Connect with us

Budaya

Duo Penyanyi Ini Sudah Layak Disebut Bintang K-Pop, Ternyata Mereka Fiktif Belaka

Duo Penyanyi Ini Sudah Layak Disebut Bintang K-Pop, Ternyata Mereka Fiktif Belaka

[ad_1]

kisah Personel duo k-pop fiktif Mad Monster proyek parodi pelawak Korea Selatan

Kolase: VICE / Foto: Mad Entertainment

Dua pemuda ini berpenampilan bak bintang K Pop. Mata mereka besar, kulit semulus porselen dan badan seperti model. Saat pertama kali melihat, siapa pun pasti akan mengira mereka benar-benar penyanyi Korea. Tapi sebenarnya tidak.

Industri K-pop memiliki standar kecantikan yang tinggi dan penggemar berdedikasi. Persaingan menjadi idola semakin sengit, tapi Mad Monster berhasil melalui semuanya. Kedua personel, Tan dan J-Ho, menganggap diri mereka “monster” yang tergila-gila musik. Dengan mudahnya mereka menumbangkan ekspektasi perfeksionis K-pop… pakai aplikasi filter wajah dan autotune. Wajah tirus dan bola mata besar mereka sebenarnya palsu. Suara mereka juga penuh autotune.

Sebelum kalian menghujat mereka, patut diketahui kalau mereka sengaja melakukan itu semua. Karena kesempurnaan digital itulah bagian dari lelucon mereka.

Mad Monster dibentuk oleh dua komedian Kwak Beom (Tan) dan Lee Chang-ho (J-Ho) yang sering membuat konten lucu-lucuan di kanal YouTube Bbang Song Guk. Mereka selalu berakting ketika sedang diwawancara, buat cerita palsu tentang kesuksesannya.

J-Ho, 21 tahun, berbakat dalam bidang akademis sejak masih kecil. Skor IQ-nya mencapai 185. Dia sebenarnya lolos masuk Massachusetts Institute of Technology dan Harvard University, tapi lebih memilih jadi idola K-pop. Teman sebayanya, Tan, berhenti sekolah untuk mengejar cita-cita jadi musisi. Dia menggunakan nama Tan (terbakar) karena sepatunya pernah terbakar setelah menari 12 jam penuh dalam audisi.

Sayangnya, cerita itu hanya dibuat-buat.

Usia Kwak dan Lee sudah pertengahan 30-an. Kedua lelaki ini rutin tampil di acara komedi sketsa Konser Gag hingga Mei 2020, ketika tim produksi mengumumkan akan hiatus.

Sejak itu, mereka berkolaborasi dengan Y. Joon Chung, pemimpin hiburan dari perusahaan media Sandbox Network, untuk menciptakan konten komedi. Dari situlah Mad Monster lahir. Di dunia imajinasi mereka, Chung adalah sosok Daddy yang melatih Tan dan J-Ho untuk menjadi artis pada label fiktifnya, Mad Entertainment.

Mereka menyulap penampilan mirip bintang K-Pop tampan dengan aplikasi Snow, dan mengubah suara pakai program autotune.

“Kami menggunakan filter dan auto-tune secara berlebihan untuk menghibur penonton,” ujar Chung, menambahkan bahwa filter yang berlebihan sengaja diganggu supaya penonton menyadari saat terjadi eror. Video Mad Monster terkadang dibuat nge-glitch untuk mengubah bentuk wajah dan tubuh mereka.

Layaknya idola K-pop beneran, karakter Tan dan J-Ho selalu membagikan vlog keseharian mereka di balik layar ke kanal YouTube. Filter terus menghiasi wajah mereka bahkan dalam video sehari-hari dan latihan menari.

“Kami tidak ingin menjadi nomor satu. Kami ingin menjadi satu-satunya,” kata J-Ho saat diwawancarai VICE, sembari tetap setia dengan aktingnya. Tan lalu menimpali, “Kami ingin menjadi grup yang dicintai 7,8 miliar orang di seluruh dunia.”

Satu-satunya yang asli dari Mad Monster adalah popularitas mereka.

Akun Instagram resmi Mad Monster diikuti lebih dari 26.000 orang. Banyak dari pengikut menyukai penampilan fisik palsu mereka. Video klip berjudul “Tambang Rudolph” telah ditonton 5,8 juta kali sejak dirilis di YouTube pada April lalu.

Mereka bahkan berhasil merebut perhatian bintang K-pop sungguhan.

“Lagunya kok bagus ya… Ngeselin haha,” rapper Taman Jay berkomentar.

