Connect with us

TIMUR TENGAH

Karena Suhu Tinggi, Industri Pembuatan Es Marak di Irak 

Karena Suhu Tinggi, Industri Pembuatan Es Marak di Irak 

[ad_1]

Industri pembuatan es di Irak menghadapi lonjakan bisnis yang menggairahkan. Pasalnya, di tengah kekurangan suplai air dan listrik, warga Irak harus menghadapi musim panas yang menyengsarakan.

Musim panas di Irak menawarkan suhu yang luar biasa menyengat. Pada siang hari, suhu rata-rata bisa mencapai lebih dari 45 Celcius. Tak heran bila sesuatu yang melibatkan es menjadi pilihan yang sulit ditandingi.

Omar Yousef, pemilik pabrik pembuatan es Al-Ruwad di Mosul, memahami situasi itu dan memanfaatkannya sebagai peluang bisnis.

Seorang pekerja tengah mengamati proses pembuatan balok es di sebuah pabrik di kota Mosul, 3 Juli 2021, di tengah pemadaman listrik dan suhu udara panas yang melanda kota tersebut. (AFP)

Seorang pekerja tengah mengamati proses pembuatan balok es di sebuah pabrik di kota Mosul, 3 Juli 2021, di tengah pemadaman listrik dan suhu udara panas yang melanda kota tersebut. (AFP)

“Pemadaman listrik di kota memaksa orang untuk membeli es. Kami memperhatikan bahwa dengan naiknya suhu dan terjadinya pemadaman listrik, permintaan es meningkat dan bisnis menjadi lebih baik,” jelasnya.

Yousef mengaku bisnisnya mulai meningkat sejak Mei lalu, namun lonjakan signifikan baru terjadi dalam dua bulan terakhir.

“Musim pembuatan es biasanya dimulai pada bulan Mei, atau sekitar akhir bulan itu, dan berlangsung hingga pertengahan atau akhir September. Permintaan es yang tinggi sebagian besar terjadi pada bulan Juni dan Juli karena suhu yang tinggi,” imbuhnya.

Seorang karyawan memasukkan balok es ke truk pick-up pelanggan di sebuah pabrik di kota Mosul, 3 Juli 2021. (AFP)

Seorang karyawan memasukkan balok es ke truk pick-up pelanggan di sebuah pabrik di kota Mosul, 3 Juli 2021. (AFP)

Sebuah balok es sepanjang satu meter dijual seharga 1.000 dinar (70 sen dolar AS) di pabrik itu, namun harganya bisa melonjak hingga 1.500 dinar (1 dolar) bila dibeli lewat truk pedagang di pinggir jalan.

Namun, tingginya harga tidak membuat para pedagang es kekurangan pembeli. Daham Abu Ayham, seorang penjual es, mengatakan, “Tidak tersedia cukup listrik untuk membuat es di rumah. Ditambah lagi masalah suplai air yang tidak memadai ke rumah-rumah. Air yang tersimpan di tangki juga biasanya panas. Oleh karena itu orang terpaksa membeli es.”

Permintaan terbesar datang dari pekerja konstruksi dan penduduk desa dari daerah sekitarnya, yang umumnya tidak memiliki lemari es dan yang menghadapi pemadaman listrik yang lebih besar daripada di kawasan perkotaan.

Seorang pelanggan membeli balok es dari pabrik pembuatan es di Mosul, 3 Juli 2021. (AFP)

Seorang pelanggan membeli balok es dari pabrik pembuatan es di Mosul, 3 Juli 2021. (AFP)

Keutuhan balok-balok es itu sulit dipertahankan menurut Riyadh al-Shahin, seorang warga desa yang kerap membeli es di pabrik Al-Ruwad.

“Kami membeli sekitar 10 balok es untuk desa kami, tetapi hanya setengahnya yang dapat dipertahankan ketika sampai ke desa kami yang lokasinya jauh. Suhu yang tinggi membuat es mudah mencair,” papar Riyadh.

