Connect with us

Indonesia di Amerika

Jenny Kurniawati: Pengarang Buku Anak Dwi Bahasa di Philadelphia, Pennsylvania

Jenny Kurniawati: Pengarang Buku Anak Dwi Bahasa di Philadelphia, Pennsylvania
Advertisement
Click to comment

Indonesia di Amerika

Dugaan Penipuan Ponzi di AS, Lebih 500 Diaspora Indonesia Jadi Korban

Dugaan Penipuan Ponzi di AS, Lebih 500 Diaspora Indonesia Jadi Korban



Lebih dari 500 warga dan diaspora Indonesia di Amerika menjadi korban dugaan penipuan investasi dengan pola skema piramida atau dikenal luas sebagai ponzi scheme.

“Awalnya saya membaca informasi di media sosial, dari Facebook perkumpulan Hibachi dan Pondok Gaul. Nama yang menawarkan program ini Immanuel Jaya. Saya tergiur karena program itu menawarkan bunga 18% per bulan. Jadi pada 19 Oktober 2019 saya menelpon orang itu, saya masih ingat sekali,” demikian ujar Gunawan Widjaja, salah seorang diaspora Indonesia di New York ketika diwawancarai VOA awal Juni lalu.

Lain lagi dengan Steven Caraballo, mahasiswa New York University yang mengenal skema ini dari istri dan teman-teman kerja istrinya. Ia dijanjikan mendapat keuntungan dari bunga 15% ditambah keuntungan tambahan jika merujuk orang-orang lain sebesar 2%.

Steven Caraballo, mahasiswa New York University, salah satu korban investasi bodong (courtesy: VOA)

Steven Caraballo, mahasiswa New York University, salah satu korban investasi bodong (courtesy: VOA)

“Saya dijanjikan mendapat 15% dan bonus rujukan 2% dari apa yang saya investasikan. Untuk pertama kali, saya menerima bunga dari empat ribu dolar yang saya berikan. Saya yakin ini cara mereka meraih kepercayaan kami. Jadi pertama kali saya mendapat uang yang saya berikan ditambah bunganya. Tetapi ketika saya mulai menanamkan lebih banyak uang, saya tidak mendapat apapun. Total kerugian saya 55 ribu dolar.”

Korban Diperkirakan Lebih dari 500 Orang

Gunawan Widjaja dan Steven Caraballo bukan satu-satunya korban dugaan penipuan investasi dengan pola skema piramida atau ponzi scheme ini. Menurut Atase Kepolisian di Kedutaan Besar Republik Indonesia KBRI di Washington DC, Ary Laksmana Widjaja, hingga saat ini diperkirakan sudah lebih dari 500 warga dan diaspora Indonesia yang menjadi korban.

“Yang sudah melapor memang belum banyak, tapi kami perkirakan ada lebih dari 500 orang yang menjadi korban… Kami sudah menyampaikan informasi awal pada penegak hukum di Amerika, dalam hal ini FBI (Biro Penyidik Federal), juga mengkoordinasikan laporan-laporan yang masuk.”

Bermula pada 2019

Skema ponzi adalah suatu bentuk penipuan investasi di mana klien dijanjikan untung besar tanpa risiko, dengan memusatkan seluruh energi pada upaya menarik klien baru untuk berinvestasi. Sebagaimana Investopedia pada April 2021 lalu, skema ini pada dasarnya merupakan perputaran uang anggotanya sendiri dengan mengandalkan aliran investasi baru yang konstan untuk dapat tetap memberikan pengembalian pada investor yang lebih dulu. Jika tidak ada lairan dana baru maka skema ini selesai.

Kasus yang melibatkan ratusan warga dan diaspora Indonesia kali ini bermula pada tahun 2019, ketika puluhan orang menanamkan investasi keuangan pada dua perusahaan yaitu Global Travel dan Easy Transfer yang dikelola diaspora Indonesia di New York. Para investor ini dijanjikan mendapat keuntungan dari bunga antara 12 – 73 persen.

Beberapa warga Indonesia dan warga AS yang menjadi korban penipuan investasi bodong (courtesy: VOA)

Beberapa warga Indonesia dan warga AS yang menjadi korban penipuan investasi bodong (courtesy: VOA)

Hampir seluruh investasi dilakukan dalam bentuk uang tunai dan tidak melalui institusi perbankan atau perjanjian resmi dari notaris. Kalau pun ada yang diberi surat perjanjian, sebagaimana Gunawan Widjaja dan Steven Caraballo tadi, tidak ada rincian tentang identitas perusahaan atau jenis investasinya.

