Connect with us

Sejarah

Cerita Mbah Loreng dan Bentuk Penghormatan Orang Jawa kepada Harimau

Cerita Mbah Loreng dan Bentuk Penghormatan Orang Jawa kepada Harimau

[ad_1]

Ada masanya ketika harimau tidak dianggap semata-mata sebagai ancaman. Bahkan, keberadaannya dianggap berperan dalam menjaga ketentraman desa yang bersangkutan. Mereka disebut berdialog lewat isyarat yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu.

Kawanan harimau Jawa yang tinggal di hutan konon memiliki pemimpin gaib. Simbah pimpinan inilah yang kemudian ‘mbahu reksa’ atau melindungi dan memimpin kawanannya di alam liar. Sementara warga ingin membuka hutan (mbabat sayang), maka sesepuh harus terlebih dahulu membakar kemenyan dan membaca mantra.

Lalu simbah pemimpin harimau akan muncul untuk berdialog dengan warga, kemudian penguasa hutan ini akan memberikan ijin untuk membuka lahan pemukiman. Secara tradisional diyakini harimau cenderung menghindari manusia. Namun, interaksi antara harimau dan manusia sudah ada sejak zaman dulu.

Robert Wessing dalam tulisannya menjelaskan pada awal abad ke-19, masih banyak harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) yang berkeliaran. Terkadang tempat hidup harimau tumpang-tindih dengan tempat hidup manusia di tepi hutan. Pada masyarakat Jawa kala itu, ada kepercayaan bahwa harimau adalah jelmaan roh leluhur yang menjaga dan memantau perilaku penduduk desa.

Orang Keraton (orang kota Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta) memandang harimau sebagai simbol sifat liar, tak bisa diatur, dan bertentangan dengan budaya adiluhung. Terlepas dari keragaman itu, masyarakat Jawa pada dasarnya menaruh hormat pada harimau. Mereka memanggil harimau dengan panggilan takzim, yakni ‘mbah’, ‘nenek’, ‘kiai’, ‘kiaine’, atau ‘abah gede’.

Mengenang Samong, Harimau Bali yang Telah Punah

“Gajah kita panggil simbah gede, harimau kita panggil simbah loreng, atau simbah karet: yang mencakar sambil menyeret,” ujar Ismanu, yang mengaku pernah membuka hutan sekitar Talang Tengah, Ngaras, dikutip dari Nasional geografis.

Jarang sekali warga di bentang alam Bukit Barisan Selatan menggunakan kata harimau. Menyebutkan kata harimau, diyakini hanya mencari hal yang disebut pemangsa. Harimau dianggap memiliki telinga bumi.

Bila menyebut harimau, kata ini akan merambat di dalam tanah, ia mendengar, lalu datang. Harimau memang dipercaya punya kesaktian supernatural, lengkap dengan mitos dan legendanya.

Harimau dan hutan dipandang sebagai satu kesatuan. Saat seseorang mencari kayu di hutan, orang itu akan dihalangi oleh harimau. Namun, saat orang itu akan memburu harimau, hutan itu akan menyembunyikan harimau, malah orang itu akan dibuat tersesat oleh hutan yang angker. Banyak juga yang mempercayai harimau adalah penjaga hutan yang akan dirusak oleh manusia.

“Maka jika etika itu dilanggar, biasanya diperingati oleh auman harimau, bahkan bisa didatangi,” ucap Hudan Zulkarnaen, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ujung Kulon, dikutip dari Liputan6.com.

Harimau juga dipandang sebagai satu keturunan dengan manusia. Saat masuk hutan, orang harus meminta izin kepada harimau, “mbah, mohon jangan sakiti saya. Saya putra Adam. Silakan lewat dan jangan ganggu saya.” biasanya ucapan izin ini diikuti salawat.

Karena menganggap bahwa harimau dan manusia satu keturunan, memunculkan imajinasi manusia bisa berubah menadi harimau – paling tidak kerusupan – atau sebaliknya harimau bisa menjelma sebagai manusia.

Harimau Jawa pada masanya terkenal bijaksana. Tidak mau mengganggu manusia dan tidak mau memangsa ternak. Mereka hidup bersama kawanannya di hutan dengan aturan-aturan yang diberlakukan kepada sesama mereka sendiri.

