Connect with us

Humaniora

Hikayat Kesuksesan Masyarakat Adat Hadapi Pandemi Covid-19

Hikayat Kesuksesan Masyarakat Adat Hadapi Pandemi Covid-19

[ad_1]

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro Darurat dimulai pada 3 Juli 2021 hingga 20 Juli 2021 untuk wilayah Jawa dan Bali. Hal ini diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam keterangan melalui Youtube Seketariat Presiden, Kamis (1/7/2021).

“Setelah dapatkan banyak masukan, menteri, ahli kesehatan dan kepala daerah, saya memutuskan untiuk memberlakukan PPKM darurat sejak 3 Juli hingga 20 Juli 2021 khusus untuk Jawa-Bali,” kata Jokowi

Keputusan ini perlu diambil seiring dengan lonjakan kasus positif Covid-19 dalam beberapa waktu terakhir. Termasuk kehadiran varian baru dengan penyebaran yang lebih cepat.

“Situasi ini mengharuskan kita ambil langkah-langkah tegas agar kita bersama-sama dapat membendung Covid-19,” jelasnya.

Memang, kasus virus corona dalam satu pekan ini naik 34,6 persen atau 168.767. Kenaikan kasus paling tinggi berasal dari DKI Jakarta sebanyak 14.058 kasus. Satgas Covid 19 juga mengatakan, kenaikan kasus tertinggi juga terjadi di Jawa Barat sebanyak 10.367 kasus, Jawa Timur 2.905 kasus, Yogyakarta 2.173 kasus, kemudian Kalimantan Timur naik 1.749 kasus.

Penghayat Kepercayaan, Bagian Dari Masyarakat Yang Harus Kita Jaga Dan Hormati

Berbeda di kota, berbeda di desa. Masyarakat adat cenderung tidak tersentuh dengan pandemi Covid-19. Salah satunya adalah Suku adat Baduy yang hingga sekarang warganya tidak tersentuh penyakit ini. Diketahui bedasarkan data sejak pertama kali muncul Maret 2020 lalu hingga Juni 2021, tidak seorang pun ada warga Baduy yang positif kasus Covid-19.

“Betul sampai saat ini kita tidak menerima satu pun kasus Covid di masyarakat Baduy. Ini berlaku sejak pandemi tahun 2020 sampai sekarang bulan Juni 2021,” ungkap Dr Maytri Nurmaningsih, Kepala Puskesmas Cisimeut, Kabupaten Lebak, Banten.

Hal senada diungkapkan oleh Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kemendikbudristek, Sjamsul Hadi, yang mengatakan masyarakat adat cenderung lebih aman dari Covid-19 ketimbang masyarakat perkotaan.

“Pandemi ini banyak terjadi di perkotaan. Justru masyarakat di perkampungan bahkan masyarakat adat tidak tersentuh Covid-19,” ujar Sjamsul, menukil Antara.

Menurutnya Sjamsul, kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi masyarakat adat menjadi salah satu alasan Covid-19 tidak hadir di antara mereka. Dirinya mencontohkan, hal ini terjadi pada masyarakat Baduy di Kanekes dan masyarakat adat Dayak di Kalimantan

“Justru di daerah-daerah pinggiran khususnya di masyarakat adat, di sini justru tidak tersentuh dengan pandemi. Ini secara jelas masyarakat adat masih sangat menjunjung tinggi kearifan lokal,” ucapnya.

Komitmen masyarakat adat hadapi pandemi Covid-19

Jaro Saija, kepala desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, sangat bangga karena warganya tidak ada satupun yang jadi korban virus Covid-19.

“Alhamdulilah di Desa Kanekes nol persen Covid 19,” katanya pada April lalu dalam Projectmultatuli.org.

Tugasnya memang bertambah kompleks selama pandemi, karena harus memastikan keselamatan penduduk, utamanya mereka yang berada di kawasan Baduy Luar. Dirinya bersyukur, sejauh ini tugasnya berjalan dengan baik.

