Connect with us

PENDIDIKAN

Kakek Rusia Wariskan Keahlian Lewat Pendidikan

Kakek Rusia Wariskan Keahlian Lewat Pendidikan


Sebuah program di Rusia yang memungkinkan para lansia mewariskan pengetahuan dan keahlian mereka dianggap berhasil dan kini diperluas. Program yang disebut “Grandfather Cannot Teach Wrong” atau “Kakek tidak Pernah Mengajar Hal yang Salah” memungkinkan anak-anak untuk mempelajari keahlian dan permainan yang tidak diajarkan di sekolah.

Di sekolah, anak-anak mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari cara membuat sebuah rumah burung. Namun tidak demikian halnya bagi sejumlah anak-anak yang sedang mengikuti program “Grandfather Cannot Teach Wrong”. Mereka terlihat menyimak petunjuk yang diberikan oleh Sergey Smirnov, seorang pensiunan, dalam membuat sebuah rumah burung.

Proyek "Grandfather Cannot Teach Wrong" memberkan kesempatan bagi para pensiunan untuk meneruskan pengetahuan mereka kepada generasi muda. (Foto: ilustrasi).

Proyek “Grandfather Cannot Teach Wrong” memberkan kesempatan bagi para pensiunan untuk meneruskan pengetahuan mereka kepada generasi muda. (Foto: ilustrasi).

Smirnov adalah anggota organisasi yang disebut “Grandfather Cannot Teach Wrong” atau kakek tidak pernah mengajarkan hal yang salah, yang berlokasi di Vicguga, kawasan Ivanovo, Rusia. Ide dibalik proyek ini adalah memberi kesempatan bagi para pensiunan untuk meneruskan pengetahuan mereka kepada generasi muda.

Program itu diikuti oleh sekitar 1.000 anak. Beberapa di antaranya berasal dari keluarga yang kurang beruntung secara sosial. Namun di dalam kelas-kelas tersebut, anak-anak dapat bermain, memiliki teman baru atau mempelajari sesuatu yang baru.

Smirnov tinggal jauh dari keluarganya sehingga jarang mendapat kunjungan tamu. Namun ia berharap ada sukarelawan seperti dirinya, yang juga membagikan pengetahuan dan keahliannya, bagi cucu-cucunya yang tinggal di tempat lain.

“Anak-anak saya tinggal di tempat yang jauh, begitu pula cucu-cucu saya. Saya akan mengajar anak-anak di sini. Mungkin ada orang lain yang akan mengajar cucu-cucu saya di sana,” harapnya.

Selain keahlian teknis, proyek “Grandfather Cannot Teach Wrong" juga memberikan kesempatan bagi para seniman untuk menularkan keahlian dan pengalamannya kepada generasi muda. (Foto: ilustrasi).

Selain keahlian teknis, proyek “Grandfather Cannot Teach Wrong” juga memberikan kesempatan bagi para seniman untuk menularkan keahlian dan pengalamannya kepada generasi muda. (Foto: ilustrasi).

Sergey Rodin mengajarkan seni, namun ia juga memiliki kehidupan yang kaya akan pengalaman.

Pada masa pemerintahan Soviet, ia berdinas sebagai tentara di Afghanistan dan mendapat penghargaan. Namun untuk anak-anak ini, ia memilih untuk mengajarkan hal-hal lain yang akan membantu perkembangan mereka.

Rodin mengatakan, “Mereka membuat vas untuk pensil, pulpen, dan bunga-bunga kering. Ini tugasnya, namun ini bukan sekadar membuat vas, tetapi juga melatih perkembangan motorik halus dan daya imajinasi.”

Salah seorang siswa, Anna Belousova mengatakan, ia tidak memiliki seorang kakek. Namun ia datang kesana karena kakek Smirnov selalu membantunya.

Sebelum diperbolehkan menjadi sukarelawan, mereka harus melamar melalui sebuah proses pemilihan yang ketat termasuk pemeriksaan catatan kriminal dan kesehatan.

Para pelamar untuk menjadi sukarelawan itu memiliki latar belakang yang beragam.

