Connect with us

Indonesia di Amerika

Berolahraga Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Selama Pandemi

Berolahraga Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Selama Pandemi
Advertisement
Click to comment

Cakrawala Ramadan

Berpuasa Sebagai Bagian dari Terapi

Berpuasa Sebagai Bagian dari Terapi


Setiap kali menjelang puasa Ramadan, dokter dan pakar diet selalu dibanjiri pertanyaan mengenai dampak puasa bagi kesehatan, khususnya bagi pengidap diabetes. Namun, situasi itu dihadapi dua diaspora Indonesia di Amerika, seorang dokter ahli endokrinologi dan seorang pakar diet, dalam tugas sehari-hari.

Medha Satyarengga mengatakan, “Banyak. Banyak sekali karena pola makan di sini kurang sehat secara umum, terutama penduduk-penduduk yang berpenghasilan lebih rendah. Pola makan mereka cenderung apa adanya saja. Di sini, makanan yang murah justru fast food. Jadi banyak pasien-pasien saya di sini yang beratnya sampai 300 kg, 250 kg beratnya. Benar-benar parah obesitasnya.”

Dokter Medha Satyarengga adalah pakar endokrinologi pada Center for Diabetes and Endocrinology at Shore Regional Health, Maryland. Sehari-hari ia, antara lain, menangani pasien-pasien diabetes. Untuk membantu pasien menjaga kadar gula darah, ia menyarankan mereka menurunkan berat badan. Salah satu cara yang ia sarankan adalah berpuasa.

“Strategi saya itu. Jadi, saya tahu bahwa puasa sangat baik bagi diabetes,” ujar Medha.

Muslim berbuka puasa bersama di bulan Ramadan (foto: ilustrasi). Berpuasa bisa dijadikan alternatif terapi bagi penderita diabetes.

Muslim berbuka puasa bersama di bulan Ramadan (foto: ilustrasi). Berpuasa bisa dijadikan alternatif terapi bagi penderita diabetes.

Medha, yang juga banyak mendapat pertanyaan seputar Ramadan dan puasa bagi pengidap diabetes, mengatakan ketika pasiennya bertanya, seminggu berapa kali mereka harus berpuasa, spontan ia menjawab, “Dua kali cukup. Senin-Kamis, saya bilang. Karena yang ada di kepala saya, yang menempel, itu. Jadi, puasa Senin-Kamis.”

Mindasari Dhaniar (dok. pribadi)

Mindasari Dhaniar (dok. pribadi)

Pertanyaan seputar berpuasa bagi pengidap diabetes juga banyak diajukan kepada Mindasari Daniar, MPH. Minda adalah pakar diet klinis yang bekerja pada dua rumah sakit di Massachusetts: Boston Medical Center dan Whittier Rehabilitation.

Minda mengatakan, “Untuk orang-orang yang diabetes atau orang-orang yang mau menurunkan berat badan, saya akan sarankan selama bulan puasa, memilih sumber karbohidrat yang banyak mengandung serat. Itu sangat membantu.”

Kepada orang yang menjalankan puasa untuk mengurangi berat badan, Minda akan membeberkan sejumlah langkah agar diet mereka menunjang kesehatan. Tetapi ia juga mengingatkan agar melakukan itu setelah berkonsultasi dengan dokter dan pakar diet, ditunjang hasil laboratorium dan tidak ada perubahan metabolik yang membahayakan kesehatan.

“Sebagai dietitian, saya mengatakan, kalau berhasil, silakan. Karena, tiap diet itu belum tentu semua orang sama (hasilnya). Yang berhasil bagi seseorang melakukan intermittent fasting, belum tentu berhasil juga untuk orang lain,” tukas Minda.

Data statistik 2018 yang tertera pada situs Yayasan Diabetes Amerika menunjukkan satu dari 10 orang di Amerika atau lebih dari 34,2 juta, mengidap diabetes. Sedangkan laporan statistik diabetes nasional 2020 pada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) menyebutkan satu dari tiga orang dewasa di Amerika atau 88 juta berada di ambang diabetes.