Beberapa dokumen yang diperoleh VOA hanya menyebut nama program. Alamat yang digunakan pun hanya sebuah gedung apartemen tanpa merujuk unit tertentu. Perjanjian investasi pada setiap nasabah pun berbeda-beda.

Salah satu surat perjanjian penipuan investasi dengan Skema Ponzi (foto: courtesy).

Salah satu surat perjanjian penipuan investasi dengan Skema Ponzi (foto: courtesy).

“Saya punya kontrak atau surat perjanjian dengan Immanuel. Tetapi tidak menyebutkan dengan akurat saham, atau properti, atau lokasi investasinya. Mereka berjanji akan mengembalikan uang saya ditambah keuntungan bunganya, dan mereka bahkan mengatakan dalam skenario terburuk, saya akan mendapat kembali uang yang pertama kali saya tanamkan. Tetapi pada kenyataannya?… Saya telah melaporkan (pada pihak berwenang) dan saya berharap kedua pemerintahan – Indonesia dan Amerika – segera terlibat. Kami tidak ingin orang-orang ini kabur begitu saja.”

Setidaknya dua orang kakak beradik diaspora Indonesia yang diduga sebagai pelaku skema ponzi ini menghilang segera setelah kasus ini mencuat di beberapa negara bagian. Meskipun demikian keduanya diduga masih tinggal di kawasan Elmhurst, New York. VOA telah berulangkali menghubungi keduanya melalui telepon dan meninggalkan pesan, tetapi tidak mendapat jawaban apapun.

Sebagian korban telah melapor pada kepolisian setempat dan FBI. Seperti William Kusanto.

“Iya saya sudah lapor polisi. Laporannya ia minta data-data kita orang dan kejadiannya gimana. Lapor ke FBI tapi FBI-nya lewat telepon. Mereka minta data-data aku dan pelaku.”

Korban Diserukan Melapor, Tak Perlu Takut Status Keimigrasian

Atase Kepolisian di KBRI, Ary Laksamana Widjaja, berulangkali menyerukan kepada seluruh warga dan diaspora Indonesia yang menjadi korban untuk berani melapor kepada pihak berwenang, baik polisi setempat maupun FBI.

Ary Laksamana Widjaja, Atase Kepolisian di KBRI Washington DC (dok. pribadi).

Ary Laksamana Widjaja, Atase Kepolisian di KBRI Washington DC (dok. pribadi).

“Katakanlah ada yang melapor di New York, Los Angeles, Houston, Chicago, Tennessee dan sebagainya; mungkin satu dua orang dengan kerugian 5-10 ribu dolar per orang. Tampaknya kecil. Tapi jika yang melaporkan banyak maka akan tampak bahwa secara keseluruhan kasus ini besar dan aparat akan bertindak lebih cepat untuk mencegah lebih banyak korban yang jatuh.”

Ary mengatakan ia memahami keengganan warga dan diaspora Indonesia melapor karena sebagian ada yang tidak memiliki dokumen resmi.

“Kita sekarang mendorong mereka untuk melapor dan jangan takut dengan masalah status keimigrasian mereka. Tidak ada kaitan antara permasalahan hukum – pidana maupun perdata – dengan keimigrasin.

VOA: Apakah ada jaminan bahwa jika mereka melapor, mereka pada akhirnya tidak dideportasi karena masalah keimigrasian?
Saya tidak dapat menjanjikan hal itu, tetapi sudah berulangkali disampaikan oleh para penegak hukum di Amerika – dan juga pihak berwenang beberapa negara bagian yang dikenal sebagai ‘sanctuary states‘ – bahwa mereka tidak akan mencampuradukkan antara masalah hukum pidana/perdata ini dengan status keimigrasian. Lain halnya jika mereka yang menjadi pelaku, jika ditangkap dan diketahui overstay maka akan segera dideportasi. Namun sebagai korban, posisi mereka lain.”

Diwawancarai secara terpisah, penasehat hukum KBRI Harun Calehr mengatakan dalam kasus skema ponzi kali ini, kedua perusahaan yang disebut-sebut para korban ini diduga menyalahgunakan wewenang perusahaan dan melanggar UU Penanaman Modalm Amerika. Untuk itu pihaknya telah berkoordinasi dengan US Securities and Exchange Commissions atau Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika – semacam Bappepam di Indonesia.

