Connect with us

#BedahBuku

“Diplomasi Membumi: Narasi Cita Diplomat Indonesia” Bedah Buku Ala Dubes

“Diplomasi Membumi: Narasi Cita Diplomat Indonesia” Bedah Buku Ala Dubes

[ad_1]


“Diplomasi Membumi: Narasi Cita Diplomat Indonesia” Bedah Buku Ala Dubes


Telegraf – “Verba volant, scripta manent adalah peribahasa Latin kuno yang artinya kurang lebih ‘apa yang terucap mudah lenyap, apa yang tercatat pasti melekat. Itulah motivasi saya menuangkan ide dan pemikiran ke dalam tulisan. Sebab, jika pikiran hanya diucapkan, akan mudah hilang. Tapi jika dituliskan dan dibukukan akan mudah diingat untuk dijadikan bahan pembelajaran”, kata Dubes RI untuk Austria, Slovenia, dan PBB, Darmansjah Djumala, dalam acara Bedah Buku “Diplomasi Membumi: Narasi Cita Diplomat Indonesia” yang diselenggarakan oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), Kemlu bersama FISIP Universitas Sriwijaya (Unsri) pada tanggal (28/06/2021).

Acara bedah buku tersebut merupakan bagian dari acara Forum Debriefing Kepala Perwakilan RI yang diselenggarakan secara daring oleh BPPK Kemlu. Lebih lanjut Djumala mengatakan, diplomat sering menjadi saksi sejarah, baik peristiwa nasional maupun internasional. Banyak cara untuk memahami dan memaknai sejarah.

Salah satunya dengan cara mencatat dan menganalisis peristiwa itu, kemudan menuliskannya di media dengan niat berbagi dengan publik. Jika dalam menyampaikan ide dan pemikirannya, diplomat mampu memetik “makna dan nilai” dari peristiwa sejarah itu, maka ia telah berkontribusi dalam wacana publik dan akademik.

“Itulah cara sederhana memaknai sejarah: memetik nilai dari sebuah peristiwa sebagai bahan pembelajaran,” terangnya.

Menurutnya diplomasi di era Presiden Jokowi dan Menlu Retno lebih diarahkan pada upaya memberi manfaat langsung dan konkrit bagi rakyat. Untuk mencapai itu diplomasi bisa dilakukan melalui jalur bilateral dan multilateral.

Kedua jalur diplomasi itu tidak perlu diperhadapkan secara dikotomis, sebab keduanya bisa memberi manfaat langsung bagi rakyat.

“Diplomasi Membumi yang memberi manfaat langsung dan konkrit bagi rakyat bisa dicapai baik melalui jalur bilateral maupun multilateral,” imbuhnya.

“Buku setebal 518 halaman tersebut merupakan kumpulan artikel di media massa dengan rentang waktu 35 tahun, sejak mahasiswa, awal karir Kemlu, hingga tulisan beberapa bulan lalu” paparnya.

Ia menjelaskan bahwa tulisan dibagi ke dalam 8 bagian dan berjumlah 112 artikel yang terbagi dalam dua bagian besar yaitu konsep kebijakan “Diplomasi Membumi” dan mengenai isu-isu nasional, regional dan global serta isu tematik” yang dikontekstualisasikan dengan kebijakan politik luar negeri RI.

Buku tersebut memuat Kata Sambutan dari Presiden RI Joko Widodo dan Menlu RI, serta Kata Pengantar dari Azyumardi Azra, intelektual UIN.

Sebagai pembahas buku adalah Trias Kuncahyono, wartawan senior Kompas, yang menyebut Djumala sebagai “pencatat sejarah yang baik” dan “mendudukkan perkara dengan baik”, serta mengkontekstualisasikan berbagai peristiwa nasional dan internasional dalam perspektif diplomasi dan politik luar negeri.

“Dubes Djumala merupakan sedikit diplomat intelektual dan juga diplomat kolumnis. Dia mengamati, menganalisis dan menulis sesuai dengan kompetensinya sebagai diplomat dan pelaku diplomasi. Buku ini sangat penting bagi pemerhati hubungan internasional, mahasiswa hubungan internasional, dan juga diplomat muda. Buku ini bagus karena mampu menjawab pertanyaan apa yang dimaksud dengan Diplomasi Membumi” katanya.