Stanislav Potapov, salah seorang sukarelawan, mengatakan, “Sepanjang hidup saya, saya bekerja sebagai perakit mesin di pabrik pembuatan mesin. Saya kemudian pensiun dan menerima sebuah proposal dari proyek “Grandfather Will Not Teach Wrong”. Saya memutuskan untuk mencobanya dan berhasil diterima. Jadi saya merasa senang datang ke tempat ini. Anak-anak menyambut saya dengan gembira, saya merasa senang karena mereka merasa senang.”

Berbagi pengalaman dengan anak-anak, seperti keahlian teknis membongkar dan merakit sepeda, akan memperkaya ilmu pengetahuan anak sekaligus mewariskan keahlian kepada generasi mendatang. (Foto: ilustrasi).

Berbagi pengalaman dengan anak-anak, seperti keahlian teknis membongkar dan merakit sepeda, akan memperkaya ilmu pengetahuan anak sekaligus mewariskan keahlian kepada generasi mendatang. (Foto: ilustrasi).

Alexander Sykov, seorang sukarelawan, bahkan sudah merencanakan apa yang akan dilakukannya pada musim panas nanti. “Ketika cuaca menjadi lebih hangat di luar, kami akan mempelajari tentang sepeda. Kemudian saya akan menceritakan tentang mobil-mobil dan kemudian kami akan membuatnya,” jelasnya.

Apa yang bisa dipelajari tentang sepeda oleh anak-anak itu? Lebih jauh Alexander mengungkapkan, “Bagaimana memberi pelumas pada sepeda, membongkar dan merakit sepeda. Saya memiliki pendidikan teknik, jadi saya sangat menguasainya. Saya akan membagikan pengalaman saya, apalagi saya memiliki pengalaman mengemudi selama 40 tahun.”

Proyek yang berawal sebagai percobaan oleh Pusat Rehabilitasi Sosial di kawasan itu, dianggap sukses. Itu artinya, organisasi tersebut berharap dapat merekrut lebih banyak lagi kakek sukarelawan hingga total menjadi 20 orang. [lj/ab]

Advertisement
Click to comment

PENDIDIKAN

PR yang Bertumpuk Bebani Siswa

PR yang Bertumpuk Bebani Siswa


Merasa bosan dan kurang bisa memahami pelajaran disuarakan para siswa terkait pengalaman mereka selama mengikuti pembelajaran jarak jauh semasa pandemi COVID-19 dalam setahun terakhir.

Setiawan, pelajar kelas 12 Sekolah Menengah Kejuruan asal Jawa Barat mengungkapkan tantangan yang dihadapi anak selama belajar dari rumah, antara lain terlalu banyak pekerjaan rumah (PR) dan tugas dari guru dalam kegiatan pembelajaran online. Selain itu anak-anak juga dihadapkan pada situasi di rumah yang tidak ideal untuk belajar.

“Stres dengan beban PR dan tugas lainnya. Kedua Kondisi rumah yang tidak kondusif untuk belajar, konflik keluarga, misalkan anak yang terkena dampak broken home dan lain sebagainya, yang ketiga jenuh di rumah terbatas ruang dan waktu,” kata Setiawan dalam Dialog Anak Bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Minggu (2/5). Kegiatan itu diinisiasi oleh Dewan Penasehat Anak dan Kaum Muda, lembaga swadaya masyarakat, Save the Children Indonesia.

Para pelajar dan guru memakai masker setelah pemerintah Indonesia membuka kembali kegiatan belajar tatap mukadi tengah pandemi COVID-19 di Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 13 Juli 2020. (Foto: Antara /Iggoy el Fitra/via Reuters)

Para pelajar dan guru memakai masker setelah pemerintah Indonesia membuka kembali kegiatan belajar tatap mukadi tengah pandemi COVID-19 di Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 13 Juli 2020. (Foto: Antara /Iggoy el Fitra/via Reuters)

Riset yang dilakukan oleh Jaringan Komunitas Anak untuk Gerakan “Save Our Education” terhadap 125 anak di Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada 15-20 April 2021, mengungkap tantangan yang dihadapi anak-anak menjalani pembelajaran jarak jauh yang terdampak terlalu lama menatap layar gawai dan komputer.

