Connect with us

Dahlan Iskan

Kenyataan Baru, Nasehat Guru Besar Singapura untuk Amerika

Kenyataan Baru, Nasehat Guru Besar Singapura untuk Amerika

[ad_1]

SIAPA yang bisa menasihati Amerika? Mungkin tidak ada. Tapi guru besar ini mencobanya. Ia juga seorang diplomat hebat. Namanya: Prof Dr Kishore Mahbubani. Ia pernah menjabat ketua Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia duta besar Singapura untuk PBB –selama dua periode yang panjang. Ia lantas menjabat dekan kebijakan publik Lee Kuan Yew School di Singapore National University.

Dan Mahbubani adalah juga penggemar lagu-lagu India. Khususnya yang dinyanyikan oleh Mohamad Rafi –yang lagunya menghiasi ribuan film India. Rafi sampai mendapat gelar ”Penyanyi Abad Ini” – -meninggal tahun 1980. Di umurnya yang relatif muda: 55 tahun. Sambil menulis ini pun saya mendengarkan lagu-lagunya Rafi itu.

Mahbubani lahir di Singapura. Orang tuanya mengungsi dari India. Yakni saat terjadi kerusuhan masal yang hebat di India. Yakni saat tiba-tiba Inggris memisahkan Pakistan dari India. Tanggal 14 Agustus 1947. Penduduk yang Islam harus mengungsi ke wilayah yang disebut Pakistan. Yang Hindu harus pindah ke tanah yang disebut India. Dalam waktu satu hari. Sangat berdarah.

Profesor Mahbubani kini berumur 74 tahun. Masih sangat sehat dan segar. Sudah pula menulis 8 buku. Mengenai Amerika, Asia, Tiongkok, dan Singapura. Semuanya laris. Semuanya jadi pegangan para pengambil kebijakan di banyak negara.

“Kita harus membantu Presiden Joe Biden agar Amerika sukses,” ujarnya dalam suatu Webinar internasional belum lama ini. Sampai sekarang video Webinar itu terus beredar luas. “Kita” yang ia maksud adalah para pemimpin Asia.

“Kalau sampai Biden gagal Donald Trump akan kembali,” kata Mahbubani. Dan itu bencana bagi dunia.

Ia pun menasihati Amerika agar realistis. “Menghalangi Tiongkok menjadi kekuatan nomor 1 di dunia akan gagal. Pasti gagal,” ujar Mahbubani.

Untuk apa Amerika punya niat seperti itu. Seperti tidak senang melihat orang lain maju.

Tiongkok sendiri tidak punya tujuan untuk menjadi nomor 1 di dunia. Tujuan utama Tiongkok adalah mengentas kemiskinan rakyatnya. Lalu memakmurkannya. Dan memajukan negaranya.

Hanya saja ketika tujuan itu tercapai secara otomatis Tiongkok menjadi kekuatan nomor 1 dunia.

Mahbubani juga menilai Amerika itu ingin komunisme lenyap dari Tiongkok.

“Itu juga tidak mungkin. PKC itu partai terkuat di dunia. Bahkan kini banyak universitas di Amerika mulai mengaji kesuksesannya,” ujar Mahbubani.

Amerika, katanya, harus menyadari bahwa abad ini tidak sama lagi dengan abad yang lalu. Abad yang lalu adalah abad yang bisa membuat Amerika menjadi negara paling hebat di dunia. Ia lantas menguraikan kehebatan Amerika di segala bidang kehidupan.

Tapi Amerika kini punya persoalan internal yang berat. Itu sudah terjadi sejak 30 tahun terakhir. Yakni, pendapatan 50 persen masyarakat Amerika terus menurun.

Menurut Mahbubani Amerika harus tahu kenyataan itu. Dan harus mengambil langkah mengatasinya. Tanpa pemikiran yang baru, pendapatan 50 persen masyarakatnya akan terus menurun.

Misalnya: mengapa Amerika menganggarkan USD 1,3 triliun untuk pertahanan. Yakni untuk menciptakan pesawat tempur tercanggih. Mengapa anggaran itu tidak untuk menaikkan ekonomi 50 persen masyarakatnya.