Warga Irak telah menderita kekurangan listrik selama puluhan tahun. Infrastruktur listrik masih buruk karena pengabaian yang disebabkan oleh perang dan sanksi-sanksi perdagangan PBB yang dijatuhkan sewaktu Irak masih di bawah pemerintahan Saddam Hussein.

Miliaran dolar telah dihabiskan untuk memperbaiki jaringan listrik sejak invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003, tetapi hingga kini masih banyak rumah tangga di Irak yang hanya menerima sekitar 12 jam listrik dalam sehari, hampir sama atau kadang-kadang bahkan kurang dari apa yang mereka terima sebelum invasi. [ab/uh]

[ad_2]

Advertisement
Click to comment

TIMUR TENGAH

Irak Harapkan Pengumuman bagi Diakhirinya Misi Tempur AS

Irak Harapkan Pengumuman bagi Diakhirinya Misi Tempur AS

[ad_1]

Anggota delegasi tinggi Irak berharap mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Biden Jumat (23/7) untuk mengakhiri misi tempur Amerika di Irak, kata menteri luar negeri negara itu kepada VOA, Kamis (22/7).

Dalam wawancara eksklusif dengan VOA, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein membahas sifat kerja sama yang diusulkan antara negaranya dan pasukan Amerika setelah kesepakatan tercapai, khususnya dalam perang melawan kelompok ISIS.

“Menurut saya, kami akan mencapai kesepakatan pada Jumat dan kemudian akan diumumkan bahwa pasukan tempur Amerika – saya bicara tentang pasukan tempur – tidak akan ada lagi di Irak. Tetapi bagaimana mereka keluar dan kapan mereka keluar akan bergantung pada batas waktu yang disepakati kedua pihak serta masalah teknis dan masalah lain yang terkait keamanan pasukan,” kata Hussein.

Diskusi di Washington terjadi hanya beberapa hari sebelum pertemuan Senin antara Presiden Amerika Joe Biden dan Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi di Gedung Putih. Keduanya berencana membahas beragam topik, termasuk kerja sama dalam bidang politik, ekonomi, keamanan, dan kebudayaan.

Hussein akan bertemu pada Jumat (23/7) dengan Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken. Pejabat Irak itu mengatakan kepada VOA bahwa mereka “akan membahas berbagai masalah termasuk minyak, energi, listrik, gas, kebudayaan, kesehatan, militer dan keamanan, dan keuangan.”

Awal pekan ini, serangan bom bunuh diri melanda ibu kota Irak, menewaskan sedikitnya 34 orang. Serangan itu, yang diklaim kelompok ISIS, adalah jenis kekerasan yang hendak dicegah oleh pasukan Irak, yang dilatih dan dilengkapi oleh Amerika Serikat.

Ketika ditanya tentang ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok ISIS, Hussein mengatakan, “Tentu saja, sektor keamanan dan militer akan menjadi topik penting dalam pembicaraan. Amerika dan Irak telah menjadi sekutu dan akan tetap menjadi sekutu melawan ISIS.” [ka/ab]

[ad_2]

Continue Reading

TIMUR TENGAH

Iran Ekspor Minyak Mentah Melewati Selat Hormuz

Iran Ekspor Minyak Mentah Melewati Selat Hormuz

[ad_1]

Iran, Kamis (22/7) mulai mengekspor minyak mentah melewati Teluk Oman untuk pertama kalinya, dan tidak melewati Selat Hormuz yang strategis.

Dalam sebuah upacara yang menandai peresmian proyek tersebut, Presiden Hassan Rouhani menyebut rencana itu “paling strategis.”

Media pemerintah Iran menggambarkan langkah itu sebagai suatu indikasi bahwa sanksi-sanksi yang dijatuhkan AS sedang dikalahkan.

