Connect with us

HEADLINE

Kearifan Hutan Lindung dengan Keanekaragaman yang Tak Terbatas

Kearifan Hutan Lindung dengan Keanekaragaman yang Tak Terbatas


#WritingChallengeGNFI #CeritadariKawanGNFI

National Nature Heritage, begitu sapaanya untuk surga tersembunyi yang memiliki nilai eksotisme tersendiri bagi masyarakat Pekalongan, Jawa Tengah. Hutan lindung satu ini merupakan satu-satunya hutan yang keberadaannya sangat dekat dengan wilayah perkotaan.

Ya, cukup dengan 45 menit saja berkendara motor dari jantung kota Pekalongan, Kawan bisa menikmati suguhan warisan alam yang ada di dalamnya. Cukup dengan mengetik kata “Petungkriyono” dalam pencarian google pun agaknya sudah banyak sekali informasi yang disampaikan tentang eksotisme hutan lindung ini.

Sedikit mengulas tentang keberadaannya, hutan lindung Petungkriyono secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Pekalongan bagian selatan dengan ketinggian 600-2100 mdpl dan termasuk dalam rangkaian dataran tinggi Pegunungan Dieng. Hutan Petungkriyono merupakan hutan lindung terbatas milik negara yang kepengurusannya berada di bawah naungan BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur dengan luas 1.931,90 Ha berdasarkan SK Menhut Nomor 359/Menhut.II/2004 tanggal 1 Oktober 2004.

Wisata air menjadi salah satu dari berbagai destinasi wisata yang bisa dinikmati di Hutan Petungkriyono. Aliran sungai Welo yang diapit ngarai-ngarai terjal dalam hutan menjadi kenikmatan tersendiri, baik bagi masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung. Black Canyon Petungkriyono dan Welo Asri adalah salah kedua destinasi yang paling digandrungi oleh wisatawan saat libur tiba. Kesegaran air nan jernih yang mengalir deras menjadi obat dari rasa penat, setelah menjalani rutinitas sehari-hari.

Berangkat dari pengalaman saat mengunjungi hutan nan eksotis ini, saya dikejutkan oleh banyak sekali keindahan yang ada di dalamnya. Suara tenggeret dan kicau burung yang bersahutan mengiringi perjalanan saya di atas doplak yang turut mengangkut kebutuhan pangan, saat menyusuri jalan aspal berkelok yang tidak seberapa lebarnya.

Ya, doplak menjadi satu-satunya angkutan umum dalam hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menjual hasil alam, maupun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk solo traveler seperti saya, doplak menjadi salah satu angkutan yang sangat membantu untuk mengakses Hutan Petungkriyono.

Dusun Sokokembang adalah dusun terdekat dari kota dan merupakan dusun pertama yang dilewati saat melintasi Hutan Petungkriyono. Di dusun ini pula, saya singgah selama beberapa waktu untuk sampling dan tipis-tipis menikmati keindahan alam dari Hutan Petungkriyono.

Pernahkah Kawan mendengar atau sekadar tahu tentang kopi owa? Dari dusun Sokokembang-lah kopi itu berasal. Berawal dari program konservasi Primata yang dilakukan oleh Arif Setiawan selaku peneliti UGM dengan menggandeng Tasuri, munculah produk andalan yang dapat menggerakkan perekonomian warga Sokokembang. Begitu singkat ceritanya yang saya dengar.

Tasuri selaku peneliti yang akrab disapa Pak’e mengizinkan saya untuk tinggal di rumahnya selama beberapa waktu, untuk kepentingan sampling. Rumah yang sangat sederhana dengan keramah-tamahan tuannya membuat siapapun yang berkunjung ke sini, baik untuk waktu yang lama maupun hanya untuk mencicipi kopi pasti akan betah dan enggan beranjak.

Belum lagi disuguhi dengan panorama hutan beserta keanekaragamannya yang begitu syahdu. Tak ayal, rumah Pak’e selalu jadi langganan menginap mahasiswa dari berbagai daerah untuk kepentingan penelitian maupun pelatihan.