Menariknya lagi, Tan dan J-Ho baru-baru ini berbagi layar dengan Jay Park dan rapper Korea lain seperti Loco, Nucksal dan Don Mills. Dalam video YouTube yang diunggah pada 26 Mei, Mad Monster ngobrol bareng mereka dan memamerkan kemampuan menarinya dalam sebuah segmen ala acara varietas.

“Mine Rudolph” adalah single pertama mereka, tapi Mad Monster mengaku ini single keempatnya.

Menurut kisah fiktif Tan dan J-Ho, Mad Monster pertama kali mengguncang dunia pada 2017 melalui single pertamanya bertajuk “Adult”. Mereka menjadi duo fenomenal sejak itu. Mereka merilis single “just in” setahun kemudian. Lagu ini hasil kolaborasi bersama Justin Timberlake, Justin Bieber dan Justin Trudeau. (Paham maksudnya?)

Di sela-sela kesibukan mereka, Tan dan J-Ho menjalani hidup seperti kebanyakan orang.

“Saya suka minum segelas wiski sambil makan jokbal pedas (kaki babi),” tutur Tan. Sementara itu, J-Ho menghabiskan hari libur rebahan di kasur.

Parodi mereka terbukti menghibur. Jika idola K-pop bisa bereksperimen dengan manusia maya, itu berarti masih ada kesempatan bagi Mad Monster untuk menjadi duo fiktif yang sensasional.

Ikuti Koh Ewe di Instagram.



[ad_2]

Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Budaya

Wahai Pecinta Kucing, Ini Sekian Alasan Kalian Perlu Mensterilkan Hewan Imut Itu

Wahai Pecinta Kucing, Ini Sekian Alasan Kalian Perlu Mensterilkan Hewan Imut Itu

[ad_1]

Alasan ilmiah pentingnya steril kucing peliharaan bagi manusia dan lingkungan

Ilustrasi proses sterilisasi kucing yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Foto oleh MENAHEM KAHANA/AFP via Getty Images

Banyak tetangga saya memelihara kucing, dan mereka membiarkannya berkeliaran di jalanan. Awalnya tidak ada masalah. Saya suka mengajak kucing-kucing mereka masuk rumah untuk bermain dengan kucing peliharaan keluarga kami. Saya pun sering memberi makan ketika mereka nongkrong di depan rumah.

Lambat laun, saya mulai memperhatikan jumlah kucing di sekitar gang makin lama makin banyak. Tingkah kucing-kucing ini pun jadi bandel. Ada kucing tabby jantan yang sering masuk rumah sembarangan, menghabiskan makanan jatah kucing keluarga kami.

Keluarga saya mulai amat terganggu dengan kucing tetangga, ketika salah satunya rutin pup di pot tanaman. Ibu saya awalnya masih memaklumi, dan membuang kotorannya. Ibu mencoba mengakalinya dengan menutup pot pakai papan triplek tipis. Rupanya tidak mempan. Selalu saja ada kucing entah dari mana yang berak depan rumah. Selanjutnya burung peliharaan tetangga—yang sebenarnya suka memberi makan saat ada kucing masuk rumah—mati karena diserang kucing tanpa asal-usul jelas.

Lama-lama di lingkungan rumah kami banyak yang jengkel melihat sebagian tetangga masa bodoh dengan perilaku kucing-kucing mereka. Tetangga saya ada yang gemar mengawinkan kucing, tapi tidak pernah mau mengurus anak-anaknya yang baru lahir. Mereka melepaskan semua kucingnya ke luar rumah tanpa pengawasan sedikit pun.

Saya akhirnya meminta ibu memberi tahu tetangga agar mensteril kucing yang sudah dewasa. Sayangnya saran ibu tidak pernah digubris. Bahkan ada tetangga yang menyindir, saat tahu kucing saya sudah disteril. Mereka bilang sterilisasi melanggar kodrat, menyiksa dan segala macamnya.

Berbagai masalah di atas: kucing antah berantah merusak tanaman, mematikan binatang lain, menjebol atap rumah, hingga pup sembarangan, dalam satu dua kali insiden memang perkara sepele. Tapi ketika makin sering terjadi, sebetulnya itu menandakan adanya situasi ekosistem yang tidak ideal.

Di titik ini, sterilisasi sebetulnya pilihan terbaik menghentikan berbagai problem yang lazim terjadi ketika populasi kucing melonjak berlebihan di suatu wilayah. Setidaknya itu yang diyakini oleh pakar kesehatan hewan.