Sementara Iton Rustanti, Ketua Satgas Covid-19 Puskesmas Cisimeut, menjelaskan kunci pencapaian tersebut terletak pada pola komunikasi yang terbangun baik antara tenaga kesehatan dan masyarakat Baduy. Begitu pandemi muncul, masyarakat dan tenaga kesehatan di sekitar kawasan Baduy siap menghadapinya.

Selain itu pola komunikasi ini didukung dengan inisatif masyarakat Baduy Luar yang memang sejak awal tak ingin terlambat merespons kemunculan Covid-19. Mereka merespons cepat dengan mengisolasi kampung, membuat parit-parit pembatas, lantas memblokir akses masuk orang luar.

Sinergitas antara aturan adat dan negara jadi hal penting ketika membicarakan penanggulangan wabah di Baduy Luar. Dalam adat Baduy, ada semacam keras kepala yang menjadi pedoman hidup, salah satu yang paling populer yakni: Gunung tidak meleleh, lembah tidak rusak (gunung jangan diratakan, lingkungan jangan dirusak). Sedangkan dalam konteks pandemi, keras kepala yang dipegang adalah setiap penyakit pasti ada alasannya.

Berkenalan Dengan Suku Sasak dari Dusun Sade Yuk!

“Kuncinya adalah bisa atau tidak bisa, percaya yang dipegang sama hati sendiri. Semua sakit ada obatnya. Sakit kepala, sakit perut, ada mantra-mantranya. Itu bisa dibeli. Pakai apa? puasa,” jelas Jaro.

Hal yang sama terjadi pada Suku Anak Dalam (SAD) yang lebih suka dipanggil dengan sebutan Orang Rimba, sebuah suku lokal di Provinsi Jambi. Saat ini Orang Rimba sedang melakukan karantina menjauh masuk ke dalam hutan agar mencegah tertular dari berbagai penyakit. Sistem bernama ‘besesandingon’ ini sudah dilakukan oleh Orang Rimba sejak ratusan tahun lalu.

“Dari nenek moyang (besesandingon) sampai saat ini apalagi virus corona yang mematikan. Batuk, demam, dan lainnya, Orang Rimba sudah menjaga jarak dari zaman dulu sampai saat ini,” cerita Mijak Tamping, Orang Rimba Makekal Hulu, mengutip TERBANG (24/4/2020).

Keyakinan warga terhadap adat yang harus dijunjung tinggi dan kepatuhan kepada para pemimpin, juga menjadi kunci keberhasilan lolos dari pandemi Covid-19. Hal inilah yang tertanam dari Orang Rimba, begitu ada perintah melakukan besesandingon, mereka langsung masuk ke hutan, tanpa ada seorang pun berani melanggar aturan. Itu pula yang membebaskan mereka dari wabah.

Lalu jika ada orang yang sakit demam disertai batuk, maka akan diasingkan atau disebut ‘Cenenggo’, dengan dibuatkan tempat tinggal terpisah. Anggota keluarga yang sakit tetap dirawat, namun dengan jarak aman 10-15 meter, atau disebut ‘Besesulangon’.

“Nah, Orang Rimba ketika ada yang menderita sakit pasti dikarantina kalau bahasa kami Besesandingon dari kelompok yang sehat. Nah itu dari zaman dahulu sampai sekarang sistem tersebut diterapkan kepada siapa saja yang sakit,” jelas Mijak.

Mijak sendiri saat itu harus berpisah dengan keluarganya selama hampir dua bulan, lantaran tidak diperbolehkan masuk ke wilayah adat yang sedang menerapkan sistem Besesandingon. Dirinya memang berperan sebagai penyalur bantuan sembako kepada teman-temannya sesama Orang Rimba di dalam hutan.

Mengapilasikan sistem ketahanan pangan saat pandemi

Sementara masyarakat adat Boti di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), gerak cepat saat munculnya pandemi Covid-19. Kedekatan mereka dengan alam membuat mereka mampu mandiri dan mampu melakukan karantina wilayah tanpa kekhawatiran kekurangan pangan.

“tidak perlu dibantu, negara tidak perlu pusing dengan Desa Boti!” kesal Balasar Oi Benu, dalam acara bercakap-cakap Ketahanan Masyarakat Boti di tengah Bencana Pandemi, 20 Agustus 2020 lalu.

