Connect with us

INDONESIA

Kasus COVID-19 Kudus teratas 10.063

Kasus COVID-19 Kudus teratas 10.063


Kudus, Jawa Tengah (ANTARA) – Jumlah kasus terkonfirmasi virus corona di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, melampaui 10.063 kasus setelah dilaporkan 224 kasus baru pada Kamis, kata Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 setempat.

Sementara itu, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit naik menjadi 486 pada Kamis dibandingkan dengan 437 sehari sebelumnya, kata Pj Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Masut, Kamis.

Dengan 231 pasien sembuh dari infeksi, jumlah total pemulihan mencapai 7.085, tambahnya.

Dengan 24 pasien meninggal karena COVID-19 pada hari Kamis, jumlah kematian mencapai 808.

Untuk menggagalkan penyebaran COVID-19, pemerintah setempat telah menutup semua lokasi wisata, termasuk pasar pinggir jalan. Ia juga mendesak warung makan untuk hanya menyajikan makanan yang dibawa pulang.

Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan lonjakan kasus COVID-19 di Kudus dan Kabupaten Bangkalan Jawa Timur belakangan ini akibat kelalaian masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan.

“Berbagai kejadian di Kudus dan Bangkalan yang tidak kita inginkan bersama adalah salah satu contoh bagaimana (masyarakat) mengabaikan protokol kesehatan yang benar,” katanya saat dialog online yang berasal dari KPOPEN Media Center di Jakarta.

Tingkat penularan COVID-19 di daerah tergantung pada tingkat mobilitas masyarakat, terutama setelah hari raya Idul Fitri, katanya.

Tidak menutup kemungkinan lonjakan serupa bisa terjadi di daerah lain di Tanah Air, katanya.

Menurut Bupati Kudus M Hartopo, infeksi virus corona di kabupaten itu telah melonjak menjadi hampir dua ribu, jauh di atas perkiraan sebelumnya 200.

Sembilan puluh enam tenaga medis telah dikirim ke Kabupaten Kudus dari bagian lain Provinsi Jawa Tengah untuk membantu menangani peningkatan besar kasus COVID-19.

Berita Terkait: Kelalaian publik yang harus disalahkan atas lonjakan COVID di Kudus: menteri

Berita Terkait: Pemerintah periksa sampel varian baru COVID-19 di Kudus, Bangkalan

Advertisement
Click to comment

INDONESIA

Kepulauan Riau peringkat pertama untuk kebebasan pers

Kepulauan Riau peringkat pertama untuk kebebasan pers


Tanjungpinang, Kepulauan Riau (ANTARA) – Provinsi Kepulauan Riau menduduki peringkat pertama di Indonesia dalam hal kebebasan pers, dengan skor kumulatif 83,30, menurut survei yang dilakukan Dewan Pers. Jawa Barat tertinggal di posisi kedua.

Emilia Bassar, ketua tim survei, mengatakan Sucofindo telah menyelesaikan seluruh tahapan survei di 34 provinsi di Indonesia.

“Untuk indeks kebebasan pers skala provinsi, Kepri menduduki peringkat pertama,” katanya saat dihubungi dari Tanjungpinang, Sabtu.

Sementara itu, informan ahli Iskandar Zulkarnaen memuji Dewan Pers dan tim survei Sucofindo atas “penilaian yang objektif dan dapat diandalkan”.

Pencapaian tersebut (peringkat pertama untuk Kepri) merupakan hasil kerja keras seluruh pemangku kepentingan di Kepri yang menjadi narasumber ahli, antara lain perusahaan pers, asosiasi jurnalis, akademisi, masyarakat, lembaga negara, dan pemerintah daerah. Provinsi Kepulauan Riau,” katanya.

Secara terpisah, informan ahli nasional Bambang Harimurti merekomendasikan agar provinsi diberikan penghargaan oleh Presiden dan insentif diberikan untuk mempromosikan kebebasan pers di daerah terkait.

“Saya bisa membantu provinsi yang menduduki peringkat pertama dalam hal kebebasan pers ini untuk mendapatkan penghargaan dari Pak Presiden,” imbuhnya.

Berita Terkait: Seluruh Rakyat Indonesia Didesak Tetap Bela Pers: Dewan Pers

Continue Reading

INDONESIA

Lestarikan Tifa Ikon Papua – ANTARA News

Lestarikan Tifa Ikon Papua – ANTARA News


Provinsi Papua tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga merupakan rumah bagi beragam budaya dan unik yang tak terhitung jumlahnya.

