Connect with us

VIRUS CORONA

Kelangkaan Oksigen Medis Jateng-DIY Dijanjikan Teratasi

Kelangkaan Oksigen Medis Jateng-DIY Dijanjikan Teratasi

[ad_1]


Awal pekan ini pasokan oksigen medis di Jawa Tengah dan Yogyakarta sempat terganggu. Langkah cepat telah diambil dan dijanjikan akhir pekan ini persoalan teratasi. Kebutuhan oksigen memang meningkat drastis untuk perawatan pasien COVID-19.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sempat menyinggung persoalan ini dalam keterangan resminya, Jumat (25/6). Dia mengatakan, persoalan kekurangan pasokan gas medis untuk rumah sakit di Jawa Tengah adalah karena terganggunya aliran listrik dari PLN. Masalah listrik merembet ke gangguan produksi, tepat ketika kebutuhan oksigen medis melonjak akibat COVID-19.

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan varian delta atau B1617.2 dari India mendominasi kasus Covid di DKI Jakarta, Kudus, dan Bangkalan. (Biro Press)

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan varian delta atau B1617.2 dari India mendominasi kasus Covid di DKI Jakarta, Kudus, dan Bangkalan. (Biro Press)

“Kita sudah berkoordinasi dengan PLN untuk memastikan suplai listriknya konsisten, untuk seluruh pabrik oksigen yang ada di Jawa, agar mereka bisa berproduksi penuh dan tidak terganggu operasionalnya,” kata Budi Gunadi.

Di Jawa ada sembilan pabrik oksigen, masing-masing empat di Jawa Barat dan Jawa Timur, serta satu pabrik di Jawa Tengah. Sekitar tujuh puluh lima persen oksigen dari sembilan pabrik ini dikonsumsi oleh industri dan sisanya oleh rumah sakit. Menurut Budi Gunadi, sektor industri telah bersedia mengalihkan oksigen jatah mereka, jika sektor medis membutuhkan.

Pemasok Akui Kaget

GM PT Samator Jawa Tengah, Julianto Setyoadji. (Foto: VOA/Nurhadi)

GM PT Samator Jawa Tengah, Julianto Setyoadji. (Foto: VOA/Nurhadi)

Dalam perbincangan dengan media pada Jumat (25/6), General Manager PT Samator Jawa Tengah, Julianto Setiyadi menyebut rapat koordinasi telah dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut. Samator adalah perusahaan penyuplai kebutuhan oksigen medis dan industri. Kebutuhan area Jawa Tengah dan Yogyakarta dipenuhi dari pabriknya di Kabupaten Kendal.

Samator telah mengadakan pertemuan dengan pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan menyepakati sejumlah langkah. Julianto menekankan perlunya data kebutuhan oksigen di seluruh rumah sakit, sehingga pihaknya dapat menyusun perencanaan kerja. Julianto mengakui, ada peningkatan tajam penggunaan oksigen medis di rumah sakit beberapa hari ini.

“Peningkatan pasien di sana sudah saya prediksi, kita kirim sejumlah ini, habisnya hari ini. Ternyata berbeda dengan prediksi kita, belum satu hari, baru 12 jam sudah minta lagi, habis. Kaget saya ini,” kata Julianto.

Menurut data PT Samator, kebutuhan oksigen medis di dua provinsi dalam satu hari berkisar 60 ribu hingga 70 ribu meter kubik. Angka itu adalah penggunaan pada masa-masa normal sebelum pandemi. Pada awal kasus COVID-19 kebutuhan bulanan bahkan turun drastis. Bulan keempat atau kelima pandemi, atau sekitar Juni 2020, konsumsi mulai naik lagi.

Seorang pasien COVID-19 bernapas dengan masker non-rebreather di tenda darurat sebuah rumah sakit di Jakarta, 24 Juni 2021. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Seorang pasien COVID-19 bernapas dengan masker non-rebreather di tenda darurat sebuah rumah sakit di Jakarta, 24 Juni 2021. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Julianto mencatat, kebutuhan pada bulan Mei 2021 naik hingga 40 persen dari angka rata-rata.

“Pertengahan Juni itu luar biasa kenaikannya, dalam waktu singkat, hitungan hari saja. Kita sudah antisipasi dengan sejumlah pertemuan, tetapi tidak bisa mengejar karena tidak ada cukup informasi dari bawah,” kata Julianto.

Pangkalan Baru di Yogya

Karena tidak ada pabrik oksigen di Yogyakarta, PT Samator telah sepakat membuka pangkalan baru khusus untuk melayani kebutuhan rumah sakit di kawasan ini. Budi Susanto, manajer operasional perusahaan itu menyebut mereka akan mengirim gas langsung dari pabrik di Kendal, Jawa Tengah menggunakan tangki berkapasitas 17 ribu meter kubik. Selama ini, layanan hanya dipenuhi dengan truk tangki berkapasitas 3.500 meter kubik.