“Ada yang bilang, kalau bertemu manusia, ia tidak akan mendapatkan makanan selama 40 hari. Jadi, sifat binatang itu sebenarnya menghindari manusia. Kalau bertemu manusia, dia terpergok betul,” ucap Ismanu.

Perubahan budaya bencana

Perubahan sosial-budaya pada masyarakat Jawa secara tidak lansung menimbulkan fenomena kepunahan harimau. Menurut Guru Besar Etnobiologi Universitas Padjajaran Bandung, Johan Iskandar, masyarakat pedesaan Indonesia pada mulanya melihat pemamfaatan dan pengelolaan sumberdaya hayati dan lingungan dipengaruhi akan kepercayaan dan pantangan.

“Sekarang kepercayaan penduduk terhadap macan telah berubah. Banyak tidak percaya lagi pada mitos. Itu suatu kerugian bagi konservasi,” katanya yang dilansir dari Mongabay.

Menurut Johan, kearifan lokal telah menjadi konservasi alami harimau selama ratusan tahun. Terlebih bagi sebagian mayarakat memandang harimau sebagai sosok yang ditakuti sekaligus dihormati. Baik harimau di Sumatera, Jawa, dan Bali kerap diasosiasikan dengan leluhur. Pendeknya, macan loreng adalah satwa keramat yang dituakan.

“Dulu (harimau) di Sunda disebut menak, Jawa simbah, dan Sumatera datuk. Mereka memperlakukan dengan terhormat,” ujarnya.

Sikap hormat ini mempengaruhi etika ketika manusia bertemu harimau. Mereka tidak kaget sehingga mengurangi konflik. Namun, perubahan ekologis barangkali turut menjadi sebab munculnya konflik antara harimau dan manusia. Hutan-hutan mulai dibabat demi memperluas pemukiman dan kepentingan manusia. Pada 1822, pemerintah kolonial mulai memperkerjakan pemburu harimau.

Pada pertengahan abad ke-19, pembukaan hutan membawa perubahan besar-besaran, senapan digunakan, dan membunuh harimau jadi lebih efisien. Semakin luasnya pemukiman penduduk, itu berarti menggusur hutan tempat harimau bernaung.

“Maka hasilnya, jumlah harimau anjlok drastis,” kata Wessing.

Menurut Peter Boomgraad, pada tahun 1855 saja, sebanyak 147 orang di Priangan tewas dimangsa harimau. Sedangkan jumlah harimau yang dibunuh sebanyak 1.100 ekor per tahun di pulau Jawa.

Hal ini tidak heran karena pemerintah Belanda akan membagikan gulden kepada mereka yang bisa membunuh harimau. Uang ganjaranya senilai 25-50 gulden. Bagi orang Jawa, hadiah sebesar itu, cukup untuk bekal makan setahun penuh.

Apakah Benar Harimau Pernah Eksis di Kalimantan?

Boomgraad juga menulis bahwa orang Jawa lebih sering membunuh harimau ketimbang orang Sumatra. Mungkin juga karena hutan Sumatra lebih rimbun, sementara di Jawa hutan dibuka selama masa kerja rodi dan politik etis.

Selain itu, raja-raja Jawa kerap memiliki kandang harimau dalam istananya. Keberadaan kandang-kandang tersebut berkaitan dengan ritual yang dikenal rampogan sima atau macan. Di mana harimau dan macan tutul diburu beramai-ramai menggunakan tombak di sebuah tanah lapang.

Ritual yang berlangsung sejak abad 17-19, selain sebagai ritual unjuk gigi prajurit istana, juga merupakan simbol penjajahan. Sialnya, macan ditaruh sebagai manifestasi bangsa penjajah dan perlu dibumi hanguskan.

Soal rampogan sima, R Kartawibawa dalam buku “Bakda Mawi Rampog” menjelaskan bahwa harimau tua dilarang digunakan dalam acara. Pasalnya, bila harimau tua dan besar dibunuh dalam rampogan sima, rohnya bisa menghantui para pembunuhnya dan membuat kekacauan negara. Harimau yang tua dan besar boleh dibunuh dengan cara dibenamkan di sungai. Terlepas dari itu, acara rampogan sima tetap berujung matinya harimau.

