Connect with us

TIMUR TENGAH

AS Siap Cabut Sanski yang Tak Sesuai Kesepakatan Nuklir Iran

AS Siap Cabut Sanski yang Tak Sesuai Kesepakatan Nuklir Iran



Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Rabu (7/4), mengatakan AS siap mencabut sanksi terhadap Iran untuk melanjutkan kepatuhan terhadap kesepakatan nuklir Iran, termasuk yang tidak sesuai pakta 2015 itu.

Deplu AS tidak memberikan perincian.

“Kami siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk kembali mematuhi JCPOA, termasuk mencabut sanksi yang tidak sesuai JCPOA,” kata juru bicara Deplu AS, Ned Price, kepada wartawan.

Ia mengacu pada pakta yang secara resmi disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA).

Seorang pejabat AS mengatakan para diplomat dari negara-negara kuat dan Uni Eropa bertemu secara terpisah dengan Iran dan Amerika pada Rabu (7/4) untuk membahas sanksi apa yang mungkin dicabut Amerika dan pembatasan nuklir apa yang mungkin dilakukan Iran dalam upaya mengembalikan kedua negara agar sesuai kesepakatan nuklir 2015.

Lama bermusuhan, Amerika dan Iran mengatakan mereka tidak memperkirakan terobosan cepat dalam pembicaraan yang dimulai di Wina pada Selasa (6/4). Diplomat Eropa dan negara lain menjadi perantara karena Iran menolak pembicaraan tatap muka.

Mantan presiden Donald Trump menarik AS keluar dari pakta 2015 itu, yang intinya adalah mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran setelah negara itu membatasi program nuklirnya. Trump lalu menerapkan kembali sanksi sehingga memaksa Iran melanggar batasan dalam perjanjian nuklir itu.

Pihak-pihak yang tersisa dalam pakta itu: Iran, Inggris, China, Prancis, Jerman dan Rusia, Selasa, sepakat membentuk dua kelompok tingkat ahli yang bertugas memadukan daftar sanksi yang bisa dicabut Amerika dengan kewajiban nuklir yang harus dipenuhi Iran.

Para diplomat mengatakan kelompok kerja itu, yang diketuai Uni Eropa dan mengecualikan Amerika, bertemu Rabu (7/4). Seorang pejabat AS yang tidak mau disebut namanya mengatakan delegasi AS di Wina telah diberi pengarahan tentang diskusi tersebut.[ka/jm]

Advertisement
Click to comment

TIMUR TENGAH

Netanyahu Kecam Rezim Iran yang ‘Fanatik’

Netanyahu Kecam Rezim Iran yang ‘Fanatik’



Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Pertahanan Amerika Llyod Austin di Yerusalem hari Senin (12/4), menyebut pemerintah Iran sebagai “rezim fanatik.”

Lawatan Austin di Israel bertepatan dengan serangan sabotase terhadap fasilitas nuklir bawah tanah Iran Natanz yang merusak sentrifugal, serangan yang dinilai dapat membahayakan pembicaraan yang sedang berlangsung tentang kesepakatan nuklir Iran yang porak poranda dan berpotensi memicu perang di antara kedua negara.

Netanyahu dan Austin berbicara singkat, tetapi tidak menjawab pertanyaan wartawan.

“Di Timur Tengah, tidak ada ancaman yang lebih serius, lebih berbahaya dan lebih mendesak dibanding yang ditimbulkan rezim fanatik di Iran. Iran terus mendukung teroris di lima benua, mengancam warga sipil di mana pun. Iran tidak pernah mengakhiri usaha untuk mengembangkan senjata nuklir dan meluncurkan rudal. Dan Iran secara konsisten dan dengan keras menyerukan pemusnahan Israel dan berupaya mencapai tujuan itu. Pak Menhan, kita sama-sama tahu horor yang ditimbulkan perang, kita sama-sama memahami pentingnya mencegah perang, dan kita sama-sama sepakat bahwa Iran tidak pernah boleh memiliki senjata nuklir. Kebijakan saya sebagai perdana menteri Israel jelas. Saya tidak pernah akan membiarkan Iran memiliki kapabilitas senjata nuklir untuk mewujudkan tujuan genosida yang hendak melenyapkan Israel. Dan Israel akan terus mempertahankan diri terhadap agresi dan terorisme Iran,” tegasnya.

Iran menyalahkan Netanyahu terhadap serangan sabotase di fasilitas nuklir Natanz.

Israel belum mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Unit militer rahasia atau badan intelijen Israel Mossad jarang melakukan serangan semacam itu.

Media Israel secara luas melaporkan bahwa pemerintahnya telah merekayasa serangan siber yang menghancurkan dan menimbulkan pemadaman listrik di fasilitas nuklir itu.

Menteri Pertahanan Amerika Llyod Austin mengatakan ia “berterima kasih dengan pembahasan hari Senin untuk mengembangkan prioritas pertahanan bersama dan kerjasama erat antara Amerika dan Israel.”