Di antara simbol budaya khas Papua adalah alat musik tradisional yang disebut Tifa, yang namanya telah menjadi identik dengan provinsi.

Papua, yang telah mengalami banyak pembangunan infrastruktur selama bertahun-tahun, telah merangkul modernisasi dalam beberapa aspek kehidupan. Namun, warisan Tifa tetap dilindungi hingga hari ini.

Dalam istilah yang paling sederhana, Tifa adalah alat musik perkusi. Meskipun menghasilkan musik saat dipukul, seperti beberapa instrumen tradisional Indonesia, yang membuat Tifa menonjol adalah hubungannya yang erat dengan cerita rakyat dan tradisi lisan.

Suku yang berbeda telah menyampaikan mitos dan cerita mereka sendiri tentang asal-usul Tifa. Menurut salah satu versi yang lazim di Biak, alat musik tersebut pertama kali dibuat oleh seorang anak yatim piatu dari desa tersebut. Seperti ceritanya, anak laki-laki itu diundang ke sebuah pesta, yang setiap penduduk desa diminta untuk hadir.

Seperti kebiasaan saat itu, semua penduduk desa yang menghadiri pesta harus membawa sesuatu dari rumah. Hal ini membuat sedih anak laki-laki itu, yang tidak membawa apa-apa.

Saat dia berjalan di hutan memikirkan hal ini, dia bertemu dengan seekor kadal, yang sedang memukul perutnya dan menghasilkan suara yang sangat mirip dengan alat musik perkusi. Ketika kadal itu bertanya mengapa dia tampak tidak bahagia, bocah itu memberi tahu dia tentang kesulitannya.

Kadal itu menyuruh anak laki-laki itu untuk mengambil kulitnya, membakarnya di atas tongkat, lalu memotongnya dengan pola melingkar, dan memasangnya di sebatang kayu. Dia memberi tahu bocah itu bahwa instrumen yang dibuat demikian akan menghasilkan suara yang unik dan khas ketika dipukul berulang kali.

Anak laki-laki itu mengikuti nasihatnya dan memainkan alat musik di pesta itu. Ketika salah satu Kepala Suku bertanya kepadanya apa yang dia mainkan, anak laki-laki itu menjawab bahwa itu adalah “sreb”.

Sejak hari itu, masyarakat Biak menyebut Tifa sebagai sreb. Cerita tersebut menggambarkan bagaimana Tifa mengakar kuat dalam sejarah masyarakat Papua.

Di era modern, cerita ini mungkin terdengar terlalu seperti mitos, tetapi kepercayaan dan apresiasi terhadap cerita itulah yang mendorong orang Papua untuk melestarikan Tifa untuk waktu yang sangat lama.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Jayapura, Chris K. Tokoro, Tifa bukanlah alat musik yang bisa dimainkan oleh sembarang orang. Ini melayani tujuan tertentu, katanya.

Tifa biasanya dimainkan saat ritual adat, penyambutan tamu, dan bahkan sebagai seruan perang, jelasnya.

Secara tradisional, Tifa lebih banyak dimainkan oleh laki-laki, sesuai dengan ajaran tradisional tentang peran gender di Papua, yang mengharuskan laki-laki untuk memimpin perempuan dalam segala aspek kehidupan. Kepatuhan terhadap peran gender dipandang sebagai cara untuk menghormati dan menghormati nilai-nilai leluhur oleh orang Papua.

Tapi, di daerah-daerah tertentu, seperti Kepulauan Raja Ampat, banyak perempuan terlihat memainkan Tifa.

Di Papua, peristiwa penting lainnya ketika Tifa dimainkan adalah Sing-sing, ketika berbagai suku berkumpul untuk menampilkan budaya masing-masing.

Silaturahmi ini diadakan dalam rangka bertukar pengetahuan tentang tradisi mereka sehingga mereka dapat saling belajar. Ini menunjukkan kekuatan Tifa untuk menyatukan orang Papua.

Yang lebih membedakan Tifa dari instrumen perkusi yang ditemukan di daerah lain adalah pola yang ada di sampingnya. Pola atau simbol ini memiliki makna etnis dan spiritual tertentu dan mewakili cerita tentang kehidupan alam di Papua, dan juga rasa syukur yang dirasakan pembuat Tifa atas berkah yang telah mereka terima dalam hidup.