Manajer Operasional PT Samator, Budi Susanto. (Foto: VOA/Nurhadi)

Manajer Operasional PT Samator, Budi Susanto. (Foto: VOA/Nurhadi)

“Karena posisi kami di Kendal, dengan produksi kira-kira 50 ribu meter kubik per hari, konsumsi untuk Jawa Tengah termasuk Yogyakarta itu sudah mencapai 164 ribu meter kubik perhari,” kata Budi.

Menurutnya, angka konsumsi sekitar 70 ribu meter kubik per hari pada kondisi normal mulai naik pada akhir tahun 2020. Puncaknya pada Januari 2021, yang juga disebut sebagai puncak kasus COVID-19, di mana dua provinsi ini membutuhkan pasokan hingga 125 ribu meter kubik per hari. Kini dengan kebutuhan lebih dari 160 ribu meter kubik per hari, kebutuhan harus dipenuhi dari pabrik lain yang berada di Jawa Barat dan Jawa Timur. Budi memastikan, proses ini akan membutuhkan waktu.

Seorang pasien COVID-19 duduk di atas velbed di tenda sementara di luar ruang gawat darurat rumah sakit pemerintah di Bekasi, 25 Juni 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Seorang pasien COVID-19 duduk di atas velbed di tenda sementara di luar ruang gawat darurat rumah sakit pemerintah di Bekasi, 25 Juni 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Untuk sementara ini, kerja sama antarrumah sakit yang berjalan baik menjadi jalan keluarnya.

“Saya berterimakasih, rumah sakit mau mengerti. Mereka juga ikut ambil bagian dalam mengelola penggunaan oksigen. Yang masih memiliki pasokan cukup untuk sekian jam, dialihkan untuk dikirimkan ke rumah sakit lain yang sudah kritis, mendekati kosong. Dengan seperti itu, sangat membantu kami sebagai produsen,” ujar Budi.

Seluruh pihak telah memberikan dukungan untuk mengatasi kekurangan pasokan oksigen medis di Jawa Tengah dan Yogyakarta. PLN memastikan suplai listrik tanpa kendala ke depan. Pemerintah daerah melalui Dinas Perhubungan juga mendukung distribusi dengan langkah-langkah teknis di lapangan. Namun, menurut Budi yang tidak boleh dilewatkan adalah dukungan dari masyarakat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, agar risiko masuk rumah sakit kecil dan pada gilirannya tidak membebani kebutuhan oksigen.

Kepala Dinas Kesehatan DI Yogyakarta, Pembajun Setyaningastutie. (Foto: VOA/Nurhadi)

Kepala Dinas Kesehatan DI Yogyakarta, Pembajun Setyaningastutie. (Foto: VOA/Nurhadi)

Kepala Dinas Kesehatan DI Yogyakarta, Pembajun Setyaningastutie mengakui kondisi ini, tetapi sekaligus berjanji untuk segera mengatasinya.

“Memang pemakaiannya meningkat, hampir tiga kali lipatnya. Tetapi kami sudah berkomitmen, kebutuhan oksigen di DI Yogyakarta, bisa tercukupi. Enggak usah 100 persen, minimal 80 persen, dan yang diharapkan teman-teman di rumah sakit itu adalah kontinuitas pasokan,” katanya. [ns/ka]

[ad_2]

Source link

Advertisement
Click to comment

VIRUS CORONA

Laju Vaksinasi di Daerah di AS yang Dilanda Varian Delta Kini Meningkat

Laju Vaksinasi di Daerah di AS yang Dilanda Varian Delta Kini Meningkat

[ad_1]

Gedung Putih, Kamis (22/7), mengatakan vaksinasi COVID-19 di negara-negara bagian yang terpukul hebat oleh perebakan luas varian Delta yang menyebar dengan sangat cepat, kini meningkat.

Koordinator Penanganan COVID-19 di Amerika Serikat (AS), Jeff Zients, mengatakan kepada wartawan bahwa warga di beberapa negara bagian dengan proporsi tingkat perebakan virus corona baru tertinggi kini mulai berupaya untuk mendapat vaksinasi COVID-19. Laju vaksinasi di wilayah-wilayah itu kini lebih tinggi dibanding laju vaksinasi di AS secara keseluruhan.

Para pejabat Amerika merujuk Arkansas, Florida, Louisiana, Missouri dan Nevada sebagai contoh di mana kini terjadi laju vaksinasi yang lebih cepat.