Penyebab kesesalannya adalah persepektif pemerintah melihat kemiskinan dari kacamata urban dalam melihat kelompok masyarakat seperti Boti. Itu membuatnya geram, padahal selama ini orang Boti hidup berkecukupan.

“Secara ekonomis, Desa Boti tidak perlu dibantu. Apalagi dalam masalah pandemi. Masyarakat Desa Boti, secara alami telah memenuhi kebutuhan sendiri,” tegasnya.

Omongan Balasar bukan bualan semata, menurut Devi Anggraini dari Perempuan AMAN, Suku Boti sangat mandiri. Saat pandemi Covid-19 ini, Suku Boti tidak begitu memperhitungkan bantuan dari pemerintah, sebab mereka bisa mandiri dengan obat-obatan sendiri. Begitu juga dengan pangan, mereka bisa mengambil bahan makanan dari lingkungan kampungnya.

“Covid-19 menunjukkan kepada masyarakat luar jika pengetahuan yang telah dipraktikkan masyarakat adat selama ratusan tahun membantu mereka untuk bertahan hidup,” kata Devi.

Menurut Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel), Dr Abdul Rahman Nur, mengatakan masyarakat hukum adat sudah menerapkan sistem ketahanan pangan jauh sebelum terjadi pandemi Covid-19, dan sebelum pemerintah mengetahui istilah tersebut.

Penetapan Hutan Adat, Sejarah Baru Bagi Indonesia

“Sebelum pemerintah mengenal istilah ketahanan pangan, sistem itu sudah terbangun di masyarakat adat,” katanya dalam Gatra.

Menurut Abdul Rahman, mereka juga mempunyai pengetahuan luar biasa agar pangan yang disimpan bisa tahan lama tanpa pengawet kimia, bahkan ketika menghadapi musim paceklik. Bahkan, sambungnya, di daerah Seko masyarakat adatnya memiliki padi lokal, yakni tarone yang tahan lama.

“Ini belum ada di wilayah lain, jika disimpan di lumbung padi bisa bertahan 10-20 tahun,” katanya.

“…itulah yang mengamankan untuk menghadapi misalnya wabah Corona, kekeringan atau terjadi perubahan iklim, mereka bisa bertahan hingga 20 tahun, itu mereka sudah punya sistem.”

Bukan saja mengurus soal pangan, masyarakat ada juga memiliki aturan, di antaranya untuk pengaturan uang, menjaga kelestarian alam, dan lain-lain. Misalnya masyarakat adat Talina Rongkong, Luwu Utara, Sulsel yang memiiki konstitusi yang dibuat oleh hukum adat. Beberapa poin menjadi kesepakatan masyarakat dan tidak boleh dilanggar.

Salah satu poinnya dari “konstitusi” masyarakat adat Rongkong itu kira-kira isinya, bahwa Rongkong merupakan bumi yang indah dan tidak boleh ada kejahatan.

“Kalau misalnya ada orang yang dompetnya atau barangnya jatuh, itu tidak akan hilang, akan tetap di situ, atau ada yang diambil dan cari pemiliknya,” pungkas Abdul Rahman.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Humaniora

Cara Leluhur Dekatkan Anak-Anak dengan Tuhan | Good News From Indonesia

Cara Leluhur Dekatkan Anak-Anak dengan Tuhan | Good News From Indonesia

[ad_1]

Mohammad Zaini Alif, pakar permainan tradisional Indonesia mengungkapkan bahwa arti dari dari kalimat tersebut tidak diketahui secara pasti, karena belum ada penelitian tentang sejarah yang menjelaskan kemunculan kalimat tersebut dalam permainan anak-anak. Permainan ini pun mulai ditinggalkan dan digantikan dengan permainan canggih.

Namun, selama pandemi Covid-19 ada perkembangan di masyarakat. Permainan-permainan tradisional mulai naik daun dan banyak dimainkan anak-anak untuk mengisi keseharian selama menetap di rumah.

Untuk melestarikan keberadaan permainan tradisional, Sjamsul, sebagai pihak dari Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah (Disdakmen) bersama pusat kurikulum tengah mempersiapkan modul permainan tradisional untuk ke dalam kurikulum.