Muhamad Jami Ramadhan, dokter hewan untuk klinik Dr. Jami’s Pet Care di Kota Bandung, menjelaskan overpopulasi kucing dapat mengganggu keseimbangan ekosistem lingkungan dan mengancam keanekaragaman hayati di suatu wilayah. “Kucing pada dasarnya karnivora dan pemangsa, bisa mengusik kehidupan hewan liar lain seperti burung dan serangga,” kata Jami kepada VICE. “Fungsi burung dan serangga yang umumnya sebagai pembantu penyerbukan pada tanaman bisa berkurang bila populasinya terusik.”

Pendapat serupa diajukan Muhammad Reza Ramadhani, dokter hewan dari Enzo Petshop and Clinic di Kota Depok. Reza, yang kliniknya berlokasi di daerah Kelapa Dua, menyatakan kucing bisa menjadi hama bagi manusia apabila pertambahan jumlahnya “tidak diimbangi dengan wilayah, keadaan tempat dan asupan makanan yang sesuai,” ujarnya pada VICE.

Sterilisasi sendiri merupakan proses pengangkatan sebagian organ reproduksi hewan. Setelah dikebiri atau dimandulkan, hewan takkan lagi mengalami siklus birahi karena hasrat kawin sudah hilang. Berhubung sudah tidak ada keinginan mencari pasangan, kucing cenderung lebih sering bermain dan tidur.

Tindakan operasinya tergantung pada jenis kelamin. Jami, yang lebih dikenal @djamtjoek di Twitter, menerangkan, kebiri pada kucing jantan (netral) terjadi di luar yakni membuang organ testikelnya. Dia menegaskan organ yang diambil hanyalah buah zakar atau biji kemaluannya, sehingga kastrasi tidak akan menghambat kucing jantan pipis sama sekali. Sementara itu, sterilisasi pada kucing betina (memandulkan) melibatkan pengangkatan sebagian besar organ rahim dan kantung sel-sel telur. Ketika kucing jantan bisa pulih dalam beberapa hari, kucing betina membutuhkan setidaknya dua minggu hingga bekas operasi pada bagian perut benar-benar sembuh.

“Pengangkatan rahim kucing betina memerlukan waktu yang tidak sebentar karena prosesnya tidak semudah kucing jantan,” ujarnya.

Tangkapan Layar 2021-07-16 pada 17.19.31.png

Pemilik tidak bisa asal mensterilisasi hewan peliharaannya. Untuk menghindari komplikasi, sterilisasi harus dilakukan saat anabul dalam kondisi sehat. Pemilik perlu berkonsultasi terlebih dulu ke dokter hewan untuk menentukan waktu dan prosedur terbaik. Dokter juga wajib memastikan hewan yang akan disteril sedang tidak bunting atau birahi agar operasinya tidak semakin rumit dan memakan waktu lebih lama. Menjelang hari operasi, ada baiknya pemilik memberi tahu anak kaki empat bahwa mereka akan disteril supaya tidak stres saat dan setelah menjalaninya.

Pada dasarnya, pengebirian dilakukan demi kesejahteraan hewan dan juga pemilik. Namun, masih banyak orang memelihara kucing sebatas karena lucu. Mereka kerap tidak memikirkan akan seperti apa ke depannya, dan tidak mempertimbangkan apakah sanggup merawat banyak hewan untuk jangka panjang.

refhad-1JZBQVbWSm8-unsplash (1) .jpg

kucing liar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta. Foto oleh refhad via Unsplash

Dalam banyak kasus, ketika pemilik tidak siap memelihara banyak kucing akibat kehamilan yang tidak diinginkan, mereka sangat mungkin membuang hewan peliharaannya. Kucing yang lapar diam-diam memasuki rumah orang dan mencuri makanan di dapur. Bahkan ada juga yang menyerang hewan piaraan seperti ayam atau burung, menurut Reza.

Keputusan mensterilisasi kucing akan selalu kembali lagi pada pemilik. Sebenarnya tidak masalah kalau pemilik tidak mau mensteril kucingnya. Yang terpenting, menurut Reza, “mampu merawat, memberi makan, dan meluangkan waktu untuk sebanyak anak dan anak dari anak-anaknya [kucing mereka],” tandasnya.

Dengan kata lain, jangan sampai kucing peliharaan menjadi telantar dan tidak terawat begitu pengeluaran membludak.

Biaya yang mahal menjadi alasan sejumlah orang ogah mensteril kucing. Ini argumen yang problematis, mengingat perawatan peliharaan justru menjadi jauh lebih mahal apabila hewan kesayangan sampai beranak. Ditambah lagi, kucing berpotensi terkena penyakit jika birahi tapi tidak segera dikawinkan.