Seiring dengan zaman kolonialisme, rampogan sima menjadi lestari. Hasrat untuk menghabisi penganggu yang dulu dianggap sebagai ‘simbah’ dan ‘kiai’ mendapatkan pelampiasannya lewat rampogan sima. Sebuah perubahan budaya yang baru bisa dipahami, meski pahit.

“Ketika itu (pandangan alam tradisional) mati, maka harimau juga mati, karena pertahanan harimau oleh adat adalah bagian dari adat, sebagaimana harimau itu sendiri,” kata Wessing dalam “The Last Tiger in East Java : Symbolic Continuity in Ecological Change.”

Dilestarikan dalam budaya

Lukian Kebakaran Padang Rumput tahun 1849 yang dibuat oleh Raden Saleh bercerita tentang macan loreng. Pada lukisan 300 X 398, dirinya sengaja membuat orang marah dengan tragedi kebakaran yang mengepung satwa hingga ujung jurang. Boleh dibilang, harimau punya tempat spesial bagi pelopor seni modern Indonesia itu.

Harimau menjadi binatang ketiga terbanyak dalam lukisan-lukisannya, setelah banteng dan singa. Ia melukis binatang itu sebagai penghormatan kepada alam tropis. Konon, lukisan-lukisannya dibuat untuk menyindir manusia yang melakukan perburuan atas harimau.

Sementara itu seorang seniman asal Blitar bernama Kholam Siharta yang peduli terhadap budaya rampogan menggabungkan tari Barongan dan tradisi Rampogan macan. Ia ingin menampilkan tradisi ini dalam sajian yang berbeda. Bukan hanya mengkreasikan tarian, tapi pemuda tersebut juga menyampaikan pesan kepada para penikmat seni untuk menjaga sesama makhluk hidup.

Jika pada umumnya topeng kepala barong menampilkan kepala harimau, pada barong perampokan memiliki hiasan leher berupa puluhan tusuk sate yang menggambarkan tombak yang ditusukkan ke tubuh harimau. Melalui Barong Rampog, Kholam ingin menggambarkan bagaimana perasaan harimau ketika disiksa oleh manusia yang menodongkan tombak ke tubuhnya.

Harimau Sumatera di Medan Bertambah Lagi

Lain lagi bagi masyarakat di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, yang merupakan penduduk asli Ujung Kulon. Mereka menyakini kucing besar penguasa rimba itu belum punah, bahkan kerap mendatangi perkampungan pada waktu tertentu.

“Apalagi menjelang bulan Maulid (Maulid Nabi Muhammad SAW), biasanya beberapa rumah didatangi harimau,” ucap Huddan.

Harimau Jawa telah lama dinyatakan punah. Pada tahun 1970, Internasional Konservasi Alam (IUCN) menaikan statusnya dari level sangat rentan ke level punah. Status kepunahan harimau Jawa itu pun kembali diperkuat tahun 1980. Kendati demikian, dekade 1990-an, ada beberapa laporan tentang keberadaan hewan berloreng itu di sejumlah tempat di Pulau Jawa, walaupun hal itu tidak dapat diverifikasi.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Sejarah

Melihat Perkembangan Kapal Pinisi dan Budaya Maritim di Nusantara

Melihat Perkembangan Kapal Pinisi dan Budaya Maritim di Nusantara

[ad_1]

Nelayan/Markus Tinner/Unsplash


“Nenek moyang saya adalah pelaut, suka mengarungi lautan”.

Tentunya Kawan GNFI tidak akan asing lagi dengan penggalan lirik lagu anak–anak tersebut. Nenek moyang kita memang pelaut yang ulung. Mereka adalah penjelajah samudra menggunakan kapal-kapal berteknologi tinggi. Dari Selat Malaka, Semenanjung Arab, hingga Tanjung Harapan di Afrika sudah mereka lalui.

Bahkan, peta penjelajahan orang-orang Jawa kuno sudah mencantumkan daerah Brazil di Amerika Selatan. Kalau kita melihat catatan kuno Tiongkok yang ditulis sekitar 131 Masehi, orang-orang Jawa dulu lah yang pertama kali menjalin hubungan antara kedua negara.