Saya melakukan sampling di Hutan Petungkriyono untuk meneliti spesies endemik Indonesia yang keberadaannya terancam punah, yaitu burung Raja-udang Kalung Biru yang biasa disebut oleh masyarakat lokal sebagai Tengkek Ireng. Selain Tengkek Ireng, masih banyak sekali fauna endemik yang ada di Hutan Petungkriyono. Beberapa di antaranya ialah Owa Jawa, Lutung Jawa, Rekrekan, Elang Jawa, Elang-ular Bido, Julang Emas, hingga Macan Kumbang.

Selain keanekaragaman folora dan fauna, adapun yang menjadi daya tarik tersendiri bagi saya adalah ketika menemui fenomena alam yang masih terjaga kearifannya, meskipun telah bersinggungan dengan masyarakat dari berbagai penjuru daerah. Fenomena agroforestry misalnya.

Masyarakat yang tinggal dalam Hutan Petungkriyono telah memanfaatkan lahan yang dimilikinya menjadi lahan yang produktif agar pergerakan ekonomi tetap berjalan. Seperti halnya pohon-pohon kopi yang ditanam di lereng bukit, palawija, mpon-mpon, maupun pohon kayu seperti sengon yang turut ditanam untuk memenuhi kebutuhan papan. Selain itu, yang tak kalah menarik adalah adanya budidaya madu tanpa sengat yang dikenal oleh masyarakat sebagai madu klanceng, serta madu liar hutan.

Di sela-sela kesibukan sampling yang terkadang menjenuhkan karena harus naik dan turun lereng hingga masuk ke dalam ngarai dengan jalur yang cukup terjal, saya mendapat kesempatan untuk sejenak menikmati wisata air yang ada di Hutan Petungkriyono. Bersama dengan beberapa teman dari Yogyakarta yang sementara turut singgah di rumah Pak’e, kami berangkat ke Black Canyon Petungkriyono yang jaraknya hanya 3 km saja dari rumah Pak’e menumpang doplak Swaraowa.

Setibanya di sana, kami langsung menyewa pelampung untuk menjaga keselamatan agar tidak tenggelam. Wisata air ini memiliki kedalaman hingga 5 meter dengan arus yang cukup deras dan terdapat banyak bebatuan.

Berendam di Black Canyon Petungkriyono | Foto: Yeni Rachmawati

info gambar

Selain wisata air, di Black Canyon juga terdapat area camping yang sangat cocok untuk liburan keluarga maupun kumpul dengan teman-teman saat libur tiba. Ditemani dengan coffe shop khas Petungkriyono pastinya. Black Canyon sendiri telah dikelola oleh Pemkab Pekalongan, tentunya sudah memiliki standar keamanan sendiri bagi pengunjungnya.

Selain itu, kebersihan dari Black Canyon pun sangat terjaga karena hampir tidak ditemukan sampah di aliran sungai ini, kecuali memang saat banjir dari atas tiba. Menarik, bukan? Melihat kearifan masyarakat Petungkriyono yang bergantung kepada alam, tetapi tetap berkomitmen untuk tidak merusaknya.

Welo Asri yang memiliki destinasi wisata air untuk body rafting dan river tubing pun tak kalah menariknya dengan Black Canyon. Jaraknya tidak begitu jauh dan masih satu aliran dengan Sungai Welo. Adapun Curug Tirtamuncar, Sibedug, Bajing, dan Lawe yang dapat menjadi destinasi wisata lain saat mengunjungi Hutan Petungkriyono.

Namun, sayang rasanya jika berkunjung ke Petungkriyono hanya menikmati wisata air yang ada. Padahal, banyak sekali keindahan alam yang belum banyak terlihat. Seperti halnya wisata minat khusus yang sedang digencarkan oleh Yayasan Swaraowa, yaitu Primatewatching dan Birdwatching sebagai bentuk ekoturisme yang ramah bagi dunia konservasi. Wisata minat khusus inilah yang banyak menarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Hutan Petungkriyono.

