Business is booming.

Dua harimau Sumatera yang sering mengunjungi peternakan Bengkulu: polisi


Mukomuko, Bengkulu (ANTARA) – Warga Desa Lubuk Bangko, Kecamatan Selagan Raya, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu berkali-kali melaporkan melihat dua harimau sumatera di areal pertanian cabai di dalam areal persawahan mereka selama beberapa hari terakhir.

Beberapa penduduk desa telah melihat harimau (Pantera Tigris Sumatrae) dan menghubungi Polsek Teras Terunjam Kapolsek Mukomuko Ajun Sen Com. Andy Arisandi, di sini, Selasa.

Menurut salah satu laporan, dua warga desa, yang diidentifikasi sebagai Jubir (32) dan Kangoro (22), melihat harimau dewasa dan anaknya berkeliaran di kebun cabai mereka sekitar pukul 19:30 waktu setempat pada hari Senin (22 Februari 2021), dia diberitahukan.

Kangoro mengatakan kepada polisi bahwa awalnya dia menganggap anak harimau itu sebagai kucing hutan, tetapi setelah dia menyadari apa itu dan melihat harimau dewasa itu, dia bergegas ke gubuk yang dia tinggali bersama Jubir, kata Arisandi.

Dia kemudian menghubungi keluarganya dan memberi tahu mereka tentang penampakan harimau tersebut. Tiga puluh menit kemudian, sekitar 100 warga desa mendatangi gubuk Jubir dan Kangoro untuk mengawal mereka ke tempat aman.

Kedua pria itu kembali ke rumah dengan bantuan 100 penduduk desa, kata Arisandi.

Berita Terkait: Harimau liar Sumatera ditangkap di Kabupaten Solok Sumatera Barat

Berita Terkait: BKSDA menangkap harimau Sumatera yang berkeliaran di sekitar areal perkebunan Solok

Dia mengatakan telah memberi tahu pihak berwenang di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan meminta Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu untuk memeriksa tambak tempat kedua harimau itu terlihat.

Ia juga mengimbau kepada pejabat TNKS dan BKSDA agar meminta kepala desa dan warga desa untuk tidak membunuh harimau jika ditemukan masuk tanpa izin di ladangnya.

ANTARA telah diberitakan sebelumnya bahwa harimau sumatera merupakan satu-satunya spesies harimau yang bertahan hidup di indonesia. Negara ini telah kehilangan dua sub-spesies harimau hingga punah: harimau Bali punah pada tahun 1937 dan harimau Jawa pada tahun 1970-an.

Harimau Sumatera, yang terkecil dari semua harimau, saat ini merupakan spesies yang sangat terancam punah dan hanya ditemukan di Pulau Sumatera, pulau terbesar kedua di Indonesia.

Harimau berada di ambang kepunahan karena penggundulan hutan, perburuan liar, dan konflik dengan manusia karena habitat yang semakin menipis.

Data jumlah harimau Sumatera yang tersisa di alam liar tidak jelas, meskipun perkiraan terakhir berkisar dari di bawah 300 hingga mungkin 500 di 27 lokasi, termasuk di Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Tesso Nilo, dan Taman Nasional Gunung Leuser.

Menurut World Wildlife Fund (WWF), jumlah mereka menurun tajam dari sekitar seribu pada tahun 1970-an.

Laporan Kementerian Kehutanan tahun 2009 menyebut konflik dengan manusia sebagai ancaman terbesar bagi upaya konservasi. Laporan tersebut menyebutkan bahwa rata-rata lima hingga 10 harimau Sumatera telah dibunuh setiap tahun sejak 1998. (INE)

Berita Terkait: BKSDA Aceh melepasliarkan anak harimau Sumatera ke Taman Nasional Gunung Leuser