Connect with us

INDONESIA

Indonesia mengharapkan turis domestik untuk kebangkitan pariwisata pada tahun 2021

Indonesia mengharapkan turis domestik untuk kebangkitan pariwisata pada tahun 2021


Jakarta (ANTARA) – Pemerintah optimistis ekowisata menjadi salah satu pendorong penerapan ekonomi hijau secara komprehensif untuk mendorong kebangkitan ekonomi Indonesia. Ekowisata dapat diartikan sebagai pariwisata yang dilakukan secara bertanggung jawab untuk melestarikan lingkungan dan menopang kesejahteraan masyarakat setempat. Manfaatnya terdiri dari mempromosikan kesadaran lingkungan, menawarkan manfaat finansial langsung untuk konservasi, dan memberi manfaat finansial serta memberdayakan masyarakat lokal.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong menegaskan, pengelolaan kawasan wisata alam dapat mendatangkan devisa bagi daerah dan masyarakat selain menciptakan lapangan kerja dengan tidak melakukan tindakan merusak dan eksploitasi.

Jawa Barat memiliki beberapa destinasi ekowisata, seperti Taman Nasional Gede Pangrango yang dapat mendongkrak aktivitas ekonomi masyarakat, dan jembatan gantung Situgunung yang menjadi objek wisata populer.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), Kementerian LHK telah membuka kembali Gunung Rinjani di Pulau Lombok dan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat untuk pendaki dan wisatawan sejak 1 April 2021.

Kegiatan wisata pendakian di kedua lokasi tersebut sebelumnya telah ditutup sejak 1 Januari 2021, akibat cuaca pegunungan yang tidak bersahabat yang membahayakan nyawa manusia.

“Kegiatan pendakian di Gunung Rinjani masih dibatasi kuota maksimal 50 persen dari kapasitas normalnya, dan lama tinggal pendaki hanya tiga hari dua malam,” Kepala Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Dedy Asriady berkomentar.

Wisatawan yang ingin melakukan aktivitas pendakian diharuskan memesan tiket pendakian melalui aplikasi e-Rinjani yang dapat diunduh melalui Playstore.

Petugas TNGR juga memberlakukan protokol kesehatan COVID-19 yang ketat pada wisatawan, langsung dari pintu masuk, di lokasi wisata dan saat meninggalkan kawasan taman nasional.

Selain itu, tiga zona hijau COVID-19 di Bali rencananya akan dibuka mulai Juli tahun ini di tengah penurunan jumlah kasus penyakit virus korona harian di Indonesia dan kampanye vaksinasi massal secara nasional.

“Saya melihat di Provinsi Bali kami ingin berkonsentrasi pada tiga zona hijau yang ditetapkan, yakni Ubud, Sanur, dan Nusa Dua. Kami optimis ini menjadi zona hijau, kawasan hijau yang bisa kami buka sepenuhnya untuk wisatawan,” Presiden Joko Kata Widodo saat menyaksikan kampanye vaksinasi massal di Puri Saren Agung, Kabupaten Gianyar, Bali, belum lama ini.

Ubud terletak di Kabupaten Gianyar, Sanur terletak di Kota Denpasar, dan Nusa Dua terletak di Kabupaten Badung. Otoritas Bali telah memberikan vaksin COVID-19 untuk pekerja pariwisata, tokoh agama Bali, dan perwakilan budaya dan pemuda, antara lain.

“Sehingga nantinya mereka (wisatawan) akan merasa aman dan nyaman untuk tinggal di Bali. Dengan fokus kita pada ketiga zona tersebut, maka kebangkitan sektor pariwisata di Provinsi Bali akan dimulai,” tegasnya.

Berita Terkait: Perekonomian Indonesia mendapatkan dorongan yang signifikan dari industri kuliner

Berita Terkait: Menteri memproyeksikan masuknya pengunjung di tujuan wisata

Berita Terkait: Indonesia, Singapura menyelidiki kemungkinan pembukaan akses pariwisata

Advertisement
Click to comment

INDONESIA

Melonguane Sulawesi Utara dilanda gempa berkekuatan 5,5

Melonguane Sulawesi Utara dilanda gempa berkekuatan 5,5


Jakarta (ANTARA) – Gempa berkekuatan 5,5 skala Richter mengguncang barat laut Melonguane, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Selasa dini hari, meski belum ada peringatan tsunami, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Gempa yang melanda pukul 00:25:57 WIB itu berpusat di 185 kilometer barat laut Melonguane dengan kedalaman 185 kilometer, kata BMKG dalam situs resminya.

Gempa tersebut tidak cukup signifikan untuk menimbulkan tsunami. Meski demikian, BMKG telah memperingatkan potensi gempa susulan pasca gempa.