Tifa sangat umum digunakan oleh berbagai suku di Papua — Mali Anim, Biak, Sentani, Teminabuan, dan masih banyak lagi. Setiap suku memiliki jenis dan nama Tifa sendiri.

Tifa disebut “eme” oleh orang Asmat, “Kalin Kla” di Teminabuan, “Wachu” di Sentani, “Sirep” atau “Sandio” di Biak, dan “Kandara” oleh orang Mali Anim.

Orang-orang Papua tidak hanya melestarikan Tifa sebagai simbol budaya mereka, tetapi juga mengembangkan cara untuk membuatnya menjadi barang yang menguntungkan secara finansial untuk dijual.

Dengan demikian Tifa memainkan peran penting dalam perekonomian Papua. Banyak orang Papua memproduksi Tifa dalam jumlah besar untuk dijual. Instrumen ini dijual dengan kisaran harga yang berbeda, tergantung pada kerumitan pola, bahan yang digunakan, dan durasi suara yang dihasilkan.

Nilai ekonomi ini juga diharapkan dapat menjamin umur panjang Tifa di Papua. Oleh karena itu, para tetua Papua meminta para pemuda untuk tetap setia pada budaya mereka dalam upaya melindungi warisan Tifa dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang.

Pemerintah Provinsi Papua telah mengeluarkan peraturan yang secara tegas menyatakan bahwa semua hak kekayaan intelektual yang dimiliki oleh masyarakat adat Papua dilindungi oleh undang-undang.

Peraturan tersebut diharapkan dapat menjadi landasan hukum yang kokoh untuk melestarikan Tifa di masa mendatang.

Berita Terkait: 1000 tifa echo beats untuk memeriahkan Festival Danau Sentani

Continue Reading

INDONESIA

Lebih dari 20 juta orang Indonesia terkena jab COVID-19

Lebih dari 20 juta orang Indonesia terkena jab COVID-19


Jakarta (ANTARA) – Setidaknya 20.044.187 orang Indonesia telah menerima vaksin COVID-19 dosis pertama dan kedua hingga Sabtu, menurut Gugus Tugas Penanganan COVID-19.

Jumlah orang Indonesia yang diberikan dosis pertama vaksin naik 374.219 pada hari Sabtu, katanya.

Sementara itu, dengan 33.500 orang menerima suntikan kedua, jumlah orang yang divaksinasi lengkap mencapai 11.559.138, tambahnya.

Pemerintah menargetkan untuk memvaksinasi 40.349.049 orang terhadap COVID-19 pada program vaksinasi nasional tahap pertama dan kedua, yang memprioritaskan tenaga kesehatan, petugas layanan publik, dan warga lanjut usia.

Menyusul lonjakan kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk memperluas program vaksinasi hingga satu juta orang per hari.

Menurut Kementerian Kesehatan, kasus harian COVID-19 di Indonesia naik 7.465 pada hari Sabtu menjadi 1.901.490.

Sementara itu, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit bertambah 2.009, sehingga total kasus aktif menjadi 108.324.

Jakarta mencatat peningkatan kasus satu hari tertinggi di 2.455, diikuti oleh Jawa Tengah (915) dan Jawa Barat (876).

Dengan 169 orang meninggal karena virus corona, jumlah kematian naik menjadi 52.730.

Sedangkan pasien sembuh dari infeksi bertambah 5.292 menjadi 1.740.436.

Kementerian Kesehatan mengatakan 97.969 spesimen diperiksa keberadaan virusnya menggunakan tes swab antigen, tes molekuler, dan tes swab rantai polimerase (PCR), sementara 106.894 orang yang diduga tertular virus ditempatkan dalam pengawasan.

Secara keseluruhan, pemerintah bertujuan untuk memvaksinasi 181,5 juta warga, atau 70 persen dari populasi, untuk menciptakan kekebalan kelompok terhadap virus.

Berita Terkait: Indonesia menerima 1,5 juta dosis lagi vaksin AstraZeneca

Berita Terkait: Seribu Buruh, ABK di Pelabuhan Sunda Kelapa Disuntik: Jokowi

Berita Terkait: Pemerintah memastikan kelompok usia di atas 18 tahun untuk menerima vaksin COVID-19

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close