Connect with us

PENDIDIKAN

Bertindak secara Lokal untuk Kepedulian Global

Bertindak secara Lokal untuk Kepedulian Global

[ad_1]

Seperti tren di berbagai belahan dunia, di Indonesia, toleransi menjadi kepedulian pemerintah, walaupun seperti disitir dalam siaran pers Setara Institute pada bulan April lalu, “intoleransi beragama dan kekerasan atas nama agama masih menjadi persoalan yang perlu mendapat penanganan yang komprehensif dan holistik.” Namun, Setara Institute juga mengakui peran pemerintah dalam upaya memajukan toleransi dengan “berbagai inisiatif dan arah kebijakan memperlihatkan gerak maju.”

Dalam bidang pendidikan di Indonesia, toleransi menjadi perhatian penting, yang tidak hanya diajarkan, tetapi juga diupayakan pengamalannya, termasuk di sekolah-sekolah yang tidak berbasis agama, seperti disampaikan oleh Dr. Itje Chodidjah, MA, pakar pendidikan dan anggota Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah.

Dr. Itje Chodidjah, MA, Pakar Pendidikan dan Anggota Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (foto: courtesy).

Dr. Itje Chodidjah, MA, Pakar Pendidikan dan Anggota Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (foto: courtesy).

“Berbicara tentang toleransi adalah berbicara tentang keadilan. Selain dalam praktek, pemangku kebijakan juga harus terus mengingatkan, jangan lupa bahwa adalah hak setiap anak untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan dalam proses pendidikan termasuk perilaku toleransi dari lingkungannya, dari sekolah, dari semua stakeholder yang ada di sekolah,” tukasnya.

Dr. Chodidjah menambahkan bahwa pembelajaran toleransi tercakup dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “Jadi, kalau berbicara sekolah di Indonesia tentunya kalau melihat undang-undang Sisdiknas setiap anak mendapatkan kesempatan, saya yakin semua sekolah berusaha untuk berlaku toleran dan mendidik anak-anak untuk bertindak toleran.”

Dr. Chodidjah mengakui bahwa dalam praktek di lapangan tentu masih ada kesenjangan dari satu daerah ke daerah lainnya, dari satu sekolah ke sekolah yang berbeda. “Selama ini hasilnya barangkali belum bisa dikatakan merata karena kami masih mendengar ada larangan-larangan tertentu yang dimasukkan ke dalam aturan tidak tertulis, tetapi dalam tindakan, dalam ucapan, dan sebagainya, yang mana semua ini harus bersama-sama kita selalu ingatkan.”

Sebagai anggota Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah, Dr, Chodidjah menegaskan, “bagaimana toleransi diajarkan dan diamalkan di sekolah menjadi bagian dari penilaian untuk sekolah terakreditasi atau tidak.”

“Salah satu butir dari 44 butir yang ada itu berbicara tentang toleransi beragama….. Instrumen itu baru diperbaharui. It’s stated clearly in the document,” tambahnya.

Selain upaya pemerintah pada berbagai tingkatan, dari pusat hingga daerah, termasuk dengan upaya membentuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), kelompok- kelompok masyarakat di Indonesia juga peduli dengan pentingnya toleransi dengan membentuk berbagai forum antariman. Seperti banyak diberitakan di berbagai media massa di Indonesia, banyak sekolah, termasuk yang berbasis agama, juga melakukan kegiatan-kegiatan untuk mempromosikan toleransi.

Siswa-siswi SD Kristen Petra Jombang menyalami siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyyah-Plosogenuk yang mengunjungi sekolah mereka (Foto:VOA/Petrus Riski).

Siswa-siswi SD Kristen Petra Jombang menyalami siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyyah-Plosogenuk yang mengunjungi sekolah mereka (Foto:VOA/Petrus Riski).

Sebagai contoh, upaya tersebut dapat dijumpai di kota Jombang, Jawa Timur. Sekolah Dasar Kristen Petra di kota santri itu menjalin hubungan dengan Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah di kota yang sama, dengan saling kunjung.

Ririnurani Setianingrum, Kepala Sekolah Dasar Kristen Petra, Jombang (foto: courtesy).

Ririnurani Setianingrum, Kepala Sekolah Dasar Kristen Petra, Jombang (foto: courtesy).