“Sebaliknya Tiongkok menganggarkan USD 1,7 triliun untuk membangun infrastruktur di banyak negara,” ujar Mahbubani.

Itu akan membuat Amerika semakin kehilangan pengaruh di dunia.

Maka profesor itu tegas sekali mengatakan: hentikan perang dagang, hentikan memojokkan Tiongkok, jangan mancing-mancing soal Taiwan dan segera bebaskan Meng Wanzhou –putri pendiri Huawei itu.

Untuk memperbaiki ekonomi 50 persen penduduk lapisan bawahnya itu, menurut Mahbubani, tidak ada jalan lain kecuali kerja sama dengan Tiongkok. “Pasar ritel Tiongkok itu besar sekali,” ujarnya.

Tahun 2019, pasar ritel Tiongkok sebesar USD 3 triliun. Pasar ritel Amerika memang masih USD 4 triliun. Tapi sekarang ini pasar ritel Tiongkok sudah USD 6 triliun. Sedang pasar ritel Amerika USD 5 triliun.

Jadi Tiongkok memang sedang dalam proses menuju menang. Kenyataan baru ini tidak bisa dihalangi. Apalagi lewat kebijakan pemisahan ekonomi Amerika dan ekonomi Tiongkok. Itu pula topik bahasan buku terbaru Mahbubani: Has China Won.

Biden sendiri, kata Mahbubani, sebenarnya pernah mengatakan Tiongkok memang akan menjadi nomor satu dunia. Pada saatnya. Biden sudah menyadari kenyataan baru itu. Bahkan Biden mengatakan itu akan terjadi di depan matanya sendiri. “Tapi rasanya tidak mungkin dalam empat tahun ini,” ujar Mahbubani. Yang mungkin adalah –saat itu nanti terjadi– Biden masih hidup dan mengalaminya.

Indonesia pun tidak akan bisa menolak kenyataan itu. Senang atau benci. Misalkan orang se Indonesia ramai-ramai kompak membenci Tiongkok. Pun tidak akan menghalangi negara itu menjadi nomor satu.

So what. Maka fokus kita baiknya terus menginventarisasi apa saja yang bisa kita manfaatkan dari Tiongkok. Terutama pasarnya yang sangat besar itu.

Tapi, sekarang ini, siapa yang berani bicara pro Tiongkok di Amerika? Pun di sini? Pembicaraan soal ini harus dibuka. Justru agar tahu apa yang harus kita lakukan atas kenyataan baru itu.

“Kalau di Washington DC ada yang usulkan kembali berhubungan baik dengan Tiongkok, ia bisa ditembak orang,” ujar Mahbubani.

Juga di Indonesia? (Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/1324/kenyataan-baru#.YKrE4q_bSdY

.

[ad_2]

Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Dahlan Iskan

Garuda Masker Lima

Garuda Masker Lima

[ad_1]

SAYA merasa ikut bersalah. Saya pernah mengangkat orang seperti Emirsyah Satar menjadi dirut Garuda Indonesia. Yang belakangan ternyata terbukti melakukan korupsi. Lewat cara yang tidak mungkin saya ketahui. Juga tidak bisa diketahui oleh pengusaha besar yang begitu ”keras” dalam menyikapi keuangan: Chairul Tanjung.

Padahal CT itu –begitu boss CTCorp itu biasa dipanggil– adalah pemegang saham yang cukup besar di Garuda: hampir 29 persen.

Saya pernah berbicara dengan CT. Bertiga. Topiknya: bagaimana orang seperti ia dan saya bisa tertipu melihat Emirsyah Satar. Yang secara perusahaan, di bawah Satar, Garuda memang terlihat maju sekali. Kami begitu marah saat itu. Merasa dikhianati.

Korupsinya begitu canggih. Tidak ada lembaga pengawas di Indonesia yang bisa mengetahui. Tidak pula Dewan Komisaris Garuda. Korupsi Satar itu hanya bisa terbongkar justru karena ada peristiwa korupsi yang terungkap di luar negeri. Ternyata Satar mengambil komisi dari pengadaan pesawat Garuda.

Saya dan CT lama terdiam berdua. Kok bisa dikecoh oleh Satar. CT lebih marah lagi. Ia merasa pengorbanannya menolong keuangan Garuda seperti dicampakkan. Akibat menolong Garuda itu, CT sekarang dirugikan sekitar Rp 4 triliun.