Acara di platform Zoom dan Youtube Live yang dihadiri oleh sekitar 300 peserta tersebut, selain membahas buku yang baru diluncurkan oleh Gramedia, utamanya juga merupakan forum reguler yang diselenggarakan oleh BPPK bersama berbagai mitra dunia akademia untuk menyebarluaskan capaian diplomasi Indonesia dan sebagai sarana pertanggungjawaban publik para Duta Besar RI selama bertugas di luar negeri.

Pada kesempatan tersebut Kepala BPPK Siswo Pramono dalam pembukaannya menyampaikan pentingnya forum Debriefing Kepala Perwakilan RI, BPPK mengupayakan untuk terus perkaya rekomendasi kebijakan bagi Pimpinan dengan melibatkan civitas akademia melalui forum silaturahmi yang berkesinambungan.

Siswo menyebutkan acara sangat menarik karena di dalamnya juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman Kemlu dan Unsri serta juga dirangkai dengan bedah buku “Diplomasi Membumi” tulisan Dubes Darmansjah Djumala seorang diplomat senior dan juga alumnus Unsri itu.

Dalam sambutan pembukaannya, Rektor Unsri Anis Saggaff menyampaikan apresiasinya kepada Kemlu, khususnya BPPK, yang selalu mengajak Unsri di berbagai diskusi dalam forum Debriefing.

“Melalui kerja sama yang telah terbangun sejak tahun 2017, Unsri siap untuk berdiskusi memberikan masukan dan sumbangsih pikiran kepada Pemerintah untuk memajukan Indonesia” tuturnya.

Pada sesi Forum Debriefing Y.M. Tri Tharyat, Duta Besar RI untuk Kuwait periode 2019-2021 menggarisbawahi arti penting kemitraan Indonesia dan Kuwait, baik secara bilateral maupun secara multilateral, terutama ketika sama-sama menjabat sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB di tahun 2019.

Sebagai pembahas adalah  Alfitri, Wakil Dekan 1 FISIP Unsri yang tekankan pentingnya hubungan RI-Kuwait antara lain dalam investasi di sektor migas, pekerja migran sebagai sumber devisa, dan pentingnya kerja sama penguatan kapasitas anti-korupsi dengan Kuwait, serta peluang diplomasi budaya dan olah raga di masa mendatang.


Photo Credit: Dubes RI untuk Austria, Slovenia, dan PBB, Darmansjah Djumala (pojok kiri atas) dalam Bedah buku ?Diplomasi Membumi: Narasi Cita Diplomat Indonesia? secara virtual, pada Senin (28/6/2021). FIE/Dok. Kedubes RI untuk Australia, Slovenia, dan PBB

 

Didik Fitrianto
Latest posts by Didik Fitrianto (see all)

[ad_2]

Source link

Advertisement
Click to comment

#BedahBuku

Praktik Diplomasi ‘Membumi’ Ala Diplomat Indonesia

Praktik Diplomasi ‘Membumi’ Ala Diplomat Indonesia

[ad_1]

Praktik Diplomasi ‘Membumi’ Ala Diplomat Indonesia


Telegraf – Disampaikan oleh Duta Besar/Wakil Tetap RI di Wina Darmanyah Djumala, bahwa dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi diplomasi, salah satunya adalah reporting, para diplomat harus menyertakan analisa dan penilaian situasi dalam laporan peristiwa di negara setempat. Secara kumulatif pengalaman, pengamatan dan penilaian ini menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi publik dan kemudian dikumpulkan serta diterbitkan dalam satu buku yang mencakup rentang waktu tugas lebih dari 35 tahun dari 17 para diplomat senior Indonesia.

Hal itu dikemukakannya pada saat mengisi acara webinar yang bertema, “Diplomasi: Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara”, yang diadakan oleh Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HI), FISIP, Universitas Sriwijaya (Unsri) pada Senin, (05/04/2021).

Webinar yang membahas buku mengenai 21 tulisan yang berisi tentang pengalaman 17 diplomat senior dan Duta Besar RI di mancanegara, dalam buku yang dibahas itu, termasuk didalamnya memuat pengalaman praktis yang mencakup pengalaman pelaksanaan tugas pokok diplomasi yaitu representing, negotiating, protecting, promoting, dan reporting.

