Connect with us

VIRUS CORONA

Kondisi Luar Biasa, Sistem Bekerja Seperti Biasa

Kondisi Luar Biasa, Sistem Bekerja Seperti Biasa

[ad_1]

Dalam inspeksi mendadak di salah satu rumah sakit di Jepara, Selasa (15/6), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menemukan antrian pasien di luar Instalasi Gawat Darurat (IGD). Keluarga pasien emosi sementara staf rumah sakit bersikukuh pasien tidak bisa masuk karena tak ada tempat. Ganjar yang tiba di tengah situasi itu langsung meminta pemindahan pasien ke rumah sakit lain. Dia juga menerima keluhan keluarga lain yang harus menunggu jenazah hingga 9 jam. Rupanya rumah sakit kewalahan sebab hari itu ada tujuh jenazah korban COVID 19 yang harus diurus.

Di Kabupaten Kudus, yang menjadi pusat ledakan kasus dalam sepekan terakhir, situasinya tidak jauh berbeda.

“Kudus ini buat saya unik. Peningkatannya eksponensial dan tentu saja itu membikin kita panik. Pemerintahan di Kudus juga panik. Manajemen yang ada di rumah sakit yang menggunakan kondisi biasa-biasa saja, tidak pernah berpikir yang luar biasa, maka gempuran pasien yang banyak sekali itu membikin panik,” kata Ganjar.

Cerita soal kondisi penanganan di Kudus itu dia paparkan dalam diskusi terkait perkembangan kasus COVID 19 varian Delta, Rabu (16/6). Dalam diskusi yang digelar Kagama dan Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM ini, Ganjar memaparkan bagaimana dia terkejut dengan peningkatan kasus yang luar biasa di kawasan utara Jawa Tengah itu.

Di sisi lain, dia juga menyelipkan keprihatinan karena sistem kesehatan tidak merespon situasi dengan cukup baik. Pemerintah kabupaten dan kota seolah bekerja sendiri, padahal mereka memiliki jaringan baik birokrasi ke atas maupun lembaga lain, yang dapat disertakan dalam upaya meredam penularan.

Kasus yang dicontohkan Ganjar adalah ketika banyak pasien tidak memperoleh layanan ICU yang penuh di satu rumah sakit, tidak ada upaya yang dilakukan. Pasien dan keluarganya dibiarkan menunggu tanpa kepastian di depan ruangan. Masyarakat yang sadar menggunakan media sosial, merekam momen itu dan menimbulkan kemarahan banyak pihak.

“Banyak masyarakat terpapar dan harus ke rumah sakit. Pada saat itulah problem muncul. Rumah sakit menjadi panik, apalagi rumah sakit daerah. Antrian di depan ICU ditolak, yang meninggal nggak bisa dikubur. Ternyata problemnya memang teknis,” kata Ganjar.

Padahal, kata Ganjar, pihak rumah sakit seharusnya membantu pasien mengakses layanan ke rumah sakit lain. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan pasien di kirim ke kabupaten lain atau ke ibu kota Jawa Tengah, Semarang.

Antrean pasien COVID 19 di depan IGD RSUD Jepara, Selasa, 15 Juni 2021. (Foto Humas Pemprov Jateng)

Antrean pasien COVID 19 di depan IGD RSUD Jepara, Selasa, 15 Juni 2021. (Foto Humas Pemprov Jateng)

Kritik juga disampaikan Ganjar terkait pendekatan kepala daerah di wilayahnya yang tidak mau memaksimalkan tes. Jika tes diperbanyak, kemungkinan jumlah kasus juga akan naik. Secara politis, kondisi itu dinilai tidak menguntungkan. Ganjar menekankan, persoalannya saat ini adalah kesehatan sehingga pola pikir semacam itu sangat tidak layak.

Terkait tenaga medis, Ganjar juga mengusulkan mekanisme lebih mudah agar tenaga dokter dapat dikerahkan dalam situasi darurat. Selain itu, sinkronisasi kebijakan antardaerah juga harus dilakukan, agar pemerintah bisa bertindak sebagai satu kesatuan.

Penanganan yang Dinamis

Dr Andreasta Meliala menyebut, sebuah sistem yang menjadi pedoman perlu diciptakan ketika menghadapi situasi semacam ini. Andreasta adalah dosen Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM.

Dr Andreasta Meliala, Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM. (foto: UGM)

Dr Andreasta Meliala, Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM. (foto: UGM)

Andreasta mengatakan, seluruh pihak harus melihat situasi saat ini dengan pendekatan perencanaan skenario. Rumah sakit harus membuat rancangan yang fleksibel, apa yang harus mereka lakukan ketika jumlah kasus turun, dan apa yang dilakukan ketika yang terjadi sebaliknya.

