Info

Komposer Eunike Tanzil Kolaborasi Bareng Laufey, Garap Lagu dalam 3 Jam

Berkarir sebagai komposer, sekaligus produser musik di Amerika telah membuka jalan bagi Eunike Tanzil untuk berkarya di Hollywood, bahkan berkolaborasi dengan artis papan atas.

Belum lama ini, perempuan kelahiran Medan ini diajak berkolaborasi oleh penyanyi jazz kelahiran Islandia, Laufey, untuk kampanye “Turn the Dial” yang diusung oleh Bose.

Komposer, sekaligus produser, Eunike Tanzil (kanan) saat menggarap lagu “Only Mine” di studio bersama penyanyi Laufey (kiri) (dok: Eunike)

Melansir dari situs Bose, kampanye ini dilatarbelakangi analisis terkini dari University of Southern California di Los Angeles, yang mengatakan bahwa dalam satu dekade terakhir hanya terdapat 2,8% lagu yang diproduseri oleh perempuan.

Bose juga menyebut bahwa temuan lainnya mengatakan hanya terdapat sekitar 2,3% lagu yang diproduseri oleh perempuan, yang berhasil masuk ke dalam daftar 100 lagu hits tahun 2022.

Kampanye “Turn the Dial” ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan isu ini, serta membuka kesempatan baru bagi produser musik perempuan dan non-biner untuk menciptakan musik yang layak untuk didengar.

“(Akhir tahun lalu) aku tiba-tiba ditelpon sama managernya si Laufey. Dibilang, ini Bose ada campaign dan mereka mau feature Laufey,” cerita Eunike Tanzil kepada BuzzFeed.co.id belum lama ini.

“Mereka tanya ke Laufey, ‘kamu mau kerja sama siapa buat campaign ini? For some reason, (Laufey) itu rekomendasiin aku. Dia mau kerja sama aku,” tambah perempuan yang berdomisili di Los Angeles, California ini.

Desember 2023 lalu, Eunike khusus terbang ke New York untuk menggarap lagu dengan Laufey. Pada waktu itu keduanya ditantang untuk menghasilkan karya lagu dalam waktu 3 jam. Dalam video tayangan di YouTube yang dirilis oleh Bose, terlihat interaksi hangat antara Laufey dan Eunike selagi menggarap lagu yang diberi judul “Only Mine” ini.

Kolaborasi ini menjadikan Eunike produser asal Indonesia pertama yang bekerja sama dengan Laufey.

“Seru banget bisa berkolaborasi dengan Laufey. Dia sangat (berbakat), kreatif, dan profesional,” ujar Eunike.

Style kita juga hampir mirip karena kita berdua classically trained (memiliki latar belakang pelatihan musik klasik.red),” tambahnya lagi.

Komposer, sekaligus produser, Eunike Tanzil (kiri) bersama penyanyi Laufey (kanan) (dok: Eunike)

Komposer, sekaligus produser, Eunike Tanzil (kiri) bersama penyanyi Laufey (kanan) (dok: Eunike)

Melalui video yang diunggah di akun Instagram Bose, Laufey berharap, “musik ini bisa sampai ke telinga para penonton muda, perempuan-perempuan cilik yang tumbuh bermain musik klasik dan melihat bahwa suatu hari nanti mereka bisa berada di studio seperti ini, menggarap jenis musik apa pun yang mereka inginkan.”

Penyanyi Laufey yang berusia 24 tahun merilis lagu pertamanya, ‘Street by Street’ tahun 2020. Hingga kini ia telah merilis 2 album dan meraih nominasi pertamanya di ajang penghargaan Grammy 2024, untuk kategori Album Vokal Pop Tradisional terbaik, untuk album ‘Bewitched.’

Siapakah Eunike Tanzil?

Mulai mengenal musik saat berusia sekitar 5 tahun saat belajar piano, awalnya, Eunike mengira bahwa dirinya akan menjadi seorang pianis. Kerap memenangkan perlombaan bermain piano, saat berumur 10 tahun ia mulai menyadari kegemarannya dalam berimprovisasi.

Komposer, sekaligus produser, Eunike Tanzil saat menggarap lagu "Only Mine" di studio bersama penyanyi Laufey (dok: Eunike Tanzil)

Komposer, sekaligus produser, Eunike Tanzil saat menggarap lagu “Only Mine” di studio bersama penyanyi Laufey (dok: Eunike Tanzil)

“Lebih menyenangkan, lebih banyak yang bisa dieksplorasi. Dan saya bisa lebih menuangkan kreativitas saya dalam bermusik, daripada disuruh latihan berjam-jam, latihan 8 jam untuk 1 lagu misalnya,” cerita perempuan kelahiran 1998 ini.

