Business is booming.

Bisnis Kreatif Pembuangan Sampah Melalui Aplikasi


Pembuangan sampah di Indonesia belum sepenuhnya ditangani oleh pemerintah. Tak heran jika kehadiran jasa pengambilan sampah yang bernama Angkuts disambut baik pelayanannya di Pontianak, Kalimantan Barat. Angkuts dikelola oleh seorang yang pernah mengikuti program ekonomi kreatif di Amerika.

Berdasarkan studi mengenai pengelolaan sampah yang dilakukan Unilever Indonesia, bekerjasama dengan Sustainable Waste Indonesia (SWI) dan Indonesian Plastics Recyclers (IPR), diketahui bahwa proses daur ulang masih belum maksimal dan merata.

Sebagai contoh di Pontianak, salah satu kota terbesar di Kalimantan itu, sampah rumah tangga dan lainnya sering menumpuk di lingkungan perumahan dan di beberapa titik jalanan. Ditambah lagi, kurangnya sumber daya manusia untuk membawa sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Ilustrasi. Sampah kertas bercampur sampah plastik. (Foto: Petrus Riski/VOA).

Ilustrasi. Sampah kertas bercampur sampah plastik. (Foto: Petrus Riski/VOA).

Model Bisnis Kemitraan Melalui Aplikasi

Hal itulah yang menggugah keinginan Mohamad Hafiz Waliyuddin, 28 tahun, untuk membuka layanan jasa pengambilan sampah. Dengan latar belakang pendidikan Teknik Informatika, Hafiz panggilan akrabnya, membuat usaha ekonomi kreatif bernama Angkuts, yang bisa diunduh melalui aplikasi.

Seperti halnya Gojek dan Grab, ia ingin agar melalui model bisnis kemitraan yang dilakukannya itu, usaha Angkuts-nya bisa menaikkan status para pemulung, di samping memberi solusi masalah persampahan, seperti yang ia jelaskan kepada VOA.

“Melihat pola persampahan yang masih rumit, jadi kita kasih solusi melalui IT kebetulan juga menduplikasi model bisnis kemitraannya, menaikkan status sosial tukang sampah. Nah kalau di pemerintah kota terutama di Pontianak, itu kan hanya melayani TPS ke TPA yang memakai truk, sementara kami mengambil sampah dari sumber yaitu dari rumah, restoran atau kantor-kantor.”

Hafiz bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pontianak, Tinorma Butar Butar pada acara kegiatan lingkungan. (Foto: Courtesy/Hafiz)

Hafiz bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pontianak, Tinorma Butar Butar pada acara kegiatan lingkungan. (Foto: Courtesy/Hafiz)

400 Ton Sampah Sehari

Pontianak menghasilkan sampah sebanyak 400 ton sehari dan baru bisa diatasi 350 ton yang dibawa ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) oleh pemerintah kota. Sedangkan jasa Angkuts menangani 5 ton sampah sehari yang diambil dari para pelanggannya untuk dibuang ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara).

Model bisnis Angkuts yang mulai diperkenalkan tahun 2015 itu sampai sekarang sudah mempunyai lebih dari 200 pelanggan yang terdiri dari rumah tangga, kantor dan rumah makan yang minta diambil sampahnya melalui jasa Angkuts ini.

Salah seorang pelanggannya Wandy Farsuandy mengatakan, “Selama ini ngga pernah ada dari pemerintah yang menyediakan layanan mengambil sampah ke rumah-rumah, paling mereka mengambil sampah dari TPS saja. Nah begitu ada Angkuts, ya Angkuts lah yang mengambil sampah ke rumah kami dua kali seminggu, Rp 40 ribu sebulan dan merasa terbantulah jadi tidak perlu cape-cape lagi membuang sampah sendiri ke TPS.”

Berkat layanan jasa mengambil sampah lewat aplikasi Angkuts ini, pemungut sampah mendapat Rp6,2 juta sebulan. Namun pada masa pandemi, mereka hanya memperoleh Rp3 juta karena banyak kantor dan rumah makan yang tutup.

Para pemulung dan pembuang sampah di Pontianak merasa terangkat bekerja sama dengan Angkuts. Mereka mengambil sampah dengan sepeda motor beroda tiga dengan bak sampah panjang di belakangnya.

Hafiz ketika mengikuti IVLP di Amerika. (Foto: Courtesy/Hafiz)

Hafiz ketika mengikuti IVLP di Amerika. (Foto: Courtesy/Hafiz)

Hafiz sebagai penggagas model bisnis ini sering pula bekerjasama dengan para penggiat untuk menangani program lingkungan yang sehat dan bersih, seperti dijelaskan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pontianak, Tinorma Butar Butar.

“Hafiz ini pemuda penggiat lingkungan yang sangat peduli tentang lingkungan di kota Pontianak, terutama bagaimana sampah di masyarakat bisa ditangani dan menjadi peningkatan ekonomi anak muda ataupun masyarakat yang bekerjasama dengannya. Sekarang terbantu dan sekarang banyak sekali yang dia perbuat buat kota Pontianak, terutama buat kami Dinas Lingkungan Hidup,” paparnya.

Program IVLP di Amerika

Hafiz mengatakan, International Visitor Leadership Program (IVLP) yang ia ikuti tahun 2018 di Amerika itu memberinya banyak pengetahuan tentang ekonomi kreatif dan wirausaha pemula. Program itu juga mengajak Hafiz mengunjungi lembaga pendidikan dan eko sistem di Seattle, Cleveland dan Charlotte di AS.

Kini layanan pembuangan sampah Angkuts lewat aplikasi itu sedang ia kembangkan ke kota-kota besar lain di Kalimantan. [ps/em]



Source link