Di swasta, untuk pengadaan barang yang begitu besar, bukan direksi yang melakukan. Melainkan pemilik perusahaan. Karena itu tidak perlu ada komisi. Komisi seperti itu harus dimasukkan dalam potongan harga barang. Dengan demikian perusahaan mendapat pesawat lebih murah.

Di swasta, kalau pun yang melakukan pembelian adalah direksi itu hanya tahap negosiasi. Kata akhir tetap ada pada pemilik perusahaan –pemegang saham.

Di swasta, yang biasa terjadi adalah begini: direksi sudah melakukan negosiasi untuk membeli sesuatu. Sudah ditawar habis. Harga sudah disepakati. Tapi untuk pembayaran harus melibatkan pemegang saham.

Di tahap itulah pemegang saham bertemu pihak penjual. Ia mengatakan tanpa basa basi: saya bisa menyetujui keputusan direksi saya, kalau harga itu dipotong sekian persen.

Artinya, negosiasi final ada di pemegang saham. Pemegang saham seperti CT, atau saya, biasa melakukan itu. Di swasta. Orang seperti kami biasa curiga. Jangan-jangan ada komisi di balik transaksi itu. Maka kemungkinan adanya komisi itulah yang kami ambil –untuk penghematan di perusahaan. Perusahaan bisa mendapat barang lebih murah.

Lama-lama direksi kami tahu: tidak ada gunanya berusaha cari komisi. Lama-lama membudayalah menjadi perusahaan yang lebih bersih.

Prinsip seperti itulah yang sulit dilakukan di BUMN. Apalagi BUMN yang sudah go public seperti Garuda. Pemegang saham tidak boleh mencampuri urusan direksi. Sama sekali. Begitu pemegang saham campur tangan akan dianggap melanggar UU.

Apalagi di BUMN itu begitu sering ganti direksi. Juga harus ganti pemegang saham tiap lima tahun –sesuai dengan jadwal Pemilu lima tahunan. Membudayakan perusahaan bersih sulit sekali dilakukan. Sebelum budaya bersih terbentuk sudah berubah lagi. Beda dengan di swasta. Yang pemegang sahamnya itu-itu terus. Yang direksinya itu-itu terus. Budaya apa saja bisa dibentuk dengan utuh di swasta. Yang jelek maupun yang baik.

Di BUMN juga sudah membudaya mengatur buku keuangan. Sebagian untuk menutupi kelemahan direksi yang sedang menjabat –karena ingin agar bisa terus menjabat. Sebagian untuk menutupi kelemahan direksi sebelumnya.

Kelemahan buku keuangan sebelumnya ditutupi dengan penukangan buku keuangan yang baru. Kalau tidak melakukan itu maka buku direksi yang baru tidak akan kunjung baik. Rapornya akan jelek.

Apalagi kalau direksi baru itu bukan saja tidak mampu menutupi lubang lama. Tapi justru hanya bisa membuat lubang baru. Yang lebih dalam.

Maka pekerjaan setiap direksi hanya menutup lubang lama. Sambil membuat lubang baru yang lebih dalam.

Tidak semua BUMN begitu. Banyak yang tidak begitu.

Menjadi menteri lima tahun –apalagi hanya tiga tahun seperti saya– apa yang bisa dilakukan?

Kuncinya tinggal satu: memilih orang yang benar. Dengan risiko, ketika memilih 10 orang benar ternyata yang benar-benar baik hanya 8 orang. Ada saja orang hebat seperti Satar.

Saya menyesal tidak mendengarkan bisikan istri saya: hati-hati dengan orang itu. Padahal dia membisikkannya tidak hanya satu kali. Kadang-kadang bisikan istri harus didengar –istri punya indra yang berbeda.

Persoalan menutup lubang lama, lalu membuat lubang baru yang lebih dalam itu, kini menjadi lebih dramatis: ketika terjadi pandemi Covid-19. Ketika pendapatan Garuda menurun –anjlok– tinggal 10 persen. Siapa pun pusing menghadapi persoalan Garuda sekarang ini.