Kepala SDK Petra Ririnurani Setianingrum mengatakan kepada VOA bahwa keinginan bersilahturami untuk membangun toleransi itu terpenuhi dengan dorongan pendeta gerejanya dan karena difasilitasi dan dimediasi oleh jaringan Gusdurian dan Lakpesdam NU Jombang.

“Jadilah kunjungan dilakukan ke Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Plosogenuk, Jombang,” ujarnya, seraya menambahkan “tujuan silaturahmi adalah untuk menjalin hubungan agar anak-anak saling kenal dan saling sayang, membangun toleransi dan inklusivitas.”

“Mereka menyatu, jadi membaur, ya anak-anak banget gitu lho, polos dan saya senang sekali melihatnya. Kalau misalnya kita perkenalkan yang baik, ini lho saudaramu walaupun berbeda agama, mereka harus saling kenal,” kata Ririn.

Para siswa dan guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyyah-Plosogenuk menjalankan salat Maghrib di halaman gereja di komplek SD Kristen Petra Jombang. (Foto: VOA/Petrus Riski)

Para siswa dan guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyyah-Plosogenuk menjalankan salat Maghrib di halaman gereja di komplek SD Kristen Petra Jombang. (Foto: VOA/Petrus Riski)

Senada dengan pendapat itu, Gus Nadlir, selaku kepala sekolah MI Islamiyah mengatakan bahwa dia menyambut gagasan pertemuan tersebut.

Nadlir, Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Plosogenuk, Perak, Jombang (foto: courtesy).

Nadlir, Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Plosogenuk, Perak, Jombang (foto: courtesy).

“Mungkin ini jalan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk lembaga kami belajar secara riil. Oleh karena itu kami ucapkan terima kasih kepada Gusdurian dan Lakpesdam yang memperkenalkan kami dengan pembelajaran seperti ini. Tujuan kami adalah menanamkan pada anak-anak didik kami toleransi, kebersamaan dan saling mengenal satu sama yang lain dan menambah teman serta saudara.”

Gus Nadlir menambahkan bahwa upaya menanamkan toleransi sejak dini itu mendapat tanggapan yang baik dari para siswa dan pemangku kepentingan di sekolahnya. “Alhamdulillah tujuan itu tercapai dengan baik. Anak-anak sangat senang. Ada dukungan dari pengawas kami untuk menyelenggarakan atau mengagendakan kegiatan selanjutnya. Untuk rencana kedepannya, kami masih menunggu COVID ini berlalu.”

Ririn juga mengatakan bahwa pada akhir kunjungan ke MI Islamiyah, anak-anak memberikan kesan-kesan mereka, antara lain anak-anak berjanji akan datang ke SDK Petra. Kunjungan balasan itupun akhirnya menjadi kenyataan pada bulan Ramadan lalu. “Ketika mau buka puasa bersama mereka kan salat magrib dulu. Ketika salat Maghrib saya itu sampai trenyuh. Ibu pendeta Diah, juga guru-guru yang lain, dan murid-murid saya yang saya libatkan di sore hari itu, mereka pegang selang air membantu mereka (para siswa dari MI Islamiyah) yang berwudhu.”

Para siswa MII Plosogenuk, Perak, Jombang bermain bersama para siswa SD Kristen Petra Jombang (foto: courtesy).

Para siswa MII Plosogenuk, Perak, Jombang bermain bersama para siswa SD Kristen Petra Jombang (foto: courtesy).

Ririn menyatakan harapannya bahwa kebersamaan yang selama ini terwujud terus bisa dipupuk. “Jombang sebagai kota santri bukan hanya slogannya, tetapi benar-benar santri karena santri itu kan artinya dekat dengan Tuhan atau orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh. Orang yang dekat dengan Tuhan itu biasanya sangat peduli dengan sesama.”

Diharapkan bahwa acara dan cara menanamkan toleransi yang dilakukan oleh SDK Petra dan MI Islamiyah itu bisa direplikasi oleh sekolah-sekolah lain di Indonesia, karena seperti kata Setara Institute dalam siaran persnya, “toleransi adalah DNA bangsa Indonesia, yang secara historis diwariskan oleh nenek moyang agar antar anak bangsa yang berbeda suku, etnis, agama serta kepercayaan dapat saling berinteraksi, bergotong royong, dan bersama-sama membangun kerukunan dan harmoni.” [lt/ab]

[ad_2]

Advertisement
Click to comment

PENDIDIKAN

COVID Mendorong Universitas Untuk Tidak lagi Menggunakan Tes Standar

COVID Mendorong Universitas Untuk Tidak lagi Menggunakan Tes Standar

[ad_1]

Salah satu korban pandemi adalah tes standar masuk perguruan tinggi seperti SAT (Scholastic Aptitude Test/Tes Kemampuan Skolastik), dan tampaknya itu tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Awal tahun ini Dewan Perguruan Tinggi Amerika yang mengelola tes masuk perguruan tinggi mengumumkan SAT akan ditunda hingga 2022 atau ditiadakan sama sekali.

