Connect with us

EKSBIS

Bertemu Dubes Kazakhstan, Sandiaga Uno Bahas Kerja Sama Charter Flight Direct hingga Halal Business

Avatar

Published

on

Bertemu Dubes Kazakhstan, Sandiaga Uno Bahas Kerja Sama Charter Flight Direct hingga Halal Business

[ad_1]

JAKARTA – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno melakukan pertemuan dengan Duta Besar Kazakhstan untuk Indonesia, Daniyar Sareknov, pada Selasa, 15 Juni. Dalam pertemuan tersebut keduanya menjajaki potensi kerja sama pariwisata dan ekonomi kreatif.

Peluang kerja sama tersebut, kata Sandiaga meliputi rencana charter flight direct dari Surabaya dan Bali, Indonesia ke Almaty, Kazakhstan, dan sebaliknya dari Kazakhstan ke Indonesia.

Saat ini maskapai penerbangan Kazakhstan, Air Astana, telah membuka penerbangan langsung ke beberapa negara Asia, seperti Kuala Lumpur, Bangkok, Hong Kong, Ho Chi Minh City, Seoul, Beijing, dan Tokyo.

“Saya sangat optimistis pascapandemi ini kita bisa menghasilkan kerja sama dan saling berkolaborasi dalam mengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di kedua negara,” katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis 17 Juni.

Tak hanya itu, dalam pertemuan tersebut keduanya juga membahas wisata halal. Menurut Sandiaga, wisata halal juga memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan, karena Kazakhstan memiliki beberapa tempat-tempat bersejarah Islam di wilayah Turkistan, yang sedang berkembang sebagai kawasan wisata.

“Halal businesses juga menjadi peluang yang potensial, karena permintaan pasar untuk menghadirkan bisnis halal seperti hotel, restoran halal cukup tinggi, sehingga Kazakhstan diproyeksi bisa menarik pengusaha Indonesia untuk berinvestasi mengembangkan usaha halal. Begitupun dengan produk halal, Indonesia bisa mengekspor makanan halal ke Kazakhstan,” ucapnya.

Di samping itu, Sandiaga juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran Dubes Kazakhstan, Daniyar Sareknov. Ia berharap potensi peluang kerja sama ini akan mempererat hubungan bilateral antar-kedua negara, khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Serta dapat membantu mempromosikan dan menghadirkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo di lima destinasi super prioritas, adalah Borobudur, Danau Toba, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya mengusulkan untuk membuat virtual trip antara Kazakhstan dengan Indonesia.

“Ini untuk membangun kesadaran akan destinasi wisata di kedua negara, serta meningkatkan kepercayaan wisatawan bahwa Indonesia telah mengimplementasi protokol kesehatan yang ketat di tiap destinasi wisata,” kata Nia.

Sementara, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizky Handayani berpendapat bahwa charter flight direct idealnya tidak hanya dibuka dari Surabaya dan Bali saja, tapi juga dari kota Jakarta.

“Karena, wisatawan dari Jakarta juga potensial untuk melakukan penerbangan ke Kazakhstan,” kata Rizky.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan dari Kazakhstan ke Indonesia pada 2019 sebanyak 9.781 wisatawan. Namun, pada 2020 jumlah wisatawan tersebut mengalami penurunan akibat pandemi COVID-19 yakni sebesar 3,671. Dengan adanya peluang kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan Kazakhstan ke Indonesia.

Di samping itu, peluang kerja sama ini diharapkan dapat menjadi tindak lanjut bagi payung kesepakatan di bidang ekonomi yang belum rampung dibahas. Karena kedua negara belum memiliki Perjanjian Perlindungan Pajak Berganda, Perjanjian Perlindungan Investasi, dan Perjanjian Perdagangan Bilateral dimana ketiga perjanjian tersebut sangat diperlukan bagi pelaku usaha untuk mendukung kegiatan ekonomi baik dalam rangka investasi maupun perdagangan langsung.

Indonesia sesuai dengan minat wistawan Kazakhstan

Duta Besar Kazakhstan untuk Indonesia, Daniyar Sareknov mengatakan bahwa wisatawan Kazakhstan sangat menyukai pantai sebagai destinasi tujuan. Karena Kazakhstan tidak memiliki pantai. Untuk itu, Indonesia sangat sesuai dengan minat wisatawan Kazakhstan.

“Sebagai tindak lanjut dari pembahasan kita kali ini, kita bisa melakukan virtual meeting untuk membahas lebih rinci. Dan saya berharap peluang kerja sama ini dapat dituangkan ke dalam perjanjian G to G atau nota kesepahaman,” katanya.

