Connect with us

Humaniora

Aksi Gerakan Sejuta Tes, Berbagi Nafas dengan Pinjamkan Tabung Oksigen Gratis

Aksi Gerakan Sejuta Tes, Berbagi Nafas dengan Pinjamkan Tabung Oksigen Gratis

[ad_1]

Ledakan kasus Covid-19 mengancam krisis pasokan oksigen dan tabung oksigen. Memang ketersediaan tabung oksigen belum mencukupi semua permintaan. Sehingga ada beberapa nyawa yang tak sempat tertolong. Situasi ini mendorong Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen memulai gerakan meminjamkan tabung oksigen kepada warga yang menjalani isolasi mandiri.

Jumat (9/7) barangkali menjadi hari yang tersibuk bagi Arief Bobhil dan kawan-kawan di Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur. Sejak awal Juli, ia dan Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen membuka peminjaman tabung oksigen kepada warga yang membutuhkan. Pagi itu, sudah ada 200-an pendaftar yang masuk. Dirinya dan kawan-kawannya di lapangan pun harus terpaksa menambah jam kerja.

“Dua jam pendaftaran dibuka dari pukul 07.00 WIB sudah ada 200-an yang daftar. Kami melayani sekitar 45 orang yang ambil ke kantor sampai pukul 23.00 WIB,” terang Bobhil, salah satu anggota Komite Kerja Sejuta Tes menukil dari MediaIndonesia.

Memang inistiatif tersebut muncul sebagai upaya merespon situasi masyarakat yang mulai mengalami krisis oksigen. Dibuka sejak awal Juli, Sejuta Tes pun kemudian berupaya menyediakan tabung oksigen hasil dana sumbangan yang masuk dari masyarakat.

“Ketika gerakan ini pertama kami buka, kami sengaja tidak buat pengumuman yang heboh karena khawatir ada lonjakan harga tabung. Tapi meski pengumuman hanya lewat Whatsapp (WA) Group begitu, tapi antusiasme warga berdonasi tinggi sekali,” ucap Alif Iman Nurlambang, Koordinator Tim Kerja Sejuta Tes.

Mengenal Cara Kerja Perangkat Oksigen untuk Kebutuhan Medis

Pengumuman untuk para donatur mulai dibuka pada Rabu (30/6). Kurang dari 24 jam setelahnya sudah terkumpul dana yang cukup untuk membeli 40 tabung ukuran 1-1,5 m3 lengkap dengan regulator dan nasal. Lalu besoknya, sudah mencapai 65 tabung. Hingga Sabtu, (3/7) berhasil diadakan 101 tabung.

“Saya terharu dan bangga dengan solidaritas masyarakat. Kalau Indonesia disebut negara paling dermawan, itu memang benar,” ujarnya.

Semua tabung oksigen yang dipinjamkan berukuran 1 kubik. Mereka yang memilih agar tabung bisa diantarkan pun tidak dikenai biaya. Meski wilayah kerja mereka melayani warga Jabodetabek, tim Sejuta Tes juga pernah mengantar tabung hingga daerah Karawang, Jawa Barat.

Atau sebaliknya, sang peminjam bisa langsung datang ke seketariat yang berada di kawasan Utan Kayu tersebut. Syaratnya mudah, peminjam bisa langsung mengisi formulir pendaftaran yang tersedia dalam tautan yang berada di bio Instagram @sejutates.

“Kalau prosedur bagi perwakilan pasien Covid-19 yang mau mendaftar itu bisa mengakses link di Instagram @sejutates, jalur pendaftarannya di situ. Jadi kalau sudah daftar nanti akan dihubungi oleh tim respons dalam kurun waktu dua jam,” kata Bobhil.

Setelah itu, timnya akan menanyakan terkait kondisi pasien untuk menentukan apakah pasien tersebut sudah membutuhkan tabung oksigen atau belum. Dalam satu hari pihaknya bisa meminjamkan paling banyak 40 set tabung oksigen bersama regulator, nasal dan alat-alat lainnya.

“Satu hari itu yang pengambilan dan pengantaran paling ramai bisa sampai 40 lebih. Paling lama peminjaman 5-7 hari maksimal,” ucapnya.