Varian Delta, yang menyebar secara lebih agresif, kini menyumbang sekitar 83 persen kasus baru secara nasional dan menjadi varian yang dominan di setiap wilayah. Meskipun sejumlah pejabat kesehatan mengingatkan bahwa AS kembali berada di tiitk kritis lain dalam pandemi ini, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) tidak mengubah pedomannya bahwa orang yang sudah divaksinasi penuh tidak perlu lagi mengenakan masker.

Direktur CDC Dr. Rochelle Walensky mengatakan keputusan di tingkat lokal tentang perlu tidaknya mengenakan masker dapat bervariasi, tergantung pada laju vaksinasi dan ada tidaknya lonjakan kasus baru.

Walensky mengatakan risiko terbesar saat ini adalah terhadap orang-orang yang tidak divaksinasi.

“Kami telah secara konsisten dan berulang kali mengatakan, jika Anda tidak divaksinasi, Anda perlu mengenakan masker untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar,” kata Walensky.

Dia menegaskan perlu lebih banyak orang yang divaksinasi untuk menghentikan pandemi ini.

“Jadi secara keseluruhan, rekomendasi CDC tidak berubah. Orang yang sudah divaksinasi penuh terlindung dari penyakit berat,” imbuhnya. [em/lt]

[ad_2]

Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

Pfizer-BioNTech Sepakat Produksi Vaksin COVID-19 untuk Afrika

Pfizer-BioNTech Sepakat Produksi Vaksin COVID-19 untuk Afrika

[ad_1]

Pfizer dan BioNTech telah bersepakat dengan Institut Biovac di Afrika Selatan untuk memproduksi vaksin COVID-19 mereka dan mendistribusikannya di Afrika, kata perusahaan bioteknologi itu, Rabu.

Perusahaan di Cape Town itu akan memproduksi 100 juta dosis vaksin setiap tahun mulai 2022, mencampur bahan vaksin yang diterimanya dari Eropa, memasukkan ke botol, dan mengemasnya untuk didistribusi ke 54 negara di Afrika. Kesepakatan itu pada akhirnya akan membantu mengurangi kekurangan vaksin di benua itu. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika mengatakan kurang dari 2% dari 1,3 miliar populasinya telah menerima setidaknya satu dosis vaksin.

CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan tujuan perusahaan itu adalah memberi vaksin itu kepada orang-orang di seluruh Afrika, menyimpang dari perjanjian bilateral di mana sebagian besar dosis dijual ke negara-negara kaya.

Vaksin Johnson & Johnson sudah diproduksi di Afrika Selatan dalam proses “isi dan kemas” serupa dan memiliki kapasitas produksi lebih dari 200 juta dosis per tahun. Vaksin-vaksin itu juga sedang didistribusikan ke seluruh benua Afrika.[ka/jm]

[ad_2]

Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

351 Ribu Anak di Indonesia Terpapar COVID-19

351 Ribu Anak di Indonesia Terpapar COVID-19

[ad_1]


Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah mengungkapkan hingga 16 Juli 2021 sebaran kasus COVID-19 pada usia anak sekolah mencapai 12,83 persen dari seluruh kasus terkonfirmasi positif di Indonesia.

“Dari seluruh kasus di Indonesia yang 2,4 juta kalau kita lihat usia di bawah 18 tahun ini ada 351.336 atau sekitar 12,83 persen. Seperdelapan kasus COVID-19 yang ada di Indonesia berasal dari usia anak-anak dan remaja yaitu di bawah 18 tahun,” ujar Dewi Nur Aisyah dalam webinar “Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak COVID-19,” Senin (19/7).

Grafik Kematian akibat COVID-19 pada anak usia sekolah. Persentase angka kematian tertinggi pada kelompok usia 0-2 tahun, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Grafik Kematian akibat COVID-19 pada anak usia sekolah. Persentase angka kematian tertinggi pada kelompok usia 0-2 tahun, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Anak sekolah usia 7-12 tahun memiliki kasus terbanyak yaitu 101.049, disusul usia 16-18 tahun sebanyak 87.385, berikutnya usia 13-15 tahun dengan 68.370. Sedangkan kasus COVID-19 anak TK usia 3-6 tahun berjumlah 50.449 dan usia PAUD 0-2 tahun berjumlah 44.083.

Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Riau, Sulawesi Selatan, Banten dan Kalimantan Timur menempati peringkat 10 besar provinsi dengan kasus konfirmasi COVID-19 pada usia anak sekolah.

Sulawesi Utara Catat Kematian Anak Tertinggi Akibat COVID-19

Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19 per tanggal 16 Juli 2021 itu memperlihatkan sebanyak 777 anak rentang usia 0-18 tahun meninggal dunia.