Padahal, pada waktu itu, Tiongkok belum memiliki kebudayaan berlayar. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa kita jauh lebih unggul dalam teknologi kapal dibandingkan Tiongkok, yang notabene sudah sangat maju peradabannya pada kala itu.

Awal Sejarah Kemaritiman Indonesia

info gambar

Potret Tim patroli KP Hiu 12, PSDKP Lampulo menangkap KIA | Foto: Dok. PSDK Lampulo (Kompas.com/Raja Umar)


Sejarah kemaritiman Indonesia bisa kita telusuri dari awal perdagangan rempah-rempah di nusantara. Entah mulai kapan rempah ini populer, tetapi sejak awal sejarah, rempah-rempah yang hanya tumbuh di Kepulauan Maluku, Jawa, Sumatra dan pulau lainya menjadi komoditas yang sangat laris di pasaran.

Bukan hanya di pasaran nusantara, tetapi sangat dicari di seluruh dunia. Hal ini praktis membuat nusantara menjadi jalur perdagangan yang sangat ramai pada kalanya. Dari kegiatan perdagangan itu akhirnya mendorong orang-orang nusantara untuk menciptakan berbagai teknologi kapal.

Entah itu untuk keperluan kargo atau pun militer, guna menjaga laut dari para perompak. Bahkan, salah satu teknologi kapal nusantara, yaitu kapal jung telah tercatat oleh para Pelaut Portugis yang kala itu berhasil menguasai Pelabuhan Malaka.

Jung Jawa, Kapal Raksasa Legendari yang Serang Portugis di Malaka

Menurut orang–orang Portugis, kapal jung milik para Pelaut Jawa benar–benar mengerikan. Ukurannya yang terlampau besar, membuat kapal terbesar Portugis tidak terlihat seperti kapal sama sekali. Bahkan, kapal milik Pati Unus yang merupakan Panglima Demak mampu memuat lebih dari 10.000 prajurit.

Lalu, jika kita adalah keturunan pelaut, mengapa kita sekarang begitu jauh dari budaya bahari? Mengapa begitu banyak dari kita yang begitu takut dengan laut?

Bahkan, banyak sekali mitos yang menyeramkan tentang laut. Mulai dari Legenda Ratu Kidul, Nyi Rara Kidul, Nyi Blorong, dan lainya. Apakah sudah tidak tersisa lagi kebudayaan maritim dari nenek moyang kita?

Akan sangat merugi tentunya jika memang tidak ada yang tersisa. Namun, betapa beruntungnya kita masih banyak komunitas masyarakat yang memegang teguh warisan leluhurnya. Salah satunya adalah orang–orang Konjo dengan Kapal Pinisi yang melegenda, yang telah terdaftar di UNESCO sebagai Mahakarya Agung Warisan Budaya Tak Benda yang dimiliki Bangsa Indonesia.

Melihat kapal pinisi Indonesia

Potret kapal pinisi | Foto: trivago.com.au

info gambar

Potret kapal pinisi | Foto: trivago.com.au


Kapal pinisi ini sangat unik, karena dalam proses pembuatannya dikerjakan secara tradisional, mengandalkan keahlian tangan para ahli kapal dari suku Konjo. Pengerjaannya dilakukan secara gotong royong dan dipimpin oleh seorang pawang kapal yang biasa disebut dengan Panrita Lopi.

Panrita Lopi memimpin jalanya pembuatan kapal dari penebangan bahan kayu pertama hingga kapal siap untuk berlayar. Teknik pembuatannya juga berbeda dengan pembuatannya kapal lain. Papan-papan kayu di kapal ini tidak disatukan menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak kayu dari bahan kayu yang tersisa.

Pinisi sendiri sebenarnya bukanlah julukan pada sebuah kapal. Namun, merujuk pada sebuah sistem layar, tiang-tiang layar dan konfigurasi tali yang secara turun-temurun terekam dalam tradisi Suku Konjo. Sistem pinisi ini sering diterapkan di kapal dengan jenis lambung Lambo dan palari, kapal dengan jenis inilah yang biasanya disebut dengan kapal pinisi.

