Connect with us

EROPA

Gereja Katolik Jerman Berkati Pernikahan Gay Meski Ada Larangan Vatikan

Gereja Katolik Jerman Berkati Pernikahan Gay Meski Ada Larangan Vatikan


Kaum Katolik progresif Jerman yang berpengaruh secara terbuka menentang pernyataan Takhta Suci Vatikan baru-baru ini bahwa para pastor tidak dapat memberkati pernikahan sesama jenis. Pekan ini, mereka menawarkan pemberkatan seperti itu dalam kebaktian di sekitar 100 gereja berbeda di berbagai penjuru negara itu.

Pemberkatan pernikahan sesama jenis pada kebaktian terbuka ini adalah penolakan terbaru kaum Katolik progresif Jerman terhadap dokumen yang dirilis Maret lalu oleh kantor ortodoksi Vatikan, Kongregasi untuk Doktrin Iman, yang mengatakan bahwa pastor tidak dapat memberkati pernikahan sesama jenis karena Tuhan tidak dapat memberkati dosa.

Dokumen tersebut menyenangkan kaum konservatif namun mengecewakan para aktivis pendukung LGBTQ Katolik di berbagai penjuru dunia. Respons terhadap dokumen itu sangat keras di Jerman, di mana gereja-gereja di sana berada di garis depan dalam membuka diskusi tentang isu-isu penting seperti ajaran gereja tentang homoseksualitas sebagai bagian dari proses formal debat dan reformasi.

Puluhan kebaktian gereja yang merayakan pemberkatan pernikahan gay adalah peningkatan terbaru dalam ketegangan antara kaum konservatif dan kaum progresif yang telah memicu kekhawatiran, terutama dari kelompok kanan, bahwa gereja Katolik Jerman mungkin sedang menuju perpecahan.

Jerman tidak asing dengan perpecahan dalam gereja. Lebih dari 500 tahun yang lalu, pendeta dan cendekiawan Martin Luther meluncurkan Reformasi Protestan di sana.

Pastor Jan Korditschke SJ, yang akan memimpin pemberkatan untuk pasangan sesama jenis di Berlin pada minggu mendatang, berpose untuk foto di Gereja Kanisius di Berlin, Jerman, Jumat, 7 Mei 2021. (AP/Michael Sohn)

Pastor Jan Korditschke SJ, yang akan memimpin pemberkatan untuk pasangan sesama jenis di Berlin pada minggu mendatang, berpose untuk foto di Gereja Kanisius di Berlin, Jerman, Jumat, 7 Mei 2021. (AP/Michael Sohn)

Paus Fransiskus, yang telah memperjuangkan struktur gereja yang lebih terdesentralisasi, telah mengingatkan agar hierarki Jerman tetap berada dalam persekutuan dengan Roma selama proses reformasinya, yang dikenal sebagai jalur sinode.

Di Berlin, Pastor Jan Korditschke, seorang Yesuit yang bekerja untuk keuskupan di St. Kanisius, akan memimpin pemberkatan pernikahan gay pada kebaktian 16 Mei 2021.

“Saya yakin bahwa orientasi homoseksual tidak buruk, cinta homoseksual juga bukan dosa,” kata Korditschke kepada Associated Press dalam sebuah wawancara Jumat. “Saya ingin merayakan cinta kaum homoseksual dengan pemberkatan ini karena cinta kaum homoseksual adalah sesuatu yang baik. ”

Pria berusia 44 tahun itu mengatakan penting bahwa kaum homoseksual dapat menunjukkan diri mereka di dalam Gereja Katolik dan mendapatkan perhatian. Ia mengatakan ia tidak takut mengenai kemungkinan dikenai tindakan oleh para pejabat tinggi gereja atau Vatikan

“Saya mendukung apa yang saya yakini sebagai kebenaran, meskipun menyakitkan karena tidak dapat melakukannya selaras dengan kepemimpinan gereja,” kata Korditschke. Ia juga mengatakan bahwa praktik homofobia di gerejanya membuatnya marah dan malu.

Ketua Konferensi Waligereja Jerman bulan lalu mengkritik inisiatif akar rumput untuk pemberkatan gay yang disebut “Liebe Gewinnt” atau “Love Wins” itu. Namun organisasi Katolik Jerman yang berpengaruh, Komite Sentral Katolik Jerman, yang telah mengadvokasi pemberkatan gay sejak 2015, memosisikan dirinya sekali lagi untuk mendukung kelompok LGBTQ. Mereka menyebut dokumen kontroversial dari Roma itu tidak membantu meredakan situasi dan secara eksplisit menyatakan dukungannya untuk ”Love Wins”. [ab/uh]

Advertisement
Click to comment

EROPA

Inggris Longgarkan Aturan Karantina untuk Perjalanan ke AS dan Uni Eropa

Inggris Longgarkan Aturan Karantina untuk Perjalanan ke AS dan Uni Eropa



Inggris, Kamis (24/6), mengumumkan rencana untuk melonggarkan beberapa pembatasan perjalanan terkait pandemi dengan mengizinkan mereka yang sepenuhnya divaksinasi dapat mengunjungi berbagai negara tanpa harus menjalani isolasi diri ketika kembali.

