Connect with us

EROPA

Ilmuwan Sebut Komitmen Iklim AS dan Sejumlah Negara Bantu Capai Perjanjian Paris

Ilmuwan Sebut Komitmen Iklim AS dan Sejumlah Negara Bantu Capai Perjanjian Paris



Sejumlah ilmuwan, Selasa (4/5), mengatakan janji-janji yang disampaikan Amerika dan negara-negara lain baru-baru ini, akan membantu membatasi pemanasan Bumi pada dua derajat Celsius di akhir abad ini. Namun ini baru tercapai jika upaya mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi “nol” pada tahun 2050 berhasil.

Enam tahun lalu dalam perundingan di Paris, lebih dari 190 negara sepakat untuk mempertahankan kenaikan suhu rata-rata di bawah ambang batas – yang idealnya tidak lebih dari 1,5 Celsius – selambat-lambatnya pada tahun 2100, dibandingkan masa pra-industri. Ini penting untuk mencegah terjadinya bahaya serius pada manusia dan alam.

The Climate Action Tracker memperkirakan dunia saat ini melampaui target kesepakatan Paris yang kurang ambisius, yaitu sebesar 0,9 derajat. The Climate Action Tracker adalah piranti untuk melacak langkah-langkah yang diambil terkait iklim dan disusun oleh sekelompok peneliti guna menerjemahkan target dan emisi nyata ke dalam perkiraan suhu.

“Ini masih merupakan perubahan iklim yang sangat buruk, situasi yang pada dasarnya tidak dapat dikendalikan dan harus kita hindari dengan melakukan segala cara,” ujar Niklas Hoehne di New Climate Institute, salah seorang peneliti studi ini.

Dengan memasukkan proposal terbaru dari beberapa negara dalam perhitungan mereka, para peneliti ini menemukan perkiraan penurunan suhu menjadi 2,4 Celsius – atau naik 0,2 Celsius dari perkiraan optimis sebelumnya yang dibuat kelompok itu Desember lalu. Tujuan iklim baru yang ambisius dari Presiden Amerika Joe Biden baru-baru ini ikut berkontribusi secara signifikan atas perkiraan yang direvisi bersama Uni Eropa, China, Jepang dan Inggris.

Namun jika 131 negara yang menyumbang hampir tiga perempat emisi gas rumah kaca dunia itu benar-benar memenuhi tujuan “nol bersih” yang dijanjikan atau yang dibahas, maka target dua derajat akan dapat dipenuhi, ujar Hoehne. [jm/em]

Advertisement
Click to comment

EROPA

Jelang Pertemuan, Putin Berharap Biden Tak “Seimpulsif” Trump 

Jelang Pertemuan, Putin Berharap Biden Tak “Seimpulsif” Trump 



Menjelang pertemuan puncak pertamanya dengan pemimpin baru AS, Presiden Rusia Vladimir Putin, Jumat (11/6) berharap Presiden AS Joe Biden tidak seimpulsif pendahulunya, Donald Trump.

Dalam sebuah wawancara dengan televisi NBC News, Putin menggambarkan Biden sebagai “sosok karir” yang menghabiskan hidupnya dalam politik.

“Ini merupakan harapan besar saya bahwa, meskipun ada beberapa keuntungan dan kerugian, tetapi tidak akan ada tindakan mendadak dan gegabah atas nama presiden AS yang sedang menjabat,” kata Putin.

Biden berencana menyampaikan berbagai keluhan AS, termasuk campur tangan dan peretasan pemilu oleh Rusia, dalam pertemuan puncak dengan Putin, Rabu (16/6) mendatang di Jenewa pada akhir lawatan luar negeri pertama Biden.

Putin secara terbuka mengakui bahwa selama pemungutan suara 2016 ia mendukung Trump, yang juga menyatakan kekagumannya kepada pemimpin Rusia itu. Trump dalam pertemuan puncak pertamanya dengan Putin tampak menerima bantahan Putin ikut campur dalam pemilu AS.

Biden mengatakan tidak memiliki angan-angan tentang Putin, yang ia gambarkan sebagai “pembunuh” sehubungan dengan serangkaian kematian yang menarik perhatian, termasuk pengecam Kremlin, Boris Nemtsov.