Indonesia melalui Kemenparekraf/Baparekraf telah melakukan kerja sama dengan Uni Emirat Arab (UEA) dalam pengembangan ekonomi kreatif, khususnya di subsektor arsitektur, fesyen, desain, seni rupa, dan publikasi.

Kerja sama ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno bersama Menteri Kebudayaan dan Pemuda UEA Noura bint Mohammed Al Kaabi yang diselenggarakan secara hybrid pada Jumat, 5 Maret 2021 di Manado dan Abu Dhabi.

.

[ad_2]

Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

EKSBIS

Sekuat Apa Pengaruh Batu Bara Indonesia ?

Avatar

Published

on

Sekuat Apa Pengaruh Batu Bara Indonesia ?
Ilustrasi Penambangan Batu Bara di Indonesia. duniatambang.co.id

BuzzFeed – Kebijakan pelarangan ekspor batu bara Indonesia terhitung sejak 1 Januari hingga 31 Januari 2022 telah mendatangkan protes dari negara pengimpor batu bara, Jepang, Korea Selatan, India termasuk negara yang protes terhadap kebijajan ini.

Upaya tersebut dilakukan karena kekhawatiran terhadap rendahnya pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam negeri. Presiden Joko Widodo (Jokowi) melarang ekspor batu bara sejak 1 Januari 2022 lantaran PT PLN (Persero) mengalami krisis batu bara sehingga berpotensi menyebabkan pemadaman listrik.

 

Kenapa Dihentikan ?

Porsi batu bara dalam bauran energi Indonesia mencapai sekitar 60 persen. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan pada awal 2022, Perusahaan Listrik Negara (PLN) hanya mendapatkan sebesar 35.000 ton batu bara. PLN mengamankan 13,9 juta ton pada Rabu (5/1/2022), masih membutuhkan enam juta ton lagi agar stok mencukupi kebutuhan untuk 20 hari yaitu sebesar 20 juta ton. PLN pada November diperkirakan membutuhkan 119 juta ton pada 2022.

Kedutaan Besar Jepang di Indonesia mengirimkan surat kepada pemerintah Indonesia agar batu bara berkalori tinggi, yang biasanya tidak digunakan untuk pembangkit listrik di Indonesia, tetap bisa dikirim ke Negeri Sakura tersebut. Jepang sendiri membeli kualitas batu bara berkaloi tinggi, berbeda ketimbang yang dibeli oleh negara lain.

Data dari Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2020, Indonesia mengekspor sebesar 26,97 juta ton ke Jepang pada 2020. Jumlah ini terbesar ketiga setelah ekspor ke China sebesar 127,79 juta ton dan India 97,51 juta ton.

Indonesia sendiri merupakan negara eksportir batu bara terbesar di dunia. Pada tahun 2019 (sebelum covid-19 menyebar), Indonesia mengirim 455 juta ton batu bara ke pasar global. Batu bara asal Indonesia menyumbang 41% pasar dunia

Sumber: Statista

Menariknya, aturan larangan ini tidak berdampak signifikan pada pembeli utama batu bara dari Indonesia, yakni Cina. Cina telah meningkatkan produksi batu bara domestik untuk mencegah kekurangan bahan bakar tahun lalu. Permintaan batu bara di Cina juga diproyeksi akan menurun menjelang tahun baru imlek.

“Bahkan jika larangan batu bara Indonesia mulai berlaku pada Januari, dampaknya terhadap keseluruhan inventaris pembangkit listrik domestik secara umum masih dapat dikendalikan,” kata China Fengkuang Coal Logistics, dikutip dari Bloomberg, Selasa (4/1).

Sementara untuk, Korea Selatan melalui Menteri Perdagangan Yeo Han-koo telah meminta dengan kepada Indonesia agar segera mencabut larangan ekspor batu bara. Permintaan ini disampaikan Yeo Han-koo dalam rapat secara daring dengan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor batubara Indonesia ke Korea Selatan tahun 2020 mencapai 24,83 juta ton. Nilai ini mencapai US$ 1,04 miliar. Pembelian impor batubara

Korea Selatan didominasi oleh batubara asal Australia pada tahun 2021, sebanyak 49%, lalu 20% dari Indonesia dan 11% dari Rusia.


Dhia Sukmahadi Putra Nugraha, Mahasiswa Universitas Jendral Soedirman Purwokerto

Continue Reading

EKSBIS

PMI Manufaktur Negara Maju, China Masih Dibawah Indonesia!

