Info

Dari Kesulitan Jual Kamera, Kini Laris Manis Berkat Tren Retro

Selama beberapa tahun, perusahaan Jepang Fujifilm beralih dari bisnis kamera lama mereka ke sektor layanan kesehatan. Namun, berkat penggemar TikTok, kamera digital retro X100 kini laris manis dan mendongkrak keuntungan perusahaan.

Fujifilm kini kewalahan memenuhi permintaan kamera seharga $1.599 atau sekitar Rp24,2 juta. Kamera ini sangat digemari oleh generasi Z pengguna media sosial karena desainnya yang keren dan fitur-fitur canggihnya.

Model X100V sangat populer sehingga pada tahun fiskal yang berakhir Maret, divisi pencitraan, termasuk kamera, menjadi penyumbang terbesar dengan mencatatkan rekor laba tertinggi perusahaan. Divisi tersebut menyumbang 37 persen dari laba operasional pada tahun fiskal 2023, naik dari 27 persen pada tahun sebelumnya.

Setelah laris manis pada tahun lalu, perusahaan meningkatkan produksi di China untuk menggandakan volume peluncuran VI yang memulai debutnya pada Maret, kata Yujiro Igarashi, manajer grup pencitraan profesional Fujifilm. Dia enggan merinci kenaikan produksi atau penjualan unitnya.

Siluet seorang pria di depan logo Fujifilm Holdings menjelang konferensi persnya di Tokyo, Jepang, 31 Januari 2018. (Foto: Reuters)

“Kami melihat pesanan jauh melebihi perkiraan kami,” kata Igarashi. “Dalam hal ini, saya terkejut meskipun kami melipatgandakan produksi kami, tetapi hasilnya masih kurang.”

Didirikan 90 tahun yang lalu, Fujifilm bersaing ketat dengan industri serupa, Kodak, selama beberapa dekade. Namun, akhirnya Fujifilm berhasil menyalip penjualan pesaingnya pada 2001. Keberhasilan itu hanya sesaat menyusul perkembangan teknologi yang menyebabkan kamera digital menjadi fitur standar di ponsel. Akibatnya, industri film runtuh.

Untuk bertahan hidup, Fujifilm memanfaatkan keahliannya dalam bahan kimia film untuk beralih ke aplikasi kesehatan, sebuah strategi yang juga diadopsi oleh pesaing domestik Canon dan Olympus. Fujifilm tidak menyerah pada produksi kameranya, tetapi mereka terpaksa harus memangkas 5.000 pekerja di divisi filmnya dan memindahkan sebagian besar produksinya ke China pada tahun berikutnya.

Di masa pandemi COVID, Fujifilm fokus ganda pada pengembangan pil antivirus dan vaksin. Namun, kini kameranya kembali mencuri perhatian.

Perusahaan memproyeksikan pertumbuhan penjualan pencitraan akan melambat menjadi 2,2 persen pada tahun fiskal 2024 dari 14,5 persen, sementara laba operasional di segmen tersebut diperkirakan turun 1,9 persen, menurut perkiraan para analis paling konservatif.

“Kami melihat adanya risiko negatif terhadap pedoman layanan kesehatan dan inovasi bisnis, namun terdapat keuntungan besar dalam bidang pencitraan,” tulis analis Jefferies, Masahiro Nakanomyo, dalam laporannya pada tanggal 6 Juni.

Bilang ‘Cheese’

X100 lahir pada 2011 dalam upaya menyelamatkan divisi kamera kelas profesional Fujifilm, namun daya tariknya berakar pada nostalgia, kata para penggemar kamera.

“Tampilannya cukup revolusioner, dan ini ironis karena hanya meniru kamera film,” kata Mark Condon, pendiri situs peralatan kamera Shotkit.

Konsep utama dalam teknologi retro adalah “gesekan”, di mana pengguna menyatu dengan produk melalui sentuhan fisik dan interaksi, menurut penulis budaya yang berbasis di Tokyo, W. David Marx.

Kamera-kamera dipajang di markas besar Fujifilm Holdings, Tokyo, Jepang, 7 Juni 2024. (Photo: REUTERS/Rocky Swift)

Kamera-kamera dipajang di markas besar Fujifilm Holdings, Tokyo, Jepang, 7 Juni 2024. (Photo: REUTERS/Rocky Swift)

“Ponsel pintar mempermudah pengambilan foto sehingga foto menjadi tidak bernilai,” kata Marx, penulis “Status and Culture.”

“Dengan memiliki kamera fisik lagi, dan harus mengembangkan film, dll., hal ini menambah gesekan, yang menambah kembali rasa nilai pada pengambilan foto biasa,” ujarnya.

Ketika industri pariwisata kembali dibuka setelah pandemi, permintaan akan kamera melonjak. Influencer platform Instagram, TikTok, dan situs media sosial lainnya mengubah X100 menjadi simbol status.

“Penting untuk memiliki kamera bagus yang menginspirasi Anda untuk ingin mengeluarkannya dan memotretnya,” kata Benjamin Lee, yang menggunakan @itchban di TikTok di mana ia memiliki lebih dari 600.000 pengikut. “Seri X100 pada dasarnya adalah aksesori fesyen yang Anda kenakan, selain menjadi kamera yang hebat.”

Kamera dan lensa dipajang di kantor pusat Fujifilm Holdings, di Tokyo, Jepang 7 Juni 2024. (Foto: REUTERS/Rocky Swift)

Kamera dan lensa dipajang di kantor pusat Fujifilm Holdings, di Tokyo, Jepang 7 Juni 2024. (Foto: REUTERS/Rocky Swift)

Ketersediaan masih menjadi masalah.

X100 bekas dijual dengan harga yang lebih tinggi daripada di situs lelang, sambil menyediakan papan pesan online untuk penggemar yang menanti pesanan mereka.

Bulan lalu, kepala eksekutif Fujifilm Teiichi Goto mengungkapkan keinginannya untuk menjaga pasokan tetap terbatas, mengambil contoh kamera merek Leica Jerman sebagai model untuk menjaga nilai premium.

“Sayang jika kami memproduksi terlalu banyak dan pada akhirnya malah menurunkan harga,” kata Goto pada presentasi pendapatan akhir tahun perusahaan pada 9 Mei.

Seorang pria berjalan di depan kantor pusat Fujifilm Holdings Corporation di Nishiazabu di Tokyo, Senin, 14 Mei 2018. (Foto: AP/Koji Sasahara)

Seorang pria berjalan di depan kantor pusat Fujifilm Holdings Corporation di Nishiazabu di Tokyo, Senin, 14 Mei 2018. (Foto: AP/Koji Sasahara)

Namun, menurut influencer Lee, antrean panjang dan harga tinggi bisa mendorong pelanggan untuk beralih ke pesaing seperti seri G7X dari Canon dan seri GR dari Ricoh. Ricoh juga mengumumkan peluncuran kamera film pertamanya dalam sekitar 20 tahun, Pentax 17, minggu ini.

Manajer grup pencitraan, Igarashi, mengakui bahwa volume produksi merupakan tantangan, tetapi desain dan kompleksitas X100 membuatnya sulit diproduksi secara besar-besaran.

“Kami berupaya keras untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja, jumlah jalur produksi, dan sebagainya, tetapi hal ini tidak berjalan secepat yang mungkin Anda bayangkan,” katanya. [ah/ft]

Sumber Berita

Apa Reaksimu?

Lainnya Dari BuzzFeed