Dahulu, kapal pinisi digunakan orang–orang Bugis untuk mengarungi samudra yang luas. Tujuh samudra sudah ditaklukkan. Hal ini disimbolkan dengan tujuh layar yang dimiliki oleh kapal pinisi.

Kora-kora, Kapal Perang Kebanggaan Ternate yang Usir Portugis di Maluku

Kapal pinisi juga menjadi simbol akan ramainya jalur perdagangan di nusantara, khususnya di wilayah timur yang menjadi pusat dari komoditi rempah–rempah di dunia. Orang–orang Bugis menggunakan kapal pinisi sebagai kapal barang untuk mengangkut rempah–rempah, yang diperdagangkan di Pulau Jawa, Malaka, hingga ke seluruh penjuru dunia.

Saat ini, kapal pinisi digunakan sebagai alat transportasi nelayan di Bulukumba dan sekitarnya. Para nelayan menggunakannya untuk mencari ikan. Layar sudah tidak menjadi penggerak utama, tenaganya diganti dengan motor baling–baling.

Namun, tak jarang juga kapal pinisi banyak digunakan untuk pariwisata. Bagi wisatawan yang ingin mencoba menaiki kapal tradisional dan merasakan pengalaman tinggal di atas kapal, pinisi adalah pilihan yang terbaik. Bahkan, banyak selebriti yang menggunakan jasa pinisi ketika berlibur.

Pelestarian Pinisi

Perahu pinisi bulukumba | Foto: Celebes.co

info gambar

Perahu pinisi bulukumba | Foto: Celebes.co


Kapal pinisi menjadi salah satu simbol kebudayaan maritim yang masih terjaga di Indonesia. Festival besar setiap tahun diadakan di Bulukumba sebagai upaya pelestarian. Memang upaya pelestarian harus selalu digalakkan untuk menjaga tradisi ini.

Tradisi kapal pinisi menyimpan pengetahuan lokal mengenai berbagai hal. Mulai dari pengetahuan pemilihan bahan kapal, teknik perencanaan, perakitan, hingga pelayaran.

Dalam upaya pelestarian kapal pinisi, sepertinya harus dilakukan pendekatan lain. Jika hanya mengandalkan festival, pengetahuan dari tradisi pembuatan kapal pinisi tidak akan berkembang dan sulit untuk di pelajari lebih lanjut.

Ini 5 Kapal Tradisional Khas Indonesia Bukti Nenek Moyang Seorang Pelaut

Sangat mungkin jika tradisi dari pembuatan kapal pinisi, diekstrak menjadi kurikulum yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Namun, tentunya juga harus diperhatikan secara teliti mengenai segala aspek pembuatannya dari awal hingga akhir.

Tradisi pembuatan kapal pinisi harus dilihat secara utuh, sebagai sebuah warisan leluhur yang harus diteruskan pengetahuannya. Dengan begitu, nilai–nilai yang terkandung di dalamnya tidak ada yang tereduksi.

Selain itu, pinisi juga bisa dikolaborasikan dengan keberadaan jalur pempah di nusantara. Pinisi bisa digunakan untuk pelayaran pariwisata menyusuri jalur rempah. Maka, terjalin keterkaitan sejarah antara kapal pinisi dan keberadaan jalur rempah di nusantara.*

Referensi:Geografis Nasional | IDNTimes

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.jshttps://platform.instagram.com/en_US/embeds.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Sejarah

Kisah Baharuddin Lopa, Sang Penegak Tiang Hukum Indonesia

Kisah Baharuddin Lopa, Sang Penegak Tiang Hukum Indonesia

[ad_1]

Pada Selasa malam, 3 Juli 2001, hujan deras disertai petir melanda langit Istana Negara yang mengagetkan Presiden Abdurahman Wahid. Dia mengunci diri di kamarnya dan terisak. Saat tangisannya sedikit mereda, Gus Dur berkata lirih, “Malam ini, salah satu tiang langit Indonesia runtuh!”