Namun, CDC mencatat kini semakin banyak peluang untuk memperbaiki kondisi dan mencegah komplikasi diabetes. Salah satu hal yang disarankan CDC adalah menjaga asupan makanan. Saran itu juga disampaikan Minda dan Medha kepada pasien-pasien mereka. Tetapi secara spesifik Medha menyarankan puasa.

“Orang Amerika kan tidak banyak yang agamanya Islam. Jadi, puasanya tentu bukan untuk alasan religious. Jadi, saya bilang, yang penting puasa makanan, kalori dan karbohidrat. Itu, mereka bisa,” pungkasnya. [ka/ab]



Source link

Continue Reading

Cakrawala Ramadan

Diaspora Indonesia di AS Ramaikan Lomba Menu Sahur dan Kelas Masak Ramadan

Diaspora Indonesia di AS Ramaikan Lomba Menu Sahur dan Kelas Masak Ramadan


Umat Islam di seluruh dunia kembali melaksanakan ibadah puasa Ramadan di tengah pandemi. Namun, ini tidak menyurutkan semangat para perempuan Muslim atau Muslimah Indonesia di Amerika Serikat untuk terus mengadakan kegiatan bersama, walau dengan keterbatasan.

Pada Ramadan tahun ini kegiatan di masjid komunitas Indonesia, IMAAM Center, di Silver Spring, Maryland, cukup padat. Walau masjid sudah dibuka, hampir seluruh kegiatan dilakukan secara daring atau online, termasuk kegiatan yang dikhususkan bagi jemaah perempuan.

“Jadi kalau untuk Muslimah, yang paling intens itu, yang rutin adalah untuk sekarang tadarus. Ini sampai sekarang masih berjalan. Mulai dari 1 Ramadan, kita sudah mulai dari awal. Ibu-ibu dibagi per kelompok. Untuk yang tadarus itu sekitar 172 orang peserta. Kemudian itu setiap hari, Ibu-ibu melakukan tilawah Al-Qur’an per kelompok,” jelas Nani Afdal, kepala bagian publikasi dan komunikasi IMAAM kepada VOA belum lama ini.

Nani Afdal, direktur publikasi dan komunikasi IMAAM Center. (Foto: Nani Afdal/dokumen pribadi)

Nani Afdal, direktur publikasi dan komunikasi IMAAM Center. (Foto: Nani Afdal/dokumen pribadi)

Selain itu, IMAAM juga mengadakan berbagai kelas memasak secara daring untuk Muslimah, dengan dipandu oleh ahli masak.

“Itu sekarang yang terdata hampir rutin ikut adalah sekitar 52 orang, tapi biasanya memang untuk ikut cooking class ini harus register dulu,” ujar Nani yang sudah menetap di Arlington, Virginia sejak tahun 2000 lalu.

Setelah mendaftar, para peserta bisa menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan terlebih dahulu. Menu yang diajarkan pun cukup beragam, mulai dari kue, pempek, hingga lontong sayur, sebagai salah satu menu khas lebaran.

“Nanti akan disampaikan bagaimana caranya, bagaimana tekniknya, bagaimana tipsnya untuk membuat menu yang spesial ini. Nanti bisa diperagakan dan bisa dilihat hasil akhirnya seperti apa,” tambah Nani.

Sesi membuat kue Black Forest lewat daring (dok: Roza Bagus)

Sesi membuat kue Black Forest lewat daring (dok: Roza Bagus)

Para peserta pun menyambut baik dan merasa senang dengan kegiatan ini. Mereka bisa saling berbagi masakan spesial yang kerap disajikan pada bulan Ramadan atau hari raya Idul Fitri, juga berbagi teknik.

“Misalnya dua minggu yang lalu itu, bagaimana cara membuat pempek Palembang. Nah, memang mungkin masing-masing orang punya teknik sendiri gitu ya, tapi setelah mereka coba bersama, ‘wah, ternyata begini ya? Lebih mudahnya itu seperti ini.’ Jadi sangat membantu sekali untuk ibu-ibu IMAAM Muslimah dalam proses masak memasaknya, terutama dalam segi teknik dan tips yang bisa didapatkan dari para ahli dan nara sumbernya,” kata Nani.

Belum lama ini, pengusaha katering, Lely Rustiati di Maryland, mengajarkan cara membuat kue Black Forest. Selama dua jam ia membagi pengalamannya dan memandu kelas memasak tersebut.

