Connect with us

PENDIDIKAN

Banyak Pelanggaran Prokes Saat Pembelajaran Tatap Muka

Banyak Pelanggaran Prokes Saat Pembelajaran Tatap Muka


Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mengatakan lembaganya menemukan sejumlah pelanggaran protokol kesehatan (prokes) dalam Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. PTM terbatas ini telah berjalan sejak Januari hingga April 2021 di 16 provinsi. Pelanggaran prokes tersebut antara lain tidak memakai masker dengan benar dan berkerumun. Pantauan P2G pelanggaran tersebut setidaknya terjadi di belasan kota dan kabupaten seperti Kabupaten Bogor, Kota Batam, dan Kota Bukittinggi.

“Guru-guru berpikir bahwa ketika sudah divaksin sudah aman. Persepsi ini yang saya rasa harus diluruskan,” jelas Satriwan Salim kepada VOA, Selasa (27/4).

Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim. (Foto: dok. pribadi)

Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim. (Foto: dok. pribadi)

Satriwan menambahkan selama ini tidak ada sanksi tegas dari pemerintah daerah atau Satgas Covid-19 Daerah ketika sekolah melakukan pelanggaran protokol kesehatan. Menurutnya, penutupan sekolah baru dilakukan jika sudah ditemukan kasus positif di sekolah.

Ia mendorong pemerintah daerah membentuk Satgas Khusus PTM Sekolah yang melibatkan sejumlah instansi seperti polisi, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan. Tujuannya untuk memaksimalkan pengawasan terhadap siswa dan guru agar taat menjalankan prokes di sekolah dan luar sekolah.

“Kami berharap pemda kota, kabupaten, provinsi membuka hotline pelaporan. Jika ada pelanggaran tentu kami melapor ke dinas terlebih dahulu,” tambah Satriwan.

P2G juga mendorong Dinas Pendidikan memberikan pelatihan metode pembelajaran ganda secara online dan tatap muka kepada para guru pada masa pandemi Covid-19. Ia beralasan para guru belum pernah mendapat pembelajaran ganda selama di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Ombudsman Minta Masyarakat Aktif

Anggota Ombudsman RI Indraza Marzuki Rais meminta masyarakat untuk aktif mengawasi dan melaporkan jika menemukan dugaan pelanggaran layanan publik pada pelaksanaan pembelajaran tatap muka dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2021. Beberapa hal yang menjadi sorotan Ombudsman antara lain mulai dari kesiapan sekolah hingga pelaksanaan protokol kesehatan.

“Berikutnya juga mengenai kejelasan prosedur pembelajaran tatap muka. Baik jumlah jam belajar, metode shift, dan pelaksanaan belajar mengajar di dalam kelas,” jelas Indraza Marzuki Rais dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/4).

Anggota Ombudsman RI Indraza Marzuki Rais. (Foto: VOA/screenshot)

Anggota Ombudsman RI Indraza Marzuki Rais. (Foto: VOA/screenshot)

Indraza juga menyoroti daftar kesiapan sekolah dalam menggelar pembelajaran tatap muka. Berdasarkan data Kemendikbud, jumlah sekolah yang merespons kesiapan sekolah hanya 53,75 persen dari 535.365 sekolah per 27 April 2021. Daftar kesiapan sekolah tersebut untuk melihat berbagai sarana sekolah seperti toilet dan ketersediaan cairan pembersih tangan (hand sanitizer).

Ombudsman juga akan melakukan pemantauan melalui 34 kantor perwakilan Ombudsman di Indonesia dan membuka kanal pengaduan untuk memantau pelaksanaan pembelajaran tatap muka dan penerimaan siswa baru.

“Ombudsman mendorong para penyelenggara pelayanan publik untuk senantiasa menindaklanjuti laporan atau pengaduan bahkan sekedar permintaan informasi dari masyarakat berkaitan dengan kondisi pandemi ini,” tambahnya.

Pemerintah Sepakat Mulai Pembelajaran Tatap Muka Juli

Akhir Maret lalu, pemerintah telah mengumumkan pembelajaran tatap muka secara terbatas di sekolah dapat dilakukan pada Juli mendatang. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengimbau sekolah yang guru dan tenaga pendidiknya telah divaksin secara lengkap agar memberikan opsi pembelajaran tatap muka terbatas. Namun, ia menekankan orang tua murid bebas untuk memilih anaknya untuk ikut pembelajaran tatap muka atau tidak.