“Kemarin alhamdulilah sudah ada Zoom meeting antara SEC dan beberapa nasabah sehingga mereka lebih bisa memahami skema pidana penipuan ini bagaimana, juga modus operandinya. Kalau nanti tepat, kita bisa tindaklanjuti.”

Skema Ponzi, Skema Investasi Bodong

Dugaan penipuan dengan skema ponzi kali ini merupakan salah satu dari beberapa skema yang pernah ada di Amerika. Sebelumnya pada Februari lalu SEC Amerika mengungkap investasi berskema ponzi oleh penasehat investasi GPB Capital Holdings yang menelan korban lebih dari 17.000 investor ritel. Total kerugian diperkirakan mencapai 1,7 miliar dolar.

Pemilik dan CEO GPB Capital Holdings David Gentile, pemilik agen penempatan GPB Capital Ascendant Jeffry Schneider dan mantan mitra GPB Capital Jeffrey Lash dituduh menggunakan dana investor untuk membayar distribusi bulanan pada investor lama.

Pada tahun 2008 juga pernah terungkap kasus penipuan dengan skema ponzi terbesar di Amerika oleh Bernard Madoff. Total kerugian dari penipuan yang dilakukannya mencapai 50 miliar dolar, dengan korban bervariasi, mulai dai bank-bank besar seperti HSBC dan yayasan-yayasan amal, hingga investor kecil. Madoff meninggal di penjara 14 April lalu. [em/hj]



Source link

Continue Reading

Cakrawala Ramadan

Berpuasa Sebagai Bagian dari Terapi

Berpuasa Sebagai Bagian dari Terapi


Setiap kali menjelang puasa Ramadan, dokter dan pakar diet selalu dibanjiri pertanyaan mengenai dampak puasa bagi kesehatan, khususnya bagi pengidap diabetes. Namun, situasi itu dihadapi dua diaspora Indonesia di Amerika, seorang dokter ahli endokrinologi dan seorang pakar diet, dalam tugas sehari-hari.

Medha Satyarengga mengatakan, “Banyak. Banyak sekali karena pola makan di sini kurang sehat secara umum, terutama penduduk-penduduk yang berpenghasilan lebih rendah. Pola makan mereka cenderung apa adanya saja. Di sini, makanan yang murah justru fast food. Jadi banyak pasien-pasien saya di sini yang beratnya sampai 300 kg, 250 kg beratnya. Benar-benar parah obesitasnya.”

Dokter Medha Satyarengga adalah pakar endokrinologi pada Center for Diabetes and Endocrinology at Shore Regional Health, Maryland. Sehari-hari ia, antara lain, menangani pasien-pasien diabetes. Untuk membantu pasien menjaga kadar gula darah, ia menyarankan mereka menurunkan berat badan. Salah satu cara yang ia sarankan adalah berpuasa.

“Strategi saya itu. Jadi, saya tahu bahwa puasa sangat baik bagi diabetes,” ujar Medha.

Muslim berbuka puasa bersama di bulan Ramadan (foto: ilustrasi). Berpuasa bisa dijadikan alternatif terapi bagi penderita diabetes.

Muslim berbuka puasa bersama di bulan Ramadan (foto: ilustrasi). Berpuasa bisa dijadikan alternatif terapi bagi penderita diabetes.

Medha, yang juga banyak mendapat pertanyaan seputar Ramadan dan puasa bagi pengidap diabetes, mengatakan ketika pasiennya bertanya, seminggu berapa kali mereka harus berpuasa, spontan ia menjawab, “Dua kali cukup. Senin-Kamis, saya bilang. Karena yang ada di kepala saya, yang menempel, itu. Jadi, puasa Senin-Kamis.”

Mindasari Dhaniar (dok. pribadi)

Mindasari Dhaniar (dok. pribadi)

Pertanyaan seputar berpuasa bagi pengidap diabetes juga banyak diajukan kepada Mindasari Daniar, MPH. Minda adalah pakar diet klinis yang bekerja pada dua rumah sakit di Massachusetts: Boston Medical Center dan Whittier Rehabilitation.

Minda mengatakan, “Untuk orang-orang yang diabetes atau orang-orang yang mau menurunkan berat badan, saya akan sarankan selama bulan puasa, memilih sumber karbohidrat yang banyak mengandung serat. Itu sangat membantu.”