“Saya stres-kan di situ, pakai highlight, non-alcoholic, gitu jadi itu menjadi acuan buat ibu-ibu. Wah, semangat sekali,” kata Lely Rustiati kepada VOA.

Sebelum pandemi, kelas memasak ini dilakukan secara tatap muka yang, diakui Lely, lebih interaktif.

“Awalnya saya juga khawatir, ‘aduh bisa enggak ya?’ Tetapi saya bayangkan di YouTube aja mereka bisa gimana cara cooking demo, mereka bisa memberikan arahan, mereka pada bisa, why not? Kemungkinan tidak terlalu beda between mereka melihat di YouTube dengan melihat virtual yang saya lakukan kemarin,” ujar Lely.

Warga Indonesia, Lely Rustiati di Maryland (dok: Lely Rustiati)

Warga Indonesia, Lely Rustiati di Maryland (dok: Lely Rustiati)

Yang menjadi tantangan bagi Lely adalah ketika mengatur kamera yang bisa memperlihatkan setiap langkah yang ia lakukan saat memasak.

“Saya tidak ada sumber daya manusia untuk memegang kamera. Jadi kamera hanya stand-by pakai tripod begitu, saya yang memajukan. Interesting, tapi ibu-ibu kelihatannya antusias. Kita encourage mereka, kan praktik bersama. Mereka di rumah masing-masing, mereka juga mempersiapkan bahan yang saya kerjakan, sama, bareng,” cerita Lely.

Melalui kelas memasak ini, Lely berharap ilmu yang ia berikan dapat berguna di kemudian hari.

“Saya tuh pengin ibu-ibu menghasilkan. By the end of Ramadan, ibu-ibu bisa berkreasi, diberikan kepada teman, menjamu tamu dengan cake itu. Kalau bisa pun saya lebih senang sekali kalau ibu-ibu itu bisa dimanfaatkan untuk berjualan nanti ke depannya, jadi ilmu yang saya berikan bermanfaat untuk ibu-ibu semua.”

Ake Pangestuti bersama warga muslim Indonesia di San Francisco Bay Area di acara Indo Feast Halal Festival 2019 sebelum pandemi (dok: Ake Pangestuti)

Ake Pangestuti bersama warga muslim Indonesia di San Francisco Bay Area di acara Indo Feast Halal Festival 2019 sebelum pandemi (dok: Ake Pangestuti)

Kegiatan memasak bersama secara daring juga dilakukan oleh para Muslimah Indonesia yang tergabung dalam pengajian AnNur di bawah Indonesian Muslim Community di wilayah San Francisco Bay Area (IMC SFBA). Kegiatan yang sudah berlangsung sejak sebelum pandemi ini kini mengambil tema Idul Fitri.

“Ramadan ini dikhususkan membuat kue kering untuk membantu persiapan Idul Fitri Ibu-ibu dan keluarganya,” ujar Ake Pangestuti yang tergabung dalam tim publikasi dan penggalangan dana IMC SFBA.

Organisasi Indonesian Muslim Society in America atau IMSA juga mengadakan berbagai kegiatan khusus Ramadan bagi jemaah perempuannya, yang diselenggarakan oleh IMSA Sister, disingkat IMSis.

Mengingat ribuan anggotanya tersebar di berbagai negara bagian Amerika Serikat dan Kanada, sejak sebelum pandemi, hampir seluruh kegiatan sudah dilakukan secara daring.

Kegiatan memasak secara daring bersama IMSA Sister (dok: IMSA Sister)

Kegiatan memasak secara daring bersama IMSA Sister (dok: IMSA Sister)

Sehari-harinya, kegiatan IMSA Sister ini mencakup dakwah dan keagamaan, gelar wicara dan webinar dalam berbagai topik, juga kegiatan kewanitaan dan ketrampilan. Pada bulan Ramadan, IMSA Sister menambah beragam kegiatan, seperti lomba hafalan Al-Qur’an untuk Ibu dan anak, serta kuis Ramadan harian. Kegiatan-kegiatan ini sangat diminati oleh para anggotanya, bahkan pesertanya berlebih.