Nadiem juga mengatakan pembelajaran tatap muka dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Antara lain maksimal 18 anak per kelas, menjaga jarak antar tempat duduk siswa, dan tidak ada aktivitas yang menimbulkan kerumunan. Pemerintah daerah juga memiliki hak menutup kembali sekolah apabila kasus corona di daerah tersebut mengalami peningkatan. [sm/em]

Advertisement
Click to comment

PENDIDIKAN

PR yang Bertumpuk Bebani Siswa

PR yang Bertumpuk Bebani Siswa


Merasa bosan dan kurang bisa memahami pelajaran disuarakan para siswa terkait pengalaman mereka selama mengikuti pembelajaran jarak jauh semasa pandemi COVID-19 dalam setahun terakhir.

Setiawan, pelajar kelas 12 Sekolah Menengah Kejuruan asal Jawa Barat mengungkapkan tantangan yang dihadapi anak selama belajar dari rumah, antara lain terlalu banyak pekerjaan rumah (PR) dan tugas dari guru dalam kegiatan pembelajaran online. Selain itu anak-anak juga dihadapkan pada situasi di rumah yang tidak ideal untuk belajar.

“Stres dengan beban PR dan tugas lainnya. Kedua Kondisi rumah yang tidak kondusif untuk belajar, konflik keluarga, misalkan anak yang terkena dampak broken home dan lain sebagainya, yang ketiga jenuh di rumah terbatas ruang dan waktu,” kata Setiawan dalam Dialog Anak Bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Minggu (2/5). Kegiatan itu diinisiasi oleh Dewan Penasehat Anak dan Kaum Muda, lembaga swadaya masyarakat, Save the Children Indonesia.

Para pelajar dan guru memakai masker setelah pemerintah Indonesia membuka kembali kegiatan belajar tatap mukadi tengah pandemi COVID-19 di Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 13 Juli 2020. (Foto: Antara /Iggoy el Fitra/via Reuters)

Para pelajar dan guru memakai masker setelah pemerintah Indonesia membuka kembali kegiatan belajar tatap mukadi tengah pandemi COVID-19 di Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 13 Juli 2020. (Foto: Antara /Iggoy el Fitra/via Reuters)

Riset yang dilakukan oleh Jaringan Komunitas Anak untuk Gerakan “Save Our Education” terhadap 125 anak di Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada 15-20 April 2021, mengungkap tantangan yang dihadapi anak-anak menjalani pembelajaran jarak jauh yang terdampak terlalu lama menatap layar gawai dan komputer.

“Jadi karena sering menatap layar, teman-teman itu juga merasa pusing, lelah, stres dan dia tidak bertemu dengan teman secara langsung,” kata Anisa, pelajar asal Yogyakarta.

Menurut Anisa, kurang lebih 45 anak yang dilibatkan dalam studi itu menyatakan kurang bisa fokus saat belajar di rumah karena terkadang diminta orang tua mengerjakan sesuatu, serta situasi berisik dari lingkungan sekitar.

Anisa mengungkapkan harapan agar pandemi bisa segera berakhir sehingga bisa kembali melakukan pembelajaran secara tatap muka di sekolah.

Studi Global Save

Dewi Sri Sumanah, Media & Brand Manager Save the Children Indonesia kepada VOA mengatakan pesan yang disampaikan anak-anak dalam dialog itu memperkuat temuan studi global pada 2020 di 46 negara, termasuk Indonesia.

“Tercatat delapan dari sepuluh anak tidak dapat mengakses bahan pembelajaran yang memadai dan empat dari sepuluh anak kesulitan memahami pekerjaan rumah selama PJJ (pembelajaran jarak jauh),” ujar Dewi.

Inggit Andini (kanan) mengajar anak-anak yang tidak punya akses internet di rumahnya, di Tangerang, 10 Agustus 2020.

Inggit Andini (kanan) mengajar anak-anak yang tidak punya akses internet di rumahnya, di Tangerang, 10 Agustus 2020.

Menurut Dewi pada 2021 pihaknya berupaya mendorong pemerataan akses pendidikan agar setiap anak memperoleh pendidikan yang berkualitas di lingkungan belajar yang aman baik luring maupun daring melalui kampanye gerakan “Save Our Education.” Tahun ini kampanye itu dilaksanakan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Yogyakarta dan DKI Jakarta.

“Fokus pesan yang kita angkat dalam gerakan ini adalah tentang pemerataan akses terhadap pendidikan untuk setiap anak lalu juga kualitas pembelajaran yang didapat oleh setiap anak dan pentingnya peran orangtua dalam mendukung proses pembelajaran, baik pembelajaran jarak jauh maupun tatap muka yang sedang dipersiapkan,” jelas Dewi.