Saya pun tidak punya kemampuan usul apa-apa –kecuali ini: direksi Garuda tidak perlu malu ke PKPU. Garuda akan lebih sehat nanti. Operasional Garuda akan lancar kembali.

Kalau malu datang ke PKPU mintalah komisaris untuk mendampingi. Orang seperti Yenny Wahid akan mau. Toh selama jadi komisaris, Mbak Yenny hanya lebih banyak dapat bully daripada dapat gaji. Begitu diangkat jadi komisaris hanya terima 50 persen gaji. Lalu, ketika Garuda kian sulit, dia minta tidak usah digaji.

Jangan minta uang ke pemerintah. Jangan. Pemerintah sudah sangat sulit.

Tanggalkan gengsi dan malu. Pergilah ke PKPU. Jangan tunggu pemberi utang yang ke PKPU. Mereka tidak akan mau ke PKPU.

Pakailah masker rangkap lima ketika datang ke PKPU –untuk mengurangi rasa malu dan gengsi yang tinggi. Gengsi tidak akan bisa menyelamatkan siapa-siapa.

Dulu, tidak pernah cukup alasan membawa Garuda ke PKPU. Tidak pernah terjadi, pendapatan merosot sampai 90 persen seperti sekarang. Mumpung ada pandemi. Siapa pun bisa menerima alasan itu. (Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/1336/garuda-masker-lima#.YLlEsRSuJvY

.

[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading

Dahlan Iskan

Kaipang Bingky, teman Gus Dur sudah tiada

Kaipang Bingky, teman Gus Dur sudah tiada

[ad_1]

“Beliau itu Kaipang. Temannya banyak, tapi uangnya tidak ada.”

Julukan ”Kaipang” itu datang dari istrinya sendiri: Ny Bingky Irawan.

Saya menelepon Ny Bingky dari Jakarta. Kemarin sore. Saya mengucapkan duka cita jarak jauh. Bingky Irawan meninggal dunia kemarin pagi. Setelah tiga hari di rumah sakit.

Salah satu teman Bingky yang banyak itu, Anda sudah tahu: Gus Dur –Kiai Haji Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 Republik Indonesia.

Nama Bingky top se-Indonesia tahun 1990-an. Yakni ketika Bingky memperjuangkan perkawinan secara Konghucu. Yang selama Orde Baru dilarang.

Waktu itu pasangan Budi-Lany tidak mau kawin kalau tidak secara Konghucu. Itu tahun 1995. Yakni di Kelenteng Boen Bio, Jalan Kapasan Surabaya.

Ketika perkawinan itu didaftarkan ke catatan sipil, Budi diminta membawa rekomendasi dari Kanwil Departemen Agama Jatim. Kanwil hanya mau memberi rekomendasi perkawinan lima agama yang diakui: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Budi lantas menggugat ke PTUN Surabaya. Ditolak. Lalu naik banding ke pengadilan tinggi Jatim. Ditolak.

Bingky, sebagai Ketua Konghucu Jatim, tampil di depan. Gus Dur –yang ketika itu Ketua Umum PB NU ­–mendukung Bingky. Total. Bahkan sampai hadir di pengadilan. Untuk menjadi saksi.

Budi Widjaya, kini berumur 59 tahun. Rumah tangganya bersama Lany sudah 27 tahun. Anaknya tiga orang. Yang sulung sekolah desain grafis di Singapura. Yang kedua kuliah pendidikan di Hongkong. Yang bungsu masih SMA di Surabaya.

Suami-istri itu kini mengurus lembaga pendidikan milik yayasan mereka sendiri.

Sejak sebelum kawin Budi sudah menjadi pengurus Boen Bio. Bersama Bingky. Bingky dan Budi mengalami hidup yang sulit. Bersama pengurus Kelenteng lainnya. Mereka sering dipanggil penguasa militer. Diperiksa. Diinterogasi. Termasuk saat mereka mengadakan peragaan barongsai di dalam Kelenteng.

Zaman itu semua yang berbau Tionghoa memang dilarang. Tapi sebenarnya tidak –kalau tidak di tempat umum. Hanya saja kesalahan bisa terus dicari.