Mengacu pada beberapa penelitian, kucing betina umumnya mulai mengalami birahi pada usia enam bulan, tapi terkadang bisa hamil sejak usia 4-5 bulan. Permasalahannya adalah banyak risiko mengintai kucing yang bunting sebelum memasuki usia dewasa satu tahun. Jami mengungkapkan, kucing yang bunting saat masih anak kucing punya risiko keguguran, susah lahiran dan anak terlahir cacat. Tambah berabe jika anaknya lahir normal, tapi induk belum siap menjadi ibu. Induk akan meninggalkan atau tidak mau mengakui anaknya, sehingga pemilik sendirilah yang harus memberi asupan susu agar anak kucing tidak mati.

Membiarkan kucing betina terlalu lama dalam keadaan birahi dapat memicu infeksi rahim yang disebabkan oleh penumpukan nanah (pyometra). “[Ada risiko muncul] tumor kelenjar susu karena pengaruh hormonalnya”, ujar Jami kepada VICE.

Sementara itu, pada kucing jantan, Jami menyebut ada peluang terjadinya pembesaran prostat. “Pengaruh hormonal akan mempersempit saluran pipis, sehingga bisa menjadi salah satu penyebab sakit pipis,” terangnya. Selain berisiko terkena tumor testis dan prostat, kucing jantan akan lebih rentan mengalami penyakit kulit, seperti infeksi bakteri atau jamur, karena produksi kelenjar minyak pada kulit meningkat—khususnya di bagian ekor. Walaupun penyakitnya belum tentu muncul dalam waktu dekat, kita tetap tidak bisa mengesampingkan fakta ini.

Kucing yang telah disterilisasi juga jauh lebih tenang. Berkurangnya sifat agresif mengecilkan kemungkinan kucing terluka akibat berkelahi untuk memperebutkan wilayah kekuasaan dan pasangan.

Yang paling mengkhawatirkan dari keengganan mensterilisasi anabul adalah jumlah populasi kucing menjadi tidak terkendali. Satu induk kucing bisa melahirkan 4-6 ekor anak dalam satu persalinan, dan bisa bunting lagi tak lama setelah lahiran. Kehamilan kucing berlangsung selama dua bulan, sehingga dalam setahun hewan itu bisa tiga kali hamil dengan masa birahi setiap dua atau tiga minggu sekali. Dengan demikian, kucing betina berpeluang memiliki 12-18 ekor anak dalam satu tahun saja. Kalian bisa membayangkan sendiri berapa ratus ribu kucing yang berkeliaran dalam empat tahun.

Data yang dirilis oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (DKPKP) pada 2018, dikutip Kumparan, memperkirakan ada 29.504 ekor kucing liar dan peliharaan di Jakarta sepanjang tahun itu. Perkiraan di atas belum tentu akurat karena mendata kucing tidak gampang.

GettyImages-1210874524.jpg

Kucing liar yang makin banyak berkeliaran merupakan ciri awal overpopulasi. Foto oleh ARUN SANKAR/AFP via Getty Images

Meledaknya populasi kucing liar di ibu kota sempat mendorong terjadinya razia kucing pada Januari 2019. Pemprov DKI Jakarta sebenarnya memiliki maksud yang bagus, yaitu menuntaskan penularan rabies dan menjaga populasi. Namun, upaya pemerintah menyulut emosi penyayang binatang karena penangkapannya hanya menggunakan jaring.

Organisasi penyelamat hewan, seperti Let’s Adopt Indonesia (LAI), telah menggalakkan program TNR (perangkapnetralkembali) atau steril massal pada kucing liar di wilayah Jabodetabek sejak Agustus 2019. Berdasarkan data yang diperoleh VICE, totalnya ada 605 ekor kucing yang disteril tim LAI hingga April 2021. Pada Februari tahun lalu, program mereka menjangkau Kota Malang dengan 109 ekor. Mereka akan merawat kucing-kucing itu hingga pulih sebelum dilepasliarkan. LAI rutin mengadakan TNR guna mencegah populasi yang berlebihan dan mewujudkan lingkungan yang lebih sehat.

Reza lebih lanjut mengutarakan, hewan telantar dapat menularkan penyakit ke manusia, seperti penyakit kulit scabiosis atau scabies, jamur kurap dan leptospirosis—penyakit yang menyebar melalui air yang terkontaminasi urine hewan yang terinfeksi. Begitu juga dengan rabies. Penyakit ini tak hanya menyebar dari gigitan anjing saja, melainkan juga dari kucing sakit yang tidak pernah divaksin. “Dengan tidak adanya ‘kontrol populasi’, maka kontrol penyakit menular tersebut juga akan sulit,” kata Reza.