Gempa berkekuatan 5,5 dapat menyebabkan kerusakan yang cukup besar di darat.
Berita Terkait: Gempa 5,7 mengguncang Halmahera Barat di Maluku Utara
Berita Terkait: Gempa berkekuatan 5,3 mengguncang Banda Aceh pada Jumat malam

Continue Reading

BENCANA ALAM

Mitigasi Bencana di Sulbar Dengan Rumah Tahan Gempa Berbasis Kearifan Lokal

Mitigasi Bencana di Sulbar Dengan Rumah Tahan Gempa Berbasis Kearifan Lokal


Pasca gempa bumi mulai tumbuh kesadaran warga di kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, untuk kembali ke kearifan lokal dengan membangun kembali tempat tinggal mereka yang rusak akibat gempa menggunakan bahan material dari kayu. Bupati Mamuju, Sitti Sutinah Suhardi, mengatakan kearifan lokal masa lalu warga di daerah itu yaitu mendirikan bangunan rumah panggung terbuat dari kayu. Namun, seiring perkembangan zaman, model rumah panggung ditinggalkan karena tidak seindah bangunan rumah beton.

Sitti Sutinah Suhardi, Bupati Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. (Foto:VOA)

Sitti Sutinah Suhardi, Bupati Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. (Foto:VOA)

“Kalau dulu masyarakat di Mamuju itu rata-rata rumahnya terbuat dari kayu, rumah panggung, hanya karena untuk zaman sekarang mereka anggap tidak keren lagi punya rumah panggung, banyak yang membangun rumah batu dan sekarang dengan adanya gempa, mereka kembali dengan penuh semangat membangun rumah terbuat dari kayu. Jadi kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Mamuju itu, kembali lagi,” kata Sitti Sutinah Suhardi dalam “Maestro Talkshow bertema Indonesia Waspada Gempa”, Minggu (9/5).

Gempa bumi berkekuatan 6,2 yang mengguncang Mamuju dan Majene di Sulawesi Barat menyebabkan korban meninggal dunia 109 jiwa. Berdasarkan laporan BNPB per 15 Maret 2021 dampak gempa di Sulawesi Barat menyebabkan kerusakan bangunan sektor permukiman sebanyak 15.522 unit. Di Kabupaten Mamuju, rumah rusak berat sebanyak 2.054 unit, rusak sedang 3.843 unit, dan rusak ringan 5.526 unit.

Susanto Samsudin, National Director Habitat for Humanity Indonesia menilai pasca bencana di Mamaju juga perlu dilakukan kegiatan pelatihan-pelatihan mitigasi bencana kepada masyarakat agar mendirikan rumah yang ramah gempa. Di beberapa daerah tertentu yang rawan gempa, ada kearifan lokal masyarakat yang mendirikan rumah menggunakan material fleksibel seperti kayu dan bambu yang tidak mudah roboh saat diguncang gempa.

Susanto Samsudin, National Director Habitat for Humanity Indonesia. (Foto: VOA)

Susanto Samsudin, National Director Habitat for Humanity Indonesia. (Foto: VOA)

“Tapi ini ada modernisasi di mana ada perubahan di mana orang berpikir kalau rumah dengan semen, dengan bata, itu lebih bergengsi. Karena merasa lebih bergengsi dan dia di daerah gempa kemudian dia membangun bangunan, mencampur misalnya tiangnya kayu tapi dindingnya bata dan dia tidak memperhatikan sebenarnya bata dan kayu itu harus ada alat penguatnya, kalau tidak, lebih parah sehingga batanya semuanya roboh,” jelas Susanto Samsudin.

Relawan dari “Habitat for Humanity Indonesia” juga memberikan pelatihan membangun rumah tahan gempa dengan teknologi ferosemen di desa-desa terdampak gempa di Kabupaten Mamuju.

Tim SAR memeriksa bangunan yang roboh akibat guncangan gempa di Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu, 16 Januari 2021. (Foto: Antara Foto/Sigid Kurniawan via Reuters)

Tim SAR memeriksa bangunan yang roboh akibat guncangan gempa di Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu, 16 Januari 2021. (Foto: Antara Foto/Sigid Kurniawan via Reuters)

Ferosemen adalah teknik memperkuat dinding bangunan dengan cara menambahkan anyaman kawat ayam atau kini dikenal sebagai kawat besi dengan ketebalan lebih dari satu milimeter. Anyaman kawat yang rapat itu diletakkan pada jarak satu sentimeter dari dinding bangunan. Agar tidak bergeser, anyaman itu diikat menggunakan kawat pengikat pada paku payung yang ditancapkan di dinding bangunan yang terbuat dari susunan bata ringan maupun batako. Anyaman kawat itu nantinya akan tertutup setelah dinding diplester menggunakan adukan semen dengan ketebalan dua sentimeter.

Kerawanan Bencana Gempa di Pulau Sulawesi Tinggi

Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG mengatakan berdasarkan fakta geologi dan tektonik, Sulawesi Barat umumnya memiliki indeks potensi risiko gempa bumi yang cukup tinggi. Hal itu dikarenakan Sulbar bersebelahan dengan sesar naik Mamuju yang berada di pantai Mamuju hingga ke Kabupaten Polewali Mandar. Sesar itu telah memicu setidaknya delapan kali gempa sejak 1915 yang beberapa diantaranya juga diikuti dengan tsunami. Sejarah gempa yang berulang memerlukan kewaspadaan melalui upaya mitigasi (pengurangan risiko bencana).

Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG. (Foto: VOA)

Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG. (Foto: VOA)

“Yaitu dengan membangun bangunan tahan gempa atau kalau belum bisa mewujudkan bangunan tahan gempa yang lebih mahal, masyarakat dapat membangun bangunan yang berbahan ringan dari kayu dan bambu yang didesain menarik,” kata Daryono. Pemerintah setempat juga perlu melakukan penataan ruang berbasis risiko tsunami untuk mencegah masyarakat bermukim di pesisir pantai yang pernah dilanda tsunami.

“Tapi kalau memang tidak bisa dipindah, harus masyarakat memahami disebut sebagai evakuasi mandiri yaitu dengan cara menjadikan guncangan gempa yang terjadi itu sebagai peringatan dini tsunami,” jelas Daryono.

Menjawab pertanyaan VOA, Daryono menjelaskan potensi bencana gempa bumi di Pulau Sulawesi masih tinggi. Setidaknya ada tiga sesar (patahan) yang perlu diwaspadai karena sudah cukup lama tidak melepaskan energi gempa kuat yaitu Sesar Matano di Morowali, Sulawesi Tengah, Sesar naik selat Makassar dan Sesar Walanae yang berada di Parepare hingga Bulukumba di Sulawesi Selatan. [yl/ka]

Continue Reading

INDONESIA

Menteri meminta masyarakat untuk menambahkan lebih banyak ikan ke menu pesta

Menteri meminta masyarakat untuk menambahkan lebih banyak ikan ke menu pesta


Jika kita mengharapkan generasi kita pintar, seperti idealnya di Jepang yang konsumsi ikannya sudah mencapai 140 kilogram per kapita per tahun, target nasional kita tahun ini harus 60 kilogram per kapita per tahun.

Jakarta (ANTARA) – Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengimbau masyarakat di seluruh daerah untuk lebih banyak menyajikan ikan pada Idul Fitri tahun ini.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan di Jakarta, Senin, Trenggono menulis, pihaknya telah langsung mendistribusikan sekitar 1,5 ton ikan beku dan ratusan bungkus ikan olahan kepada pekerja dan warga di sekitar kantor pusat kementerian.

“Saya harap ini bisa membantu bapak dan ibu untuk memenuhi kebutuhan pangan selama lebaran,” tandasnya.

Pendistribusian ikan jelang Idul Fitri 2021 merupakan bagian dari program Bulan Mutu Karantina (BMK) yang diselenggarakan setiap tahun oleh kementerian, imbuhnya.

Paket yang dibagikan berupa kotak styrofoam berukuran besar berisi masing-masing tiga kilogram ikan beku (mackarel dan bandeng) beserta produk olahan ikannya, ujarnya.

Warga yang menerima paket tersebut adalah warga di tiga rukun tetangga yang berada di dekat kantor kementerian. Sedangkan pekerja yang mendapat paket adalah petugas keamanan, petugas kebersihan, dan teknisi yang bekerja di kementerian, kata Menkeu.

Diberitakan sebelumnya, Anggota Komisi VI DPR RI, Slamet, menyerukan agar konsumsi ikan nasional sampai ke level Jepang untuk mengatasi sejumlah masalah yang berkaitan dengan gizi masyarakat, misalnya stunting.

“Kalau kita mengharapkan generasi kita pintar, seperti idealnya di Jepang yang konsumsi ikannya sudah mencapai 140 kilogram per kapita per tahun, target nasional kita tahun ini harus 60 kilogram per kapita per tahun,” tandasnya.

Berita Terkait: Survei menunjukkan perlunya menambahkan lebih banyak sayuran di piring Indonesia

Slamet mencontohkan, sumber daya laut yang ada di Indonesia sangat melimpah sehingga pemerintah harus berupaya mengoptimalkan pemanfaatannya.

Kepala Badan Penelitian dan Sumber Daya Manusia Kementerian ESDM Sjarief Widjaja mencatat, pelatihan online pengolahan hasil perikanan yang diberikan di beberapa daerah dapat membantu meningkatkan tingkat konsumsi ikan nasional.

“Inovasi produk olahan ikan juga penting untuk meningkatkan tingkat konsumsi ikan nasional,” tandasnya.

Kementerian telah menetapkan target untuk meningkatkan konsumsi ikan menjadi 62,50 kilogram per kapita per tahun pada tahun 2024 dibandingkan dengan 56,39 kilogram per kapita per tahun pada tahun 2020.

Karenanya, pelatihan semacam itu menjadi salah satu strategi kementerian untuk mencapai target konsumsi ikan, ujarnya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan mencanangkan gerakan cinta makan ikan (Germarikan) untuk mendongkrak konsumsi ikan nasional.

Bekerja sama dengan Komisi IV DPR, kampanye ini akan membantu mengedukasi masyarakat tentang manfaat makan ikan dan mendistribusikan paket produk olahan ikan di 112 kabupaten dan kota di 21 provinsi di Indonesia mulai Maret hingga Juli 2021.

Berita Terkait: Konsumsi ikan didorong untuk memenuhi kebutuhan protein selama puasa

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close