Connect with us

VIRUS CORONA

Konfirmasi Terkait Vaksin AstraZeneca Dorong Negara-Negara Keluarkan Pedoman Baru

Konfirmasi Terkait Vaksin AstraZeneca Dorong Negara-Negara Keluarkan Pedoman Baru


Beberapa negara telah mengeluarkan pedoman baru mengenai penggunaan vaksin COVID-19 produksi AstraZeneca, setelah regulator medis Uni Eropa mengumumkan ada kaitan antara vaksin dan penggumpalan darah yang jarang terjadi namun kemungkinan berakibat fatal.

Inggris, di mana vaksin itu dikembangkan bersama oleh perusahaan farmasi Inggris-Swedia dan para ilmuwan di University of Oxford, menyatakan akan menawarkan alternatif bagi orang dewasa berusia di bawah 30 tahun. Para peneliti Oxford juga menangguhkan uji klinis vaksin AstraZeneca yang melibatkan anak-anak kecil dan remaja sementara regulator obat Inggris melakukan peninjauan mengenai keamanan vaksin dua dosis itu.

Reuters menyatakan Spanyol dan Filipina akan membatasi vaksin itu untuk orang-orang berusia 60 tahun ke atas, sementara Washington Post menyatakan Italia telah mengeluarkan pedoman serupa.

Seorang petugas kesehatan menyiapkan satu dosis COVID-19 buatan AstraZeneca di puskesmas di Sidoarjo, dekat Surabaya, Jawa Timur, 22 Maret 2021. (Foto: Umarul Faruq/Antara Foto via Reuters)

Seorang petugas kesehatan menyiapkan satu dosis COVID-19 buatan AstraZeneca di puskesmas di Sidoarjo, dekat Surabaya, Jawa Timur, 22 Maret 2021. (Foto: Umarul Faruq/Antara Foto via Reuters)

Badan Pengawas Obat Eropa, Rabu (7/4) menyatakan penggumpalan darah harus dicatat sebagai efek samping yang sangat jarang dari vaksin AstraZeneca, tetapi terus menekankan bahwa manfaatnya secara keseluruhan melampaui risikonya. Kasus penggumpalan darah yang jarang terjadi telah dikaitkan dengan kematian sedikitnya 14 orang di berbagai penjuru Eropa.

AstraZeneca telah menjadi vaksin penting dalam kampanye imunisasi yang luar biasa cepat di Inggris, yang secara signifikan melampaui laju vaksinasi di seluruh Eropa. Tetapi peluncuran vaksin ini menghadapi masalah di seluruh dunia, awalnya karena kurangnya informasi dari uji klinis tahap akhir mengenai efeknya terhadap orang yang berusia lanjut, yang memperlambat upaya vaksinasi di Eropa. Banyak negara menghentikan pemberian vaksin AstraZeneca setelah munculnya laporan awal mengenai insiden penggumpalan darah.

Vaksin ini juga penting bagi kampanye imunisasi Eropa dan dalam strategi global untuk memasok vaksin bagi negara-negara miskin. Vaksin ini lebih murah harganya dan lebih mudah penggunaannya daripada vaksin-vaksin buatan Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Di AS, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan varian B.1.1.7 virus corona yang pertama kali dideteksi di Inggris pada Desember lalu kini menjadi varian yang dominan di Amerika. CDC telah memprediksi pada Januari lalu bahwa varian Inggris yang jauh lebih mudah menular dan mematikan daripada virus versi awalnya, akan menjadi varian yang dominan di AS pada bulan Maret.

Dr. Rochelle Walensky di Gedung Capitol, Washington, D.C. (Foto: dok).

Dr. Rochelle Walensky di Gedung Capitol, Washington, D.C. (Foto: dok).

“Virus ini masih akan menguasai kita, menjangkiti orang-orang dan membahayakan mereka. Kita perlu tetap waspada,” kata Direktur CDC Dr. Rochelle Walensky, Rabu (7/4) dalam pengarahan di Gedung Putih.

AS baru-baru ini melampaui angka 30 juta untuk total kasus, termasuk 559.116 kematian, jumlah terbanyak daripada negara manapun dalam kedua kategori itu, sebut Johns Hopkins Coronavirus Resource Center.

PM Selandia Baru Jacinda Ardern, Kamis (8/4) mengumumkan tentang pembekuan perjalanan dari India mulai hari Minggu karena lonjakan kasus virus corona di kalangan pelancong dari negara itu. Selandia Baru mencatat 23 kasus baru COVID-19 yang dikarantinakan, 17 di antaranya dari India. Larangan itu akan berlaku hingga 28 April, dan akan mencakup warga Selandia Baru yang kembali dari India.