Selamat Hari Anak Nasional!

#makintahuindonesia#Indonesia#Hompimpa#DolananAnak#Semenit

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Humaniora

Lima Bahasa Asing yang Kosakatanya Diserap Menjadi Kosakata Indonesia

Lima Bahasa Asing yang Kosakatanya Diserap Menjadi Kosakata Indonesia

[ad_1]

Ilustrasi bola dunia © Sigmund Unsplash


9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing. Begitulah judul buku karya Alif Danya Munsyi alias Remy Sylado. Penafian: artikel ini tidak akan menguraikan apalagi mempromosikan buku. Apa yang diungkapkan Remy Sylado dalam judul bukunya adalah gambaran bahwa bahasa Indonesia tidak serta merta ada tanpa kontribusi bahasa asing.

Sebagian besar kosakata bahasa Indonesia yang kita gunakan merupakan hasil adopsi dari bahasa asing. Itulah yang menjadi alasan kenapa kita kerap menemukan kata dalam bahasa asing yang mirip dengan bahasa Indonesia. Nah, berikut lima bahasa asing berkontribusi terhadap kata serapan dalam bahasa Indonesia.

1. Bahasa Sanskerta

info gambar

Ilustrasi bahasa Sanskerta | h0rde iStock Photo


Bahasa yang satu ini merupakan bahasa tertua sebagai bahasa sumber penyerapan Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan prasasti Talang Tuo di Palembang yang menggunakan kosakata bahasa Sansekerta pada 684 M. Bahasa Sansekerta juga kerap menjadi sarana penyebaran agama Hindu dan Budha sejak abad ke-7.

Selain sebagai sarana penyebaran agama, bahasa Sansekerta juga kerap digunakan dalam aktivitas perdagangan rempah-rempah dari India. Kata serapan dari bahasa Sanskerta di antaranya aneka, anugrah, bahasa, bencana, dan bicara.

2. bahasa arab

Ilustrasi Arab |  Rodnae Production Pexels.com

info gambar

Ilustrasi Arab | Rodnae Production Pexels.com


Bahasa Arab merupakan bahasa sumber kedua setelah bahasa Sanskerta. Sejak abad ke-12, bahasa Arab menjadi sarana penyebaran agama Islam di Indonesia. Usai agama Islam dikenal di Indonesia, banyak karya sastra yang ditulis dengan huruf Arab. Kata serapan dari bahasa Arab di antaranya abad, sopan santun, adat, adil, dan akrab.

3. Portugis

Ilustrasi bahasa Portugis | @souomau Unsplash

info gambar

Ilustrasi bahasa Portugis | @souomau Unsplash


Bahasa Portugis mulai dikenal oleh masyarakat penutur bahasa Melayu sejak 1511 ketika bangsa mereka menduduki Malaka. Pada abad ke-17, selain bahasa Melayu, bahasa Portugislah yang menjadi lingua franca antaretnis. Kala itu, bangsa Portugis pun kerap menyebarkan injil keagaaman untuk penduduk setempat. Kata serapan dari bahasa Portugis di antaranya bendera, celana, gardu, keju, dan mentega.

4. Bahasa Belanda

Ilustrasi bahasa Belanda | @marinacrds Unsplash

info gambar

Ilustrasi bahasa Belanda | @marinacrds Unsplash


Selama 350 tahun berada di Indonesia, mustahil Belanda tidak meninggalkan jejak. Selain sistem dalam beberapa bidang kehidupan, Belanda juga memberi warisan berupa kosakata serapan dalam bahasa Indonesia. Kosakata bahasa Belanda yang paling banyak diserap ialah berada pada ranah administrasi dan pemerintahan. Kata serapan dari bahasa Belanda di antaranya bendera, abonemen, akuntansi, dinas, dan kasir.