Aktivitas Primatewatching | Foto: Yeni Rachmawati

info gambar

Primatewatching pada dasarnya merupakan salah satu bentuk wisata khusus yang dilakukan dengan cara menjelajah hutan untuk melihat kawanan-kawanan primata, dan memperhatikan pola perilakunya dalam waktu tertentu. Wisata minat khusus seperti ini tentunya memiliki tujuan untuk menarik wisatawan asing maupun lokal, untuk berwisata sambil belajar. Dengan harapan, ke depannya para wisatawan tidak sekadar menikmati wisata saja, tetapi turut mengetahui bagaimana nilai–nilai konservasi, serta kebermanfaatan flora maupun fauna yang ada di dalamnya.

Di masa pandemi seperti ini, kita memang banyak sekali menghabiskan waktu di rumah demi menekan angka persebaran COVID-19. Berbagai pekerjaan dan tugas yang dihadapi setiap harinya tentu membuat siapapun merasa jemu dan stres.

Untuk itu, berkunjung ke Hutan Petungkriyono rasanya sangat tepat untuk sekadar menghilangkan rasa penat dari berbagai macam kesibukan. Bisa dijadikan pula sebagai self-healing karena Hutan Petungkriyono memiliki suasana yang tenang dan damai.

Tentunya, saat berkunjung di masa pandemi seperti ini berbagai macam protokol kesehatan yang telah dianjurkan oleh pemerintah harus dilaksanakan dengan benar, agar keselamatan tetap terjaga. Tak lupa, norma–norma saat mengunjungi suatu tempat juga harus diperhatikan karena pada hakikatnya, menjaga alam adalah suatu keharusan sebagai bentuk hubungan yang baik dan menguntungkan.

Jika memang kita sebagai makhluk hidup sangat bergantung kepada alam, sudah semestinya kita membangun hubungan yang baik dengan makhluk hidup lain yang ada di dalamnya. Salam konservasi! Wonderful Indonesia!*

Referensi: Fahmi & Setiawan. 2019. Menggagas Pengelolaan Kolaboratif Hutan | Swaraowa





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Melimpah Ruah Energi Panas Bumi Indonesia, Nomor 2 Terbesar di Dunia

Melimpah Ruah Energi Panas Bumi Indonesia, Nomor 2 Terbesar di Dunia


PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) yang oleh pemerintah diberikan mandat sebagai penggarap dalam pengembangan panas bumi, berkomitmen penuh untuk meningkatkan kapasitas terpasang energi panas bumi untuk pembangkitan listrik di Indonesia.

Dalam mendukung pengembangan energi panas bumi, PT Pertamina (Persero) sebagai induk perusahaan PGE menempatkan geothermal dalam salah satu prioritas strategis dalam pengembangan energi masa depan yang berkelanjutan. Secara umum, sekitar 88 persen kapasitas terpasang panas bumi untuk pembangkitan listrik di Indonesia berada di Wilayah Kerja PGE.

Secara definisi, energi panas bumi (energi geothermal) adalah energi yang dihasilkan oleh panas yang tersimpan di dalam bumi. Ketimbang bahan bakar fosil, panas bumi merupakan sumber energi bersih dan hanya melepaskan sedikit emisi gas rumah kaca. Dan, Salah satu pemanfaatan enegi panas bumi adalah untuk menghasilkan energi listrik.

Pemanfaatan energi panas bumi untuk pembangkitan listrik secara garis besar dilakukan dengan ekstraksi panas dan tekanan uap yang ada di perut bumi digunakan untuk memutar turbin, sehingga dapat dikonversikan menjadi energi listrik.

Indonesia dengan bekal total kapasitas terpasang panas bumi sebesar 2,1 Gigawatt (GW), saat ini berada di posisi ke-2 di dunia, tepat di bawah Amerika Serikat yang memiliki total kapasitas terpasang panas bumi 3,7 GW.