Reza berulang kali menekankan sterilisasi menguntungkan kedua belah pihak. Di satu sisi, kucing lebih sehat. Di sisi lain, hidup manusia lebih nyaman. Lingkungan pun menjadi damai karena tak ada lagi kucing jantan yang bertengkar mempertahankan teritori, atau kucing betina yang mengeong butuh kawin.

“Sterilisasi ini juga akhirnya akan erat hubungannya dengan kesejahteraan hewan dan juga, sebagai prinsip dokter hewan di Indonesia: menyejahterakan manusia melalui kesehatan hewan,” tuturnya. “Dengan hewan yang sehat terjamin di sekitar manusia, diharapkan manusia pun kesehatannya terjamin.”



[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading

Asia

Hak Pembantu Sering Diabaikan Saat Pandemi

Hak Pembantu Sering Diabaikan Saat Pandemi

[ad_1]

Hak kesehatan Pekerja rumah tangga di Indonesia terabaikan selama pandemi Covid-19

Asisten rumah tangga membersihkan jendela apartemen di Jakarta pada 22 Januari 2012. Foto: Romeo Gacad/AFP via Getty Images

Mama mengabariku kalau nenek sedang sakit, gejalanya sekilas lebih mirip pneumonia, tapi tak ada jaminan itu bukan Covid-19. “Nenek batuk darah,” kata ibu dari kampung halamannya di Kota Medan. Orang tuaku pindah ke Ibu Kota Sumatra Utara itu setelah pensiun.

Kesehatan ‘ah ma’, panggilan keluargaku buat nenek, semakin memburuk setahun terakhir. Terutama setelah beliau didiagnosis mengidap demensia. Pertama, nenek kehilangan fungsi motorik dan limbiknya. Lalu setelah itu, nenek mulai hilang ingatan dan mudah tersesat. Nenek sering jatuh dan membenturkan kepala ke tembok hingga berdarah. Rambutnya kian hari kian menipis. Nenek tidak mau makan dan tidak kuat menahan masalah pencernaan dan sakit fisik yang dideritanya.

“Kena Covid kali?” jawabku yang bimbang harus bagaimana. Aku merasa bersalah tidak bisa banyak membantu, tapi juga berharap ah ma bisa segera terbebas dari kabar buruk ini.

Keluargaku bingung nenek positif Covid-19 atau tidak. Rumah sakit di seluruh Kota Medan sedang tidak bisa menerima nenek, karena kapasitas penuh. Mama bilang paman dan bibi yang tinggal bersama ah ma sudah keluar dari rumah untuk jaga-jaga. Akan tetapi pembantu keluarga, Atun, harus tetap menemani nenek. Atun, yang namanya kuubah untuk menjaga privasi, merantau dari Kabupaten Malang, 2.000 kilometer jauhnya dari rumah nenek. Dia dua tahun terakhir bekerja untuk keluargaku, kelas menengah dari latar etnis Tionghoa.

Aku langsung membatin: Bibi dan anak-anaknya harus melindungi kesehatan mereka sendiri karena risiko pandemi, tapi kenapa Atun tidak dapat kesempatan yang sama? Aku syok mendengarnya, tapi tidak terlalu kaget juga. Sama seperti kebanyakan orang Asia dari generasi lebih tua, mama masih memegang bias terhadap ras dan kelas sosial tertentu. Dan layaknya anak muda Asia lainnya, aku tahu cara keluarga mamaku memperlakukan Atun salah, tapi tidak cukup berani menyanggahnya.

Mamaku sedang tidak baik-baik saja dan keluarga besar kami diliputi kesedihan yang teramat dalam akibat kondisi ah ma. Semuanya memang serba sulit. Kondisi keuangan keluarga sedang suram, semua rumah sakit penuh, dan pandemi tak kunjung berakhir. Mendengar ucapan mama soal nasib pembantu kami sebetulnya menguji batas kesabaranku, tapi aku tak yakin ada jawaban yang tepat.

Aku akhirnya tetap menyuarakan pikiranku, meski rasanya seperti anak yang tidak berbakti.

“Atun memang cuma pembantu, tapi dia juga manusia,” kataku, tidak bisa menyembunyikan amarah.

Aku meminta mama agar Atun setidaknya divaksin lengkap dan diberi APD. Dia juga berhak memilih mau tinggal bersama ah ma atau tidak. Atun harus mendapat upah lebih tinggi kalau setuju merawat nenek, dan jangan dipecat kalau menolak.

Ibu langsung mencak-mencak.