Kepada orang yang menjalankan puasa untuk mengurangi berat badan, Minda akan membeberkan sejumlah langkah agar diet mereka menunjang kesehatan. Tetapi ia juga mengingatkan agar melakukan itu setelah berkonsultasi dengan dokter dan pakar diet, ditunjang hasil laboratorium dan tidak ada perubahan metabolik yang membahayakan kesehatan.

“Sebagai dietitian, saya mengatakan, kalau berhasil, silakan. Karena, tiap diet itu belum tentu semua orang sama (hasilnya). Yang berhasil bagi seseorang melakukan intermittent fasting, belum tentu berhasil juga untuk orang lain,” tukas Minda.

Data statistik 2018 yang tertera pada situs Yayasan Diabetes Amerika menunjukkan satu dari 10 orang di Amerika atau lebih dari 34,2 juta, mengidap diabetes. Sedangkan laporan statistik diabetes nasional 2020 pada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) menyebutkan satu dari tiga orang dewasa di Amerika atau 88 juta berada di ambang diabetes.

Namun, CDC mencatat kini semakin banyak peluang untuk memperbaiki kondisi dan mencegah komplikasi diabetes. Salah satu hal yang disarankan CDC adalah menjaga asupan makanan. Saran itu juga disampaikan Minda dan Medha kepada pasien-pasien mereka. Tetapi secara spesifik Medha menyarankan puasa.

“Orang Amerika kan tidak banyak yang agamanya Islam. Jadi, puasanya tentu bukan untuk alasan religious. Jadi, saya bilang, yang penting puasa makanan, kalori dan karbohidrat. Itu, mereka bisa,” pungkasnya. [ka/ab]



Source link

Continue Reading

Cakrawala Ramadan

Diaspora Indonesia di AS Ramaikan Lomba Menu Sahur dan Kelas Masak Ramadan

Diaspora Indonesia di AS Ramaikan Lomba Menu Sahur dan Kelas Masak Ramadan


Umat Islam di seluruh dunia kembali melaksanakan ibadah puasa Ramadan di tengah pandemi. Namun, ini tidak menyurutkan semangat para perempuan Muslim atau Muslimah Indonesia di Amerika Serikat untuk terus mengadakan kegiatan bersama, walau dengan keterbatasan.

Pada Ramadan tahun ini kegiatan di masjid komunitas Indonesia, IMAAM Center, di Silver Spring, Maryland, cukup padat. Walau masjid sudah dibuka, hampir seluruh kegiatan dilakukan secara daring atau online, termasuk kegiatan yang dikhususkan bagi jemaah perempuan.

“Jadi kalau untuk Muslimah, yang paling intens itu, yang rutin adalah untuk sekarang tadarus. Ini sampai sekarang masih berjalan. Mulai dari 1 Ramadan, kita sudah mulai dari awal. Ibu-ibu dibagi per kelompok. Untuk yang tadarus itu sekitar 172 orang peserta. Kemudian itu setiap hari, Ibu-ibu melakukan tilawah Al-Qur’an per kelompok,” jelas Nani Afdal, kepala bagian publikasi dan komunikasi IMAAM kepada VOA belum lama ini.

Nani Afdal, direktur publikasi dan komunikasi IMAAM Center. (Foto: Nani Afdal/dokumen pribadi)

Nani Afdal, direktur publikasi dan komunikasi IMAAM Center. (Foto: Nani Afdal/dokumen pribadi)

Selain itu, IMAAM juga mengadakan berbagai kelas memasak secara daring untuk Muslimah, dengan dipandu oleh ahli masak.

“Itu sekarang yang terdata hampir rutin ikut adalah sekitar 52 orang, tapi biasanya memang untuk ikut cooking class ini harus register dulu,” ujar Nani yang sudah menetap di Arlington, Virginia sejak tahun 2000 lalu.

Setelah mendaftar, para peserta bisa menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan terlebih dahulu. Menu yang diajarkan pun cukup beragam, mulai dari kue, pempek, hingga lontong sayur, sebagai salah satu menu khas lebaran.

“Nanti akan disampaikan bagaimana caranya, bagaimana tekniknya, bagaimana tipsnya untuk membuat menu yang spesial ini. Nanti bisa diperagakan dan bisa dilihat hasil akhirnya seperti apa,” tambah Nani.