Tes-tes itu, SAT dan ACT (American College Testing/Tes Masuk Perguruan Tinggi) telah menjadi ritus peralihan dan bagian penting dari proses penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi. Para pendidik menganggapnya sebagai cara yang jelas untuk menilai tingkat kesiapan akademik calon mahasiswa.

Seorang mahasiswa yang mengenakan masker, karena pengobatan kankernya telah membuatnya tertekan kekebalan dan rentan terhadap penyakit seperti virus corona, berjalan melalui Halaman di Universitas Harvard. (Foto: Reuters)

Seorang mahasiswa yang mengenakan masker, karena pengobatan kankernya telah membuatnya tertekan kekebalan dan rentan terhadap penyakit seperti virus corona, berjalan melalui Halaman di Universitas Harvard. (Foto: Reuters)

Hafeez Lakhani mengelola perusahaan yang membantu para siswa mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi.

“…kesulitan mendapatkan nilai A bisa sangat berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Jadi, di sinilah bagian standar dari tes standar cukup penting. Dengan siswa yang sama dari SMA yang sangat berbeda, kita dapat melihat perbandingan kemampuan dalam pemecahan masalah mereka berdasarkan hasil skor pada SAT atau ACT,” katanya.

Namun selama bertahun-tahun, para pakar pendidikan, seperti Akil Bello dari National Center for Fair and Open Testing (Pusat Nasional untuk Pengujian yang Adil dan Terbuka), telah mengritik penyelenggaraan tes-tes itu dengan mengatakan bahwa tes-tes demikian tidak menilai kemampuan siswa secara adil, tetapi lebih menyukai siswa yang memiliki hasil tes yang baik dan lebih mampu secara finansial.

“Semakin kita menggunakan pengujian standar, semakin kita menguntungkan mereka yang memiliki uang untuk membayar persiapan ujian standar. Hal itu juga mengecualikan berbagai kelompok demografis yang hanya bergantung pada pendidikan yang mereka terima,” katanya.

Anais Chubukian menghabiskan dua tahun terakhirnya selagi masih menjadi siswa di sekolah menengah atas untuk mempersiapkan tes standar. Orang tuanya membayar tutor, dengan biaya $3000.

“Ini lebih seperti strategi tes. Jika Anda tahu cara menjawab pertanyaan dengan lebih mudah, itulah yang diajarkan oleh para tutor kepada saya. Mereka mengajarkan cara mengerjakannya,” ujarnya.

Menanggapi keputusan untuk menunda tes standar, seperti SAT, lebih dari 1500 perguruan tinggi dan universitas AS menjadikan tes itu tidak wajib. Kebijakan itu akan tetap berlaku hingga musim gugur 2022 di sebagian besar universitas AS termasuk universitas-universitas yang dalam Ivy League.

Ivy League yang awalnya digunakan dalam konteks olah raga itu kemudian merujuk pada delapan universitas yang tergabung dalam kelompok perguruan tinggi elit karena keunggulan akademik, seleksi dalam penerimaan mahasiswa, dan elitisme sosial. Kedelapan universitas itu adalah Brown University, Columbia University, Cornell University, Dartmouth College, Harvard University, University of Pennsylvania, Princeton University, dan Yale University.)

Adeoluwa Fatukasi, mantan siswa sekolah menengah atas di Washington, DC, termasuk di antara mereka yang memutuskan untuk tidak mengikuti tes standar. Dia diterima di University of Pennsylvania.