Banyak negara memiliki pengalaman semacam itu, kata Andreasta termasuk bagaimana melibatkan potensi masyarakat dan dunia bisnis. Dalam bentuk lebih jauh, bahkan rumah sakit tidak lagi dibatasi oleh tembok dan bangunan seperti yang saat ini ada. Rumah sakit bisa ada di mana-mana.

“Rencana ini seharusnya sudah dibuat, berdasarkan karakteristik dari varian Delta ini. Namun nampaknya komunikasi antara klinisi, epidemiolog dengan pengambil kebijakan belum klop. Belum ada diskusi bersama. Ini mungkin kendala yang harus kita selesaikan,” kata Andreasta.

Riris Andono Ahmad, pengajar di FKKMK UGM. (Foto: VOA/ Nurhadi)

Riris Andono Ahmad, pengajar di FKKMK UGM. (Foto: VOA/ Nurhadi)

Sementara epidemiolog UGM, Dr Riris Andono Ahmad mengingatkan, pedoman 3T (testing, tracking and treatment) yang digaungkan pemerintah, dalam beberapa kondisi tidak lagi sesuai. Dia memberi contoh, tracing dilakukan ketika penularan masih terbatas, dengan merunut pasien dan siapa saja yang menjadi kontaknya. Namun dalam kondisi penularan meluas, kecepatan tracing bisa jadi lebih lambat dari kecepatan penularan. Karena itu, yang harus dilakukan adalah skrining, dengan memisahkan wilayah dimana pusat penularan terjadi dengan wilayah sekitarnya.

Namun, dalam kondisi tertentu, mau tidak mau pembatasan mobilitas menjadi pilihan.

“Ketika penularannya lebih cepat dibandingkan kapasitas kita, langkah selanjutnya kita harus menghentikan mobilitas. Karena ibaratnya kalau hujannya sudah sangat kencang, kita harus berteduh di dalam rumah. Hanya menggunakan payung atau melakukan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak, (red)) saja tidak cukup,” ujar Riris.

Pemerintah Harus Konsisten

Inisiator gerakan masyarakat Sambatan Jogja (Sonjo) Dr Rimawan Pradiptyo memaparkan bagaimana ide kecil mereka mendukung penanganan pandemi di Yogyakarta. Kuncinya, kata Rimawan, adalah kinerja yang cair dengan memanfaatkan potensi setiap pihak, dan tidak terlalu mempertimbangkan birokrasi.

Dosen dan peneliti FEB UGM, Rimawan Pradiptyo. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Dosen dan peneliti FEB UGM, Rimawan Pradiptyo. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Rimawan juga mengingatkan, dalam situasi saat ini konsistensi pemerintah sangat dibutuhkan. Masyarakat paternalistik di Indonesia membutuhkan contoh untuk mereka mengambil peran. Jika masyarakat mulai kendor terhadap protokol kesehatan, menurut Rimawan pemerintah perlu introspeksi.

“Problemnya adalah, komitmen dari pemerintah itu bermasalah. Konsistensi kebijakan pemerintah juga bermasalah,” kata Rimawan.

Kebijakan yang kontradiktif ini cukup banyak. Rimawan memberi contoh tentang larangan mudik dan pembukaan tempat wisata. Saat ini, ketika mutasi virus terjadi dan kasus naik, Menteri Pendidikan justru menyatakan tidak ada tawar menawar terkait pengaktifan sekolah.

“Ini menciptakan kebingungan di bawah. Sehingga masyarakat akan melihatnya, pemerintah sendiri enggak jeles, kok mengatakan ke kami untuk patuh 3M,” lanjut Rimawan. [ns/ab]

[ad_2]

Source link

Advertisement
Click to comment

VIRUS CORONA

Laju Vaksinasi di Daerah di AS yang Dilanda Varian Delta Kini Meningkat

Laju Vaksinasi di Daerah di AS yang Dilanda Varian Delta Kini Meningkat

[ad_1]

Gedung Putih, Kamis (22/7), mengatakan vaksinasi COVID-19 di negara-negara bagian yang terpukul hebat oleh perebakan luas varian Delta yang menyebar dengan sangat cepat, kini meningkat.

Koordinator Penanganan COVID-19 di Amerika Serikat (AS), Jeff Zients, mengatakan kepada wartawan bahwa warga di beberapa negara bagian dengan proporsi tingkat perebakan virus corona baru tertinggi kini mulai berupaya untuk mendapat vaksinasi COVID-19. Laju vaksinasi di wilayah-wilayah itu kini lebih tinggi dibanding laju vaksinasi di AS secara keseluruhan.

Para pejabat Amerika merujuk Arkansas, Florida, Louisiana, Missouri dan Nevada sebagai contoh di mana kini terjadi laju vaksinasi yang lebih cepat.