“Aneh sekali. Barongsai dilarang. Tapi film kungfu diputar terus di semua bioskop Studio 21,” ujar Budi kemarin.

Bingky-Budi bisa dianggap dwi tunggal di Boen Bio. Di saat mengurus Kelenteng itulah Budi berkenalan dengan Lany. Yang juga aktivis dan pengurus Kelenteng di Jalan Jagalan Surabaya.

Sebagai sesama aktivis Konghucu, pasangan ini ngotot harus kawin secara Konghucu. Didukung penuh oleh Bingky.

Bagaimana hari-hari terakhir Bingky?

“Pak Bingky buang air besar terus. Sampai badannya lemas,” ujar Ny Bingky. Itu Sabtu lalu. Langsung dibawa ke rumah sakit. Keesokan harinya Bingky merasa sesak. Senin meninggal.

Bingky memang sering sakit. Lima tahun terakhir. “Pak Bingky terkena autoimmune,” ujar Ny. Bingky. “Kalau lagi menyerang otot kaki, Pak Bingky kesakitan sekali,” tambahnyi.

Itulah sebabnya tahun-tahun terakhir Bingky jarang ke Boen Bio. Lokasi Kelenteng itu di Pecinan Surabaya Utara. Padahal rumah Bingky di dekat Sepanjang, Surabaya Barat Daya.

Dua kali Gus Dur ke rumah itu. Yang tak lain juga toko mracangan. Sekali sebelum jadi presiden. Sekali lagi setelah tidak jadi presiden.

Di rumah, Bingky tidur di atas ranjang yang dulu digunakan Gus Dur – sengaja diberikan kepada Bingky oleh pemiliknya.

Gus Dur memang sayang sekali ke Bingky. Akhirnya Bingky lebih sering tinggal di Jakarta. Agar dekat dengan Gus Dur. “Sampai Pak Bingky dikontrakkan rumah sederhana oleh Gus Dur,” ujar Ny Bingky.

“Yang bayar kontrakan siapa?” tanya saya.

“Ya Gus Dur lah. Mana Pak Bingky punya uang,” ujarnyi.

“Kontrakan rumahnya di mana?”

“Pindah-pindah,” tambahnyi.

Ada satu hal yang menyatukan tokoh Konghucu ini dengan tokoh NU itu: kepercayaan Jawa. Keduanya cocok sekali kalau sudah bicara soal kejawen.

“Anda bisa berbahasa Mandarin?” tanya saya pada Mas Agus, putra sulung Pak Bingky.

“Aku tidak bisa,” jawabnya. “Kalau saya mengerti bahasa Jawa,” tambahnya.

Bingky punya anak 4 orang. Semuanya tidak ada yang bisa bahasa Mandarin. Mereka hidup secara Jawa. “Saya juga tidak bisa Mandarin,” ujar sang istri.

“Ibunda Pak Bingky itu wanita Jawa asli. Ayah Pak Bingky yang Tionghoa totok,” ujar Ny Bingky.

Bingky lahir di Surabaya. Dengan nama bayi Po Soen Bing. Sedang istrinya kelahiran Tuban.

Nama Bingky juga tidak bisa dipisahkan dengan perjuangan Imlek Nasional.

Saat Gus Dur jadi presiden, Bingky sering pergi ke istana. Biasanya dengan Budi Tanujaya dan Chandra.

“Pernah, kami bertiga, jam 4 pagi berangkat ke Istana,” ujar Budi Tanujaya kepada saya tadi malam. Di perjalanan mereka bicara-bicara: apa yang harus disampaikan ke presiden.

“Kita harus bikin Imlek Nasional,” ujar Budi Tanujaya. Mereka setuju.

Imlek, sampai hari itu masih dilarang untuk dirayakan.

Di Istana, soal Imlek itu disampaikan ke Presiden Gus Dur. “Beliau langsung setuju. Bahkan Imleknya beliau minta harus dua kali,” kata Budi Tanujaya. “Imleknya di Jakarta. Cap Go Meh-nya di Surabaya,” ujar Gus Dur seperti ditirukan Budi Tanujaya. Dua-duanya dihadiri presiden.

Natal saja satu kali. Kristen dan Katolik harus jadi satu. Waisak juga satu kali. “Imlek langsung dua kali,” ujarnya lantas tertawa.