Tidak seorang pun yang paham maksudnya, pasalnya tidak biasanya cucu dari Hadratussyaikh Hasyim Ashari itu menangis tersedu-sedu. Pada pukul 11 malam, tangis dan ucapan Gus Dur akhirnya terjelaskan. Berdering telepon dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh, Arab Saudi menyampaikan kabar duka ke seluruh penjuru tanah air.

Jangka Agung Baharuddin Lopa telah dipanggil pencipta. Sontak, berita meninggalnya Lopa yang baru dilantik pada 5 Juni 2001, langsung menimbulkan keterkejutan sekaligus menularkan kabung yang dalam. Sebelumnya, Lopa memang berangkat menuju Arab untuk serah terima jabatan Duta Besar RI untuk Arab Saudi sekaligus melakukan ibadah umroh.

Ternyata, usai Umroh, Lopa kelelahan dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Namun dikabarkan, dirinya terkena serangan jantung hingga akhirnya meninggal. Penyebab kematian Lopa sendiri hingga kini belum diketahui pasti. Kepergiannya tentu sangat mengejutkan masyarakat Indonesia. Sebab, Lopa diharapkan mampu mendobrak kebuntuan penegakan hukum.

Pria kelahiran 27 Agustus 1935 di Dusun Pambusuang, Sulawesi Selatan, ini memang terkenal sebagai tokoh anti-korupsi. Dikutip dari buku Sejarah Pemikiran Indonesia (1967-1998), sosok Lopa digambarkan sebagai pendekar yang pantang mundur dan berani menanggung risiko. Dirinya mengawali karir sebagai jaksa di Kajari Makassar pada tahun 1958, usianya saat itu 23 tahun.

Kepatuhan Lopa pada hukum, tampak pada sikapnya yang tak ingin menerima barang dalam bentuk apapun sebagai hadiah. Haram bagi Lopa menerima sogokan dalam bentuk apapun. Bahkan ketika Lebaran menjelang, sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, ia menegaskan kepada anak buahnya untuk tidak menerima parsel lebaran.

Hoegeng Iman Santoso, Polisi Merakyat yang Anti Korupsi

Sesampainya di rumah, ia melihat ada dua paket di rumahnya. Dengan ekspresi masam di wajahnya, Lopa bertanya ke seluruh rumah.

“Siapa yang kirim parsel ke sini!?” tanya Lopa

Seisi rumah pun tak ada yang menjawab. Kemudian, Lopa melihat salah satu parsel yang sedikit terkelupas. Lopa pun bertanya kembali.

“Siapa yang membuka parsel ini!” tanya Lopa lagi.

Tak lama kemudian, seorang putrinya menghampiri Lopa untuk meminta maaf, karena telah membuka parsel dan mengambil sepotong cokelat dalam parsel tersebut. Lopa kemudian meminta anaknya yang lain membeli cokelat dengan ukuran dan jenis yang sama, untuk mengganti cokelat di parsel tersebut.

Selama menjabat menjadi Kajati Sulsel, Indrawulan Majid Tongai–istrinya–saat itu selalu naik bus bila pulang ke Majene. Padahal saat itu semestinya Indrawulan diantar oleh kendaraan dinas. Aturan ini memang berlaku untuk semua anggota keluarganya, yakni tak boleh diantar oleh kendaraan dinas.

Hanya itu? Rupanya tidak.

Lopa juga mengunci telepon rumah dinas agar tidak digunakan untuk kepentingan pribadi keluarganya. Mereka disarankan memakai telepon koin yang sudah disediakan. Anak kedua Lopa, Iskandar Muda Baharuddin Lopa, menilai ajaran ayahnya mendidiknya agar tidak manja.

“Bapak tidak mampu memberi kalian lebih dari yang Bapak mampu. Bapak tidak mau memberi kalian makan dari sumber-sumber yang syubhat, haram, dan melanggar hukum,” ungkap Iskandar.

“Kalian harus selalu jujur bersikap, berkata, dan memakai nurani. Dengan ini kalian akan berani mengambil sikap, setia pada keberanian dan tidak akan menyimpang,” kata Iskandar menirukan pesan Sang Ayah.

Tegas sejak awal karir

“Kendati kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan! Jangan takut menegakkan hukum dan jangan takut mati demi menegakkan hukum!”. Demikian petikan kalimat dari Baharuddin Lopa yang cukup terkenal. Meski sudah 20 tahun berpulang, namanya tetap melegenda sebagai sosok pendekar hukum yang anti-korupsi.