Varian Delta, yang menyebar secara lebih agresif, kini menyumbang sekitar 83 persen kasus baru secara nasional dan menjadi varian yang dominan di setiap wilayah. Meskipun sejumlah pejabat kesehatan mengingatkan bahwa AS kembali berada di tiitk kritis lain dalam pandemi ini, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) tidak mengubah pedomannya bahwa orang yang sudah divaksinasi penuh tidak perlu lagi mengenakan masker.

Direktur CDC Dr. Rochelle Walensky mengatakan keputusan di tingkat lokal tentang perlu tidaknya mengenakan masker dapat bervariasi, tergantung pada laju vaksinasi dan ada tidaknya lonjakan kasus baru.

Walensky mengatakan risiko terbesar saat ini adalah terhadap orang-orang yang tidak divaksinasi.

“Kami telah secara konsisten dan berulang kali mengatakan, jika Anda tidak divaksinasi, Anda perlu mengenakan masker untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar,” kata Walensky.

Dia menegaskan perlu lebih banyak orang yang divaksinasi untuk menghentikan pandemi ini.

“Jadi secara keseluruhan, rekomendasi CDC tidak berubah. Orang yang sudah divaksinasi penuh terlindung dari penyakit berat,” imbuhnya. [em/lt]

[ad_2]

Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

Pfizer-BioNTech Sepakat Produksi Vaksin COVID-19 untuk Afrika

Pfizer-BioNTech Sepakat Produksi Vaksin COVID-19 untuk Afrika

[ad_1]

Pfizer dan BioNTech telah bersepakat dengan Institut Biovac di Afrika Selatan untuk memproduksi vaksin COVID-19 mereka dan mendistribusikannya di Afrika, kata perusahaan bioteknologi itu, Rabu.

Perusahaan di Cape Town itu akan memproduksi 100 juta dosis vaksin setiap tahun mulai 2022, mencampur bahan vaksin yang diterimanya dari Eropa, memasukkan ke botol, dan mengemasnya untuk didistribusi ke 54 negara di Afrika. Kesepakatan itu pada akhirnya akan membantu mengurangi kekurangan vaksin di benua itu. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika mengatakan kurang dari 2% dari 1,3 miliar populasinya telah menerima setidaknya satu dosis vaksin.

CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan tujuan perusahaan itu adalah memberi vaksin itu kepada orang-orang di seluruh Afrika, menyimpang dari perjanjian bilateral di mana sebagian besar dosis dijual ke negara-negara kaya.

Vaksin Johnson & Johnson sudah diproduksi di Afrika Selatan dalam proses “isi dan kemas” serupa dan memiliki kapasitas produksi lebih dari 200 juta dosis per tahun. Vaksin-vaksin itu juga sedang didistribusikan ke seluruh benua Afrika.[ka/jm]

[ad_2]

Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

351 Ribu Anak di Indonesia Terpapar COVID-19

351 Ribu Anak di Indonesia Terpapar COVID-19

[ad_1]


Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah mengungkapkan hingga 16 Juli 2021 sebaran kasus COVID-19 pada usia anak sekolah mencapai 12,83 persen dari seluruh kasus terkonfirmasi positif di Indonesia.

“Dari seluruh kasus di Indonesia yang 2,4 juta kalau kita lihat usia di bawah 18 tahun ini ada 351.336 atau sekitar 12,83 persen. Seperdelapan kasus COVID-19 yang ada di Indonesia berasal dari usia anak-anak dan remaja yaitu di bawah 18 tahun,” ujar Dewi Nur Aisyah dalam webinar “Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak COVID-19,” Senin (19/7).

Grafik Kematian akibat COVID-19 pada anak usia sekolah. Persentase angka kematian tertinggi pada kelompok usia 0-2 tahun, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Grafik Kematian akibat COVID-19 pada anak usia sekolah. Persentase angka kematian tertinggi pada kelompok usia 0-2 tahun, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Anak sekolah usia 7-12 tahun memiliki kasus terbanyak yaitu 101.049, disusul usia 16-18 tahun sebanyak 87.385, berikutnya usia 13-15 tahun dengan 68.370. Sedangkan kasus COVID-19 anak TK usia 3-6 tahun berjumlah 50.449 dan usia PAUD 0-2 tahun berjumlah 44.083.

Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Riau, Sulawesi Selatan, Banten dan Kalimantan Timur menempati peringkat 10 besar provinsi dengan kasus konfirmasi COVID-19 pada usia anak sekolah.

Sulawesi Utara Catat Kematian Anak Tertinggi Akibat COVID-19

Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19 per tanggal 16 Juli 2021 itu memperlihatkan sebanyak 777 anak rentang usia 0-18 tahun meninggal dunia.