Departemen Transportasi berharap dapat menerapkan kebijakan baru secara bertahap pada akhir musim panas ini.

Perubahan itu akan berlaku bagi warga yang divaksinasi sepenuhnya dan bepergian ke daerah tujuan dalam daftar “kuning” pemerintah, yang mencakup sebagian besar dunia, termasuk Amerika Serikat (AS) dan sebagian besar Uni Eropa.

Rencana tersebut diumumkan setelah perusahaan maskapai penerbangan dan perusahaan penyedia jasa liburan minta agar pemerintah Inggris melonggarkan pembatasan perjalanan internasional yang telah melumpuhkan industri itu. Sejumlah protes terjadi di seluruh negeri pada Rabu (23/6) di mana beberapa pilot, pelaku bisnis perhotelan dan agen perjalanan menuntut bantuan pencabutan pembatasan.

“Kami bergerak maju agar upaya perjalanan internasional dibuka kembali dengan aman pada musim panas ini. Berkat keberhasilan program vaksinasi, kami sekarang mempertimbangkan penghapusan periode karantina untuk kedatangan di Inggris bagi mereka yang telah divaksinasi penuh dari negara-negara zona kuning. Ini pertanda suatu kemajuan yang nyata,” kata Menteri Transportasi Grant Shapps dalam sebuah pernyataan.

Hampir 61 persen orang dewasa Inggris telah divaksinasi sepenuhnya, sementara 83 persen telah menerima satu dosis vaksin.

Pemerintah Inggris juga menambahkan 17 negara dan wilayah, termasuk Malta, Kepulauan Balearic, dan Madeira, ke dalam daftar “hijau” untuk tujuan perjalanan yang aman. Warga yang bepergian ke daerah tujuan tersebut tidak lagi harus menjalani karantina selama sepuluh hari ketika kembali ke Inggris.

Daerah tujuan yang ditambahkan ke dalam daftar hijau mencakup Malta, Madeira, Kepulauan Balearic, Anguilla, Bermuda, wilayah Antartika Inggris, berbagai pulau di wilayah Samudra yang dikuasai Inggris, Kepulauan Virgin Inggris, Kepulauan Cayman, Montserrat, Kepulauan Pitcairn, Kepulauan Turks dan Caicos, Antigua, Barbuda, Dominika, Barbados dan Grenada. Perubahan itu mulai berlaku pada 30 Juni, pukul 04.00 waktu setempat. [mg/lt]

Continue Reading

EROPA

Senar Khusus Mungkinkan Penyandang Disabilitas Bermain Gitar

Senar Khusus Mungkinkan Penyandang Disabilitas Bermain Gitar


Sang gitaris mungkin agak mirip salah seorang anggota kelompok “The Beatles” ketika sedang memainkan gitarnya. Namun gitar tersebut berbeda sama sekali dengan instrumen musik yang pernah dimainkan John Lennon.

Gitar itu berbeda karena diciptakan khusus bagi penyandang disabilitas yang mengalami kesulitan untuk memainkan gitar biasa. Keajaibannya terletak di dalam gitar itu.

Salah satu bagian dari gitar ciptaan Denis Goncharov, pendiri Noli Music. (Foto: Facebook/@Noliforall)

Salah satu bagian dari gitar ciptaan Denis Goncharov, pendiri Noli Music. (Foto: Facebook/@Noliforall)

Maxim Matveitsov, direktur teknis Noli Music yang membuat prototipe gitar tersebut, memperlihatkan keajaiban itu berupa perangkat listrik yang tersembunyi di dalamnya.

Versi terdahulu gitar khusus diperlengkapi dengan tombol-tombol. Namun untuk model yang baru ini, gagasannya adalah membuat musisi pemula dapat memiliki pengalaman bermain gitar yang otentik, yakni gitar dengan senar.

Matveitsov mengatakan, “Inovasi utamanya adalah kami mengganti tombol-tombol menjadi senar. Namun senar-senar ini tidak seperti senar gitar pada umumnya. Senar itu tidak mengeluarkan suara karena fluktuasi dan oleh karena itu, senar tersebut tidak perlu ditarik dengan kencang.”

Pemain gitar khusus itu cukup sedikit menyentuh senar dan sebuah nada atau akord akan muncul.

Matveisov menambahkan, “Perbedaan besar lainnya adalah kami menempatkan perangkat elektronik dan layar sensor, yang nantinya mungkin terhubung ke aplikasi ponsel.”