Sesi membuat kue Black Forest lewat daring (dok: Roza Bagus)

Sesi membuat kue Black Forest lewat daring (dok: Roza Bagus)

Para peserta pun menyambut baik dan merasa senang dengan kegiatan ini. Mereka bisa saling berbagi masakan spesial yang kerap disajikan pada bulan Ramadan atau hari raya Idul Fitri, juga berbagi teknik.

“Misalnya dua minggu yang lalu itu, bagaimana cara membuat pempek Palembang. Nah, memang mungkin masing-masing orang punya teknik sendiri gitu ya, tapi setelah mereka coba bersama, ‘wah, ternyata begini ya? Lebih mudahnya itu seperti ini.’ Jadi sangat membantu sekali untuk ibu-ibu IMAAM Muslimah dalam proses masak memasaknya, terutama dalam segi teknik dan tips yang bisa didapatkan dari para ahli dan nara sumbernya,” kata Nani.

Belum lama ini, pengusaha katering, Lely Rustiati di Maryland, mengajarkan cara membuat kue Black Forest. Selama dua jam ia membagi pengalamannya dan memandu kelas memasak tersebut.

“Saya stres-kan di situ, pakai highlight, non-alcoholic, gitu jadi itu menjadi acuan buat ibu-ibu. Wah, semangat sekali,” kata Lely Rustiati kepada VOA.

Sebelum pandemi, kelas memasak ini dilakukan secara tatap muka yang, diakui Lely, lebih interaktif.

“Awalnya saya juga khawatir, ‘aduh bisa enggak ya?’ Tetapi saya bayangkan di YouTube aja mereka bisa gimana cara cooking demo, mereka bisa memberikan arahan, mereka pada bisa, why not? Kemungkinan tidak terlalu beda between mereka melihat di YouTube dengan melihat virtual yang saya lakukan kemarin,” ujar Lely.

Warga Indonesia, Lely Rustiati di Maryland (dok: Lely Rustiati)

Warga Indonesia, Lely Rustiati di Maryland (dok: Lely Rustiati)

Yang menjadi tantangan bagi Lely adalah ketika mengatur kamera yang bisa memperlihatkan setiap langkah yang ia lakukan saat memasak.

“Saya tidak ada sumber daya manusia untuk memegang kamera. Jadi kamera hanya stand-by pakai tripod begitu, saya yang memajukan. Interesting, tapi ibu-ibu kelihatannya antusias. Kita encourage mereka, kan praktik bersama. Mereka di rumah masing-masing, mereka juga mempersiapkan bahan yang saya kerjakan, sama, bareng,” cerita Lely.

Melalui kelas memasak ini, Lely berharap ilmu yang ia berikan dapat berguna di kemudian hari.

“Saya tuh pengin ibu-ibu menghasilkan. By the end of Ramadan, ibu-ibu bisa berkreasi, diberikan kepada teman, menjamu tamu dengan cake itu. Kalau bisa pun saya lebih senang sekali kalau ibu-ibu itu bisa dimanfaatkan untuk berjualan nanti ke depannya, jadi ilmu yang saya berikan bermanfaat untuk ibu-ibu semua.”

Ake Pangestuti bersama warga muslim Indonesia di San Francisco Bay Area di acara Indo Feast Halal Festival 2019 sebelum pandemi (dok: Ake Pangestuti)

Ake Pangestuti bersama warga muslim Indonesia di San Francisco Bay Area di acara Indo Feast Halal Festival 2019 sebelum pandemi (dok: Ake Pangestuti)

Kegiatan memasak bersama secara daring juga dilakukan oleh para Muslimah Indonesia yang tergabung dalam pengajian AnNur di bawah Indonesian Muslim Community di wilayah San Francisco Bay Area (IMC SFBA). Kegiatan yang sudah berlangsung sejak sebelum pandemi ini kini mengambil tema Idul Fitri.

“Ramadan ini dikhususkan membuat kue kering untuk membantu persiapan Idul Fitri Ibu-ibu dan keluarganya,” ujar Ake Pangestuti yang tergabung dalam tim publikasi dan penggalangan dana IMC SFBA.

Organisasi Indonesian Muslim Society in America atau IMSA juga mengadakan berbagai kegiatan khusus Ramadan bagi jemaah perempuannya, yang diselenggarakan oleh IMSA Sister, disingkat IMSis.

Mengingat ribuan anggotanya tersebar di berbagai negara bagian Amerika Serikat dan Kanada, sejak sebelum pandemi, hampir seluruh kegiatan sudah dilakukan secara daring.