Pada bulan Ramadan, beberapa kegiatan yang diselenggarakan cukup menuntut kreasi dalam memasak, seperti dijelaskan oleh ketua IMSA Sister, Noviyanti Kurniasari, yang berdomisili di New Jersey. Salah satunya “Resep Menu Ramadan Harian.”

“Ini yang jelas menu andalan dari IMSA Sister. Walaupun resep banyak ya, tapi kan biasanya pada saat diperlukan kita butuh yang barangnya simple dan ada di sini gitu dan di uji coba. Nah, kebetulan tim resepnya IMSA Sister itu kan memang kreatif ya, dengan seadanya, tapi bisa menjadi menu andalan,” ujar Noviyanti Kurniasari kepada VOA.

Ketua IMSA Sister, Noviyanti Kurniasari bersama keluarga di New Jersey (dok: IMSA Sister)

Ketua IMSA Sister, Noviyanti Kurniasari bersama keluarga di New Jersey (dok: IMSA Sister)

Satu hal yang berbeda tahun ini, IMSA Sister juga mengadakan lomba virtual, Menu Sahur Challenge. Para peserta diberi waktu selama 30 menit untuk menciptakan menu sahur yang praktis.

“Nah, ini kan biasanya kita menu (buka bersama) atau menu lebaran itu udah biasa. Nah, ini kita coba kali ini menu sahur, dalam 30 menit. Nah itu kan ibu-ibu sahur biasanya kan leftover dari buka ya, pengin tuh sesuatu yang baru yang fresh, kira-kira ada enggak sih dari sekian banyak member kita nih yang super creative, bangun pagi-pagi, nyiapin 30 menit, menu yang fresh ya, challenging-lah,” tambah Noviyanti.

Warga Indonesia, Fetty Shahab bersama keluarga di Portland, Oregon (dok: Fetty Shahab)

Warga Indonesia, Fetty Shahab bersama keluarga di Portland, Oregon (dok: Fetty Shahab)

Fetty Shahab di Portland, Oregon adalah salah satu pesertanya. Fetty memilih menu yang praktis, sehat dan sederhana sesuai temanya, yaitu telur dadar sosis ayam sayur dengan menggunakan minyak alpukat.

“Biasanya memang di rumah ini senang telur dadar, cuma saya variasikan. Enggak pernah sebelumnya pakai chicken frank. Katanya enak, mereka suka.”

Usai memasak, Fetty mengirimkan resep dan foto kepada panitia untuk diundi di akhir Ramadan nanti.

Telor Sosis Ayam Sayur kreasi Fetty Shahab (dok: Fetty Shahab)

Telor Sosis Ayam Sayur kreasi Fetty Shahab (dok: Fetty Shahab)

“Menarik karena di tengah pandemi ya kadang kita kan bingung mau ngapain, karena terbatas mau pergi kemana-mana karena malas, karena situasi pandemi ini. Dan bulan puasa kan enaknya di rumah. Jadi ya, enggak ada salahnya untuk coba-coba resep yang baru, yang sesuai dengan tema, sederhana dan sehat, terus yang bahannya juga gampang dicari. Di rumah ada selalu, jadi saya pilih telor dadar sosis sayur.”

Noviyanti berharap seluruh umat Islam dan pihak yang terlibat dapat merasakan keberkahan dari kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh IMSA dan IMSA Sister ini.

“Mudah-mudahan dengan kedekatan kita dengan agama kita, dengan Allah khususnya, lebih baik sehingga mudah-mudahan bisa meng-influence juga komunitasnya, teman-temannya, dimana saja (mereka) berada, untuk sama-sama berkontribusi dengan lebih baik di (komunitas) maupun di mana saja kita berada,” pungkasnya menutup wawancara dengan VOA. [di]



Source link

Continue Reading

Cakrawala Ramadan

‘Ngabuburit’ Anak-anak: Remaja Indonesia di AS Berbagi Kisah Al-Qur’an

‘Ngabuburit’ Anak-anak: Remaja Indonesia di AS Berbagi Kisah Al-Qur’an


Berkeinginan untuk membimbing anak-anak dalam belajar agama Islam sambil mengalihkan perhatian mereka dari rasa haus dan lapar, remaja asal Indonesia, Shafiya Salahuddin (17 tahun), di Reston, Virginia, meluangkan waktunya untuk membacakan kisah-kisah nabi dan para sahabat dalam Al-Qur’an.

