Delegasi Rusia Berjanji Perkuat Hubungan dalam Kunjungan ke Korut

Seorang pejabat Rusia mengatakan pada Jumat (17/11) bahwa Moskow ingin “memperkuat hubungan secara komprehensif” dengan Korea Utara setelah kunjungan dua hari delegasi pemerintahnya ke Pyongyang.

Meningkatnya kerja sama militer dan ekonomi antara Rusia dan Korea Utara telah memicu kekhawatiran di Washington dan Seoul.

Kunjungan tersebut terjadi setelah Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken bulan ini memperingatkan bahwa hubungan antara Pyongyang dan Moskow “semakin berkembang dan berbahaya”, dan mendesak sekutu Korea Utara, China, untuk mengendalikan negara yang memiliki senjata nuklir tersebut.

Alexander Kozlov, Menteri Sumber Daya Alam Rusia yang memimpin delegasi tersebut, mengatakan pada hari Jumat bahwa kedua pihak telah membahas perdagangan, pendidikan, olahraga dan budaya.

Penandatanganan protokol pertemuan ke-10 Komite Kerjasama Perdagangan, Ekonomi, dan Sains dan Teknologi Antarpemerintah Korea Utara-Rusia , Pyongyang, 15 November 2023.

“Pola pikir kami adalah memperkuat hubungan dengan DPRK secara komprehensif,” katanya dalam postingan di media sosial pada hari Jumat, menggunakan akronim nama resmi Korea Utara.

Delegasi Rusia tiba di Pyongyang pada Selasa dan pulang pada hari Kamis, lapor Kantor Berita resmi Korea.

Bendera Rusia dan bendera Korea Utara berkibar di bandara di Pyongyang ketika para pejabat tinggi Korea Utara mengantar delegasi tersebut berangkat, kata KCNA.

Rusia dan Korea Utara sama-sama berada di bawah sanksi internasional – yang pertama karena invasinya ke Ukraina dan yang kedua karena program senjata nuklir dan rudalnya.

Moskow telah berupaya meningkatkan kemitraan mereka sementara mencari sekutu untuk mendukung invasi mereka ke Ukraina.

Korea Selatan menuduh Pyongyang telah memberikan lebih dari satu juta peluru artileri ke Moskow dan mengatakan bahwa Korea Utara tampaknya menerima saran mengenai teknologi satelit militer sebagai imbalannya.

Kunjungan terbaru Rusia ini terjadi setelah para diplomat utama G7 pekan lalu mengecam transfer senjata tersebut, dan mendesak Korea Utara dan Rusia untuk “segera menghentikan semua aktivitas semacam itu.”

Kedua negara telah meningkatkan kerja sama setelah pertemuan puncak pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada bulan September.

Kim pernah melakukan perjalanan ke Rusia dengan menggunakan kereta khusus antipeluru, dan menyatakan bahwa hubungan bilateral dengan Moskow adalah “prioritas nomor satu” bagi negaranya.

Kozlov dari Rusia mengatakan pada hari Jumat bahwa Moskow dan Pyongyang telah sepakat untuk melakukan eksplorasi geologi bersama terhadap emas, besi dan logam tanah jarang, dan akan meningkatkan kerjasama olahraga dan pendidikan.

KCNA juga mengatakan pada hari Rabu bahwa delegasi Korea Utara yang dipimpin oleh menteri olahraga dan kebudayaan negara itu berangkat untuk menghadiri sebuah forum di Kota Perm, Rusia.

Para analis mengatakan langkah-langkah terbaru ini menunjukkan kedua negara ingin menekankan pertumbuhan aliansi mereka, meskipun ada kecaman global. [ab/ka]

Sumber Berita

Pos terkait