Avatar

Published

on

PMI Manufaktur Negara Maju, China Masih Dibawah Indonesia!
Presiden Joko Widodo saat melepas ekspor produk Indonesia. (Foto: Dokumentasi BPMI Setpres)

BuzzFeed – Berdasarkan hasil survei IHS Markit, Purchasing Managers’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan Desember sebesar 53,3 atau masih diatas level ekspansif (50). Oleh karena itu ditunjukkannya dengan Aktivitas sektor industri manufaktur di Indonesia cukup menggeliat hingga tutup tahun 2021, sejalan dengan meningkatnya produksi dan permintaan pasar ekspor.

“Kami mengapresiasi kepercayaan para pelaku industri manufaktur yang masih tinggi. Bahkan, mereka tetap optimistis pada tahun ini seiring dengan tekad pemerintah dalam menjalankan berbagai kebijakan strategis untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, Senin (03/01/2022) dilansir dari Sekretariat Kabinet RI.

Pasalnya, PMI Manufaktur Indonesia tersebut melampaui PMI Manufaktur negara-negara ASEAN seperti Thailand (50,6), Filipina (51,8), Vietnam (52,2), dan Malaysia (52,8). Bahkan juga mampu unggul terhadap PMI Manufaktur Korea Selatan (51,9), Rusia (51,6), dan Tiongkok (49,9).

Pihaknya akan berfokus pada hilirisasi industri dalam rangka peningkatan nilai tambah suber daya alam di Indonesia. Hal tersebut sebagai upaya memberikan kontribusi secara makro bagi perekonomian nasional.

Salah satu terobosannya yakni pembukaan lapangan kerja dan penerimaan devisa dari ekspor, yang berujung pada kesejahteraan masyarakat.

“Sesuai yang disampaikan Bapak Presiden Joko Widodo, ekonomi nasional mulai pulih dan kuat kembali. Hal ini ditandai dengan neraca dagang kita yang surplus 34,4 miliar Dolar AS, dan kondisi surplus tersebut dapat dipertahankan selama 19 bulan. Ekspor kita juga naik secara y-on-y hingga 49,7 persen,” bebernya.

Menperin menyebutkan, selama ini sektor industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional.

Pada Januari-November 2021, nilai ekspor dari industri manufaktur mencapai 160 miliar Dolar AS atau berkontribusi sebesar 76,51 persen dari total ekspor nasional.

Angka ini telah melampaui capaian ekspor manufaktur sepanjang tahun 2020 sebesar 131 miliar Dolar AS, dan bahkan lebih tinggi dari capaian ekspor tahun 2019.

Jika dibandingkan dengan Januari-November 2020 (c-to-c), kinerja ekspor industri manufaktur pada Januari-November 2021 meningkat sebesar 35,36 persen. Kinerja ekspor sektor manufaktur ini sekaligus mempertahankan surplus neraca perdagangan yang dicetak sejak bulan Mei 2020.

“Kenapa ekspor kita bisa naik setinggi itu? Salah satunya karena kita berani untuk menghentikan ekspor raw material, seperti bahan mentah dari minerba, yaitu nikel. Dari awalnya, ekspor sekitar 1-2 miliar Dolar AS, kini sudah hampir mencapai 21 miliar Dolar AS. Oleh sebab itu, Bapak Presiden telah memberikan arahan untuk melanjutkan setop ekspor bauksit, tembaga, timah, dan lainnya, karena hilirisasi menjadi kunci dalam kenaikan ekspor kita,” paparnya.

Sementara itu, impor untuk bahan baku dan bahan penolong juga naik sebesar 52,6 persen. Bahan baku dan bahan penolong ini sebagai kebutuhan untuk diolah oleh industri di dalam negeri sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Indikator pulihnya perekonomian nasional, juga ditunjukkan dari peringkat daya saing Indonesia yang terus meningkat, baik itu dari aspek bisnis maupun digital.

“Dalam posisi yang sangat berat pada tahun 2021 karena dampak pandemi, kita masih mampu naik ranking. Di aspek bisnis dan digital, naik tiga peringkat semuanya,” tuturnya.

Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional, Menperin menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,5-5 persen pada tahun 2022.

“Kami fokus untuk terus membangun sektor industri manufaktur yang berdaulat, mandiri, berdaya saing, dan inklusif,” pungkasnya.