Seorang mahasiswa Universitas Negeri Dakota Utara (NDSU) yang mengenakan masker pelindung berjalan melewati gedung Teknik Selatan di kampus saat wabah COVID-19 berlanjut di Fargo, Dakota Utara, AS, 25 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Bing Guan)

Seorang mahasiswa Universitas Negeri Dakota Utara (NDSU) yang mengenakan masker pelindung berjalan melewati gedung Teknik Selatan di kampus saat wabah COVID-19 berlanjut di Fargo, Dakota Utara, AS, 25 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Bing Guan)

“Saya disarankan untuk mengambil tes secara opsional untuk perguruan tinggi saya yang lebih selektif,” katanya.

Berbagai kritik terhadap tes-tes standar mendorong universitas-universitas untuk memberlakukan kebijakan tutup mata terhadap tes-tes itu.

“Beberapa perguruan tinggi yang kebijakannya jauh lebih jelas – seperti sistem Universitas California dan St. Mary di Texas – telah mengumumkan bahwa mereka sama sekali tidak akan melihat nilai ujian! Jadi, jika Anda mengirimkan hasil tes itu, mereka tidak akan mempertimbangkannya. Dan saya pikir itu adalah kebijakan yang sangat jelas, yakni meminta siswa untuk fokus pada kemampuan akademik di sekolah dan minat pribadi,” papar Akil Bello.

Anais dan Adeoluwa masuk ke universitas yang mereka inginkan. Namun, walaupun masa depan mereka terlihat cerah, masa depan tes masuk perguruan tinggi, masih belum jelas. [lt/ka]

[ad_2]

Continue Reading

PENDIDIKAN

Dosen Peraih Pulitzer Beralih Ke Universitas Lain Karena Alasan Diskriminasi

Dosen Peraih Pulitzer Beralih Ke Universitas Lain Karena Alasan Diskriminasi

[ad_1]

Perselisihan mengenai apakah universitas negeri unggulan North Carolina (UNC) akan memberikan Nicole Hannah-Jones jabatan dosen seumur hidup di fakultasnya telah memicu protes berminggu-minggu dari dalam dan luar kampus itu.

Banyak profesor dan alumni menyampaikan rasa frustrasi, dan selama protes mahasiswa kulit hitam dan fakultas mempertanyakan apakah universitas yang didominasi warga kulit putih itu menghargai mereka.

“Saya kira pesan yang disampaikan di sini adalah, satu, universitas harus bekerja lebih baik bukan hanya merekrut anggota fakultas, namun juga melindungi anggota fakultas dan mahasiswa, kita juga punya pilihan dan kita tidak harus bertahan pada lembaga-lembaga tetapi juga, kita punya pilihan dan tidak harus bertahan di institusi yang tampaknya tidak menghormati apa yang kita sumbangkan,” ujar Hannah-Jones dalam sebuah wawancara dengan The Associated Press.

Nicole Hannah-Jones berdiri untuk potret di rumahnya di wilayah Brooklyn di New York, Selasa, 6 Juli 2021. Hannah-Jones mengatakan dia tidak akan mengajar di University of North Carolina di Chapel Hill setelah pertengkaran berkepanjangan atas masa jabatan

Nicole Hannah-Jones berdiri untuk potret di rumahnya di wilayah Brooklyn di New York, Selasa, 6 Juli 2021. Hannah-Jones mengatakan dia tidak akan mengajar di University of North Carolina di Chapel Hill setelah pertengkaran berkepanjangan atas masa jabatan

Hannah-Jones pemenang Hadiah Pulitzer untuk karyanya di majalah The New York Times berjudul 1619 Project yang berfokus pada sejarah perbudakan Amerika, Selasa (6/7), mengatakan permohonan jabatannya terhenti setelah adanya campur tangan politik dari kalangan konservatif dan keberatan oleh donor utama di sekolah jurnalisme itu.

Ia menyesali badai politik yang mengganggunya sejak Proyek 1619 diterbitkan, dimana kalangan konservatif termasuk mantan Presiden Donald Trump mengecam karya tersebut.

“Pendidikan publik seharusnya tidak menjadi tempat indoktrinasi, seharusnya bukan mengenai patriotisme, melainkan harus menjadi tempat mencari kebenaran. Bagaimana anak-anak kita, bisa tumbuh untuk memahami negara yang sangat terpecah yang menjadi tempat tinggal kita,” katanya.