5. Bahasa Inggris

Ilustrasi bahasa Inggris | Joshua Hoehne Unsplash

info gambar

Ilustrasi bahasa Inggris | Joshua Hoehne Unsplash


Inggris pun pernah menduduki Indonesia meski tidak lama. Selama lima tahun sejak 1811, Rafles menginfasi Batavia. Ia pun pernah bertugas di Bengkulu pada 1818. Sebelumnya, pada 1696, Inggris mengirim utusan Ralph Orp ke Bengkulu dan membangun Benteng Fort Marlborough pada 1714 s.d. 1719. Hal-hal tersebut membuktinya adanya kontak antara bangsa Inggris dan penduduk lokasi pusat pemakaian bahasa Melayu.

Usai kemerdekaan Indonesia, kosakata serapan dari bahasa Inggris masuk melalui hubungan internasional. Kata serapan dari bahasa Inggris di antaranya figur, partisipasi, inovasi, kuis, dan proyek.

Itulah daftar bahasa asing yang menjadi bahasa sumber penyerapan kosakata bahasa Indonesia. Selain kelima bahasa di atas, bahasa apa lagi kalian tahu? Jawab di kolom komentar, ya.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Humaniora

Hiu dan Pari, Biota Laut Bernilai Penting Bagi Lingkungan Kini Terancam Punah

Hiu dan Pari, Biota Laut Bernilai Penting Bagi Lingkungan Kini Terancam Punah

[ad_1]

Ilustrasi hiu dan pari © Chan Min Chun/Shutterstock


Bagi Indonesia, laut tidak hanya dipandang sebagai perairan yang menyatukan gugusan pulau-pulau di Nusantara. Hamparan birunya sedari dulu juga sudah dikenal sebagai perairan yang menyimpan kekayaan beragam jenis ikan.

Melimpahnya jenis ikan di perairan Indonesia, tak khayal membuat negara ini pun disoroti banyak pihak. Salah satunya, terkait dengan perlindungan atas ancaman kepunahan ikan bertulang rawannya.

Sejak 2013, kelompok ikan bertulang rawan seperti hiu dan pari telah menjadi isu internasional, setelah masuknya beberapa spesies hiu dan pari manta dalam Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES).

CITES sebagai pengaturan pemanfaatan komoditas hiu dan pari secara internasional telah diratifikasi oleh Indonesia. Keikutsertaannya menjadi bagian dalam CITES tak dimungkiri karena Indonesia menjadi salah satu negara dengan penangkapan hiu dan pari dalam jumlah banyak, bahkan diasumsikan sebagai salah satu yang terbesar di dunia.

Padahal, banyak manfaat lain dari hiu dan pari selain dijadikan komoditi yang punya nilai jual. Hiu dan pari faktanya memiliki manfaat besar bagi kelangsungan ekosistem di perairan, bahkan eksistensinya di perairan dapat membantu meminimalisir perubahan iklim.

Berlibur Sambil Menyelamatkan Hiu

Bernilai penting bagi ekosistem perairan

Hampir seluruh bagian tubuh hiu dan pari menjadi target perburuan manusia karena nilai jualnya yang menjanjikan. Sehingga, penangkapannya pun tak dapat dihindari terjadi secara berlebihan (penangkapan ikan yang berlebihan). Tindakan yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya ikan, pada akhirnya memberikan dampak langsung kepada rantai makanan di perairan.

Hal ini karena hiu berperan sebagai predator puncak (pemangsa puncak) dari rantai makanan, sedangkan pari memiliki peran ekologis yang tidak kalah penting, terutama sebagai indikator dari keseimbangan ekosistem laut dengan berperan sebagai pemangsa organisme kecil yang ada di perairan (benthos predator).

Keberadaan hiu dan pari juga merupakan penyerap karbon alami, 10-15 persen jaringan tubuh hiu dan pari mengandung karbondioksida. Bila populasi hiu dan pari berenang bebas di lautan, ini artinya lebih banyak karbon yang diserap dan membantu meminimalisir perubahan iklim.

Selain berkontribusi menahan karbon, hiu dan pari juga berperan sebagai “pengaduk” laut alami yang dapat membawa nutrisi dari lapisan laut dalam ke permukaan dengan cara migrasi vertikal. Ketika di permukaan, hiu melepaskan nutrisi yang memastikan keberadaan fitoplankton di laut alga berukuran mikroskopik yang berperan penting dalam rantai makanan di laut, dan menghasilkan 50 persen oksigen di atmosfir. Ini artinya, hiu dan pari di lautan sana telah berperan dalam penyediaan sebagian oksigen yang kita hirup saat ini.