Ditanya apakah ia “seorang pembunuh”, Putin mengatakan istilah itu adalah bagian dari “perilaku jantan” yang umum di Hollywood.

Wacana seperti itu “adalah bagian dari budaya politik AS, di mana itu dianggap normal. Namun dalam hal ini dianggap tidak normal,” katanya. [my/pp]

Continue Reading

EROPA

KTT G-7 Dimulai, Bawa Pesan ‘Membangun Kembali dengan Lebih Baik’

KTT G-7 Dimulai, Bawa Pesan ‘Membangun Kembali dengan Lebih Baik’



Hari pertama KTT G-7 telah berakhir, di Cornwall, Inggris, di mana para pemimpin dari tujuh negara demokrasi kaya ingin memimpin perjuangan global melawan pandemi dan “membangun kembali dengan lebih baik” menuju masa depan yang lebih hijau, lebih sejahtera, dan adil.

KTT ini diselenggarakan oleh Inggris dan dihadiri oleh para pemimpin Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika. Perwakilan Uni Eropa juga hadir, bersama dengan tamu lainnya, kepala negara Australia, Afrika Selatan dan Korea Selatan. Perdana menteri India bergabung melalui tautan video.

“Ini adalah pertemuan yang benar-benar harus terjadi,” kata Perdana Menteri Boris Johnson, tuan rumah tahun ini, ketika membuka sesi pertemuan para pemimpin. “Kita perlu memastikan bahwa kita belajar dari pandemi, memastikan bahwa kami tidak akan mengulangi beberapa kesalahan yang kita buat selama sekitar 18 bulan terakhir,” ujarnya.

Johnson mengatakan ia ingin G-7 akan “membangun kembali lebih baik, membangun kembali dengan lebih berwawasan lingkungan, un kembali lebih adil, lebih setara dan lebih netral gender dan mungkin dengan cara yang lebih feminin.”

Sementara pertemuan G-7 sebelumnya ditandai dengan jamuan mewah, delegasi besar dan rombongan media, pertemuan tahun ini sangat dibatasi. Masker, tes COVID-19 harian, dan protokol kesehatan lainnya menjadi pengingat nyata bahwa krisis virus corona masih jauh dari selesai.

“Dunia akan melihat G-7 menerapkan nilai-nilai bersama dan kekuatan diplomatik kita, pada tantangan mengalahkan pandemi dan memimpin pemulihan global,” kata Johnson.

Pandemi menyebabkan para pemimpin melewatkan KTT tahun lalu. Terakhir kali G-7 bertemu secara langsung adalah di Biarritz, Prancis, pada 2019. [my/pp]

Continue Reading

EROPA

Biden Tegaskan Hubungan Khusus AS-Inggris

Biden Tegaskan Hubungan Khusus AS-Inggris



Presiden AS Joe Biden, Kamis (10/6), mengatakan pertemuannya dengan Perdana Menteri Boris Johnson di Inggris produktif.

Biden menegaskan hubungan khusus kedua negara sebagai sekutu dalam perubahan iklim, keamanan global dan memerangi pandemi virus corona.

Ia juga mengatakan kedua pemimpin memperbarui Piagam Atlantik yang sudah berusia 80 tahun yang mengarah pada pembentukan PBB dan NATO.

Presiden Biden mengatakan aliansi itu kini tengah mengatasi tantangan yang mencakup keamanan siber, teknologi baru, kesehatan global, dan krisis iklim.

Biden juga mengatakan ia dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson membahas KTT iklim yang diselenggarakan AS pada April lalu dan pertemuan iklim mendatang yang dijadwalkan akhir tahun ini di Skotlandia.

Pembicaraan kedua pemimpin itu juga mencakup Afghanistan dan penarikan pasukan yang akan datang, serta bagaimana mengatasi pandemi virus corona.

Biden, Johnson dan para pemimpin negara-negara Kelompok Tujuh ekonomi terbesar di dunia, akan melakukan pertemuan puncak yang dimulai Jumat di Cornwall, Inggris. [my/ft]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close