Papan nama elektronik menyambut orang-orang di kampus Universitas Howard di Washington. (Foto: AP/Jacquelyn Martin)

Papan nama elektronik menyambut orang-orang di kampus Universitas Howard di Washington. (Foto: AP/Jacquelyn Martin)

Hannah-Jones sebaliknya akan menerima tawaran posisi tetap sebagai Ketua Kehormatan dalam Ras dan Jurnalisme di Howard, universitas kulit hitam bersejarah di Washington, D.C. Howard University Selasa juga mengumumkan jurnalis dan penulis pemenang penghargaan, Ta-Nehisi Coates akan bergabung dengan fakultasnya.

Coates, yang memenangkan Penghargaan Buku Nasional untuk karya “Antara Dunia dan Aku”, dan Hannah-Jones, telah mendapat hibah “jenius” dari lembaga MacArthur untuk tulisan-tulisan mereka.

Pejabat UNC mengatakan Permohonan Hannah-Jones sebagai dosen tetap di sekolah jurnalisme UNC diajukan ke dewan penasihat universitas itu tahun lalu, tetapi terhenti setelah seorang anggota dewan yang memeriksa penetapan itu mengajukan pertanyaan mengenai latar belakang nonakademiknya.

Bukannya diterima, sebaliknya mulanya ia ditawari kontrak mengajar selama lima tahun. Kemudian di tengah meningkatnya tekanan, dewan penasihat universitas itu akhirnya menyetujui permohonannya dan memutuskan memberi Jones jabatan dosen tetap.

Dekan Fakultas Jurnalisme UNC, Susan King, yang mendukung pengajuan permohonan Hannah-Jones dalam sebuah pernyataan mengatakan: “Kita tidak mengharapkan apa pun selain sukses dan berharap UNC bisa belajar dari drama masa jabatan tetap ini, bagaimana kita sebagai komunitas cendekiawan harus berubah untuk berkembang.”

Nicole Hannah-Jones menghadiri Upacara Penghargaan Peabody Tahunan ke-75 di Cipriani Wall Street di New York. (Foto: AP/Evan Agostini)

Nicole Hannah-Jones menghadiri Upacara Penghargaan Peabody Tahunan ke-75 di Cipriani Wall Street di New York. (Foto: AP/Evan Agostini)

Rektor UNC belum menanggapi permohonan berkomentar yang diajukan kantor berita AP.

Menurut data universitas tersebut, pendaftaran mahasiswa baru UNC sekitar 60% adalah warga kulit putih dan 8% kulit hitam.

Penunjukan Hannah-Jones dan Coates di Howard didukung oleh dana hampir $20 juta yang disumbangkan oleh tiga yayasan filantropi dan donor anonim. Howard University mengatakan sumbangan tersebut merupakan hibah untuk meningkatkan investasi Howard pada jurnalis kulit hitam. [my/jm]

[ad_2]

Continue Reading

PENDIDIKAN

Larry Dalang Cilik Keturunan Tionghoa

Larry Dalang Cilik Keturunan Tionghoa

[ad_1]


Biasanya menjadi seorang dalang adalah bakat turun-temurun dari orang tuanya. Anak seorang dalang bisa mendalang tanpa belajar secara formal. Ia mengikuti ayahnya selagi mendalang dengan membawakan peralatan, menata panggung, mengatur tokoh-tokoh wayang dan mempersiapkan wayang yang akan dimainkan.

Kebanyakan bakat mendalang diperoleh dari sang ayah yang seorang dalang. Namun, tidak demikian dengan Larry Allen Santoso, 11 tahun asal Surakarta. Larry besar dari kedua orangtua keturunan Tionghoa, tidak mempunyai latar belakang profesi dalang sedikitpun. Memang mereka bisa mengerti bahasa Jawa karena tinggal di Solo, tetapi mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari di rumah.

Jadi apa yang membuat Larry tertarik pada wayang? Kepada VOA ia menuturkan, “Waktu itu lewat alun-alun, terus ada yang jual wayang, (tokoh) Abimanyu. Larry tertarik, terus dibelikan oleh papa. Ya, tertarik ukiran-ukiran di wayangnya, tapi nggak paham.”

Larry Allen Santoso berlatih di rumahnya dengan seperangkat wayang (courtesy: Olivia).

Larry Allen Santoso berlatih di rumahnya dengan seperangkat wayang (courtesy: Olivia).