Saat oksigen harus memilih

Menjalankan misi kemanusiaan tentu tidak mudah. Peminat tabung oksigen sangat tinggi. Sementara stok yang tersedia di tempat penyimpanan tidak mampu memenuhi seluruh kapasitas permintaan.

Untuk itu, tim Sejuta Tes harus memfilter lagi mana orang yang betul-betul membutuhkan oksigen untuk diselamatkan. Pada hari pertama gerakan ini berjalan, ada 700 orang yang mendaftarkan diri lewat Google From.

“Ada banyak yang daftar, terakhir ada 700-an. Yang pilih admin. Dia filter yang bisa diberikan dan yang tidak,” terang Bobhil yang dilansir dari Republik.

Tim Setuja Tes setiap hari menerima permintaan oksigen sampai 1.700 orang. Dengan permintaan yang tinggi, kata Alif, pihaknya terpaksa harus memilih penerima oksigen gratis. Dia mengatakan oksigen gratis akan diprioritaskan kepada pasien dengan gejala sedang dan parah. Ia menyebut pasien yang dipilih yakni pasien dengan saturasi rendah.

“Kami prioritaskan yang saturasinya rendah tapi yang masih bisa dinaikan. Misalnya para ahli bilang kalau level 70, atau 80, itu udah enggak bisa ngapa-ngapain. Itu kan dilema. Kalau masih 85-91, mengingat daya jangkau waktu apalagi ada penyekatan jalanan, maka di level itu yang bisa kami berikan,” jelasnya.

Indonesia Lampaui India sebagai Episentrum Covid-19 Asia, Bagaimana Langkah Pemerintah?

Alif mengatakan banyak warga yang panik dan rela melakukan apa pun agar mendapatkan oksigen dan sembuh dari Covid-19. Dirinya mencontohkan ada orang yang ingin meminjam tabung oksigen kosong. Lalu, pasien itu akan mencari oksigen di tempat yang berbeda. Selain itu, ada juga yang sampai membeli regulator di tempat yang berbeda lagi.

“Itu kan perjudian tiga kali ya, menggambarkan kebutuhannya tinggi sekali,” ucapnya.

“Putus asa kayaknya bukan semi lagi, kayaknya sudah perpanjangan dua kali lima belas menit (istilah perpanjangan waktu di permainan sepak bola). Sudah melewati babak final keputusasaan mereka,” imbuhnya.

Namun ada sebuah kisah yang masih teringat oleh Alif, saat seorang pendaftar yang bersimpati dengan mendahulukan orang lain agar mendapatkan tabung. Padahal, pendaftar itu juga membutuhkan tabung oksigen.

“Agak mengharukan, di tengah kondisi genting. Mereka ada yang bilang gini, ‘kalau boleh kasih ke yang lain yang saturasinya membutuhkan (tabung oksigen). Saya harap Mas Alif bisa kasih ke orang yang tepat,” kenang Alif.

Merawat solidaritas

Rencana mendatang, Sejuta Tes pun berupaya untuk menambah lokasi pengambilan tabung oksigen, salah satunya di Depok, Jawa Barat. Hal ini bertujuan agar lebih menjangkau warga yang membutuhkan bantuan tabung tersebut.

“Sudah dua harian ini sampai Jumat, kami ada di di Kota Depok. Ke depan, kami juga akan mencoba membuka di Bekasi. Tapi ketersediaan tabungnya juga bergantung pada yang ada di Utan Kayu memang. Kami drop di Kota Depok ketika itu sekitar 10 tabung,” terang Bobhil.

Bobhil menuturkan, ia dan timnya juga terbuka dengan segala bantuan warga. Selain bisa berdonasi, katanya, warga bisa turun tenaga seperti membantu pendistribusian tabung atau menyediakan peminjaman tabung.

“Jadi, supaya warga yang di wilayah itu bisa lebih dekat, distribusinya juga bisa lebih cepat,” katanya.