Guru musiknya pun memperkenalkannya dengan lagu-lagu karya komposer John Williams, yang terkenal lewat karya-karya musiknya untuk film-film Harry Potter, Star Wars, Jaws, Indiana Jones, dan masih banyak lagi.

“Ini adalah style yang saya sangat suka dan saya merasa, semoga bisa menjadi seperti dia,” ujar Eunike.

“Aku jatuh cinta sama musik-musik yang ada alur ceritanya yang kita bisa visualisasikan,” tambah penggemar nasi padang ini.

Raih Beasiswa ke AS

Eunike lantas hijrah ke Amerika pada tahun 2016 demi mengejar mimpinya menjadi seorang komposer untuk film. Ia pun memutuskan untuk kuliah di Berklee College of Music di Boston, Massachusetts, yang telah melahirkan nama-nama besar seperti komposer Alan Silvestri, penyanyi John Mayer, Charlie Puth, Psy, dan juga Laufey.

Komposer Eunike Tanzil memimpin kelompok orkestra di Berklee College of Music, Boston, Massachusetts, AS (dok: Eunike Tanzil)

Komposer Eunike Tanzil memimpin kelompok orkestra di Berklee College of Music, Boston, Massachusetts, AS (dok: Eunike Tanzil)

Dilansir dari situs Berklee, hingga kini, sebanyak 141 alumninya telah meraih 334 piala Grammy, yang merupakan penghargaan populer tertinggi di dunia musik.

Eunike memilih jurusan film scoring di Berklee, yang masuk ke dalam daftar 20 besar kampus terbaik untuk jurusan tersebut, berdasarkan situs The Hollywood Reporter.

Untuk bisa masuk Berklee pun tidak mudah. Eunike harus melalui proses audisi, dimana pada waktu itu ia memainkan lagu dengan durasi di bawah 6 menit dengan instrumen piano.

“Puji Tuhan masuk dapat beasiswa dan dari situ saya langsung terjun mendalami software-nya, kenal guru-gurunya,” kenang alumni SMA Methodist Charles Wesley di Medan ini.

Komposer, sekaligus produser, Eunike Tanzil (kanan) saat menggarap lagu "Only Mine" di studio bersama penyanyi Laufey (kiri) (dok: Eunike)

Komposer, sekaligus produser, Eunike Tanzil (kanan) saat menggarap lagu “Only Mine” di studio bersama penyanyi Laufey (kiri) (dok: Eunike)

Kuliah di Berklee telah mempertemukannya dengan Laufey yang pada waktu itu ikut bermain dalam kelompok orkestra.

“Jadi waktu itu dia main di orkestra. Aku kan dulu sering ada recording session seperti itu ya. Jadi ngerekam lagu-lagu aku di kelas. Kelasnya itu di recording studio. Nah, dia itu dulu sebagai pemain cello,” kata Eunike.

Berkarya di Hollywood

Lulus dari Berklee tahun 2020, Eunike pindah ke Los Angeles untuk bekerja sebagai asisten untuk komposer Jeff Danna, yang terkenal lewat karyanya dalam film produksi Disney, Onward, dan Trollhunters: Rise of the Titans. Pada waktu itu ia ikut membantu penggarapan musik untuk film The Addams Family 2.

“Pada saat itu kita (rekaman) di Warner Brothers studio. Jadi saya yang in charge jadi asistennya dia,” jelasnya.

Eunike Tanzil di Warner Brothers Studio di Los Angeles, California (dok: Eunike Tanzil)

Eunike Tanzil di Warner Brothers Studio di Los Angeles, California (dok: Eunike Tanzil)

Namun, Eunike tahu bahwa dirinya tidak ingin selamanya menjadi asisten komposer. Ia pun lalu menyudahi pekerjaannya dan pindah ke New York untuk menempuh kuliah S2 di The Juilliard School, yang masuk ke dalam daftar 20 besar sekolah musik terbaik di dunia menurut situs the Hollywood Reporter.

Juilliard sudah melahirkan banyak nama besar, termasuk mendiang Robin Williams, aktris Jessica Chastain, mendiang Miles Davis, dan pemain cello, Yo-Yo Ma.

Untuk masuk ke Juilliard, Eunike lagi-lagi harus melalui proses audisi yang jauh lebih ketat. Jika mendaftar sebagai penampil, ia harus mengirimkan video dirinya memainkan 2 lagu terlebih dahulu untuk melalui proses seleksi di tahap awal.

