Info

Diaspora Indonesia Berbagi Tantangan Membesarkan Anak

Hari Ayah pertama kali dirayakan di Amerika Serikat (AS) pada 1910, tepatnya di Kota Spokane, di negara bagian Washington. Walau perayaannya sempat menghilang, akhirnya hari Ayah nasional diresmikan oleh Presiden Richard Nixon pada 1972, sebagai tanda penghormatan kepada seorang ayah dan pengaruhnya di masyarakat.

Bagi Wiwit Tjahjana yang sudah menetap di Amerika selama 26 tahun, Hari Ayah memiliki makna tersendiri. Selain diperingati untuk mengingat jasa seorang ayah, hari ini juga menjadi pengingat bahwa sosok ayah bukan melulu hanya tulang punggung keluarga.

“Di Amerika ini kita juga belajar, sosok ayah juga seseorang yang membantu membangun karakter anak-anak. Jadi enggak cuma dari ibu, tapi juga dari ayah,” ujar Wiwit kepada BuzzFeed.co.id.

Wiwit adalah ayah dari dua orang putra, Keenan (23 tahun) dan Darren (19 tahun), yang keduanya lahir di Amerika. Mendidik dua anak dengan dua latar belakang budaya yang berbeda menjadi tantangan terbesar baginya.

Keluarga Wiwit Tjahjana: (ki-ka) Darren, Keenan, Mingliarti, dan WiwitTjahjana (dok: Wiwit Tjahjana)

“Kita berusaha untuk mengajar anak-anak (bahwa) dalam kedua culture ini ada hal-hal yang baik dan hal-hal yang kurang baik. Dan kita ambil dari hal-hal yang paling baik,” jelas Wiwit yang berdomisili di Fairfax, Virginia.

Ajarkan Anak Saling Bantu

Saat ini Wiwit bekerja sebagai agen real estat atau realtor. Ia pun kerap melibatkan kedua putranya dalam bekerja, seperti mengirim hadiah untuk klien atau membantunya melangsungkan acara, seperti piknik bersama para kliennya.

“Kita pikir bahwa efeknya positif. Jadi mereka enggak cuma sekolah saja, tapi mereka juga ada ikatan di keluarga, bahwa kita saling sharing, membantu satu sama yang lain,” ujar Wiwit.

Wiwit sendiri teringat pernah membantu orang tuanya bekerja saat masih kecil. Pada waktu itu keluarganya memiliki usaha helm untuk pengendara motor.

“Jadi kita semua bantu. Ada yang pasang kain di dalam, memaku-maku. Itu memberi saya kesan yang paling baik,” kata Wiwit.

Darren pun mengaku senang bisa membantu ayahnya, karena ia bisa bertemu dengan banyak teman. Menurutnya, Wiwit adalah sosok ayah yang selalu mendukung dan menyemangatinya.

Keluarga Wiwit Tjahjana (dok: Wiwit Tjahjana)

Keluarga Wiwit Tjahjana (dok: Wiwit Tjahjana)

“Dia selalu melakukan yang terbaik untuk membuat semua orang merasa diterima di komunitas. Dia selalu membantu orang lain. Dia juga selalu memberikan hadiah. Dia juga suka mengajak saya (membagikan hadiah) dan saya sangat menikmatinya,” ujar Darren.

Putra pertama Wiwit, Keenan, lahir saat Wiwit dan istrinya, Ming Tjahjana, baru menetap selama dua tahun di Amerika, di mana mereka belum terlalu mengenal banyak teman yang seusia mereka dan memiliki anak. Mereka pun menyadari betapa pentingnya peran lingkungan sosial.

“Jadi kita bisa saling membantu dalam membesarkan anak, dalam mencari sumber daya, mencari tahu untuk membesarkan anak-anak di negara ini apa saja yang harus ditelusuri,” cerita Wiwit.

Dukungan Pemerintah

Tinggal di Amerika dan membesarkan salah seorang anak yang berkebutuhan khusus, Wiwit mengaku mendapat dukungan dan bantuan dari pemerintah, khususnya dalam hal pendidikan.

“Dari satu negara bagian ke yang lain support-nya dari (pemerintah negara bagian) bisa berbeda. Di New York support-nya cukup bagus, di Virginia juga cukup bagus. Di negara bagian yang lain, saya ada klien yang akhirnya memutuskan untuk pindah ke Virginia, karena di negara bagian mereka kurang banyak support dari (pemerintah negara bagian) ya, terutama dari public school system,” jelasnya.

Wiwit menambahkan, komunitas di Amerika pun juga sudah lebih terbuka dan bisa menerima, walau prosesnya masih bertahap dan masih bisa dikembangkan.

“Semoga kedepannya lebih banyak orang yang lebih bisa aware, bisa support,” ujarnya.

Mengingat kedua putranya kini sudah dewasa, Wiwit mengatakan bahwa rasa khawatir terkadang masih terus ada.

“Apakah saya sudah melakukan cukup banyak hal? Apakah saya memberi mereka prinsip yang cukup? Apakah saya memberi mereka nilai-nilai yang cukup?” kata Wiwit.

Namun, pada akhirnya Wiwit tetap berusaha membina hubungan yang sehat dengan kedua anaknya, tanpa harus terus mendikte.

“Kalau mereka perlu bantuan apa pun ya kita bakal bantu. Cuma di lain sisi juga kita perlu punya iman bahwa mereka bisa jadi orang dewasa menurut caranya sendiri,” tambahnya.

Adalah suatu pengalaman yang berharga baginya ketika bisa melihat kedua putranya berkembang dalam kehidupannya masing-masing. Ia pun menyadari bahwa setiap anak memiliki tumbuh kembang yang berbeda.