“Saya ingin mengalihkan perhatian anak-anak jika mereka berpuasa, beberapa jam sebelum Magrib agar mereka melupakan rasa lapar sejenak,” ujar Shafiya Salahuddin kepada VOA belum lama ini.

Shafiya Salahuddin membacakan cerita di acara "Story Time with Shafiya" (dok: Shafiya Salahuddin)

Shafiya Salahuddin membacakan cerita di acara “Story Time with Shafiya” (dok: Shafiya Salahuddin)

Setiap harinya di bulan Ramadan, Shafiya berinteraksi dengan anak-anak berusia 6-10 tahun secara virtual. Kegiatan yang berlangsung selama 30 menit menjelang Magrib ini diberi nama Story Time with Shafiya.

“Sangat bagus. Saya suka karena (Shafiya) mengajukan pertanyaan dan kami bisa menjawab. Saya juga suka karena bisa mengacungkan tangan. Sesi berceritanya menyenangkan. Saya menikmatinya,” ujar Sofia Maryam Rafiq, salah satu peserta yang berusia 6 tahun di Herndon, Virginia, kepada VOA.

Sofia Maryam Rafiq saat mengikuti "Story Time with Shafiya" (dok: Citrapuji Sam)

Sofia Maryam Rafiq saat mengikuti “Story Time with Shafiya” (dok: Citrapuji Sam)

Saat ini Sofia yang baru kelas 1 SD tengah belajar berpuasa. Ibu Sofia, Citrapuji Sam pun senang mengikutsertakan anaknya di acara yang menurutnya sangat positif ini.

“Jadi untuk menunggu waktu azan, kegiatan ini sangat positif sekali gitu, ya. Dan anak-anak pun senang dibacakan cerita oleh Shafiya, tentang cerita-cerita dari pada sahabat, dari kisah-kisah yang ada di Al-Qur’an,” jelas Citra kepada VOA.

Tidak hanya itu, menurut Citra, acara ini sungguh menarik, karena ada sesi tanya jawab atau kuis mengenai cerita yang diangkat. Anak-anak yang bisa menjawab dan mengumpulkan poin untuk mendapat hadiah di akhir bulan Ramadan.

“Membuat acara ini semakin seru untuk anak-anak,” tambah Citra.

Sofia Maryam Rafiq, Citrapuji Sam dan keluarga di AS (dok: Citrapuji Sam)

Sofia Maryam Rafiq, Citrapuji Sam dan keluarga di AS (dok: Citrapuji Sam)

Story Time with Shafiya merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan masjid komunitas Indonesia, IMAAM Center, yang berlokasi di Silver Spring, Maryland. Saat Shafiya mengajukan permohonan acara ini, pihak IMAAM Center pun langsung semangat mendukungnya.

“Ini satu ide yang sangat brilian, dengan mengikutsertakan untuk segmen anak-anak usia 6-10 tahun, untuk memeriahkan dalam acara-acara di Ramadan ini,” ujar presiden IMAAM, Arif Mustofa.

Arif Mustofa memuji kesiapan Shafiya yang sudah menyiapkan materi cerita untuk satu bulan penuh. Ia juga menyukai metode yang dilakukan oleh Shafiya di acara ini. Kuis yang disampaikan di akhir cerita, membuat anak-anak menjadi fokus dan konsentrasi kepada cerita yang dibacakan.

“Luar biasa. Sangat interaktif, komunikatif, dan interaksinya dua arah. Ini yang membuat anak-anak ini sangat menikmati. Ini satu contoh interaksi dari inisiatif Ananda Shafiya untuk engage dengan komunitas anak-anak muslim di sekitar IMAAM Center,” tambahnya.

Tidak hanya membantu anak-anak belajar agama Islam, Shafiya mengaku kegiatan ini juga membantu dirinya dalam berkomunikasi, mengingat minimnya interaksi selama pandemi.

“Sejak pandemi saya sulit berkomunikasi dengan orang. Jadi saya sedang berusaha belajar berkomunikasi yang baik,” kata Shafiya.