Selanjutnya ia harus mengikuti audisi dengan memainkan 4 lagu, diikuti dengan tahap wawancara. Semuanya berhasil ia lalui sampai akhirnya ia menerima beasiswa penuh dari Juilliard dan menempuh pendidikan S2 dengan jurusan teori dan komposisi musik.

Viral di Media Sosial

Lulus dari Juilliard tahun 2023 lalu, Eunike memilih untuk pindah kembali ke Los Angeles untuk mencari pekerjaan.

“Los Angeles itu memang hub-nya buat director, buat filmmaker, buat Hollywood. Jadi lebih banyak event buat komposer, media, lebih banyak networking,” jelas Eunike.

Eunike Tanzil saat lulus dari The Juilliard School, New York (dok: Eunike Tanzil)

Eunike Tanzil saat lulus dari The Juilliard School, New York (dok: Eunike Tanzil)

Namun, sayangnya pasca kelulusannya, industri perfilman di Hollywood tengah dihadapi pemogokkan yang dilakukan oleh para penulis naskah dan aktor, terkait tuntutan keadilan gaji dan kondisi kerja yang lebih layak.

Writer’s strike, enggak ada yang hire,” ujar penggemar karya-karya komposer ternama Hans Zimmer ini.

Di waktu luangnya, Eunike lalu terdorong untuk berkreasi dengan membuat beragam konten di media sosial. Salah satunya seri ‘Hum Me a Melody,’ dimana ia meminta orang-orang di jalanan untuk menyenandungkan melodi pendek, yang lalu ia kembangkan menjadi sebuah karya musik orkestra.

“Nah, dari situ aku bikin beberapa, 2-3 video dan reaksinya sangat-sangat positif,” katanya.

Maura Munaf yang kini bekerja sebagai penulis wara (red.copywriter) di New York adalah salah satu yang terpilih oleh Eunike untuk konten ‘Hum Me a Melody’nya ini. Menurut Maura, Eunike adalah sosok yang rendah hati dan berbakat.

“Lucu, karena menurutku, aku tidak bisa menyanyi. Jadi mendengar melodi yang menurutku tidak enak didengar dan dibuat menjadi musik orkestra yang berpotensi menjadi musik untuk film, menurutku luar biasa,” kata Maura Munaf kepada BuzzFeed.co.id.

Maura menambahkan, Eunike adalah sosok yang kerap kagum dan memiliki apresiasi terhadap sesama pekerja kreatif. Itulah yang menurut Maura membuat Eunike sukses. Bagi Maura, sungguh menyemangati ketika tahu ada sesama orang Indonesia di Amerika dengan mimpi yang besar dan bisa mewujudkan impiannya tersebut.

Eunike juga sempat viral di Instagram ketika salah satu unggahannya dimana ia menciptakan musik orkestra pendek di pesawat, saat melakukan penerbangan selama 18 jam, berhasil ditonton sebanyak 3,2 juta kali dan dibanjiri lebih dari 8,000 komentar di Instagram.

Penyanyi papan atas Amerika, HER, dan juga penyanyi Indonesia, Tompi pun ikut memberikan komentar lewat emoji. Siapa yang menyangka kalau konten unggahannya itu telah membuka jalan untuk bertemu dengan pelaku di industri kreatif Amerika. Menurut Eunike hal-hal seperti ini sangat penting bagi pekerja paruh waktu seperti dirinya.

“Nah dari situ director-nya ‘Only Murders in the Building’ connect ke aku, dia reach out, terus akhirnya kita lunch bareng,” cerita komposer yang hobi memasak dan traveling ini.

Apakah akan ada kolaborasi dalam waktu dekat ini?

“Kalau ada juga aku enggak bisa bilang,” katanya sambil tertawa.

Komposer Imigran

Salah satu tantangan menjadi komposer di Amerika adalah kompetisi yang tinggi dan kurangnya representatif, khususnya dari imigran perempuan keturunan Asia.

Komposer, sekaligus produser musik dan pianis asal Medan, Eunike Tanzil di Los Angeles, California (dok: Eunike Tanzil)

Komposer, sekaligus produser musik dan pianis asal Medan, Eunike Tanzil di Los Angeles, California (dok: Eunike Tanzil)

“Awalnya enggak pernah kedengaran komposer Asia atau film-film yang lebih (mengangkat orang Amerika keturunan Asia) contohnya. Tapi makin lama, seperti tahun lalu, semakin kedengaran. Industri ini sudah mulai mengakui (orang-orang Asia keturunan Amerika), di (Amerika) dari film ‘Everything, Everywhere All at Once,’” jelas Eunike.