Apresiasi juga disampaikan oleh Muhammad Sobri, Dekan FISIP Unsri pada saat membuka acara.

“Pandemi Covid-19 memberikan hikmah pelaksanan kegiatan secara daring, sehingga dapat menghadirkan para Duta Besar penulis dan editor buku pada kesempatan ini. Buku juga diyakini dapat menjadi referensi bagi mahasiswa dalam menimba ilmu dan pengalaman para diplomat, sehingga dapat meningkatkan kualitas akademik Indonesia di masa mendatang.” ujarnya.

“Dalam konteks perubahan paradigma pendidikan nasional melalui program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka, mahasiswa dituntut untuk tidak saja mendalami kajian teoritis, tetapi juga memperkuat mengenai aspek praktis di lapangan. Kesempatan bertemu langung dan berdiskusi dengan para editor buku merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya” imbuh Azhar, selaku pembedah buku.

Semantara itu, Darmansjah Djumala sebagai salah satu editor buku yang dibedah, menekankan bahwa Duta Besar sebagai wakil dari negara, pemerintah, dan Presiden di wilayah negara sahabat menghadapi berbagai isu politik, ekonomi, sosial budaya, dan perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) yang kerap menjadi wacana publik di tanah air.

Dalam konteks diplomasi bilateral, Djumala juga mengangkat relevansi politik bebas aktif dan gerakan non-blok ditengah dinamika geopolitik internasional yang dituangkan dalam buku melalui pengalaman para Dubes RI untuk Azerbaijan dan Ukraina.

“Dalam situasi tersebut, Indonesia mempertahankan prinsip politik bebas aktif dan non-blok dengan menjaga hubungan baik dengan semua negara, ditengah tekanan pengaruh negara besar yang terlibat. Sementara dalam aspek diplomasi multilateral yang “membumi”, pengalaman Indonesia sebagai Chairman of the Board of Governors dari IAEA tahun 2017-2018 mendorong penggunaan teknologi nuklir bukan untuk berperang tetapi untuk tujuan damai yang berikan manfaat langsung pada rakyat,” papar Djumala.

Lain dengan Bagas Hapsoro yang juga pernah menjabat sebagi Dubes di Swedia pada (2016-2020) dan juga editor buku dimaksud, mengingatkan arti penting tujuan bernegara.

“Yang jelas tertuang dalam alinea 4 pembukaan UUD 1945, antara lain melindungi bangsa, memajukan kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Buku juga tekankan pentingnya sifat inklusif diplomasi Indonesia yang merangkul konstituen dalam negeri membentuk Triple Helix (pemerintah-pebisnis-akademisi), serta pentingnya diplomasi “membumi” yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.

“Upaya para Duta Besar RI untuk menarik investasi dan meningkatkan ekspor Indonesia sebagaimana dilakukan oleh para Dubes RI di Mesir, Maroko dan Swedia. Bagas juga soroti upaya kontekstualisasi norma Internasional yang berkembang seperti implementasi toleransi beragama di Vatikan dan keanekaragaman hayati di Finlandia yang relevan dengan situasi dan kondisi di Indonesia. Intinya buku menyoroti upaya diplomasi Indonesia yang hakikatnya adalah memperjuangkan kepentingan nasional,” imbuh Hapsoro.

Sebagai pembedah buku, Azhar juga menyoroti berbagai contoh-contoh aplikatif prinsip politik bebas aktif dan non-blok dalam teori hubungan internasional di dalam buku yang menjadi pembahasan. Beberapa contoh yang diangkat Azhar antara lain pentingnya diplomasi nuklir yang “membumi” ditengah masih lemahnya perjanjian hukum internasional yang ada, aplikasi isu human security dengan menjadikan Indonesia sebagai inspirasi kemajemukan umat beragama dunia melalui peristiwa Deklarasi Roma, upaya perlindungan WNI di luar negeri, berbagi pengalaman proses perdamaian Aceh, serta inisiatif dan upaya para Duta Besar penulis buku dalam memajukan ekspor dan investasi yang dapat digali lebih lanjut oleh Unsri pada kesempatan lain di masa mendatang.


Duta Besar (Dubes) RI untuk Austria dan PBB, Darmansjah Djumala. TELEGRAF

 

Edo W.



[ad_2]

Source link

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close