India mencatat hampir 13 juta total virus corona, ketiga terbanyak setelah AS dan Brasil, dan sedang mengalami gelombang kedua wabah sementara negara itu berpacu untuk memvaksinasi 1,3 miliar penduduknya. Negara itu mencatat rekor penambahan harian kasus baru, 126.789, pada hari Rabu. [uh/ab]



Source link

Advertisement
Click to comment

VIRUS CORONA

AS Setujui Vaksin Pfizer untuk Remaja

AS Setujui Vaksin Pfizer untuk Remaja



Badan Urusan Pangan dan Obat-Obatan Amerika Serikat (Food and Drugs Administration/FDA), Senin (10/5), mengeluarkan otorisasi vaksin COVID-19 yang dikembangkan Pfizer-BioNTech untuk digunakan oleh remaja berusia paling muda 12 tahun. Langkah itu memperluas kelompok warga yang memenuhi syarat untuk divaksinasi.

FDA mengatakan vaksin itu aman dan efektif bagi remaja berusia 12-15 tahun. Sebelumnya vaksin yang sama tersedia untuk penggunaan darurat bagi anak berusia 16 tahun dan yang lebih tua.

“Langkah hari ini memungkinkan populasi yang lebih muda untuk mendapat perlindungan dari COVID-19, membuat kita semakin dekat untuk memulai kembali kehidupan normal dan mengakhiri pandemi ini,” ujar penjabat komisioner sementara FDA Janet Woodcock dalam sebuah pernyataan.

Vaksin Pfizer ini adalah vaksin pertama di Amerika yang disetujui untuk orang yang berusia lebih muda. Persetujuan itu diberikan ketika pejabat-pejabat Amerika berupaya memvaksinasi lebih banyak warga dan tampaknya akan mendorong jutaan siswa SMP dan SMA untuk mencoba divaksinasi sebelum kembali ke sekolah pada musim gugur nanti.

Meskipun anak-anak yang terjangkit COVID-19 umumnya hanya memiliki gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali, mereka masih dapat menularkan virus itu pada orang lain.

Pfizer pada Maret lalu merilis hasil kajian pendahuluan dari uji coba vaksin yang melibatkan lebih dari 2.000 sukarelawan berusia 12-15 tahun. Uji coba itu menunjukkan tidak satu pun remaja yang telah divaksinasi penuh mengidap COVID-19 atau mengalami efek samping yang serius. [em/mg/pp]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

Jumlah Kasus Global Virus Corona Mandek

Jumlah Kasus Global Virus Corona Mandek



Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan badan itu melihat jumlah kasus virus corona global mandek. Jumlah kasus di Amerika dan Eropa, dua wilayah yang paling terimbas, malah menunjukkan penurunan.

Pada briefing Senin, Ghebreyesus mengatakan ia menyambut “setiap penurunan” tetapi memperingatkan “kita pernah dalam situasi ini.” Ia menyarankan negara-negara agar tidak terlalu cepat melonggarkan pembatasan kesehatan masyarakat. Ia mengatakan, sejauh ini negara-negara berkembang baru mencatat sekitar 7% dari ratusan juta vaksinasi COVID-19.

Menurut Dirjen WHO, vaksin mencegah penyakit, tetapi kita juga bisa mencegah penularan dengan langkah kesehatan masyarakat yang sudah sangat efektif di banyak tempat. Pesannya kepada para pemimpin adalah lakukan setiap langkah untuk menurunkan angka penularan sekarang juga.

Ia menambahkan, bahkan negara-negara dengan tren epidemi yang menurun harus mempersiapkan kemungkinan bahwa varian baru dapat membatalkan kemajuan yang dicapai dalam vaksinasi.[ka/lt]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

2 Varian Virus Corona yang Sangat Menular Ditemukan di Afrika Selatan

2 Varian Virus Corona yang Sangat Menular Ditemukan di Afrika Selatan



Pejabat-pejabat Afrika Selatan mengatakan dua varian virus corona yang sangat menular kini ditemukan di negara itu, sementara negara di Afrika yang paling terimbas pandemi itu bersiap akan kemungkinan lonjakan kasus baru.

Pejabat-pejabat dari Institut Nasional untuk Penyakit Menular mengumumkan Minggu malam bahwa mereka telah mendeteksi varian B.1.617.2 dan B.1.1.7 di antara populasi Afrika Selatan.

Dengan hanya di bawah 1,6 juta kasus yang terkonfirmasi, Afrika Selatan memimpin benua itu dalam penularan virus corona. Dari jumlah tersebut, sudah hampir 55.000 orang meninggal.

B.1.617.2 adalah salah satu varian yang saat ini menyebar di India. Pusat Data Virus Corona Johns Hopkins mengatakan 22,6 juta kasus COVID-19 telah dilaporkan, namun para pakar kesehatan memperingatkan bahwa mereka yakin jumlah kasus dan kematian yang sebenarnya di India jauh lebih banyak.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan varian virus corona di India sebagai ‘mengkhawatirkan.’ [ka/lt]



Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close