Business is booming.

Ekonomi, Pasar Saham AS Diproyeksikan Pulih di Bawah Duet Biden-Harris


Pasar saham Amerika menguat setelah calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden diproyeksikan menang dalam pemilihan presiden tahun 2020. Dan Geltrude, analis keuangan pada Montclair State University mengatakan investor akan diyakinkan jika Partai Republik memperoleh mayoritas di Senat.

“Pasar saham senang kalau pemerintahan terpecah. Mengapa? Karena semua bisa diprediksi. Mengapa? Karena tidak banyak terjadi perubahan kalau pemerintahan terpecah,” tutur Dan Geltrude.

Presiden terpilih AS Joe Biden dan Wakil Presiden terpilih Kamala Harris menghadapi wartawan untuk berbicara tentang perawatan kesehatan dan Undang-Undang Perawatan Terjangkau (Obamacare) selama konferensi pers singkat di Wilmington, Delaware. (Foto: Reuters)

Presiden terpilih AS Joe Biden dan Wakil Presiden terpilih Kamala Harris menghadapi wartawan untuk berbicara tentang perawatan kesehatan dan Undang-Undang Perawatan Terjangkau (Obamacare) selama konferensi pers singkat di Wilmington, Delaware. (Foto: Reuters)

Pemulihan ekonomi Amerika yang berkelanjutan terkait erat dengan kemajuan dalam perang melawan pandemi. Sementara ada laporan mengenai kasus Covid-19 yang meningkat, ada pula laporan mengenai hasil uji coba vaksin yang menjanjikan. Kalangan ekonom berpendapat memulihkan ekonomi ke kondisi sebelum pandemi akan menjadi tantangan bagi pemerintahan Biden.

“Kita masih berada dalam kondisi ekonomi yang parah. Kita harus memulihkan sekitar 10 juta pekerjaan untuk kembali pada posisi Februari lalu dan menurut saya, sebagian besar ekspektasi tidak akan terwujud sampai tahun 2022,” ujar dosen ekonomi Rutgers University, James W. Hughes.

Selama kampanye, Biden mengusulkan kenaikan pajak pada perusahaan dan orang-orang kaya untuk mendanai prakarsa layanan kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan infrastruktur. Partai Republik yang beroposisi sudah tentu akan menentang semua itu, kecuali kenaikan pajak.

Di bawah kepemimpinan Biden, Amerika diperkirakan akan kembali bergabung dengan Perjanjian Iklim Paris. Biden menjanjikan “revolusi energi bersih” yang mengarahkan Amerika ke emisi karbon nol pada tahun 2050.

“Kalau ini segera dilakukan, menurut saya akan timbul beberapa masalah spesifik dalam ekonomi karena industri minyak mempengaruhi segalanya,” kata Dan Geltrude.

Di tengah kesuraman pandemi, sebagian orang tetap optimistis pada masa depan ekonomi.

“Era penemuan belum berakhir. Seiring berlanjutnya kemajuan teknologi, kita akan melihat bagian-bagian ekonomi tumbuh luar biasa pesat, yang tidak bisa kita antisipasi sekarang ini,” ujar James Hughes.

Biden kemungkinan akan berfokus pada stimulus ekonomi dan langkah-langkah pemulihan. Sebelum pandemi, selama 10 tahun Amerika menikmati pertumbuhan ekonomi yang membuat upah naik dan angka pengangguran turun ke posisi terendah dalam sejarah. [ka/lt]



Source link