Dewi Nur Aisyah mengungkapkan persentase angka kematian tertinggi berada pada kelompok usia 0-2 tahun (0,71 persen) diikuti kelompok usia 16-18 tahun (0,18 persen) dan kelompok usia 3-6 tahun (0,15 persen).

Sebaran kasus COVID-19 pada anak usia sekolah disampaikan oleh Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Sebaran kasus COVID-19 pada anak usia sekolah disampaikan oleh Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

“Kalau berbicara jumlah kasus ternyata belum tentu juga provinsi dengan jumlah kasus anak tertinggi angka kematiannya juga paling tinggi. Karena ternyata untuk usia 0- 2 tahun paling tinggi angka kematian justru berasal dari provinsi Sulawesi Utara (5,29 persen) kasus anak-anak baduta (bawah dua tahun) di sana mengalami kematian, Gorontalo (3,85 persen), NTB (3,35 persen),” kata Dewi Nur Aisyah dalam webinar yang diselenggarakan oleh Save the Children Indonesia bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kementerian Sosial tersebut.

Menurutnya, pencegahan infeksi corona dengan protokol 3M harus dilakukan secara maksimal dengan dukungan dari anggota keluarga khususnya bagi kelompok anak-anak terutama usia di bawah 12 tahun yang belum bisa mendapat vaksin.

COVID-19 Juga Buat Anak Depresi

Psikolog klinis Feka Angge Pramita menjelaskan orang dewasa perlu membantu mempersiapkan anak menghadapi situasi kritis dengan memberikan penjelasan yang jujur seperti saat harus berpisah sementara waktu dengan orang tua/pengasuh yang menjalani isolasi mandiri, dirawat karena COVID-19.

Psikolog klinis Feka Angge Pramita dalam webinar Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak Covid-19, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Psikolog klinis Feka Angge Pramita dalam webinar Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak Covid-19, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

“Itu harus dijelaskan dan itu pasti butuh proses dan sering kali tergantung dari usianya mereka juga, tapi memberikan penjelasan atau mengomunikasikan hal yang sesuai dengan faktanya, itu kalau diberikan penjelasan malah akan memberikan sesuatu hal yang memberikan rasa tenang buat mereka karena kalau mereka tidak dijelaskan atau malah dibohongi mereka bisa menangkap situasinya. Situasi dari orang orang-orang dewasa di sekitar mereka,” kata Feka.

Dalam situasi anak yang berduka karena kehilangan orang tua yang meninggal dunia, anak perlu selalu didampingi oleh orang dewasa disekitar mereka. Selain memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi, juga untuk merespon saat anak mengekspresikan kesedihan yang dirasakannya.

“Merespon itu bagaimana sih, misalkan kalau mereka cerita ‘aduh aku mau ketemu mama, tapi mama kan di Surga’ mungkin kita akan bilang ‘ya berdoa saja’ itu salah satu hal yang baik,” ujar Feka.

Anak-anak bermain di luar kawasan pemukimannya di Jakarta, 22 Juni 2021, saat diberlakukannya pembatasan wilayah di tengah pandemi COVID-19. (Foto: BAY ISMOYO / AFP)

Anak-anak bermain di luar kawasan pemukimannya di Jakarta, 22 Juni 2021, saat diberlakukannya pembatasan wilayah di tengah pandemi COVID-19. (Foto: BAY ISMOYO / AFP)

Menurutnya diperlukan figur yang berperan sebagai orang tua, yang memberikan kasih sayang, mendengarkan dan merespon kebutuhan anak.

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial RI, Kanya Eka Santi menilai perlu ada shelter transisi bagi anak untuk menjalani isolasi mandiri, setelah bagian dari keluarganya terpapar COVID-19. Penularan COVID-19 yang cepat membuat pilihan untuk memindahkan pengasuhan anak kepada keluarga lainnya rentan menularkan virus corona.

“Misalnya orang tuanya terpapar, lalu anak-anaknya tidak terpapar lalu tanpa memikirkan itu melewati masa inkubasi, anak-anaknya dipindahkan ke keluarga lain lalu keluarga ini ikut terpapar. Sehingga proses untuk menunda agar ini tidak langsung ke keluarga besar itu butuh shelter khusus,” kata Kanya Eka Santi

Kementerian Sosial menurutnya sudah menyusun protokol pengasuhan yang mengharuskan rumah sakit untuk menanyakan orang tua yang masuk untuk dirawat bila memiliki anak yang ditinggalkan di rumah. Bila anak yang ditinggalkan tidak ada yang mengasuh maka harus segera dilaporkan ke Dinas Sosial setempat. [yl/em]

[ad_2]

Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close