“Jadi karena sering menatap layar, teman-teman itu juga merasa pusing, lelah, stres dan dia tidak bertemu dengan teman secara langsung,” kata Anisa, pelajar asal Yogyakarta.

Menurut Anisa, kurang lebih 45 anak yang dilibatkan dalam studi itu menyatakan kurang bisa fokus saat belajar di rumah karena terkadang diminta orang tua mengerjakan sesuatu, serta situasi berisik dari lingkungan sekitar.

Anisa mengungkapkan harapan agar pandemi bisa segera berakhir sehingga bisa kembali melakukan pembelajaran secara tatap muka di sekolah.

Studi Global Save

Dewi Sri Sumanah, Media & Brand Manager Save the Children Indonesia kepada VOA mengatakan pesan yang disampaikan anak-anak dalam dialog itu memperkuat temuan studi global pada 2020 di 46 negara, termasuk Indonesia.

“Tercatat delapan dari sepuluh anak tidak dapat mengakses bahan pembelajaran yang memadai dan empat dari sepuluh anak kesulitan memahami pekerjaan rumah selama PJJ (pembelajaran jarak jauh),” ujar Dewi.

Inggit Andini (kanan) mengajar anak-anak yang tidak punya akses internet di rumahnya, di Tangerang, 10 Agustus 2020.

Inggit Andini (kanan) mengajar anak-anak yang tidak punya akses internet di rumahnya, di Tangerang, 10 Agustus 2020.

Menurut Dewi pada 2021 pihaknya berupaya mendorong pemerataan akses pendidikan agar setiap anak memperoleh pendidikan yang berkualitas di lingkungan belajar yang aman baik luring maupun daring melalui kampanye gerakan “Save Our Education.” Tahun ini kampanye itu dilaksanakan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Yogyakarta dan DKI Jakarta.

“Fokus pesan yang kita angkat dalam gerakan ini adalah tentang pemerataan akses terhadap pendidikan untuk setiap anak lalu juga kualitas pembelajaran yang didapat oleh setiap anak dan pentingnya peran orangtua dalam mendukung proses pembelajaran, baik pembelajaran jarak jauh maupun tatap muka yang sedang dipersiapkan,” jelas Dewi.

Penguasaan Teknologi Informasi

Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Muhammad Hasbi mengatakan situasi pandemi COVID-19 juga menempatkan guru pada situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Para guru kini dihadapkan pada kebutuhan penguasaan teknologi informasi untuk pembelajaran secara daring dan kemampuan guru berkomunikasi dengan para orangtua siswa.

“Sehingga apa yang tadinya terjadi di kelas bisa terjadi di rumah melalui perantaraan orang tua dan satu hal yang menopang itu adalah bagaimana orang tua dan guru masing-masing memiliki perangkat teknologi informasi yang memadai,” kata Hasbi.

Diakuinya tidak banyak orangtua yang siap menjadi pendidik di rumah karena keterbatasan kompetensi mengajar seperti guru di kelas.

“Ini membuktikan bahwa memang kita memiliki permasalahan terhadap kompetensi pedagogik orangtua dan kompetensi substansi orangtua, nah keadaan ini kemudian membuat orangtua menjadi stres. Mereka mengalami kesulitan melaksanakan pembimbingan belajar dari rumah,” jelasnya.

Dikatakannya Kementerian Pendidikan telah menyediakan sumberdaya pendidikan bagi siswa dan guru untuk mengakses materi pembelajaran yang lebih bervariasi di platform Rumah Belajar dan Guru Berbagi.