Sehingga, perlindungan populasi hiu dan pari menjadi suatu yang mendesak agar lebih banyak karbon yang diserap, kemudian juga berujung membantu meminimalisir perubahan iklim.

Overfisi ikan hiu-pari

info gambar

Data eksploitasi hiu-pari di Indonesia | GoodStats


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan populasi ikan hiu dan pari di seluruh dunia disebut turun drastis sebanyak 70 persen selama 50 tahun terakhir. Penangkapan ikan secara berlebih menjadi ancaman terbesar kepunahan ikan laut.

Indonesia dinilai menjadi negara dengan penangkapan hiu dan pari terbesar. Pada 1987 eksploitasi di wilayah perairan Indonesia tercatat sebesar 36.884 ton. Lalu mengalami peningkatan hampir dua kali lipat tahun 2000, dengan hasil tangkapannya sebesar 68.366 ton. Kemudian baru-baru ini tangkapannya kembali meningkat menjadi 88.790 ton per tahun atau mencapai porsi 12,31 persen secara global.

Menurut data KKP tahun 2016, Indonesia merupakan negara produsen hiu terbesar di dunia, dengan kontribusi sebesar 16,8 persen dari total tangkapan dunia. Tidak hanya ancaman tangkapan sampingan (satwa yang tertangkap secara tidak sengaja), penurunan populasi hiu juga terjadi akibat eksploitasi berlebihan yang didorong oleh tingginya permintaan akan produk-produk satwa tersebut.

Pemanfaatan dan eksploitasi hiu dan pari secara global sangat mengkhawatirkan. Tingginya jumlah permintaan sirip hiu dan insang pari manta di pasar internasional, mendorong tanda-tanda eksploitasi berlebih dengan adanya penangkapan hiu dan pari di banyak negara.

Shark Diving, Memadukan Pariwisata Selam dan Penelitian Hiu di Morotai 

Hiu-Pari diambang kepunahan

Hiu Pari di Indonesai | GoodStats

info gambar

Hiu Pari di Indonesai | GoodStats


Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP Prof Sjarief Widjaja mengatakan, jumlah biodiversity hiu dan pari di dunia berjumlah sekitar 531 jenis, di mana Indonesia memiliki kurang lebih 118 jenis, di mana seperempatnya diberi status Terancam Punah oleh IUCN.

Spesies hiu endemik khusus yang spesifik ada di Indonesia, salah satunya adalah Squalus hemipinnis, yang berada di wilayah selatan Bali, Lombok dan laut Jawa.

Di Selat Makassar, terdapat spesies hiu Apristurus sibogae. Selain itu terdapat spesies hiu endemik lainnya seperti Squatina legnota, Atelomvcterus baliensis, dan Mustelus widodoi, yang juga berada disekitar wilayah Laut Jawa, Bali dan Lombok atau di sekitaran Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 572.

Sayangnya Hiu dan pari di Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang kritis, baik spesies yang hidup daerah terumbu karang atau di wilayah samudera karena mengalami penurunan populasi yang signifikan. Spesies hiu, pari, dan chimera terancam punah karena penangkapan ikan yang berlebihan, baik dengan sengaja maupun tidak.

Pemanfaatan ikan hiu-pari

Sederet manfaat ikan hi-pari | GoodStats

info gambar

Sederet manfaat ikan hi-pari | GoodStats


Hiu-pari merupakan salah satu biota laut yang amat bernilai, dagingnya dapat dijadikan bahan pangan bergizi tinggi, siripnya untuk ekspor, dan kulitnya dapat diolah menjadi bahan industri kerajinan kulit berkualitas tinggi, serta minyak hiu sebagai bahan baku farmasi atau untuk ekspor.

Tanpa kecuali gigi, empedu, isi perut, tulang, insang dan lainnya masih dapat diolah untuk berbagai keperluan seperti bahan lem, ornamen, pakan ternak, bahan obat dan lain-lain.

