapal penjaga pantai China juga pernah menyemprotkan air ke kapal Filipina.

Saat itu kapal Filipina hendak mengirim logistik ke pasukannya di kapal tua BRP Sierra Madre, yang sengaja dikandaskan di Beting Second Thomas.

Beting Second Thomas atau gugus karang Second Thomas, masuk dalam Kepulauan Spratly di LCS. Selain Beting Second Thomas, ada berbagai gugus karang dan pulau lain di kepulauan itu.

Salah satu pulau pentingnya adalah bernama Pulau Spratly (sama dengan nama kepulauan) yang berada di bawah kendali Vietnam. Di wilayah Kepulauan Spratly, klaim yang tumpang tindih dilakukan oleh China, Filipina, Vietnam, Brunei, serta Malaysia. Bangunan serta infrastruktur juga dibangun beberapa negara pengklaim.

Dengan 10 garis putus-putusnya, perkembangan terbaru dari sembila garis putus-putus (nine-dash line), China mengklaim hampir seluruh perairan LCS. Terlebih sebagian besar kebutuha energi China dikirim melalui laut itu. LCS tak ubahnya halaman depan China.

Indonesia kembali bisa berperan dalam upaya menghindari konflik, lebih bagus lagi ikut mendorong solusi damai secara permanen, seperti yang pernah disampaikan Prabowo dalam forum Shangri-La kemauan hidup berdampingan dengan damai (coexistence), kolaborasi, serta membangun kompromi.

Bila konflik terbuka tidak bisa dihindari, stabilitas di Asia Tenggara, bahkan Indo-Pasifik, bisa guncang, dan seluruh dunia akan merasakan dampaknya mengingat arti strategis dari kawasan ini. Indo-Pasifik adalah rumah bagi 62 persen populasi dunia, serta menyumbang 62 persen PDB dunia dan 46 persen perdagangan global.

Di tengah kekacauan akibat perang di Ukraina, tragedi di Gaza, dan berbagai potensi konflik di kawasan lain, perang terbuka di LCS dan Indo-Pasifik jelas akan menjadi pukulan telak, yang dapat membuat dunia menuju masa suram. Mari menanti kontribusi Indonesia dalam solusi damai aras global.

*) Penulis adalah Dosen UCIC, Cirebon.

Copyright © ANTARA 2024



Source link

Apa Reaksimu?

Lainnya Dari BuzzFeed