Potensi geothermal dunia

info gambar

Potensi besar energi panas bumi di Indonesia

Kontribusi PGE dalam pencapaian ini termasuk yang paling besar secara badan usaha tunggal, dengan kapasitas terpasang sebesar 672 MW, disusul Star Energy Geothermal Salak sebesar 377 MW, Sarulla Operations Ltd 330 MW, Star Energy Geothermal Darajat II Ltd 271 MW, Star Energy Geothermal 227 MW, Geo Dipa Energi 115 MW, dan PLN 13 MW.

Pertamina yang kemudian dilanjutkan oleh PGE, juga merupakan pionir pengembangan panas bumi di Indonesia sejak 1974, yang salah satu operasinya ada di wilayah Kamojang, Jawa Barat, yang telah beroperasi sejak tahun 1983 atau telah berjalan selama 38 tahun dengan kapasitas terpasang saat ini yang mencapai 235 MW, dan terus akan ditingkatkan.

Komitmen PGE dalam mengembangkan energi bersih panas bumi dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di samping mandat untuk memberikan keuntungan yang terbaik bagi Pertamina.

Dari 351 titik potensial energi panas bumi di Indonesia, saat ini PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dengan total kapasitas terpasang sebesar 672 MW yang dioperasikan sendiri (own operation).

Kapasitas 672 MW itu tersebar di beberapa area operasi, yakni:

  • Area Kamojang (Jawa Barat) 235 MW,
  • Area Ulubelu (Lampung) 220 MW,
  • Area Lahendong (Sulawesi Utara) 120 MW,
  • Area Lumut Balai (Sumatera Selatan) 55 MW,
  • Area Karaha (Jawa Barat) 30 MW, dan
  • Area Sibayak (Sumatera Utara) 12 MW,

Selain kapasitas terpasang yang dioperasikan sendiri, PGE juga mempunyai 1.205 MW yang dijalankan secara joint operation contract (JOC). Terdiri dari 3 JOC di Jawa Barat bersama Star Energy di Lapangan Wayang Windu, Darajat dan Gunung Salak, serta 1 JOC yang dilaksanakan oleh Sarulla Operation Ltd. di Lapangan Sarulla Sumatera Utara.

Jika diakumulasikan baik melalui pengelolaan sendiri atau JOC, maka kapasitas instalasi yang dioperasikan PGE hingga saat ini mencapai 1.877 MW.

Tentunya sebagai garda terdepan dalam pengembangan panas bumi di Indonesia, kontribusi PGE bakal ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang melalui beberapa proyek yang sedang dilaksanakan, di antaranya proyek panas bumi di Lumut Balai Unit 2 di Sumatera Selatan, Hululais dan Hululais Extention (Bukit Daun) di Bengkulu, dan Sungai Penuh (Jambi).

Dikembangkan dengan konsep bersih dan transparan

PGE pun meyakini bahwa implementasi prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) akan mendorong pelaksanaan bisnis yang beretika dan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kejelasan komitmen, aturan main, dan praktik-praktik penyelengaraan perusahaan yang baik dan beretika akan mendorong peningkatan kinerja dan memberikan nilai tambah bagi para pengambil kebijakan.

Secara garis besar, manfaat implementasi SMAP (system manajemen anti penyuapan) pada sistem PGE antara lain adalah:

  • Proses bisnis lebih efisien,
  • Peningkatan Good Corporate Governance (GCG) & Citra Perusahaan,
  • Memberikan kepercayaan investor & pelanggan, dan
  • Produk PGE sesuai kebutuhan pelanggan.

Adapun, rencana komitmen investasi yang akan dikucurkan PGE untuk pengembangan panas bumi hingga tahun 2024 diestimasikan mencapai 1,1 miliar dolar AS.

Ini menandakan potensi Indonesia terkait energi terbarukan menjadi sangat positif, dan sudah barang tentu bakal berdampak bagi hajat hidup orang banyak jika dikelola secara baik dan bertanggung jawab.