Tidak hanya itu, sebagai pekerja paruh waktu ia juga ditantang untuk proaktif dalam mencari pekerjaan. Itulah yang mendorongnya untuk meluangkan waktunya untuk aktif di media sosial.

“Karena menurut aku itu salah satu cara yang paling efektif untuk menarik perhatian industri kreatif, yang orang-orang yang aku enggak pernah kenal gitu,” ujarnya.

Berkarya di Dunia Internasional

Tidak hanya banyak menghasilkan karya pribadi, Eunike belum lama ini juga menjadi komposer utama dalam film bertema komedi romantis, bertajuk ‘Asian Persuassion,’ yang dirilis tahun 2023. Ini merupakan proyek tersulit yang pernah ia kerjakan.

“Aku harus jadi the captain of my own ship dan waktu itu deadlinenya juga sangat singkat,” jelasnya.

Komposer Eunike Tanzil memimpin kelompok orkestra di Thai Cultural Center, Bangkok (dok: Eunike Tanzil)

Komposer Eunike Tanzil memimpin kelompok orkestra di Thai Cultural Center, Bangkok (dok: Eunike Tanzil)

Dalam proyek ini, Eunike harus membentuk tim yang terdiri dari orkestrator, mixing engineer dan pemain instrumen. Tidak hanya itu, ini merupakan proyek pertamanya yang mengangkat tema komedi romantis, ditambah lagi ini adalah film produksi Amerika pertamanya sebagai komposer utama.

“Jadi harus representatif ke akunya juga. Harus paling mewakili aku dalam jangka waktu yang singkat, harus selesai di style yang aku enggak pernah ngerjain gitu,” katanya.

Selain film ‘Asian Persuassion,’ Eunike juga pernah terlibat dalam penggarapan musik untuk film ‘Abominable and the Invincible City’ dan ‘I Wanna Dance with Somebody,’ yang mengangkat kisah hidup mendiang penyanyi Whitney Houston.

Single pertama Eunike yang dirilis tahun 2023 berjudul, “Scenes from a Voyage,” telah ditonton lebih dari 287 ribu kali di Instagram dan 420 ribu kali di TikTok, serta menuai komentar pujian dari Laufey yang menyebutnya “sangat cantik.”

Lagu berdurasi kurang dari 1 menit ini ia rekam bersama Hollywood Studio Symphony Orchestra di Warner Brothers Eastwood Scoring Stage di Los Angeles, California.

Eunike Tanzil saat merekam single-nya, "Scenes from a Voyage" di Warner Bros. Eastwood Scoring Stage di Los Angeles (dok: Eunike Tanzil)

Eunike Tanzil saat merekam single-nya, “Scenes from a Voyage” di Warner Bros. Eastwood Scoring Stage di Los Angeles (dok: Eunike Tanzil)

Tidak hanya itu, belum lama ini Eunike juga menjadi produser untuk penyanyi sekaligus penulis lagu, Feby Putri di Indonesia, dan beberapa proyek lainnya di Indonesia. Adalah keinginannya untuk mengembangkan karirnya di dunia internasional.

“Pengin sih berkolaborasi sama beberapa penyanyi. Menurut aku di Amerika (biaya)nya lebih besar dan apresiasi terhadap musik orkestra lebih tinggi. Jadi (itulah mengapa) awalnya aku memutuskan untuk tinggal di (AS), networking-nya juga sama orang-orang di (AS), karena peluangnya lebih besar,” ujarnya.

“Dan (sekali menembus pasar internasional) menurut aku jauh lebih mudah untuk ke industri Indonesia,” tambahnya.

Eunike Tanzil di Warner Brothers Studio di Los Angeles, California (dok: Eunike Tanzil)

Eunike Tanzil di Warner Brothers Studio di Los Angeles, California (dok: Eunike Tanzil)

Kuncinya menurut Eunike adalah jangan menunggu.

“Karena kalau di industri musik itu sudah banyak musik yang bagus sebenarnya di dunia ini. Jadi kalau kamu benar-benar yakin sama musik kamu, yakin sama talenta kamu dan skill kamu, just show it to the world, and jangan takut atas criticism atau backlash dari orang-orang, karena you just have to do what you have to do buat penetrate di industri ini,” pungkas Eunike. [di/dw]

Sumber Berita

Apa Reaksimu?

Lainnya Dari BuzzFeed