Saat statusnya masih Mahasiswa Hukum di Universitas Hasanuddin, Lopa diminta menjadi jaksa di Kajari Makassar. Dua tahun di sana, prestasinya di bidang hukum cukup baik, lalu kemudian diangkat menjadi Bupati Majene di usia 25 tahun. Usia yang tergolong masih sangat muda untuk jabatan bupati.

Di usia itu, dia ditugaskan untuk menyelesaikan berbagai macam kasus hukum yang terjadi di Majene. Salah satunya kasus yang membelit seorang penguasa perang asal Mandar, bernama Andi Selle. Andi Selle adalah Komandan Batalyon 710 yang terkenal kaya karena terlibat kasus penyelundupan kopra.

Pada suatu waktu, Lopa pernah ditawarkan uang untuk mendukung bisnis Selle. Tapi Lopa kemudian mengatakan bahwa kebijakan pemerintah itu harus yang terbaik bagi rakyat, bukan untuk kepentingan penguasa. Setelah mengucapkan itu, kehidupan Lopa mulai terusik. Nyawanya sering diancam untuk dibunuh.

Selle pernah mengajak Lopa adu tembak, tapi ditolaknya. Setelah itu, Selle sering meneror Lopa. Beruntung, saat itu Kapten dari satuan Kepolisian bernama Andi Dadi melindungi nyawanya. Setelah menjadi bupati, ia kembali menjadi jaksa di Kejaksaan Tinggi Maluku dan Irian Barat sebelum menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Negeri di Ternate.

Di Ternate, Lopa pernah menolak diberikan satu truk durian. Sejawatnya banyak mengenang Lopa sebagai pribadi yang religius. Lebih sering ke pasar daripada mall, menolak segala bentuk parsel saat Lebaran, walau itu dari teman dekatnya. Lopa takut pemberian itu suatu saat akan dikasuskan.

Mohammad Hatta, Memperjuangkan Ekonomi Rakyat Indonesia Lewat Koperasi

Saat diangkat menjadi Kajati Sulsel, Lopa menggebrak kasus korupsi di bidang reboisasi yang nilainya mencapai Rp7 miliar. Keberaniannya menyeret Tony Gozal alias Go Tiong Kien ke pengadilan dengan tuduhan memanipulasi dana reboisasi Rp2 miliar. Padahal sebelumnya, Tony dikenal sebagai orang yang ‘kebal hukum’ karena dekat dengan petinggi.

Salah satu kasus terbesar yang ditangani Lopa adalah kasus korupsi Soeharto. Saat itu ia menjabat sebagai Seketaris Jenderal Komnas HAM. Soeharto sering dipanggil, tapi selalu absen dengan alasan sakit. Meski begitu, ia berhasil meringkus salah satu sahabat Soeharto, yakni Bob Hasan.

Lopa berhasil memasukan Bob ke dalam LP Nusakambangan. Meski saat itu, Soeharto sedang memimpin dan Lopa bisa saja terancam. Setelah kejadian itu, Soeharto tahu betul pergerakan Lopa akan membahayakan kekuasaanya. Maka dari tahun 1988 hingga 1995, dirinya hanya ditugaskan sebagai Direktur Jenderal Lembaga Permasyarakatan, sejak itu Lopa tidak lagi disibukkan dalam mengusut kasus hukum.

Awal tahun 2001, ia diminta Presiden Abdurahman Wahid menggantikan Yusril Ihza Mahendra menjadi Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Belum setengah tahun menjabat sebagai Menkeh dan HAM, Lopa diperintahkan Gus Dur untuk menggantikan Jaksa Agung Marzuki Darusman yang dinilai tak becus mengusut kasus korupsi.

Sepak terjang Jaksa Agung

“Saya tidak boleh memilih-milih. Kasus yang belum selesai, diselesaikan. Bagi saya, itu semua prioritas,” ucapnya kepada para wartawan yang menemuinya di Ruang Adhi Wicaksana Kejaksaan Agung, usai dirinya dilantik.