Ibu Shafiya, Yulianti Ismail juga kerap memberikan usulan agar acara ini berjalan lancar dan menarik bagi anak-anak.

“Kita mantau juga. Setelah selesai kita kasih masukan ke Shafiya, ‘kamu bacanya jangan terlalu cepat, harus ada intonasinya, biar enggak boring, question-nya ditambah buat kuisnya. Terus kalau terlalu pendek, baca dua cerita,’” kata Yulianti Ismail kepada VOA.

Shafiya Salahudin bersama keluarga di AS (dok: Shafiya Salahuddin)

Shafiya Salahudin bersama keluarga di AS (dok: Shafiya Salahuddin)

Shafiya memang sudah berpengalaman dalam mengajar anak-anak, khususnya yang berusia sekitar 9 hingga 11 tahun. Selain memang sudah terbiasa membantu mengurus ketiga adiknya, ia juga kerap menjadi asisten di kelas Madrasah IMAAM Center yang diajar oleh ayahnya, sejak 2 tahun belakangan ini.

Mengajarkan anak-anak, khususnya dalam sesi bercerita, tentu cukup menantang.

“Anak-anak kadang sulit dimengerti. Pikiran mereka kadang teralihkan. Anda harus sabar,” ujarnya.

Kesabaran Shafiya dalam membimbing anak-anak diakui oleh sang ibu.

“Kalau saya melihatnya (Shafiya) itu memang sabar gitu ya, anaknya. Ke anak kecil itu kayak yang care, lemah lembut. Dia punya adik usia 2 tahun. Kalau (mengurus) adiknya, dia telaten, teliti, dan sabar. Mungkin lebih sabar daripada saya,” kata Yulianti Ismail.

Berpeluang Raih Penghargaan Tinggi Pramuka

Sejak masih duduk di bangku kelas 5 SD Shafiya aktif di sebuah kelompok pramuka lokal, yang beranggotakan remaja perempuan Muslim. Bersama sekitar 10 anggota pramuka lainnya, Shafiya kerap membantu komunitas.

Shafiya Salahuddin (ke-4 dari kiri) bersama kelompok pramuka Muslim di Virginia (dok: Shafiya Salahuddin)

Shafiya Salahuddin (ke-4 dari kiri) bersama kelompok pramuka Muslim di Virginia (dok: Shafiya Salahuddin)

Kini, Shafiya sudah duduk di bangku kelas 3 SMA di South Lakes High School dan sudah menjadi anggota pramuka senior. Semakin banyak jam yang diluangkan untuk membantu komunitas, semakin besar peluang untuk meraih “Gold Award,” yaitu penghargaan tertinggi yang diberikan kepada pramuka perempuan senior.

“(Sesi bercerita) itu bagian terakhir dari (langkah) untuk mendapatkan “Gold Award” tersebut. Jadi harus ada 12 jam untuk interaksi dengan (anak-anak),” jelas Yulianti Ismail.

Mengingat keterbatasan yang ada dalam mengadakan acara tatap muka di masa pandemi, akhirnya tercetuslah ide Story Time with Shafiya ini.

Sebelumnya Shafiya juga membantu membersihkan dan merenovasi ruang anak-anak di masjid IMAAM Center. Sebelum Ramadan, Shafiya juga mengadakan acara tatap muka Seeds to Go, yang mengajarkan anak-anak cara menanam biji benih tanaman pelataran parkir di IMAAM Center, tentunya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi.

Acara "Seeds to Go" di IMAAM Center (dok: Shafiya Salahuddin)

Acara “Seeds to Go” di IMAAM Center (dok: Shafiya Salahuddin)

Kini, melalui kegiatan “Story Time with Shafiya,” Shafiya berharap anak-anak bisa belajar lebih banyak lagi mengenai cerita dalam Al-Qur’an.

“Semoga mereka bisa mendapatkan sesuatu dari cerita-cerita ini, karena di dalamnya ada pelajaran yang bisa diambil,” jelas Shafiya.

Di bulan Ramadan tahun ini, Shafiya berharap bisa menjadi Muslim yang lebih baik lagi dan bisa mengembangkan kebiasaan yang baik, yang bisa terus berlanjut bahkan setelah Ramadan usai. [di]



Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close