Connect with us

ASIA PASIFIK

AS Serukan Kepada Korea Utara Agar “Terlibat Secara Diplomatik”

AS Serukan Kepada Korea Utara Agar “Terlibat Secara Diplomatik”



Amerika Serikat mengatakan, pihaknya siap untuk terlibat secara diplomatik dengan Pyongyang guna mencapai sasaran akhir, yakni denuklirisasi Semenanjung Korea, menyusul kajian kebijakan selama berbulan-bulan terhadap Korea Utara.

“Yang kita miliki sekarang adalah kebijakan yang menyerukan sebuah pendekatan praktis yang terkalibrasi, yang terbuka dan akan menelusuri diplomasi dengan Korea Utara, untuk mengusahakan kemajuan praktis yang meningkatkan keamanan bagi Amerika, sekutu kami, dan pasukan kami disana,” kata Menteri Luar Negeri Antony Blinken dalam konferensi pers virtual bersama Menlu Inggris Dominic Raab di London, Senin (3/5).

Raab mengatakan, Inggris dan Amerika “berbagi paradigma strategik” dan kedua negara akan saling mendukung upaya masing-masing.

Pada Jumat (30/4), pemerintahan Biden mengumumkan pihaknya telah menyelesaikan kajian dari kebijakan terhadap Korea Utara, dan mengutarakan keterbukaan dengan negara komunis yang mengucilkan diri itu. Amerika juga diduga akan menunjuk utusan khusus untuk menanggapi isu-isu HAM Korea Utara.

Korea Utara mengecam Amerika dan sekutu-sekutunya pada Minggu (2/5) dalam serangkaian pernyataan, katanya komentar terbaru dari Washington adalah bukti dari sebuah kebijakan yang bermusuhan.

Sebuah pernyataan dari Kwon Jong Gun, kepada urusan Amerika Utara di Kementerian Luar Negeri Korea Utara, memperingatkan, bahwa Pyongyang akan mengusahakan “langkah-langkah setara.”

Dia juga mengatakan jika Washington berusaha mendekati hubungan dengan Pyongyang lewat “kebijakan yang sudah kadaluwarsa dan kuno” dari perspektif perang dingin, maka Amerika akan menghadapi sebuah krisis yang semakin tidak bisa ditanggungnya dalam waktu dekat ini. [jm/em]

Advertisement
Click to comment

ASIA PASIFIK

Pesawat AS yang Bawa Bantuan COVID-19 Tiba di New Delhi 

Pesawat AS yang Bawa Bantuan COVID-19 Tiba di New Delhi 



Pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) yang membawa bantuan penting untuk membantu India menanggulangi lonjakan infeksi COVID-19, tiba di New Delhi pada Rabu (5/5).

Pesawat itu membawa generator oksigen yang disumbangkan oleh Negara Bagian California, lebih dari 280 ribu unit tes diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test/RDT), dan lebih dari 1,3 juta masker N95.

Ini adalah pesawat bantuan keenam yang tiba dari AS sejak akhir April.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Amerika (U.S. Agency for International Development/USAID), India akan menerima lebih dari $100 juta bantuan dan pasokan penting dari Amerika untuk memerangi pandemi.

India mengalami wabah virus corona yang luas, dengan 382.315 kasus baru yang terkonfirmasi dan 3.780 kematian yang dilaporkan dalam 24 jam terakhir, yang secara luas diyakini di bawah jumlah sesungguhnya.

Beberapa negara asing termasuk AS, Inggris, dan Singapura sejauh ini telah mengirimkan bantuan ke India. [lt/jm]

Continue Reading

ASIA PASIFIK

Penasihat Senior India Peringatkan tentang Gelombang COVID-19 Ke-3

Penasihat Senior India Peringatkan tentang Gelombang COVID-19 Ke-3



Seorang penasihat sains senior pemerintah India, Rabu (5/5), memperingatkan, sebuah gelombang ketiga infeksi virus corona akan melanda negara itu, sementara India berjuang mengatasi efek menghancurkan dari gelombang yang sekarang berlangsung.

Pandemi di sana telah merenggut 4.000 nyawa dalam satu hari.

K. Vijay Raghavan menerbitkan peringatan itu setelah Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengatakan dalam laporan mingguannya, India mencapai hampir setengah dari semua kasus yang dilaporkan secara global minggu lalu, dan sekitar seperempat untuk jumlah korban yang tewas.

“Tahap tiga itu sudah merupakan kepastian, mengingat tingginya tingkat sirkulasi virus,” kata Raghavan pada sebuah konferensi pers di New Delhi.

“Namun, tidak jelas bagaimana skala waktu dari Tahap 3 ini… Kita harus bersiap-siap menghadapi gelombang baru ini.”

Krisis di India semakin diperbesar oleh kekurangan oksigen yang dibutuhkan untuk merawat pasien yang kritis, serta juga bahan mentah untuk memproduksi vaksin COVID-19.

Walaupun Serum Institute of India, produsen vaksin terbesar di dunia, berlokasi di sana, hanya 2 persen dari penduduknya yang berjumlah 1,3 miliar, telah divaksin.

Untuk membantu menanggapi kekurangan oksigen, Mahkamah Agung India, Rabu (5/5), memerintahkan pemerintah untuk mengajukan rencana guna memenuhi kebutuhan oksigen di rumah sakit-rumah sakit di New Delhi dalam satu hari.

Perdana Menteri Narendra Modi dan Partai Bharatiya Janata yang dipimpinnya telah dikecam habis-habisan selama beberapa minggu terakhir karena menyelenggarakan kampanye pemilihan besar-besaran di Bengali Barat.

Pakar kesehatan mengatakan, reli tersebut kemungkinan telah menyumbang pada kenaikan kasus COVID-19 yang memecahkan rekor di negara bagian itu. [jm/lt]

Continue Reading

ASIA PASIFIK

Kelompok Madani Desak PBB Berlakukan Embargo Senjata Terhadap Myanmar

Kelompok Madani Desak PBB Berlakukan Embargo Senjata Terhadap Myanmar



Lebih dari 200 kelompok masyarakat madani dan hak-hak asasi manusia (HAM) di seluruh dunia telah menyerukan kepada Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar memberlakukan embargo senjata terhadap Myanmar.

Harapannya langkah itu akan mencegah pihak militer di sana melakukan lebih banyak pembunuhan dan kekejaman.

“Kegagalan DK PBB untuk sekedar membahas sebuah embargo senjata terhadap junta di sana merupakan sebuah kelalaian yang menyolok dari tanggung jawabnya terhadap rakyat Myanmar,” kata Louis Charbonneau, Direktur Human Rights Watch untuk urusan PBB, kepada para reporter, Rabu (5/5).

DK telah menerbitkan empat pernyataan keprihatinan sejak militer Myanmar melancarkan kudeta pada 1 Februari, dan menggulingkan pemerintahan sipil serta menahan beberapa pemimpinnya dalam pertikaian siapa yang memenangkan pemilihan November.

Pada 24 April ASEAN menyelenggarakan sebuah KTT sehubungan situasi di Myanmar, serta menerbitkan pernyataan lima butir.

Namun, jenderal-jenderal di Myanmar tidak mempedulikan kedua lembaga ini dan masih terus menggunakan kekerasan untuk memadamkan protes-protes, serta juga melakukan serangan termasuk serangan udara, dan bersenjata terhadap kelompok-kelompok etnis.

Pemantau HAM mengatakan, lebih dari 760 warga sipil telah tewas, termasuk 51 anak-anak, dan lebih dari 4600 lainnya telah ditangkap dalam tindakan penindasan selanjutnya. [jm/lt]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close