Selain itu Kementerian Pendidikan mulai tahun 2021 akan merekrut satu juta guru dengan perjanjian kerja untuk ditempatkan di daerah-daerah yang mengalami kekurangan guru. [yl/em]

Continue Reading

PENDIDIKAN

Banyak Pelanggaran Prokes Saat Pembelajaran Tatap Muka

Banyak Pelanggaran Prokes Saat Pembelajaran Tatap Muka


Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mengatakan lembaganya menemukan sejumlah pelanggaran protokol kesehatan (prokes) dalam Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. PTM terbatas ini telah berjalan sejak Januari hingga April 2021 di 16 provinsi. Pelanggaran prokes tersebut antara lain tidak memakai masker dengan benar dan berkerumun. Pantauan P2G pelanggaran tersebut setidaknya terjadi di belasan kota dan kabupaten seperti Kabupaten Bogor, Kota Batam, dan Kota Bukittinggi.

“Guru-guru berpikir bahwa ketika sudah divaksin sudah aman. Persepsi ini yang saya rasa harus diluruskan,” jelas Satriwan Salim kepada VOA, Selasa (27/4).

Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim. (Foto: dok. pribadi)

Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim. (Foto: dok. pribadi)

Satriwan menambahkan selama ini tidak ada sanksi tegas dari pemerintah daerah atau Satgas Covid-19 Daerah ketika sekolah melakukan pelanggaran protokol kesehatan. Menurutnya, penutupan sekolah baru dilakukan jika sudah ditemukan kasus positif di sekolah.

Ia mendorong pemerintah daerah membentuk Satgas Khusus PTM Sekolah yang melibatkan sejumlah instansi seperti polisi, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan. Tujuannya untuk memaksimalkan pengawasan terhadap siswa dan guru agar taat menjalankan prokes di sekolah dan luar sekolah.

“Kami berharap pemda kota, kabupaten, provinsi membuka hotline pelaporan. Jika ada pelanggaran tentu kami melapor ke dinas terlebih dahulu,” tambah Satriwan.

P2G juga mendorong Dinas Pendidikan memberikan pelatihan metode pembelajaran ganda secara online dan tatap muka kepada para guru pada masa pandemi Covid-19. Ia beralasan para guru belum pernah mendapat pembelajaran ganda selama di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Ombudsman Minta Masyarakat Aktif

Anggota Ombudsman RI Indraza Marzuki Rais meminta masyarakat untuk aktif mengawasi dan melaporkan jika menemukan dugaan pelanggaran layanan publik pada pelaksanaan pembelajaran tatap muka dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2021. Beberapa hal yang menjadi sorotan Ombudsman antara lain mulai dari kesiapan sekolah hingga pelaksanaan protokol kesehatan.

“Berikutnya juga mengenai kejelasan prosedur pembelajaran tatap muka. Baik jumlah jam belajar, metode shift, dan pelaksanaan belajar mengajar di dalam kelas,” jelas Indraza Marzuki Rais dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/4).

Anggota Ombudsman RI Indraza Marzuki Rais. (Foto: VOA/screenshot)

Anggota Ombudsman RI Indraza Marzuki Rais. (Foto: VOA/screenshot)

Indraza juga menyoroti daftar kesiapan sekolah dalam menggelar pembelajaran tatap muka. Berdasarkan data Kemendikbud, jumlah sekolah yang merespons kesiapan sekolah hanya 53,75 persen dari 535.365 sekolah per 27 April 2021. Daftar kesiapan sekolah tersebut untuk melihat berbagai sarana sekolah seperti toilet dan ketersediaan cairan pembersih tangan (hand sanitizer).

Ombudsman juga akan melakukan pemantauan melalui 34 kantor perwakilan Ombudsman di Indonesia dan membuka kanal pengaduan untuk memantau pelaksanaan pembelajaran tatap muka dan penerimaan siswa baru.

“Ombudsman mendorong para penyelenggara pelayanan publik untuk senantiasa menindaklanjuti laporan atau pengaduan bahkan sekedar permintaan informasi dari masyarakat berkaitan dengan kondisi pandemi ini,” tambahnya.

Pemerintah Sepakat Mulai Pembelajaran Tatap Muka Juli

Akhir Maret lalu, pemerintah telah mengumumkan pembelajaran tatap muka secara terbatas di sekolah dapat dilakukan pada Juli mendatang. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengimbau sekolah yang guru dan tenaga pendidiknya telah divaksin secara lengkap agar memberikan opsi pembelajaran tatap muka terbatas. Namun, ia menekankan orang tua murid bebas untuk memilih anaknya untuk ikut pembelajaran tatap muka atau tidak.