Dewi Nur Aisyah mengungkapkan persentase angka kematian tertinggi berada pada kelompok usia 0-2 tahun (0,71 persen) diikuti kelompok usia 16-18 tahun (0,18 persen) dan kelompok usia 3-6 tahun (0,15 persen).

Sebaran kasus COVID-19 pada anak usia sekolah disampaikan oleh Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Sebaran kasus COVID-19 pada anak usia sekolah disampaikan oleh Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

“Kalau berbicara jumlah kasus ternyata belum tentu juga provinsi dengan jumlah kasus anak tertinggi angka kematiannya juga paling tinggi. Karena ternyata untuk usia 0- 2 tahun paling tinggi angka kematian justru berasal dari provinsi Sulawesi Utara (5,29 persen) kasus anak-anak baduta (bawah dua tahun) di sana mengalami kematian, Gorontalo (3,85 persen), NTB (3,35 persen),” kata Dewi Nur Aisyah dalam webinar yang diselenggarakan oleh Save the Children Indonesia bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kementerian Sosial tersebut.

Menurutnya, pencegahan infeksi corona dengan protokol 3M harus dilakukan secara maksimal dengan dukungan dari anggota keluarga khususnya bagi kelompok anak-anak terutama usia di bawah 12 tahun yang belum bisa mendapat vaksin.

COVID-19 Juga Buat Anak Depresi

Psikolog klinis Feka Angge Pramita menjelaskan orang dewasa perlu membantu mempersiapkan anak menghadapi situasi kritis dengan memberikan penjelasan yang jujur seperti saat harus berpisah sementara waktu dengan orang tua/pengasuh yang menjalani isolasi mandiri, dirawat karena COVID-19.

Psikolog klinis Feka Angge Pramita dalam webinar Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak Covid-19, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Psikolog klinis Feka Angge Pramita dalam webinar Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak Covid-19, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

“Itu harus dijelaskan dan itu pasti butuh proses dan sering kali tergantung dari usianya mereka juga, tapi memberikan penjelasan atau mengomunikasikan hal yang sesuai dengan faktanya, itu kalau diberikan penjelasan malah akan memberikan sesuatu hal yang memberikan rasa tenang buat mereka karena kalau mereka tidak dijelaskan atau malah dibohongi mereka bisa menangkap situasinya. Situasi dari orang orang-orang dewasa di sekitar mereka,” kata Feka.

Dalam situasi anak yang berduka karena kehilangan orang tua yang meninggal dunia, anak perlu selalu didampingi oleh orang dewasa disekitar mereka. Selain memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi, juga untuk merespon saat anak mengekspresikan kesedihan yang dirasakannya.

“Merespon itu bagaimana sih, misalkan kalau mereka cerita ‘aduh aku mau ketemu mama, tapi mama kan di Surga’ mungkin kita akan bilang ‘ya berdoa saja’ itu salah satu hal yang baik,” ujar Feka.

Anak-anak bermain di luar kawasan pemukimannya di Jakarta, 22 Juni 2021, saat diberlakukannya pembatasan wilayah di tengah pandemi COVID-19. (Foto: BAY ISMOYO / AFP)

Anak-anak bermain di luar kawasan pemukimannya di Jakarta, 22 Juni 2021, saat diberlakukannya pembatasan wilayah di tengah pandemi COVID-19. (Foto: BAY ISMOYO / AFP)

Menurutnya diperlukan figur yang berperan sebagai orang tua, yang memberikan kasih sayang, mendengarkan dan merespon kebutuhan anak.

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial RI, Kanya Eka Santi menilai perlu ada shelter transisi bagi anak untuk menjalani isolasi mandiri, setelah bagian dari keluarganya terpapar COVID-19. Penularan COVID-19 yang cepat membuat pilihan untuk memindahkan pengasuhan anak kepada keluarga lainnya rentan menularkan virus corona.

“Misalnya orang tuanya terpapar, lalu anak-anaknya tidak terpapar lalu tanpa memikirkan itu melewati masa inkubasi, anak-anaknya dipindahkan ke keluarga lain lalu keluarga ini ikut terpapar. Sehingga proses untuk menunda agar ini tidak langsung ke keluarga besar itu butuh shelter khusus,” kata Kanya Eka Santi

Kementerian Sosial menurutnya sudah menyusun protokol pengasuhan yang mengharuskan rumah sakit untuk menanyakan orang tua yang masuk untuk dirawat bila memiliki anak yang ditinggalkan di rumah. Bila anak yang ditinggalkan tidak ada yang mengasuh maka harus segera dilaporkan ke Dinas Sosial setempat. [yl/em]

[ad_2]

Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close