“Lakukan sesuatu yang akan membuat diri Anda berterima kasih pada diri Anda sendiri esok hari. Jadi itu yang paling rewarding ya, sebagai orang tua, bagaimana kita bisa membimbing anak-anak dan melihat mereka bertumbuh lebih dewasa di masa depan,” ujarnya.

Berkah Hari Ayah

Bagi Danny Halim yang tinggal di Herndon, Virginia, Hari Ayah bagaikan peringatan akan berkah yang telah ia dapatkan hingga hari ini.

“Bisa dapat dua anak dan dua-duanya ini meskipun kita sibuk setengah mati ya, blessing sekali,” ujarnya.

Danny Halim dan keluarga (dok: Danny Halim)

Danny Halim dan keluarga (dok: Danny Halim)

Tidak hanya itu, Hari Ayah menurutnya juga menjadi peringatan akan adanya harapan untuk memikirkan masa depan anak-anaknya.

“Oh, mereka hidupnya masih jauh, masih panjang. Dan sebagai ayah kita harus berada di situ ya, untuk support, untuk provide,” tambahnya.

Hari Ayah juga mengingatkan Danny untuk membagi waktunya dengan anak-anak di sela kesibukannya. Meskipun sebagai orang tua ia terus mendorong anak-anaknya untuk belajar, Danny yang bergerak di bidang bisnis properti selalu berusaha untuk meluangkan waktu, walau hanya sejenak, untuk bermain dan memberikan perhatian penuh kepada anak-anaknya.

“Jadi ada fun-nya, ada ketawanya,” ujarnya.

“Tapi buat mereka, simple things gitu cukup. Dan mereka enggak perlu yang mewah-mewah,” tambahnya.

Danny Halim dan keluarga (dok: Danny Halim)

Danny Halim dan keluarga (dok: Danny Halim)

Sama dengan Danny, sebagai seorang ayah, Wiwit pun berpesan, walau terkadang sibuk bekerja di luar dan ingin langsung beristirahat saat pulang ke rumah, masih ada pekerjaan yang perlu dilakukan.

“Setelah kita balik ke rumah, pekerjaan kita sebagai seorang ayah baru dimulai. Jadi kita juga harus hadir untuk anak-anak kita dan untuk pasangan kita,” jelasnya.

Tradisi Hari Ayah

Salah satu tradisi yang biasa dilakukan di Hari Ayah adalah pemberian kartu ucapan dan hadiah, yang diikuti dengan kegiatan bersama dengan keluarga.

Hasil jajak pendapat yang dikeluarkan oleh National Retail Federation dan Prosper Insight & Analytics menyebut bahwa pengeluaran Hari Ayah pada tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 22,4 miliar dolar atau setara dengan Rp348 triliun.

Ini merupakan angka tertinggi kedua dalam sejarah survei itu. Pengeluaran saat Hari Ayah pada 2023 mencapai sekitar 22,9 miliar dolar AS.

Danny Halim dan kedua anaknya (dok: Danny Halim)

Danny Halim dan kedua anaknya (dok: Danny Halim)

Anak-anak Danny Halim pun kerap menghadiahinya dengan karya seni atau hadiah yang spesial.

“Dua tahun lalu mereka kasih aku indoor skydiving trip gitu ya. Kadang-kadang kita mungkin trip aja ke mana gitu atau kadang-kadang di rumah saja, relaks, nonton TV atau main sama-sama,” ujar Danny.

Tahun ini adalah Hari Ayah ke-3 bagi Azevedo Evantanto, ayah dari dua anak yang kini tinggal di Herndon, Virginia. Biasanya di hari Ayah ia mendapatkan waktu bebas untuk melakukan yang ia inginkan.

“Kalau saya mau main badminton, voli, 2-3 jam, istri (membolehkan),” ujarnya sambil tertawa.

“Tapi kan Hari Ayah, jadi saya enggak mau sendirian. Jadi meluangkan waktu dengan keluarga, makan bareng,” tambahnya.

Azevedo Evantanto dan keluarga (dok Azevedo Evantanto)

Azevedo Evantanto dan keluarga (dok Azevedo Evantanto)

Sebagai seorang ayah, terkadang Azevedo kerap bersikap keras kepada dirinya sendiri. Namun, tahun ini ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Baginya, kesalahan adalah sebuah pengalaman yang bisa membantunya menjadi lebih baik lagi.

“Kita semua belajar. Saya rasa setiap anak berbeda. Setiap keluarga berbeda, tapi (tetap berusaha untuk selalu hadir) dan berusaha (melakukan) yang terbaik.

Keluarga Pangaribuan yang tinggal di Centreville, Virginia, biasanya pergi ke restoran untuk makan bersama. Pangaribuan pun selalu menyampaikan pesan khusus kepada ketiga anaknya yang sudah remaja.

“Saya selalu bisa sama anak-anak saya, bahwa mereka lebih penting daripada saya,” ujar Pangaribuan kepada BuzzFeed.co.id.

“Kita harus berikan cinta dan kasih sayang kepada anak-anak kita, dan kita terus doakan supaya mereka bisa menjadi orang tua kelak sama seperti, bahkan lebih baik daripada kita,” tambahnya.

Biro Sensus AS menunjukkan hingga saat ini ada sekitar 72 juta ayah di seluruh Amerika. Pada 2022 juga ada sekitar 2 juta ayah tunggal yang tinggal bersama anak di bawah usia 18 tahun. [di/em]

Sumber Berita

Apa Reaksimu?

Lainnya Dari BuzzFeed