Nadiem juga mengatakan pembelajaran tatap muka dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Antara lain maksimal 18 anak per kelas, menjaga jarak antar tempat duduk siswa, dan tidak ada aktivitas yang menimbulkan kerumunan. Pemerintah daerah juga memiliki hak menutup kembali sekolah apabila kasus corona di daerah tersebut mengalami peningkatan. [sm/em]

Continue Reading

PENDIDIKAN

Pusat Vaksinasi Didirikan di Kampus Texas

Pusat Vaksinasi Didirikan di Kampus Texas


Sebagian mahasiswa, selama setahun terakhir tidak lagi mengikuti pedoman keselamatan dan menjadi penyebar luas virus. Para ahli kesehatan dan pejabat negara bagian mecemaskan hal ini.

University of Houston, mendirikan pusat vaksinasi di kampus untuk mendorong mahasiswa mendapat vaksinasi.

Isaiah Martin, mahasiswa di University of Houston, memimpin kampanye mobilisasi untuk mendorong mahasiwa di kampusnya agar divaksinasi

“Saat ini, mahasiswa merupakan persentase besar dari penyebar luas virus. Mereka keluar, dan sering kali mereka mengabaikan panduan CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS -red) dan departemen kesehatan. Jadi, mereka akan keluar dan berpesta, mereka melakukan hal-hal yang umumnya dilakukan mahasiswa perguruan tinggi. Jadi, sangat penting untuk memvaksinasi para mahasiswa itu,” paparnya.

Laura Rincon-Bianchi, mahasiswa lainnya, mengakui masih ada pandangan yang konservatif di antara rekan-rekannya.

“Masih ada beberapa pandangan konservatif tentang vaksin. Saya punya beberapa teman yang enggan melakukannya. Mereka percaya beberapa teori yang tidak masuk akal tentang apa yang ada di dalam vaksin,” kata Laura.

Pusat vaksinasi didirikan di kampus University of Houston.

“Pusat ini cukup mudah diakses, tidak hanya untuk komunitas pada umumnya, tetapi juga untuk mahasiswa karena bagi mereka itu cukup nyaman, mereka tahu di mana dan dengan cepat membuat janji dan mendapatkan vaksin. Penting bagi populasi muda untuk memperoleh vaksinasi saat sekolah mulai dibuka kembali untuk pengajaran dan kelas secara langsung,” kata Vanessa Astros, manajer komunikasi St. Luke’s Health Group yang menjalankan pusat itu.

Mahasiswa kedokteran tahun keempat Anna Roesler sedang memvaksinasi Pfizer-BioNTech (COVID-19) di Indiana University Health, Methodist Hospital di Indianapolis, Indiana, AS. (Foto: REUTERS/Bryan Woolston)

Mahasiswa kedokteran tahun keempat Anna Roesler sedang memvaksinasi Pfizer-BioNTech (COVID-19) di Indiana University Health, Methodist Hospital di Indianapolis, Indiana, AS. (Foto: REUTERS/Bryan Woolston)

Mahasiswa umumnya menyambut baik pusat vaksinasi di kampus tersebut, salah satunya adalah Sarah Sowell, mahasiswa jurusan Ilmu Politik. Vaksinasi menurutnya akan mempermudah kembali pada kegiatan belajar secara normal.

“Saya sangat senang mendapatkan vaksin ini, jadi saya bisa bertemu dengan teman-teman saya dan bergabung dengan kelompok belajar serta bisa bertemu langsung dan mengadakan kelas bersama. Saya rasa kelas online telah mengisolasi, dan kami belum bisa belajar dengan baik di kamar asrama kami dibandingkan dalam ruang kelas,” tuturnya.

Sebagian besar lembaga pendidikan dan universitas di AS berkeinginan bisa kembali menyelenggarakan pembelajaran langsung setidaknya pada musim gugur 2021. [my/ka]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close