Adapun gerakan ini telah selesai hingga 20 Juli 2021, bersamaan dengan berakhirnya masa PPKM Darurat. Tapi pihak Sejuta Tes tidak menutup kemungkinan bisa melanjutkan gerakan ini setelah melihat situasi yang terjadi. Bobhil juga tidak menutup kemungkinan akan menambah jumlah tabung oksigen yang bisa dipinjam kelak.

“Ke depannya akan meliihat perkembangan situasi karena sampai di hari ke-12 ini belum ada perubahan yang signifikan tentang ketersediaan tabung oksigen,” ucapnya.

Indonesia Komphack, Lahirkan Inovator Andal di Tengah Pandemi

“Meski bukan berarti gerakan ini jadi jalan keluar dalam proses pengendalian pandemi, setidaknya hal kecil ini bisa turut andil dalam upaya peningkatan menuju pandemi terkendali,” jelasnya.

Dalam kerja kolektif ‘Oksigen Untuk Warga’, Gerakan Solidartias Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia juga menerima sumbangan tabung oksigen dari para sukarelawan. Mengutip laman Kitabisa, hingga kini sudah terkumpul donasi sebesar Rp252.270.256 juta untuk gerakan tersebut.

“Warga juga bisa langsung ikut ke Gerakan Indonesia Kita, tertera di website Sejutates.id, kami juga menerima sumbangan tabung,” sambung Alif.

Ke depan, Alif berharap agar gerakan semacam ini bisa mengisi ruang-ruang kosong penanganan Covid-19 yang terkadang luput dari pemerintah. Saling membantu dan mengingatkan sangat diutamakan dalam upaya memutus rantai penularan Covid-19 di Indonesia.

“Selalu ada peluang bagi setiap warga untuk bergerak, yang mungkin luput atau tak diisi oleh pemerintah, kita bisa mengupayakan sesuatu di situ, kita bisa saling bantu sesama warga,” jelasnya.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Humaniora

Cara Leluhur Dekatkan Anak-Anak dengan Tuhan | Good News From Indonesia

Cara Leluhur Dekatkan Anak-Anak dengan Tuhan | Good News From Indonesia

[ad_1]

Mohammad Zaini Alif, pakar permainan tradisional Indonesia mengungkapkan bahwa arti dari dari kalimat tersebut tidak diketahui secara pasti, karena belum ada penelitian tentang sejarah yang menjelaskan kemunculan kalimat tersebut dalam permainan anak-anak. Permainan ini pun mulai ditinggalkan dan digantikan dengan permainan canggih.

Namun, selama pandemi Covid-19 ada perkembangan di masyarakat. Permainan-permainan tradisional mulai naik daun dan banyak dimainkan anak-anak untuk mengisi keseharian selama menetap di rumah.

Untuk melestarikan keberadaan permainan tradisional, Sjamsul, sebagai pihak dari Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah (Disdakmen) bersama pusat kurikulum tengah mempersiapkan modul permainan tradisional untuk ke dalam kurikulum.

Selamat Hari Anak Nasional!

#makintahuindonesia#Indonesia#Hompimpa#DolananAnak#Semenit

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Humaniora

Lima Bahasa Asing yang Kosakatanya Diserap Menjadi Kosakata Indonesia

Lima Bahasa Asing yang Kosakatanya Diserap Menjadi Kosakata Indonesia

[ad_1]

Ilustrasi bola dunia © Sigmund Unsplash


9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing. Begitulah judul buku karya Alif Danya Munsyi alias Remy Sylado. Penafian: artikel ini tidak akan menguraikan apalagi mempromosikan buku. Apa yang diungkapkan Remy Sylado dalam judul bukunya adalah gambaran bahwa bahasa Indonesia tidak serta merta ada tanpa kontribusi bahasa asing.

Sebagian besar kosakata bahasa Indonesia yang kita gunakan merupakan hasil adopsi dari bahasa asing. Itulah yang menjadi alasan kenapa kita kerap menemukan kata dalam bahasa asing yang mirip dengan bahasa Indonesia. Nah, berikut lima bahasa asing berkontribusi terhadap kata serapan dalam bahasa Indonesia.