Noli Music telah mempresentasikan dua model alat musik tersebut kepada calon investor dalam “Peringatan 10 tahun Kongres Ilmuwan Muda dalam kategori teknologi inklusif.” Noli Music mengatakan mereka telah mendapat tawaran dari India dan Amerika. Namun mereka ingin menjajaki pasar Rusia juga.

Denis Goncharov, pencipta gitar untuk penyandang disabilitas, pendiri Noli Music. (Foto: Facebook/@Noliforall)

Denis Goncharov, pencipta gitar untuk penyandang disabilitas, pendiri Noli Music. (Foto: Facebook/@Noliforall)

Denis Goncharov, pencipta gitar sekaligus pendiri Noli Music mengatakan, bermain gitar seperti seorang bintang rock merupakan impiannya. Namun ia mengidap penyakit distrofi otot, jadi impiannya itu seperti mustahil hingga seorang mahasiswa pascasarjana dari Lembaga Penelitian St. Petersburg mengumpulkan sekelompok penggemar musik untuk membuat gitar listrik modular generasi baru.

Denis mengatakan, “Saya sangat menyukai alat musik, terutama alat musik petik. Namun karena penyakit saya dan tangan yang lemah, saya tidak dapat bermain gitar. Saya mencoba beberapa skenario, dengan menggunakan senar yang lembut, namun saya hanya kuat memainkan beberapa akord. Kita tidak bisa bermain gitar seperti itu.”

Ia menambahkan, di dunia terdapat ribuan, jutaan orang yang memiliki hambatan seperti dirinya. Orang-orang ini ingin dapat merasa seperti bintang rock namun tidak dapat melakukannya, dan itu harus berubah, katanya.

Pembuatan alat musik semacam itu bukan merupakan proses yang mudah. Tim itu membuat beberapa prototipe hingga mereka memproduksi sebuah gitar dengan banyak tombol yang dilekatkan pada leher gitar. Tombol-tombol itu mencerminkan berbagai kemungkinan posisi senar dan memungkinkan gitaris dapat memainkannya.

Dua prototipe gitar untuk penyandang disabilitas ciptaan Denis Goncharov, pendiri Noli Music. (Foto: Facebook/@Noliforall)

Dua prototipe gitar untuk penyandang disabilitas ciptaan Denis Goncharov, pendiri Noli Music. (Foto: Facebook/@Noliforall)

Sebagai direktur teknis Noli Musik, Maxim Matveitsov mengatakan, tombol-tombol itu tidak dapat meniru semua yang dapat dilakukan pada gitar biasa, dan tidak dapat menggantikan perasaan menyentuh senar-senar tersebut.

“Setelah berbicara dengan orang-orang yang mencoba memainkan gitar ini, pemain gitar biasa dan orang-orang yang memiliki masalah dengan kemampuan motorik dan tangan, mereka menyatakan ingin bermain gitar namun tombol-tombol itu tidak memberikan pengalaman yang sama,” jelasnya. [lj/uh]

Continue Reading

EROPA

Eropa ‘Bergerak Hati-Hati’ Hadapi Lonjakan Virus Delta

Eropa ‘Bergerak Hati-Hati’ Hadapi Lonjakan Virus Delta



Kanselir Jerman Angela Merkel, Kamis (24/6) mengatakan bahwa Eropa “bergerak dengan sangat hati-hati” dalam pergulatan melawan virus corona, sementara varian Delta yang sangat menular mengancam akan menghambat kemajuan yang dicapai dalam mengurangi penularan.

Dalam apa yang mungkin merupakan pidato terakhirnya di Parlemen Jerman, Merkel mengatakan respons lebih lanjut terhadap pandemi akan menjadi topik utama diskusi para pemimpin Uni Eropa pada pertemuan di Brussels hari ini. Ia mencatat bahwa jumlah kasus COVID-19 dalam blok 27 negara itu terus menurun, sementara tingkat vaksinasi menanjak.

Menurut Merkel, “Meskipun ada alasan untuk berharap, pandemi belum berakhir, khususnya di negara-negara miskin di dunia. Di Jerman dan Eropa kita juga masih bergerak dengan hati-hati.”

Pejabat Kesehatan Uni Eropa, Rabu (23/6) meramalkan bahwa pada akhir Agustus, 90 persen kasus di blok itu adalah varian Delta sehingga perlu sebanyak mungkin orang untuk sepenuhnya divaksinasi.

Badan Pengendalian Penyakit Jerman mengatakan sekitar 15 persen kasus baru adalah varian Delta. Jerman mendesak negara-negara Uni Eropa agar menyetujui kebijakan umum karantina bagi turis dari daerah-daerah di mana varian yang mencemaskan itu sangat lazim. Ini termasuk Inggris di mana mayoritas kasus di sana adalah varian Delta, yang pertama kali terdeteksi di India. [ka/uh]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close