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Merah Putih Berkibar pada Jet Tempur KF-21 Boremae

Merah Putih Berkibar pada Jet Tempur KF-21 Boremae


Korea Selatan resmi menamai pesawat tempur Korea Aircraft Industries (KAI) KF-X sebagai KF-21 Boramae (Young Hawk). Satu hal yang mengesankan bagi Indonesia adalah, akhirnya bendera Merah Putih terpampang bersama bendera Korea Selatan di badan prototipe jet tempur ini.

Melansir cnbcindonesia.com, Indonesia mulanya memang bekerja sama dengan Korsel di proyek Pesawat KF-21 Boramae ini, tapi belakangan menggantung tak ada kejelasan. Dukungan Indonesia pada proyek ini sempat mandek karena pihak Indonesia belum melunasi biaya pengembangan jet tempur.

Meski begitu, saat peluncurannya, Menhan Prabowo Subianto Djojohadikusumo menyempatkan hadir dan melihat langsung wujud asli pesawat itu Pada Jumat, (09/04/2021) waktu setempat.

Korea Selatan tetap ingin bermitra dengan Indonesia

Prototipe Jet Tempur Korsel, KF-21 Baromae

info gambar

Korea Selatan sendiri nyatanya masih menaruh harapan besar kepada Indonesia, untuk tetap menjalin kerjasama dalam proyek jet tempur bersama Korea Fighter Experimental (KF-X)/Indonesian Fighter Experimental (IF-X) yang diteken Korea Indonesia sejak 2010 tersebut. Pemerintah Korsel sudah mempunyai rencana jangka panjang dalam pengembangan jet tempur ini.

Melansir ainonline.com, secara resmi Korea berharap Indonesia tetap menjadi mitra. “Saya yakin kunjungan Menteri Prabowo untuk upacara peluncuran KF-X berarti komitmen kuat Indonesia untuk keberhasilan kerja sama pertahanan antara kedua negara,” ungkap Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, kepada media.

Proyek KFX-IFX dengan Korsel dilanjutkan

Prabowo dan Suh Wook tingkatkan kerja sama

info gambar

Sehari sebelum peluncuran, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bertemu dengan Menteri Pertahanan Korea Selatan Suh Wook di Seoul, Korea Selatan, Kamis (08/04). Kompas.commerilis beritanya. Disebut, Prabowo bertemu Suh Wook guna meningkatkan kerja sama kedua negara di bidang pertahanan.

“Dalam acara yang berlangsung sangat hangat ini, kedua negara sepakat mempererat kerjasama militer yang selama ini sudah berjalan dengan baik,” demikian keterangan tertulis Kementerian Pertahanan RI terkait pertemuan Prabowo dan Suh Wook.

Peluncuran prototipe adalah langkah besar dalam proses pengembangan pesawat tempur. Dengan begitu, fase pengujian pesawat tempur akan berlanjut. KF-21 Boramae memiliki muatan maksimum 7.700 kilogram.

Jet tempur ini juga memiliki “jeroan” yang mumpuni. Rudal udara-ke-udara dan senjata lainnya yang berada dalam 10 pod, mampu terbang pada kecepatan 2.200 kilometer per jam dengan jangkauan terbang 2.900 km. Uji penerbangan perdana dijadwalkan pada 2022, dengan seluruh pengembangan akan selesai pada 2026.

Baca juga:





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Merah Putih Berkibar pada Jet Tempur KF-21 Boramae

Merah Putih Berkibar pada Jet Tempur KF-21 Boremae


Korea Selatan resmi menamai pesawat tempur Korea Aircraft Industries (KAI) KF-X sebagai KF-21 Boramae (Young Hawk). Satu hal yang mengesankan bagi Indonesia adalah, akhirnya bendera Merah Putih terpampang bersama bendera Korea Selatan di badan prototipe jet tempur ini.