1. Bahasa Sanskerta

info gambar

Ilustrasi bahasa Sanskerta | h0rde iStock Photo


Bahasa yang satu ini merupakan bahasa tertua sebagai bahasa sumber penyerapan Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan prasasti Talang Tuo di Palembang yang menggunakan kosakata bahasa Sansekerta pada 684 M. Bahasa Sansekerta juga kerap menjadi sarana penyebaran agama Hindu dan Budha sejak abad ke-7.

Selain sebagai sarana penyebaran agama, bahasa Sansekerta juga kerap digunakan dalam aktivitas perdagangan rempah-rempah dari India. Kata serapan dari bahasa Sanskerta di antaranya aneka, anugrah, bahasa, bencana, dan bicara.

2. bahasa arab

Ilustrasi Arab |  Rodnae Production Pexels.com

info gambar

Ilustrasi Arab | Rodnae Production Pexels.com


Bahasa Arab merupakan bahasa sumber kedua setelah bahasa Sanskerta. Sejak abad ke-12, bahasa Arab menjadi sarana penyebaran agama Islam di Indonesia. Usai agama Islam dikenal di Indonesia, banyak karya sastra yang ditulis dengan huruf Arab. Kata serapan dari bahasa Arab di antaranya abad, sopan santun, adat, adil, dan akrab.

3. Portugis

Ilustrasi bahasa Portugis | @souomau Unsplash

info gambar

Ilustrasi bahasa Portugis | @souomau Unsplash


Bahasa Portugis mulai dikenal oleh masyarakat penutur bahasa Melayu sejak 1511 ketika bangsa mereka menduduki Malaka. Pada abad ke-17, selain bahasa Melayu, bahasa Portugislah yang menjadi lingua franca antaretnis. Kala itu, bangsa Portugis pun kerap menyebarkan injil keagaaman untuk penduduk setempat. Kata serapan dari bahasa Portugis di antaranya bendera, celana, gardu, keju, dan mentega.

4. Bahasa Belanda

Ilustrasi bahasa Belanda | @marinacrds Unsplash

info gambar

Ilustrasi bahasa Belanda | @marinacrds Unsplash


Selama 350 tahun berada di Indonesia, mustahil Belanda tidak meninggalkan jejak. Selain sistem dalam beberapa bidang kehidupan, Belanda juga memberi warisan berupa kosakata serapan dalam bahasa Indonesia. Kosakata bahasa Belanda yang paling banyak diserap ialah berada pada ranah administrasi dan pemerintahan. Kata serapan dari bahasa Belanda di antaranya bendera, abonemen, akuntansi, dinas, dan kasir.

5. Bahasa Inggris

Ilustrasi bahasa Inggris | Joshua Hoehne Unsplash

info gambar

Ilustrasi bahasa Inggris | Joshua Hoehne Unsplash


Inggris pun pernah menduduki Indonesia meski tidak lama. Selama lima tahun sejak 1811, Rafles menginfasi Batavia. Ia pun pernah bertugas di Bengkulu pada 1818. Sebelumnya, pada 1696, Inggris mengirim utusan Ralph Orp ke Bengkulu dan membangun Benteng Fort Marlborough pada 1714 s.d. 1719. Hal-hal tersebut membuktinya adanya kontak antara bangsa Inggris dan penduduk lokasi pusat pemakaian bahasa Melayu.

Usai kemerdekaan Indonesia, kosakata serapan dari bahasa Inggris masuk melalui hubungan internasional. Kata serapan dari bahasa Inggris di antaranya figur, partisipasi, inovasi, kuis, dan proyek.

Itulah daftar bahasa asing yang menjadi bahasa sumber penyerapan kosakata bahasa Indonesia. Selain kelima bahasa di atas, bahasa apa lagi kalian tahu? Jawab di kolom komentar, ya.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Humaniora

Hiu dan Pari, Biota Laut Bernilai Penting Bagi Lingkungan Kini Terancam Punah

Hiu dan Pari, Biota Laut Bernilai Penting Bagi Lingkungan Kini Terancam Punah

[ad_1]

Ilustrasi hiu dan pari © Chan Min Chun/Shutterstock


Bagi Indonesia, laut tidak hanya dipandang sebagai perairan yang menyatukan gugusan pulau-pulau di Nusantara. Hamparan birunya sedari dulu juga sudah dikenal sebagai perairan yang menyimpan kekayaan beragam jenis ikan.