WWF Indonesia melaporkan pada tahun 2014, konsumsi sirip hiu di Jakarta sendiri terhitung setidaknya 15.000 kg per tahun. Universitas Perikanan Jakarta juga menyebutkan bahwa hiu di perairan laut Indonesia adalah bisnis besar yang tersembunyi. Harga satu kilogram sirip hiu pada tahun 2007 saja mencapi 660 dolar AS di pasaran Asia, dengan nilai ekspor produk mencapai 13 juta dolar AS setiap tahun. Harga itulah yang menggiurkan nelayan Indonesia untuk memburu hiu dan menjualnya terutama ke Taiwan, Hongkong, dan China.

Tingginya permintaan terhadap ikan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia, pada akhirnya menuntut kebijakan pemanfaatan sumber daya ikan secara optimal dan berkelanjutan. Hal ini bermaksud untuk menjaga populasi ikan, khususnya spesies hiu dan pari agar tidak menuju ambang kepunahan.

Menjaga Populasi Hiu, Menjaga Masa Depan Indonesia

Regulasi konservasi hiu-pari di perairan Indonesia

Pengaturan tentang pemanfaatan hiu dan pari pertama kali diluncurkan pada 1999, melalui peraturan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dimana dalam peraturannya, ikan pari gergaji menjadi jenis yang dilindungi secara penuh, sedangkan jenis hiu dan pari lainnya masih dapat dimanfaatkan secara bebas.

Seiring berjalannya waktu, regulasi tentang penetapan perlindungan jenis hiu dan pari terus diperluas. Seperti halnya, pada 2013 disusul dengan status penetapan perlindungan ikan hiu paus dan pada 2014 terhadap hiu koboi dan hiu martil. Pada tahun 2014 juga, dikeluarkan Kepmen KP nomor 4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta.

Adapun tantangan terbesar dari penyusunan regulasi konservasi terkait hiu dan pari di Indonesia adalah pengumpulan informasi ilmiah mengenai sumber daya ikan tersebut. Menurut CEO Yayasan WWWF Indonesia, Dicky P. Simorangkir, basis kajian ilmiah terkait populasi dan perilaku spesies hiu dan pari harus dikumpulkan agar regulasi nantinya kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Lewat simposium hiu dan pari ini kami harap dapat mengumpulkan banyak informasi mengenai populasi dan perilaku spesies ini dari seluruh pelosok dunia. Laut kita sangat luas, kita perlu berkolaborasi dari semua pihak, mulai dari nelayan, petugas penyuluh perikanan, mahasiswa, sampai pengelola wisata bersama hiu,” ujarnya dikutip greeners.co (10/4/2021).

Peta persebaran enumerator hiu-pari di Indonesia

Enumerator hiu-pari di Indonesia periode 2014-21021 | GoodStats

info gambar

Enumerator hiu-pari di Indonesia periode 2014-21021 | GoodStats


Untuk menjaga habitat penting dan populasi hiu-pari di Indonesia, Yayasan WWF Indonesia melakukan upaya konservasi melalui beberpa strategi-strategi, salah satunya Pengumpulan Enumerasi atau Pendataan pendaratan hiu dan pari di beberapa lokasi di Indonesia

Enumerator menjadi bagian penting dari kegiatan perlindungan dan pemanfaatan hiu dan pari di perairan Indonesia. Dengan fungsinya, sebagai konsultan yang melakukan pengumpulan data hiu dan pari. Maka diharapkan hasil penelitian nantinya dapat meningkatkan keakurasian data informasi perikanan nasional dan regional.

Yayasan WWF Indonesia menjadi salah satu yang berkomitmen mendukung upaya penyediaan data mengenai hiu dan pari. Organisasi nirlaba tersebut telah melakukan program enumerasi di berbagai lokasi di Indonesia sejak tahun 2014.

Tercatat, lebih dari 50 enumerator dari 27 Universitas di Indonesia yang tersebar di 12 lokasi untuk melakukan penelitian.

Persebaran enumerator hiu-pari di Indonesia pun telah menghasilkan lebih dari 30 kajian ilmiah, baik dipublikasin berupa skripsi, thesis, prosiding, maupun jurnal.

Misteri Hiu Purbakala Megalodon di Pangandaran

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close