Penguasaan Teknologi Informasi

Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Muhammad Hasbi mengatakan situasi pandemi COVID-19 juga menempatkan guru pada situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Para guru kini dihadapkan pada kebutuhan penguasaan teknologi informasi untuk pembelajaran secara daring dan kemampuan guru berkomunikasi dengan para orangtua siswa.

“Sehingga apa yang tadinya terjadi di kelas bisa terjadi di rumah melalui perantaraan orang tua dan satu hal yang menopang itu adalah bagaimana orang tua dan guru masing-masing memiliki perangkat teknologi informasi yang memadai,” kata Hasbi.

Diakuinya tidak banyak orangtua yang siap menjadi pendidik di rumah karena keterbatasan kompetensi mengajar seperti guru di kelas.

“Ini membuktikan bahwa memang kita memiliki permasalahan terhadap kompetensi pedagogik orangtua dan kompetensi substansi orangtua, nah keadaan ini kemudian membuat orangtua menjadi stres. Mereka mengalami kesulitan melaksanakan pembimbingan belajar dari rumah,” jelasnya.

Dikatakannya Kementerian Pendidikan telah menyediakan sumberdaya pendidikan bagi siswa dan guru untuk mengakses materi pembelajaran yang lebih bervariasi di platform Rumah Belajar dan Guru Berbagi.

Selain itu Kementerian Pendidikan mulai tahun 2021 akan merekrut satu juta guru dengan perjanjian kerja untuk ditempatkan di daerah-daerah yang mengalami kekurangan guru. [yl/em]

Continue Reading

PENDIDIKAN

Pusat Vaksinasi Didirikan di Kampus Texas

Pusat Vaksinasi Didirikan di Kampus Texas


Sebagian mahasiswa, selama setahun terakhir tidak lagi mengikuti pedoman keselamatan dan menjadi penyebar luas virus. Para ahli kesehatan dan pejabat negara bagian mecemaskan hal ini.

University of Houston, mendirikan pusat vaksinasi di kampus untuk mendorong mahasiswa mendapat vaksinasi.

Isaiah Martin, mahasiswa di University of Houston, memimpin kampanye mobilisasi untuk mendorong mahasiwa di kampusnya agar divaksinasi

“Saat ini, mahasiswa merupakan persentase besar dari penyebar luas virus. Mereka keluar, dan sering kali mereka mengabaikan panduan CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS -red) dan departemen kesehatan. Jadi, mereka akan keluar dan berpesta, mereka melakukan hal-hal yang umumnya dilakukan mahasiswa perguruan tinggi. Jadi, sangat penting untuk memvaksinasi para mahasiswa itu,” paparnya.

Laura Rincon-Bianchi, mahasiswa lainnya, mengakui masih ada pandangan yang konservatif di antara rekan-rekannya.

“Masih ada beberapa pandangan konservatif tentang vaksin. Saya punya beberapa teman yang enggan melakukannya. Mereka percaya beberapa teori yang tidak masuk akal tentang apa yang ada di dalam vaksin,” kata Laura.

Pusat vaksinasi didirikan di kampus University of Houston.

“Pusat ini cukup mudah diakses, tidak hanya untuk komunitas pada umumnya, tetapi juga untuk mahasiswa karena bagi mereka itu cukup nyaman, mereka tahu di mana dan dengan cepat membuat janji dan mendapatkan vaksin. Penting bagi populasi muda untuk memperoleh vaksinasi saat sekolah mulai dibuka kembali untuk pengajaran dan kelas secara langsung,” kata Vanessa Astros, manajer komunikasi St. Luke’s Health Group yang menjalankan pusat itu.

Mahasiswa kedokteran tahun keempat Anna Roesler sedang memvaksinasi Pfizer-BioNTech (COVID-19) di Indiana University Health, Methodist Hospital di Indianapolis, Indiana, AS. (Foto: REUTERS/Bryan Woolston)

Mahasiswa kedokteran tahun keempat Anna Roesler sedang memvaksinasi Pfizer-BioNTech (COVID-19) di Indiana University Health, Methodist Hospital di Indianapolis, Indiana, AS. (Foto: REUTERS/Bryan Woolston)

Mahasiswa umumnya menyambut baik pusat vaksinasi di kampus tersebut, salah satunya adalah Sarah Sowell, mahasiswa jurusan Ilmu Politik. Vaksinasi menurutnya akan mempermudah kembali pada kegiatan belajar secara normal.