Melimpahnya jenis ikan di perairan Indonesia, tak khayal membuat negara ini pun disoroti banyak pihak. Salah satunya, terkait dengan perlindungan atas ancaman kepunahan ikan bertulang rawannya.

Sejak 2013, kelompok ikan bertulang rawan seperti hiu dan pari telah menjadi isu internasional, setelah masuknya beberapa spesies hiu dan pari manta dalam Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES).

CITES sebagai pengaturan pemanfaatan komoditas hiu dan pari secara internasional telah diratifikasi oleh Indonesia. Keikutsertaannya menjadi bagian dalam CITES tak dimungkiri karena Indonesia menjadi salah satu negara dengan penangkapan hiu dan pari dalam jumlah banyak, bahkan diasumsikan sebagai salah satu yang terbesar di dunia.

Padahal, banyak manfaat lain dari hiu dan pari selain dijadikan komoditi yang punya nilai jual. Hiu dan pari faktanya memiliki manfaat besar bagi kelangsungan ekosistem di perairan, bahkan eksistensinya di perairan dapat membantu meminimalisir perubahan iklim.

Berlibur Sambil Menyelamatkan Hiu

Bernilai penting bagi ekosistem perairan

Hampir seluruh bagian tubuh hiu dan pari menjadi target perburuan manusia karena nilai jualnya yang menjanjikan. Sehingga, penangkapannya pun tak dapat dihindari terjadi secara berlebihan (penangkapan ikan yang berlebihan). Tindakan yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya ikan, pada akhirnya memberikan dampak langsung kepada rantai makanan di perairan.

Hal ini karena hiu berperan sebagai predator puncak (pemangsa puncak) dari rantai makanan, sedangkan pari memiliki peran ekologis yang tidak kalah penting, terutama sebagai indikator dari keseimbangan ekosistem laut dengan berperan sebagai pemangsa organisme kecil yang ada di perairan (benthos predator).

Keberadaan hiu dan pari juga merupakan penyerap karbon alami, 10-15 persen jaringan tubuh hiu dan pari mengandung karbondioksida. Bila populasi hiu dan pari berenang bebas di lautan, ini artinya lebih banyak karbon yang diserap dan membantu meminimalisir perubahan iklim.

Selain berkontribusi menahan karbon, hiu dan pari juga berperan sebagai “pengaduk” laut alami yang dapat membawa nutrisi dari lapisan laut dalam ke permukaan dengan cara migrasi vertikal. Ketika di permukaan, hiu melepaskan nutrisi yang memastikan keberadaan fitoplankton di laut alga berukuran mikroskopik yang berperan penting dalam rantai makanan di laut, dan menghasilkan 50 persen oksigen di atmosfir. Ini artinya, hiu dan pari di lautan sana telah berperan dalam penyediaan sebagian oksigen yang kita hirup saat ini.

Sehingga, perlindungan populasi hiu dan pari menjadi suatu yang mendesak agar lebih banyak karbon yang diserap, kemudian juga berujung membantu meminimalisir perubahan iklim.

Overfisi ikan hiu-pari

info gambar

Data eksploitasi hiu-pari di Indonesia | GoodStats


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan populasi ikan hiu dan pari di seluruh dunia disebut turun drastis sebanyak 70 persen selama 50 tahun terakhir. Penangkapan ikan secara berlebih menjadi ancaman terbesar kepunahan ikan laut.

Indonesia dinilai menjadi negara dengan penangkapan hiu dan pari terbesar. Pada 1987 eksploitasi di wilayah perairan Indonesia tercatat sebesar 36.884 ton. Lalu mengalami peningkatan hampir dua kali lipat tahun 2000, dengan hasil tangkapannya sebesar 68.366 ton. Kemudian baru-baru ini tangkapannya kembali meningkat menjadi 88.790 ton per tahun atau mencapai porsi 12,31 persen secara global.