Pernyataan tersebut tidak layanan bibir. Dirinya langsung melacak keberadaan tersangka mark-up Hutan Tanaman Industri, Prajogo Pangestu, yang merugikan negara sekitar Rp331 miliar dan penyalahgunaan dana reboisasi senilai Rp1 trilun lebih. Prajogo saat itu mengaku berobat di Singapura, tapi Lopa tancap gas mengaktifkan kembali status tersangka Prajogo.

Lopa juga menguber bos Bank Dagang Nasional Indonesia, Sjamsul Nursalim, tersangka kasus penyalahgunaan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang menilap uang negara hingga Rp7,28 triliun. Sjamsul saat itu mengaku tengah berobat ke Jepang, tapi Lopa mewanti-wanti pada anak buahnya agar tersangka kasus kakap ini tidak sampai lolos.

Dari banyaknya kasus besar yang ditanganinya, satu kasus yang paling ambisus adalah kekayaan Soeharto. Sesuai hasil penelusuran Transparansi Internasional pada 1998, keluarga Soeharto ditaksir telah membegal uang negara 30 miliar dolar AS selama memerintah. Karena itu, Lopa ingin mengejar Soeharto agar diganjar sanksi perdata.

Mengenal Sosok dan Cerita di Balik Pembuatan Uang Penerbitan Khusus Soeharto

“Saya ingin bertanya kepada Jaksa Agung, sudahkah diteliti betul-betul pemberkasan kasus Soeharto itu? Apakah saksi-saksinya sudah cukup dan memberi keterangan yang berarti? Sudah adakah barang bukti yang akan diajukan? Sudahkah dilakukan penyitaan sementara terhadapnya?” tulis Lopa yang termuat dalam buku Kompas dengan judul Kejahatan Korupsi dan Penegakan Hukum (2001).

Dalam tulisan lain, Lopa menyayangkan mereka yang masih berkutat dan menyoal berapa uang negara yang dikorupsi Soeharto dan anak-anaknya. Bagi Lopa, perdebatan tentang nominal yang dicoleng keluarga Soeharto bukan soal yang terlalu mendesak.

“Yang penting bagi rakyat, adalah kekayaan yang seluruhnya atau sebagian diperoleh secara tidak wajar, segera disita/dirampas dan digunakan untuk menolong kehidupan rakyat dalam memenuhi kebutuhan bahan pokok. Aset itu berasal dari rakyat. Karena itu, harus pula kembali kepada rakyat.”

Tapi Lopa seperti nasib orang jujur pada zamannya, banyak yang menginginkanya mundur dari jabatan. Dirinya mengaku ada tiga orang yang mendesaknya mundur dari jabatan Jaksa Agung. Hal ini disampaikanya kepada Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sempat bertemu Lopa di Makkah, ketika melaksanakan umrah.

“Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, sehingga logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa Agung.”

Tapi Lopa tetap Lopa. Prinsipnya jangan pernah takut mati untuk menegakkan hukum. Sebagai penegak hukum, dia menentang perbuatan salah dengan begitu jelas dan tegas. Namun, Lopa harus meninggalkan semua bungkusan yang ingin dibukanya saat Sang Pencipta memanggilnya.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Sejarah

Plengkung Gading Yogyakarta, Gapura dengan Segudang Cerita | Good News From Indonesia

Plengkung Gading Yogyakarta, Gapura dengan Segudang Cerita | Good News From Indonesia

[ad_1]

Plengkung Gading atau Plengkung Nirbaya dapat kita jumpai pada daerah Keraton Jogja, di Jalan Patehan Kidul, Kecamatan Kraton. Terletak di sebelah selatan Yogyakarta, jaraknya kurang lebih 300 meter dari Alun-Alun Kidul atau Alun-Alun Selatan.

Selain Plengkung Gading, di kawasan Keraton Jogja terdapat plengkung lain, seperti Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan), Plengkung Nirbaya, Plengkung Madyasura (Plengkung Buntet), Plengkung Jagasurya (terletak di sebelah barat alun-alun utara), Plengkung Jagabaya (Plengkung Tamansari) .

#makintahuindonesia#Indonesia#KeratonYogyakarta#Yogyakarta#Semenit

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close