Budi Tanujaya kenal Gus Dur sejak lama. Ketika Budi punya proyek menerbitkan ensiklopedia Indonesia. Mereka sudah sering diskusi. “Gus Dur yang akan mengisi bab tentang Islam,” ujar Budi. Tapi Gus Dur tidak punya cukup waktu. Lantas digantikan Dr. Nurcholish Madjid. Akhirnya tokoh pembaharu Islam lainnya, Johan Effendi, yang menulis di Ensiklopedia 18 jilid itu.

Budi Tanujaya adalah pimpinan pusat Matakin –Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia. “Saya dua kali jadi ketua umum tanfidziyah-nya. Satu kali jadi sekretaris syuriah-nya Matakin,” ujar Budi mengutip istilah dalam NU.

Sekarang Budi menjadi ketua umum Konghucu Indonesia setelah tanfidziyah dan syuriah-nya dijadikan satu. Budi juga pernah jadi Wakil ketua umum Barongsai Indonesia, ketika saya menjabat ketua umumnya.

Tidak hanya soal perkawinan dan Imlek, nama Bingky dianggap sebagai pahlawan besar Tionghoa. Juga soal KTP. Yang sejak itu agama Konghucu bisa dicantumkan di KTP.

Sedang soal perkawinan akhirnya berhasil juga. Dua pengadilan sebelumnya memang menolak perkawinan Konghucu. Tapi akhirnya Mahkamah Agung memutuskan mengesahkannya. Keputusan kasasi itu keluar memang sudah tahun 2000 –setelah Gus Dur yang jadi presiden.

Bingky Irawan telah meninggal dunia di usia 71 tahun.

Bingky Irawan masih hidup abadi dengan jasa besarnya. (Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/1332/kaipang-bingky#.YLVUiPQZ9XA

.

[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading

Dahlan Iskan

Harga Pagar Baja, Nasib Kapal Pesiar setelah Pandemi

Harga Pagar Baja, Nasib Kapal Pesiar setelah Pandemi

[ad_1]

KAPAL-kapal pesiar yang mewah itu terlihat lagi antre di pinggir laut. Untuk dihancurkan. Dijadikan besi tua.

Orang seperti saya bisa menitikkan air liur. Atau air mata. Kapal yang begitu mahal dan indah harus dihancurkan.

Tapi itulah bisnis. Perhitungan untung-rugi lebih dipentingkan.

Memang sayang sekali. Tapi pengusaha tidak boleh terlalu terbawa perasaan romantisme. Atau emosional.

Para pemilik kapal itu harus lebih tergiur oleh hitungan bisnis daripada emosi.

Pertama, kapal itu bisa saja tetap dioperasikan. Yakni mengangkut turis kelas atas ke mana saja. Tapi turis lagi lenyap dari muka bumi. Ditelan Covid. Kapal menganggur berbulan-bulan. Bahkan sudah lebih satu tahun.

Bunga pinjaman jalan terus. Biaya perawatan, sandar, dan awak kapal tidak bisa dihentikan. Sedang pendapatannya nol besar. Rugi besar. Terus-menerus.

Kedua, lebih baik kapal itu dijual. Hanya saja, di masa seperti ini, tidak ada orang yang mau beli kapal pesiar.

Ups… yang mau membeli kapal ternyata ada. Bukan untuk dijalankan. Tapi untuk dihancurkan. Dijadikan besi tua. Besinya dijual ke pabrik baja.

Setelah dihitung dengan kepala yang dingin ternyata itu lebih menguntungkan.

Dan ternyata itu tidak hanya terjadi di kapal pesiar. Teman saya, di Indonesia, juga baru saja menjual kapal. Harga jualnya bagus sekali. Panjang kapalnya 200 meter. Cukup besar.

Enam bulan lalu ada pembeli kapal yang berminat. Untuk dipergunakan mengangkut hasil tambang. Penawarannya pun cukup baik: Rp 30 miliar.

Hampir saja teman saya itu melepaskannya. Tapi ia harus memperbaiki dulu kapalnya. Buatan Jepang. Tahun 2000. Baru berumur 20 tahun.