Kegiatan memasak secara daring bersama IMSA Sister (dok: IMSA Sister)

Kegiatan memasak secara daring bersama IMSA Sister (dok: IMSA Sister)

Sehari-harinya, kegiatan IMSA Sister ini mencakup dakwah dan keagamaan, gelar wicara dan webinar dalam berbagai topik, juga kegiatan kewanitaan dan ketrampilan. Pada bulan Ramadan, IMSA Sister menambah beragam kegiatan, seperti lomba hafalan Al-Qur’an untuk Ibu dan anak, serta kuis Ramadan harian. Kegiatan-kegiatan ini sangat diminati oleh para anggotanya, bahkan pesertanya berlebih.

Pada bulan Ramadan, beberapa kegiatan yang diselenggarakan cukup menuntut kreasi dalam memasak, seperti dijelaskan oleh ketua IMSA Sister, Noviyanti Kurniasari, yang berdomisili di New Jersey. Salah satunya “Resep Menu Ramadan Harian.”

“Ini yang jelas menu andalan dari IMSA Sister. Walaupun resep banyak ya, tapi kan biasanya pada saat diperlukan kita butuh yang barangnya simple dan ada di sini gitu dan di uji coba. Nah, kebetulan tim resepnya IMSA Sister itu kan memang kreatif ya, dengan seadanya, tapi bisa menjadi menu andalan,” ujar Noviyanti Kurniasari kepada VOA.

Ketua IMSA Sister, Noviyanti Kurniasari bersama keluarga di New Jersey (dok: IMSA Sister)

Ketua IMSA Sister, Noviyanti Kurniasari bersama keluarga di New Jersey (dok: IMSA Sister)

Satu hal yang berbeda tahun ini, IMSA Sister juga mengadakan lomba virtual, Menu Sahur Challenge. Para peserta diberi waktu selama 30 menit untuk menciptakan menu sahur yang praktis.

“Nah, ini kan biasanya kita menu (buka bersama) atau menu lebaran itu udah biasa. Nah, ini kita coba kali ini menu sahur, dalam 30 menit. Nah itu kan ibu-ibu sahur biasanya kan leftover dari buka ya, pengin tuh sesuatu yang baru yang fresh, kira-kira ada enggak sih dari sekian banyak member kita nih yang super creative, bangun pagi-pagi, nyiapin 30 menit, menu yang fresh ya, challenging-lah,” tambah Noviyanti.

Warga Indonesia, Fetty Shahab bersama keluarga di Portland, Oregon (dok: Fetty Shahab)

Warga Indonesia, Fetty Shahab bersama keluarga di Portland, Oregon (dok: Fetty Shahab)

Fetty Shahab di Portland, Oregon adalah salah satu pesertanya. Fetty memilih menu yang praktis, sehat dan sederhana sesuai temanya, yaitu telur dadar sosis ayam sayur dengan menggunakan minyak alpukat.

“Biasanya memang di rumah ini senang telur dadar, cuma saya variasikan. Enggak pernah sebelumnya pakai chicken frank. Katanya enak, mereka suka.”

Usai memasak, Fetty mengirimkan resep dan foto kepada panitia untuk diundi di akhir Ramadan nanti.

Telor Sosis Ayam Sayur kreasi Fetty Shahab (dok: Fetty Shahab)

Telor Sosis Ayam Sayur kreasi Fetty Shahab (dok: Fetty Shahab)

“Menarik karena di tengah pandemi ya kadang kita kan bingung mau ngapain, karena terbatas mau pergi kemana-mana karena malas, karena situasi pandemi ini. Dan bulan puasa kan enaknya di rumah. Jadi ya, enggak ada salahnya untuk coba-coba resep yang baru, yang sesuai dengan tema, sederhana dan sehat, terus yang bahannya juga gampang dicari. Di rumah ada selalu, jadi saya pilih telor dadar sosis sayur.”

Noviyanti berharap seluruh umat Islam dan pihak yang terlibat dapat merasakan keberkahan dari kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh IMSA dan IMSA Sister ini.

“Mudah-mudahan dengan kedekatan kita dengan agama kita, dengan Allah khususnya, lebih baik sehingga mudah-mudahan bisa meng-influence juga komunitasnya, teman-temannya, dimana saja (mereka) berada, untuk sama-sama berkontribusi dengan lebih baik di (komunitas) maupun di mana saja kita berada,” pungkasnya menutup wawancara dengan VOA. [di]



Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close