Anak macam apa kamu ini? Memangnya sudah bisa kasih apa ke orang tua yang telah membesarkanmu, kok berani mengkritik seperti itu? Memangnya kamu tahu apa sampai bisa menggurui keluarga? Untuk apa kamu peduli sama pembantu? Memangnya kamu pernah diminta atau ikut mengurus nenek?

Aku dianggap mama cuma peduli sama diri sendiri, dan pikiranku terlalu kebarat-baratan karena kuliah di luar negeri. Aku dianggap anak durhaka yang pantas masuk neraka.

Mendadak jadi aku yang salah. Orang tua melahirkanku ke dunia ini, dan mereka merasa selalu benar. Aku kehabisan akal harus bagaimana lagi. Aku memang merasa bersalah menentang omongan mereka, tapi aku juga tidak enak hati kalau diam saja.

Satu yang pasti, tentunya bukan hanya aku yang mengalami konflik batin ini.

Pandemi Covid-19 seharusnya semakin menyadarkan banyak orang betapa minimnya perlindungan dan pengakuan terhadap pekerja rumah tangga (PRT) di Indonesia. Mereka sering kali dianggap rendah derajatnya oleh keluarga yang mempekerjakan. Berbagai laporan media mengungkapkan, PRT rentan terinfeksi virus Sars-CoV-2 karena mereka diminta mengerjakan hal-hal yang membahayakan kesehatan, seperti merawat lansia dan bepergian ke luar rumah, tanpa perlindungan tambahan atau asuransi kesehatan.

Beberapa PRT mengaku dipaksa membeli sendiri masker dan pensanitasi tangan dengan gaji yang terlampau kecil itu, karena tidak disediakan oleh majikan. Mereka juga terancam kehilangan pekerjaan kapan saja, terkadang tanpa pesangon. Berbagai permasalahan seperti ini sudah dialami para PRT, jauh sebelum pandemi.

Sayangnya, sistem pembantu rumah tangga di negara ini memang tidak pernah berubah drastis dari praktik kelam masa Hindia Belanda. Sejarah kemunculan pembantu rumah tangga sebagai profesi tersendiri di Indonesia, bertautan dengan gencarnya praktik perbudakan zaman kolonial sekitar tahun 1800-an.

Pada waktu itu, anak laki-laki kerap dipekerjakan sekaligus sebagai buruh (mengurus kebun majikan) serta babu untuk melayani kebutuhan rumah tangga orang Eropa, pengusaha Cina, hingga kalangan aristokrat Melayu dan Jawa. Istilah “Budak” berarti negatif, sehingga diganti menjadi “pembantu” setelah Indonesia merdeka. Pembantu jelas bukan budak karena dibayar untuk jasanya, tapi sebagian besar beban kerja, dan cara mereka diperlakukan, tetap mirip babu.

Pembantu rumah tangga biasanya datang dari desa dengan latar belakang pendidikan, sumber daya dan kesempatan kerja yang terbatas. Mereka kerap dipekerjakan penuh waktu dan akhirnya ikut tinggal di rumah majikan. Mereka mengerjakan seluruh urusan rumah tangga, dari mencuci pakaian, menyapu lantai, hingga mengurus anak majikan.

Jam kerja pembantu sangat tidak menentu. Mayoritas PRT lazimnya sudah sibuk bersih-bersih di saat majikan baru bangun tidur, dan baru bisa merampungkan pekerjaan di malam hari. Tidur menjadi satu-satunya waktu untuk mereka beristirahat. Meski tanggung jawab PRT sangat besar, upah yang diterima hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan banyak dari mereka yang tidak mendapatkan hari libur sama sekali.

Ada yang berpendapat bekerja sebagai pembantu di kota besar lebih baik daripada mengais rezeki di desa. Walaupun begitu, nasib PRT yang bermigrasi ke kota besar tak serta-merta menjadi lebih baik setelahnya. Rerata gaji “layak” PRT di Indonesia berkisar di angka Rp2 juta hingga Rp3 jutaan per bulan, masih di bawah UMR banyak wilayah. Survei Badan Pusat Statistik pada Februari 2020, menyebut daya beli riil pembantu rumah tangga yang bisa disisihkan dari gajinya, secara rata-rata per bulan hanya Rp420 ribu.

Beban kerja mereka jelas tidak mudah, tapi kenapa profesi ini masih sangat disepelekan?