Presiden Iran Hassan Rouhani (atas-kanan) meresmikan terminal minyak Jask secara virtual di ibu kota Teheran, 22 Juli 2021. (AFP/Iranian Presidency)

Presiden Iran Hassan Rouhani (atas-kanan) meresmikan terminal minyak Jask secara virtual di ibu kota Teheran, 22 Juli 2021. (AFP/Iranian Presidency)

Washington menjatuhkan beberapa sanksi terhadap Teheran setelah mantan Presiden Donald Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir antara Iran dan kekuatan dunia.

Proyek yang dimulai tahun 2019 diperkirakan menelan biaya sekitar 2 miliar dolar AS itu, membantu Iran mengurangi ketergantungan pada terminal ekspor minyak utamanya di pulau Kharg, Teluk Persia.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh, menyampaikan pidato saat peresmian terminal minyak Jask di ibu kota Teheran, 22 Juli 2021. (AFP/Iranian Presidency)

Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh, menyampaikan pidato saat peresmian terminal minyak Jask di ibu kota Teheran, 22 Juli 2021. (AFP/Iranian Presidency)

Jalan pintas itu juga mengurangi biaya transportasi dan asuransi untuk kapal tanker minyak.

Fasilitas tersebut saat ini memungkinkan pemompaan sekitar 30.000 barel minyak mentah per jam ke kapal-kapal tanker, lewat dermaga lepas pantai yang mengapung. Dermaga itu terletak sekitar tujuh kilometer (4,7 mil) di lepas pantai. [mg/jm]

[ad_2]

Continue Reading

TIMUR TENGAH

Es Krim “Ben & Jerry’s” Hentikan Penjualan di Wilayah Pendudukan Tepi Barat

Es Krim “Ben & Jerry’s” Hentikan Penjualan di Wilayah Pendudukan Tepi Barat

[ad_1]

Es krim Ben & Jerry’s sangat populer di Israel dan Palestina. Perusahaan ini didirikan di negara bagian Vermont, AS pada tahun 1978 dan kini dimiliki jaringan perusahaan barang-barang konsumen Unilever.

Meskipun didirikan di AS, negara yang dianggap bersahabat dengan Israel, namun perusahaan ini tidak segan menerapkan prinsip-prinsip kemanusiaan dalam praktik penjualannya.

Ben & Jerry’s sebagaimana dilaporkan kantor berita Associated Press sebelumnya mengatakan penjualan es krimnya di wilayah pendudukan Tepi Barat, yang dituntut oleh Palestina sebagai negara mereka kelak, tidak konsisten dengan nilai-nilai yang dianutnya.

Pengumuman tersebut merupakan salah satu teguran yang paling keras dan paling menonjol dari perusahaan terkenal, terkait kebijakan Israel yang menempatkan warganya di daerah pendudukan, yang direbut Israel melalui perang.

Pabrik es krim Ben & Jerry's di Beer-Tuvia, Israel (foto: dok).

Pabrik es krim Ben & Jerry’s di Beer-Tuvia, Israel (foto: dok).

Menurut pernyataan yang dipasang di situs web perusahaan, Ben & Jerry’s memberi tahu pemegang lisensi lama yang bertanggung jawab untuk memproduksi dan mendistribusikan es krim di Israel bahwa perusahaan itu tidak akan memperbarui perjanjian lisensi ketika berakhir pada akhir tahun depan.

Pejabat dan penduduk Israel bereaksi marah terhadap pengumuman oleh perusahaan es krim Ben & Jerry’s setelah mengatakan akan berhenti menjual produknya di Tepi Barat yang diduduki Israel dan memperebutkan Yerusalem timur.

Yossi Dagan, kepala Dewan Regional Samaria, yang mewakili pemukiman di Tepi Barat utara meminta pelanggan untuk memboikot Unilever.

Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid menyebut keputusan itu sebagai sikap menyerah yang memalukan terhadap pihak-pihak yang anti-Yahudi

Banyak perusahaan bersikap lunak terkait kebijakan politik, karena khawatir akan kehilangan pelanggan, tapi pembuat es krim ini justru mengambil pendekatan yang berlawanan, yang kerap dianggap sebagai mendukung upaya-upaya progresif. [my/jm]

[ad_2]

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close