Continue Reading

EKSBIS

Djoko Ardhityawan, Dosen IKHAC Beberkan Prospek dan Strategi Tanam Padi Japonica Organik

Aji Cahyono

Published

on

Djoko Ardhityawan, Dosen IKHAC Beberkan Prospek dan Strategi Tanam Padi Japonica Organik
Ilustrasi Petani. (Sapariah Saturi/ Mongabay Indonesia)

BuzzFeed – Berkurangnya minat masyarakat untuk bertani, Dosen Institut Kyai Haji Abdul Chalim (IKHAC), Djoko Ardhityawan mengungkapkan bahwa generasi muda tidak malu untuk menjadi petani. Pasalnya, profesi petani yang dijumpai saat ini masih didominasi oleh generasi yang sudah tua.

“Bertani itu keren,” ungkapnya ketika diwawancarai oleh Jurnalis BuzzFeed Indonesia pada Senin, 3 Januari 2022.

Kendati demikian, menurutnya menjadi petani mempunyai prospek, strategi dan inovasi demi terlaksananya ketahanan pangan. Salah satunya adalah menanam padi Japonica

“Prospek untuk padi japonica sangat cerah untuk kedepan menurut perkiraan saya karena kadar gula rendah, pulen dan enak. Untuk strategi penanaman kami menerapkan sistem kemitraan dengan petani dengan menyiapkan bibit dan pupuk organik.” ucapnya.

“Inovasinya adalah dengan memperkenalkan sistem pertanian yang saling menguntungkan lewat agen2 milenial di pedesaan sehingga dengan usia yang kurang lebih sebaya kita dapat lebih mudah menarik minat generasi muda untuk kembali menjadi petani milenial. Menjadi petani itu keren adalah moto kami,” tambahnya.

Kemudian, ia menyampaikan soal ketersediaan pupuk organik dapat bekerja sama dengan kelompok tani dengan membuat sendiri pupuk cair berbahan baku organik yang bebas residu kimia berbahaya. Sehingga kedepan beras produksi bisa dikategorikan sebagai beras organik dan disisi lain pengolahan sawah menjadi lebih murah.

“Dan terpenting adalah beras organik harganya jauh lebih mahal dari beras biasa,” ketiknya.

Ia membeberkan soal berdasarkan demplot di Kediri, penggunaan pupuk organik cukup baik untuk diterapkan pada padi jenis japonica sehingga secara berkala akan meninggalkan pemakaian pupuk non organik.

“Rencana kedepan kami akan mengembangkan kemitraan di jawa timur dan tidak menutup kemungkinan di seluruh indonesia,” paparnya.

 

Dosen IKHAC dan Hobi di Sektor Pertanian

Menjadi seorang tenaga pendidik sebagai dosen sebuah perguruan tinggi tak lantas membuat Djoko Ardhityawan menepikan hobi dalam sektor pertanian. Potensi tersebut mengantarkan ia untuk terjun langsung ke lahan persawahan menanam padi jenis Japonica yang sudah dikembangkan di Indonesia sejak 2017 lalu.

Djoko memulai upaya tanam di Kediri. Salah satu wilayah lumbung pertanian di Jawa Timur. Tanpa diduga ia bertemu dengan seorang kawan lama di Surabaya yang kebetulan juga memiliki impian senada. Obrolan mengalir. Mereka saling bertukar pikiran seputar inovasi dunia pertanian khususnya padi. Ada mimpi bersama yang ingin mereka wujudkan.

“Kami sering mengobrol tentang potensi dan inovasi pertanian,” ungkapnya, Minggu (2/1/2022) melalui informasi di Grup Sosial Media.

Sementara ini ia masih fokus pada pengembangan potensi padi jenis Japonica. Djoko melihat prospek cerah dari bertanam padi jenis ini. Ia juga berupaya mengembangkan lahan di Kediri dengan pola kemitraan untuk target lahan sekitar 40 sampai 80 hektar dan akan terus dikembangkan di Malang, Mojokerto, Jember dan Banyuwangi.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan di seluruh Indonesia untuk tahun ke depan,” tambahnya.

Namun, kata Djoko, para petani tidak banyak yang tahu sehingga masih ragu untuk menanamnya. Padahal karakter padi Japonica sendiri tidak berbeda jauh dengan padi Indica.

“Sehingga pola tanam dan perawatannya kurang lebih sama dan tidak terlalu sulit bagi petani untuk diterapkan di Indonesia,” kata pemilik PT Amerta Tani Maju yang berdiri sejak 2021 dan bergerak di bidang pertanian, untuk penanaman, pengolahan dan pemupukan lahan. Juga bergerak di bidang pemanenan dan penjualan hasil pertanian tersebut.

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

Part of Telegraf. Copyright © 2022 BuzzFeed. KBI Media Holding. All Rights Reserved.

close