Aku melewati masa kanak-kanak dengan bantuan si Mbak (bukan Atun) di Jakarta, seperti keluarga kelas menengah lainnya. Banyak keluarga yang punya PRT, sehingga aku tidak terlalu menghiraukan praktik ini. Aku baru menyadari ada yang bermasalah dari profesi pembantu di Indonesia setelah pindah ke Amerika Serikat untuk kuliah. Di sana, hanya konglomerat yang mampu mempekerjakan PRT.

Aku menggosok kamar mandi asrama untuk mendapatkan pemasukan tambahan selama kuliah. Suatu hari, ketika aku menahan napas sambil mengikis kotoran di toilet, aku tersadar pembantu di rumah bekerja keras seperti ini setiap hari dengan upah yang lebih kecil daripada penghasilanku kerja sambilan.

Sementara aku bisa membagi waktu antara kerja sambilan, bersenang-senang, sambil menyeselesaikan kuliah, sebagian besar pekerja rumah tangga di Indonesia—dan banyak negara Asia lain—tidak dapat melakukan hal yang sama. Sebab batas antara pekerjaan dan rumah sangat kabur bagi mereka. Setiap pembantu pasti memiliki impian dan jati diri mereka sendiri, tapi kita hanya memandang mereka sebagai pembantu. Seakan identitas mereka sebagai pembantu sudah final sebagai manusia dewasa. Masalah ini masih menjadi momok di Indonesia dan negara-negara lain dengan ketimpangan ekonomi mencolok, tingkat pendidikan yang rendah, tingkat kemiskinan yang tinggi, dan hak-hak buruh yang terbatas.

Si Mbak sudah bekerja di rumahku sejak umurnya baru 18 dan tinggal bersama kami sampai berusia 40-an. Mbak selalu ada untukku. Dia yang menyuapiku makanan, memakaikan baju, menjemputku sepulang sekolah, menyisirkan rambut, bahkan mendengarkan segala curhatanku semasa remaja. Dia tidak bisa bersikap santai, walaupun telah bekerja puluhan tahun untuk keluargaku. Saat menonton TV, aku duduk di sofa, sedangkan Mbak “harus” duduk di lantai. Tak lama kemudian dia biasanya pergi untuk mengerjakan hal lain.

Mbak sering memuji penampilanku setiap pulang ke Indonesia untuk liburan. Dia bilang aku makin langsing dan tinggi, kulitku juga bagus—sementara dia merendahkan dirinya sendiri, dengan bilang tidak ada orang yang mau dengannya karena dia sudah tua dan gemuk.

Orang tuaku menjual rumah di Jakarta sebelum balik ke kampung halaman. PRT kami diberhentikan dari pekerjaannya dan diberi uang pesangon. Ibu bilang si mbak bisa membeli sejumlah properti di desanya untuk membantu keluarga, setelah bertahun-tahun bekerja untuk kami. Kepergian Mbak sangat menyedihkan. Aku harap kelak bisa memberinya kompensasi lebih karena keberadaannya sebagai pembantu sangat penting di rumah kami.

Sejujurnya, orang tuaku menggaji pembantu dengan layak. Ibu sering membanggakan kemurahan hatinya karena suka memberi hadiah dan bonus kepada ART. Ayah ibu juga tidak pernah memperlakukan pembantu dengan kasar. Tapi semua itu hanya kedok, setelah kupikirkan ulang.

Seolah-olah memperlakukan pekerja secara wajar patut dipuji. Mereka menyebut diri sendiri majikan yang baik, tapi wujud asli ortuku sendiri muncul ketika berurusan dengan urusan hidup dan mati. Contohnya adalah Atun yang mereka paksa menemani nenek. Terpampang jelas bahwa orang tua, dan keluarga besarku, menganggap enteng nyawa Atun. Seakan kesehatan Atun tidak sepenting kesehatan tante, sepupu, atau nenek.

Selama pandemi, kita sering menyaksikan banya keluarga menyuruh pembantu mereka belanja ke pasar yang ramai atau mengambil paket langsung dari kurir, acap kali tanpa mempertimbangkan risiko kesehatan atau memberi perlindungan yang lebih baik. Aku tidak yakin mayoritas keluarga kelas menengah terlampau peduli pada situasi kesehatan para pembantunya.

Sekarang aku menetap di Singapura dan tidak punya PRT, tapi pengalaman bertengkar dengan ortu membuka mataku terhadap perlakuan yang tidak adil di banyak rumah tangga Asia, tidak cuma Indonesia. Aku sejak dulu sering mengkritik teman yang mengejek atau merendahkah kebiasaan pembantu keluarga mereka.

Karena itu jugalah aku memprotes keputusan mamaku kali ini. Mengubah pola pikir orang memang sulit, tapi aku optimis suatu saat mereka bersedia mendengarkanku, lalu memperlakukan pembantu secara lebih manusiawi.