Melansir CNBC Indonesia, Indonesia mulanya memang bekerja sama dengan Korsel di proyek Pesawat KF-21 Boramae ini, tapi belakangan menggantung tak ada kejelasan. Dukungan Indonesia pada proyek ini sempat mandek karena pihak Indonesia belum melunasi biaya pengembangan jet tempur.

Meski begitu, saat peluncurannya, Menteri Pertahahan (Menhan) Prabowo Subianto, menyempatkan hadir dan melihat langsung wujud asli pesawat itu, Jumat (09/4/2021), waktu setempat.

Korea Selatan tetap ingin bermitra dengan Indonesia

Prototipe Jet Tempur Korsel, KF-21 Baromae

info gambar

Korea Selatan sendiri nyatanya masih menaruh harapan besar kepada Indonesia, untuk tetap menjalin kerjasama dalam proyek jet tempur bersama Korea Fighter Experimental (KF-X)/Indonesian Fighter Experimental (IF-X) yang diteken Korea Indonesia sejak 2010. Pemerintah Korea Selatan juga sudah memiliki rencana jangka panjang dalam pengembangan jet tempur ini.

“Dalam kerja sama industri pertahanan, Korsel tidak hanya mengekspor barang jadi, tetapi terus menjalankan kerja sama timbal balik melalui alih teknologi, produksi bersama, serta memasuki pasar negara ketiga bersama,” tutur Presiden Korsel Moon Jae In, dalam keterangan pers Kedutaan Besar Korsel di Jakarta, Jumat (9/4), menukil Antara.

Sementara seperti dilaporkan Ainonline.com, secara resmi Korea Selatan berharap Indonesia tetap menjadi mitra.

“Saya yakin kunjungan Menteri Prabowo untuk upacara peluncuran KF-X berarti komitmen kuat Indonesia untuk keberhasilan kerja sama pertahanan antara kedua negara,” tambah Presiden Moon.

Presiden Moon juga menekankan bahwa produksi dan pengembangan bersama alutsista terdepan, seperti pesawat tempur dan kapal selam, akan menguntungkan kedua negara secara nyata.

Menanggapi hal itu, Menhan Prabowo juga menyampaikan kekagumannya karena Korsel sukses dalam memodernisasi industri dan teknologi. Menurut Menhan, proyek kerja sama dengan Korsel harus berhasil. Ia siap berupaya mengatasi hambatan dan kesulitan yang mungkin saja menjadi kendala dalam kerja sama kedua negara tersebut.

”Kami berkomitmen akan mewujudkan kemauan yang kuat untuk meningkatkan kerja sama pertahanan pada masa depan,” tandas Prabowo.

Proyek KFX-IFX dengan Korsel dilanjutkan

Prabowo dan Suh Wook tingkatkan kerja sama

info gambar

Sehari sebelum peluncuran, Kamis (08/4), Menhan Prabowo bertemu dengan Menhan Korea Selatan Suh Wook, di Seoul. Seperti dikabarkan Kompas.com, pertemuan itu guna meningkatkan kerja sama kedua negara di bidang pertahanan.

“Dalam acara yang berlangsung sangat hangat ini, kedua negara sepakat mempererat kerja sama militer yang selama ini sudah berjalan dengan baik,” demikian keterangan tertulis Kementerian Pertahanan RI terkait pertemuan tersebut.

Peluncuran purwarupa (prototype) adalah langkah besar dalam proses pengembangan pesawat tempur tersebut. Dengan begitu, fase pengujian pesawat tempur akan berlanjut.

Jet tempur KF-21 Boramae sejatinya memiliki muatan maksimum 7.700 kg, yang disebut memiliki ‘jeroan’ mumpuni. Rudal udara-ke-udara dan senjata lainnya yang berada dalam 10 pod, mampu terbang pada kecepatan 2.200 km/jam dengan jangkauan terbang 2.900 km. Uji penerbangan perdana dijadwalkan pada 2022, dengan seluruh pengembangan akan selesai pada 2026.

Baca juga:





Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close