“Saya sangat senang mendapatkan vaksin ini, jadi saya bisa bertemu dengan teman-teman saya dan bergabung dengan kelompok belajar serta bisa bertemu langsung dan mengadakan kelas bersama. Saya rasa kelas online telah mengisolasi, dan kami belum bisa belajar dengan baik di kamar asrama kami dibandingkan dalam ruang kelas,” tuturnya.

Sebagian besar lembaga pendidikan dan universitas di AS berkeinginan bisa kembali menyelenggarakan pembelajaran langsung setidaknya pada musim gugur 2021. [my/ka]

Continue Reading

PENDIDIKAN

Perpustakaan Jalanan Semarakkan Ramadan di Irak

Perpustakaan Jalanan Semarakkan Ramadan di Irak


Sekelompok pemuda di kota Basra, Irak, berusaha menghidupkan suasana Ramadan dengan membuka sebuah perpustakaan gratis di udara terbuka pada malam hari. Warga kota itu, terutama para penggemar buku, menyambut baik prakarsa tersebut.

Wabah virus corona yang terus merebak di Irak membuat banyak warga memilih untuk menghabiskan waktu di tempat-terbuka pada malam hari, bukan duduk, makan dan mengobrol di dalam restoran atau di rumah sanak kerabat seusai tarawih.

Keluarga Irak menunggu saat berbuka puasa di Basra, Irak, 6 Juli 2014. (Foto: dok).

Keluarga Irak menunggu saat berbuka puasa di Basra, Irak, 6 Juli 2014. (Foto: dok).

Mereka meninggalkan kebiasaan pada malam-malam Ramadan itu sebagai wujud kepatuhan terhadap kebijakan penanggulangan pandemi.

Fenomena baru itu menggugah sekelompok pemuda di kota Basra untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Mereka membuka perpustakaan terbuka di pinggir jalan dekat sebuah pantai, yang koleksi bukunya bisa dinikmati siapapun, yang berlalu lalang di sekitar lokasi.

Thaeir Yassin (17 tahun), salah satu pemuda yang ikut menggagas perpustakaan jalanan itu, mengatakan, “Kami adalah sekelompok anak muda yang memutuskan untuk membuka perpustakaan gratis di tempat khusus ini, di dekat patung penyair Irak terkemuka Badr Shakir al-Sayyab. Kami memilih tempat ini karena memang bagus untuk duduk dan membaca.”

Warga Irak mencari buku-buku yang djual murah di jalanan untuk disumbangkan ke perpustakaan (foto: ilustrasi).

Warga Irak mencari buku-buku yang djual murah di jalanan untuk disumbangkan ke perpustakaan (foto: ilustrasi).

Kelompok pemuda yang menamakan diri mereka Basra Young Volunteers membuka perpustakaan itu dengan tujuan meningkatkan minat baca. Sejauh ini mereka hanya menawarkan sekitar 250 buku. Buku-buku koleksi pribadi para anggota kelompok itu menyorot berbagai isu sosial, ekonomi, politik, dan hukum. Mereka juga memiliki beberapa buku kumpulan puisi.

Hamza Mehdi, warga Basra, menyambut kehadiran perpustakaan gratis ini. “Menurut saya ini ide bagus. Terus terang ini kegiatan yang lebih baik daripada merokok shisha atau berkeliaran di jalanan dengan sepeda motor. Sungguh menyenangkan jika seseorang bisa menghabiskan lima menit waktunya untuk membaca, misalnya membaca sebuah puisi.”

Majed Mahmoud, penulis Irak ternama, tergugah dengan prakarsa para pemuda itu.

“Memamerkan buku di hadapan para pejalan kaki, di tempat-tempat umum dan jalan-jalan, merupakan gagasan yang kreatif. Kegiatan ini memiliki manfaat budaya karena memotivasi orang-orang untuk membaca dan memiliki buku daripada harus pergi ke perpustakaan-perpustakaan resmi. Apalagi tidak banyak perpustakaan di Basra. Anak-anak muda ini membawa buku mereka ke jalan, dan sebagai hasilnya, ini adalah inisiatif budaya yang baik,” komentarnya.

Hassan Ali Mohammed, warga Basra, juga bangga dengan prakarasa Basra Young Volunteers.

“Saat ini kita memang membutuhkan ini, selama masa-masa kelam krisis virus corona, dan selama bulan suci Ramadhan. Orang-orang membutuhkan pendidikan, dan bacaan. Kegiatan ini meningkatkan kesadaran tentang arti buku yang sebenarnya.” [ab/uh]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close