Jangan lupa baca tulisan-tulisan Alice di blog pribadinya dan ikuti kesehariannya di Instagram.



[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Perceraian di Berbagai Daerah Melonjak Selama Pandemi, Mayoritas Akibat Dampak Ekonomi

Perceraian di Berbagai Daerah Melonjak Selama Pandemi, Mayoritas Akibat Dampak Ekonomi

[ad_1]

Angka Perceraian di Berbagai Daerah Indonesia Melonjak Selama Pandemi

Ilustrasi perceraian via Getty Images

Selain angka pernikahan anak, jumlah perceraian juga terus naik selama pandemi melanda Indonesia. Menurut data pengadilan agama, kesulitan ekonomi jadi langganan pemicu. Kehilangan pekerjaan atau pendapatan usaha menurun menyulut cekcok rumah tangga dan pada akhirnya, di berbagai daerah di Indonesia, berujung gugatan cerai.

Di Gresik, Jawa Timur, misalnya. Pengadilan Agama (PA) Gresik melaporkan kenaikan 4-8 persen permohonan cerai dibanding tahun-tahun sebelum pandemi. “Kalau sebelum pandemi itu kami biasa menangani 2.800-2.900 perkara setahun. Pada 2020 lalu itu sampai 3.036, tapi tidak semuanya cerai [berhasil dibuat rujuk]. Itu seluruh perkara yang ditangani oleh PA Gresik,” kata Humas PA Gresik Sofyan Jefri kepada Kompas.

Kondisi ini sudah diprediksi sejak September tahun lalu. Sofyan mengatakan dampak pandemi memicu pertengkaran suami-istri. “Bisa saja suami kehilangan pekerjaan sehingga pasangan belum siap untuk menghadapi bersama,” ujar Sofyan, dilansir Sindonews. Ia juga memperhatikan bahwa peningkatan permohonan cerai berbanding lurus dengan kenaikan pernikahan anak, ditandai dengan banyaknya permohonan dispensasi umur menikah yang masuk ke institusinya.

Angka lebih tinggi ditemukan di Kota Bandung, Jawa Barat. Sepanjang Maret hingga November 2020, tercatat 7.800 kasus perceraian di wilayah tersebut. Mayoritas juga karena permasalahan ekonomi, ditambah kekerasan dalam rumah tangga.

“Kasus-kasus perceraian yang terjadi sebanyak 80 persen didominasi oleh permasalahan ekonomi pada rumah tangga pasangan,” kata Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bandung Siti Muntamah dilansir IDN Times.

Di Palembang, Sumatera Selatan, fakta kenaikan perceraian ini ditunjang data lain: mayoritas perkara diajukan oleh istri. Persisnya, PA Kelas 1A Palembang mencatat, setiap bulan sejak awal Maret 2020, rata-rata 210 istri mengajukan cerai, berbanding jauh dengan suami yang rata-rata “hanya” 59 orang.

“Berdasarkan data hingga Juni 2021, kami telah memproses 1.265 kasus perceraian yang sebagian besar diajukan oleh istri,” ujar Juru Bicara PA Kelas 1A Palembang Raden Achmad Syarnubi seperti dikutip Republik. Di wilayah ini, alasan utama gugatan selain ekonomi adalah krisis akhlak dan perselingkuhan.

Pindah ke Brebes, Jawa Tengah, PA setempat telah menerima 5.671 kasus perceraian sejak Maret 2020. “Jumlah yang diputuskan dalam sidang lebih banyak dari jumlah kasus yang masuk, karena ditambah jumlah kasus yang masuk pada Desember 2019 sebanyak 591 kasus. Sehingga total yang masuk sebanyak 6.262 kasus,” kata Kabag Humas PA Brebes Nursidik, dilansir iNews.

Peningkatan angka perceraian di tengah pandemi juga terjadi di Garut, Sleman, Parepare, Banjar, Banjarmasin, dan Medan. Cuma, urusan rumah tangga yang cekcok ini enggak di Indonesia aja. BBC menemukan kasus perceraian selama pandemi meningkat pula di Inggris, Amerika Serikat, dan Swedia.

Konsultan keluarga dari LSM Rumah Amalia, Agus Syafii, mengatakan bahwa dalam menghadapi pandemi, pasangan suami-istri harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalah dengan cara saling memberi, memaklumi, dan memaafkan. “Kalau pasangan suami-istri di dalam benaknya atau pikiran adalah ingin saling memberi, maka keduanya tidak akan ada saling menuntut,” ujar Agus dilansir Antaranews.

[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close