Awal bulan Mei lalu tiba-tiba ada orang mencari kapal. Teman saya itu menawarkan kapalnya. Langsung direspons. Pembeli itu mau dengan harga Rp 37 miliar.

Yang bikin kaget: pembeli berterus terang. Kapal itu akan dihancurkan. Dijadikan besi tua. Dijual ke pabrik baja.

Teman saya itu hampir menangis. Kapal yang ia sayangi itu akan dihancurkan begitu saja. Padahal kapal itu masih bagus. Dan lagi, untuk apa kapal itu ia perbaiki. Yang memakan biaya Rp 2 miliar. Toh akhirnya hanya akan dihancurkan.

Tapi hitung-hitungan bisnis tetap yang utama. Kalau bisa mendapat untung dengan cara menghancurkannya mengapa harus memeliharanya.

Akhirnya kapal itu dijual. Lima hari kemudian teman saya itu dikirimi foto oleh pembelinya. Kapalnya sudah ”duduk manis” di sebuah dok. Siap digergaji –dengan gergaji las. Dihancurkan.

Hampir saja teman saya itu menjual pula kapalnya yang lebih besar lagi. Tapi ia masih terikat kontrak jangka panjang.

Maka ketika saya melihat video yang lagi beredar sekarang –kapal-kapal pesiar yang antre untuk dihancurkan– saya tahu apa yang terjadi di balik itu. Kapal-kapal mewah tersebut lebih menghasilkan uang ketika dijadikan besi tua. Dari pada dijalankannya.

Itulah dunia bisnis. Orang bikin kapal dari besi. Besi dibuat dari besi tua. Kini orang menghancurkan kapal. Untuk dijadikan besi tua.

Harga besi tua memang lagi mahal sekarang ini.

Penyebabnya adalah –siapa lagi kalau bukan– Tiongkok.

Anda sudah tahu: Tiongkok lagi marah ke Australia. Yang dinilai ikut campur urusan dalam negeri Tiongkok.

Sejak 2020 lalu Tiongkok tidak mau lagi membeli bijih besi dari Australia. Juga tidak mau membeli batu baranya. Padahal bijih besi dan batu bara adalah andalan ekspor Australia.

Akibatnya, pabrik-pabrik baja di Tiongkok kekurangan bahan baku. Tiongkok pun menyadari itu. Maka Tiongkok mengubah kebijakannya yang satu ini: tidak lagi melarang impor besi tua.

Sudah tiga tahun Tiongkok melarang impor sampah. Sampah apa pun. Termasuk kertas bekas dan besi tua.

Tiongkok akhirnya mengizinkan impor besi tua –setelah menghukum Australia tadi. Maka besi tua dari belahan dunia mana pun mengalir ke Tiongkok.

Sebagai ikutannya, harga besi di pasaran ikut naik. Para kontraktor sekarang ini pusing sekali. Pusing akibat Covid belum reda ditambah pusing akibat harga besi yang naik drastis.

Padahal para kontraktor itu, ketika menandatangani kontrak, masih pakai perhitungan harga besi yang lama.

“Bulan ini saja harga besi naik dua kali,” ujar seorang kontraktor. Kenaikan harga besi itu mencapai hampir 50 persen. Dari Rp 13.000 ke Rp 18.500/kg. Untuk WF 600.

Pedagang besi juga bingung. Terutama mereka yang impor besi dari Tiongkok. “Pernah dalam satu hari harga besi berubah dua kali,” ujar teman saya, seorang pedagang besi.

Pabrik baja sulit. Pedagang baja sulit. Kontraktor sulit. Satu-satunya yang untung adalah mereka yang selama ini menimbun besi.

Harga aluminium pun ikut naik. Sebesar 20 persen. Berarti usaha pemulihan ekonomi di sektor bangunan menghadapi kendala baru yang sangat besar. Akan banyak orang yang menunda proyek. Harus menunggu harga-harga stabil. Pabrik semen pun akan ikut terpukul. Terutama juga para tukang las dan buruh bangunan.

Maka jagalah pintu pagar Anda. Siapa tahu malam-malam mendadak hilang. Dikilokan orang. (Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/1320/harga-pagar-baja#.YKWENjZk584

.

[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close