Dalam konferensi pers sebelumnya di Pangkalan Udara Nevatim hari Senin, Austin menolak mengomentari apakah serangan di Natanz itu akan merintangi upaya pemerintah Biden untuk melibatkan kembali Iran dalam program nuklirnya. [em/jm]

Continue Reading

TIMUR TENGAH

Pengamat: Lebanon Membutuhkan Bantuan Mendesak

Pengamat: Lebanon Membutuhkan Bantuan Mendesak



Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan Lebanon tidak akan bisa menarik dirinya keluar dari krisis ekonomi sampai pemerintahan baru dibentuk untuk memulai reformasi yang telah lama terhenti. Akan tetapi, pengamat Lebanon mengatakan mereka disandera oleh sistem politik yang korup dan membutuhkan bantuan dari luar untuk memecahkan kebuntuan dan menciptakan kondisi yang bisa membangkitkan kembali negara itu. Salah satu saran adalah dengan membentuk dewan perwalian sementara PBB untuk Lebanon agar negara itu bisa pulih.

Dengan status gagal bayar utang Eurobond, obligasi bersama zona negara-negara pengguna mata uang euro, senilai satu koma dua miliar dolar tahun lalu, mata uang Lebanon ambruk dan ekonominya menyusut hingga 25 persen.

Jihad Azour, kepala Departemen Timur Tengah Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan kepada Reuters bahwa untuk mengatasi krisis ekonomi yang mengerikan di Lebanon saat ini “diperlukan pendekatan yang komprehensif” dengan berbagai reformasi keuangan dan pemerintahan. Ia memperingatkan bahwa “dengan tidak adanya pemerintahan baru yang dapat memimpin transformasi ini, sangat sulit untuk berharap situasinya akan membaik dengan sendirinya.”

Akan tetapi, dalam wawancara dengan VO, Profesor Habib Malik dari Lebanese American University mengatakan bahwa warga Lebanon terjebak dalam kekacauan di antara para panglima perang yang berpolitik dan sang penguasa de-facto, milisi Hizbullah yang didukung Iran.

Malik mengatakan, “Seluruh dunia kurang lebih sudah berpendapat: Bentuk suatu pemerintahan, mulai terapkan reformasi, dan kemudian kami akan membantu. Orang-orang ini tidak akan menerapkan reformasi apa pun yang dengan cara apa pun akan mengurangi pencurian, kekuasaan dan kendali mereka. Yang kedua, ‘Kalian, warga Lebanon, harus berurusan dengan Hizbullah sendiri.’ itu sama saja dengan memberi tahu sandera dengan pistol di kepalanya: ‘Kamu harus membebaskan diri dari penculikmu, dan kemudian kami akan datang dan membantumu.’ Itu juga tidak pernah terjadi dalam situasi penyanderaan.”

Ekonom Toufic Gaspard, mantan penasihat senior menteri keuangan Lebanon dan IMF mengatakan ia tidak melihat kembalinya pertumbuhan ekonomi Lebanon tanpa pembersihan keuangan dan fiskal. “Di situlah letak masalahnya, karena sistem politiknya adalah berbagi aset-aset negara, bukan menambah kekayaan negara,” ujarnya.

“Lebanon tidak bisa diselamatkan sebagai sebuah negara kecuali aktor eksternal yang berpengaruh, secara kolektif dan individu, memutuskan untuk turun tangan dan menciptakan kondisi yang dapat menarik Lebanon keluar dari jurang,” kata Emile Nakhleh, pensiunan pejabat intelijen senior CIA yang kini memimpin Global and National Security Policy Institute di Universitas New Mexico.

Nakhleh juga menyarankan pembentukan dewan perwalian sementara PBB untuk Lebanon.

Nakhleh memperingatkan bahwa jika “kondisi ini dibiarkan, Lebanon bisa bangkrut dalam dua tahun,” membuka jalan bagi oknum-oknum jahat untuk mengeksploitasi ketidakstabilan Lebanon. [rd/jm]

Continue Reading

TIMUR TENGAH

Menhan AS Kunjungi Pangkalan AU di Israel

Menhan AS Kunjungi Pangkalan AU di Israel



Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin Senin mengunjungi sebuah pangkalan angkatan udara Israel, di mana ia dijadwalkan menginspeksi sistem pertahanan misil Kubah Besi yang sangat dibanggakan negara itu.

Ia mendarat dengan helikopter di pangkalan Nevatim di Israel Selatan, di mana ia disambut oleh menteri pertahanan Israel Benny Gantz.

Austin sedang dalam lawatan pertamanya ke Israel sejak menjadi menteri pertahanan pada Januari lalu.

Kunjungannya bersamaan waktunya dengan munculnya ketegangan baru antara Israel dan Iran, setelah Teheran hari Minggu menyatakan fasilitas nuklir bawah tanahnya di Natanz mengalami listrik padam hanya beberapa jam setelah mulai mengoperasikan sentrifugal baru yang canggih yang mampu memperkaya uranium dengan lebih cepat.

Iran menyebut tindakan itu sebagai “terorisme nuklir” dan menuding Israel atas serangan sabotase.

Latar belakang utama kunjungan Austin adalah kekhawatiran pemerintah Israel mengenai upaya-upaya Washington untuk bergabung kembali dengan perjanjian nuklir Iran yang dianggap Israel sangat cacat.

PM Israel Benjamin Netanyahu selama bertahun-tahun menggambarkan Iran sebagai ancaman bagi eksistensi negaranya terkait dugaan Iran berupaya membuat senjata nuklir dan dukungan negara itu bagi kelompok-kelompok militan seperti Hezbollah di Lebanon. [uh/ab]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close