Semula Larry kurang tahu soal wayang, apalagi waktu itu Larry duduk di sekolah internasional. Tetapi setelah pindah ke sekolah swasta Indonesia, Larry diajarkan bahasa Jawa dalam salah satu mata pelajarannya. Itulah yang membuatnya makin tahu dan sedikit demi sedikit memahami cerita wayang dan kemudian ingin menjadi dalang.

Ibu Larry, Olivia Kristantyo yang menemani Larry ketika ditemui VOA merasa senang putra tunggalnya itu menyukai wayang, “Saya melihat dia punya kelebihan dan keunikan yang berbeda dari lainnya, seperti mendalang ini kan tidak semua anak mau menekuni tanpa harus saya dorong. Tapi dia memang benar-benar mempelajari. Kalau saya, bakat anak itu biarkan berkembang, tidak harus semuanya (secara) akademis”, ujarnya.

Padahal, Olivia menceritakan bahwa Larry pernah mengalami keterlambatan berbicara (speech delay) . “Sewaktu usianya sudah 3 tahun, Larry baru bisa mengucapkan satu kata saja. Dia juga disleksia,” kata Olivia. Maka ia membawa Larry ke pakar perkembangan anak, Diaz Robertus yang memiliki Klinik Terapi Maksimal di Surakarta.

Larry bersama kedua orangtuanya (courtesy: Olivia).

Larry bersama kedua orangtuanya (courtesy: Olivia).

Motivasi, percaya diri, kemandirian

Ketika VOA menanyakan bagaimana seorang anak yang mengalami keterlambatan berbicara dan disleksia, justru kini bahkan bisa menjadi dalang, yang mempunyai persyaratan menghafal dialog dan cerita dari tiap adegan, serta harus kaya dengan kosa kata?

Terapis Diaz menjelaskan, “Itu adalah sebuah kemampuan yang sangat kompleks, ada juga emosi ya… jadi waktu dia membaca cerita, kan ada emosi di dalamnya yang harus dia keluarkan, dan itu harus pas seperti ceritanya itu. Untuk anak-anak berkebutuhan khusus, motivasi, percaya diri dan kemandirian, 3 hal ini selalu saya kejar. Nah, anak waktu mereka mendapat ketiga hal ini, akan bisa melakukan banyak hal di luar yang mereka bayangkan.”

Dalam kesehariannya, Larry suka memainkan wayang. Hingga kini ia sudah dua kali pentas, yang pertama pada waktu HUTnya ke-9 dan dalam sebuah festival Hari Wayang Sedunia. Larry memilih sendiri cerita yang akan ia pentaskan, seperti Bima Maguru dan Gatotkaca Jedi.

Larry dan Kukuh Ridho Laksono, guru mendalangnya (courtesy: Kukuh)

Larry dan Kukuh Ridho Laksono, guru mendalangnya (courtesy: Kukuh)

Larry mempunyai dua guru dalang. Salah seorang guru privatnya, Kukuh Ridho Laksono yang sudah 3 tahun mengajar Larry mengatakan, “Kalau di WA itu dia sudah punya jalan cerita. Mas saya mau lakon ini, trus dia nulis alur ceritanya. Keinginannya ada, terus untuk kemampuan suaranya bagus, tidak fals di laras gamelan. Trus saya yang nabuh dan dia menirukan, supaya nadanya pas dengan gamelan.”

Menurut Kukuh, mengajar anak seusia Larry harus pintar memahami jalan pikiran dan perasaannya. Terkadang mereka mengagumi tohoh atau superhero dalam film atau video. Maka sebagai dalang pengajar, Kukuh menyadarkan Larry bahwa di dalam pewayangan juga banyak tokoh pahlawan, contohnya Bima, Gatotkaca, Arjuna dan masih banyak lagi.

Dalang Internasional

Ibu Larry menyediakan seperangkat wayang beserta layarnya karena Larry suka memainkan wayang sambil mempraktekkan keterampilan mendalang di rumahnya.

Larry sewaktu pentas (foto: courtesy)

Larry sewaktu pentas (foto: courtesy)

“Cita-cita Larry mau jadi dalang sampai keluar negeri. Kepengin jadi dalang internasional, supaya semua orang tahu wayang, bisa tahu wayang Indonesia,” ujarnya menutup bincang-bincangnya dengan VOA.

Semoga sosok seperti Larry diikuti oleh makin banyak anak Indonesia yang mengagumi dan melestarikan budaya nenek moyangnya. [ps/em]

[ad_2]

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close