Menurut data KKP tahun 2016, Indonesia merupakan negara produsen hiu terbesar di dunia, dengan kontribusi sebesar 16,8 persen dari total tangkapan dunia. Tidak hanya ancaman tangkapan sampingan (satwa yang tertangkap secara tidak sengaja), penurunan populasi hiu juga terjadi akibat eksploitasi berlebihan yang didorong oleh tingginya permintaan akan produk-produk satwa tersebut.

Pemanfaatan dan eksploitasi hiu dan pari secara global sangat mengkhawatirkan. Tingginya jumlah permintaan sirip hiu dan insang pari manta di pasar internasional, mendorong tanda-tanda eksploitasi berlebih dengan adanya penangkapan hiu dan pari di banyak negara.

Shark Diving, Memadukan Pariwisata Selam dan Penelitian Hiu di Morotai 

Hiu-Pari diambang kepunahan

Hiu Pari di Indonesai | GoodStats

info gambar

Hiu Pari di Indonesai | GoodStats


Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP Prof Sjarief Widjaja mengatakan, jumlah biodiversity hiu dan pari di dunia berjumlah sekitar 531 jenis, di mana Indonesia memiliki kurang lebih 118 jenis, di mana seperempatnya diberi status Terancam Punah oleh IUCN.

Spesies hiu endemik khusus yang spesifik ada di Indonesia, salah satunya adalah Squalus hemipinnis, yang berada di wilayah selatan Bali, Lombok dan laut Jawa.

Di Selat Makassar, terdapat spesies hiu Apristurus sibogae. Selain itu terdapat spesies hiu endemik lainnya seperti Squatina legnota, Atelomvcterus baliensis, dan Mustelus widodoi, yang juga berada disekitar wilayah Laut Jawa, Bali dan Lombok atau di sekitaran Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 572.

Sayangnya Hiu dan pari di Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang kritis, baik spesies yang hidup daerah terumbu karang atau di wilayah samudera karena mengalami penurunan populasi yang signifikan. Spesies hiu, pari, dan chimera terancam punah karena penangkapan ikan yang berlebihan, baik dengan sengaja maupun tidak.

Pemanfaatan ikan hiu-pari

Sederet manfaat ikan hi-pari | GoodStats

info gambar

Sederet manfaat ikan hi-pari | GoodStats


Hiu-pari merupakan salah satu biota laut yang amat bernilai, dagingnya dapat dijadikan bahan pangan bergizi tinggi, siripnya untuk ekspor, dan kulitnya dapat diolah menjadi bahan industri kerajinan kulit berkualitas tinggi, serta minyak hiu sebagai bahan baku farmasi atau untuk ekspor.

Tanpa kecuali gigi, empedu, isi perut, tulang, insang dan lainnya masih dapat diolah untuk berbagai keperluan seperti bahan lem, ornamen, pakan ternak, bahan obat dan lain-lain.

WWF Indonesia melaporkan pada tahun 2014, konsumsi sirip hiu di Jakarta sendiri terhitung setidaknya 15.000 kg per tahun. Universitas Perikanan Jakarta juga menyebutkan bahwa hiu di perairan laut Indonesia adalah bisnis besar yang tersembunyi. Harga satu kilogram sirip hiu pada tahun 2007 saja mencapi 660 dolar AS di pasaran Asia, dengan nilai ekspor produk mencapai 13 juta dolar AS setiap tahun. Harga itulah yang menggiurkan nelayan Indonesia untuk memburu hiu dan menjualnya terutama ke Taiwan, Hongkong, dan China.

Tingginya permintaan terhadap ikan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia, pada akhirnya menuntut kebijakan pemanfaatan sumber daya ikan secara optimal dan berkelanjutan. Hal ini bermaksud untuk menjaga populasi ikan, khususnya spesies hiu dan pari agar tidak menuju ambang kepunahan.

Menjaga Populasi Hiu, Menjaga Masa Depan Indonesia

Regulasi konservasi hiu-pari di perairan Indonesia

Pengaturan tentang pemanfaatan hiu dan pari pertama kali diluncurkan pada 1999, melalui peraturan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dimana dalam peraturannya, ikan pari gergaji menjadi jenis yang dilindungi secara penuh, sedangkan jenis hiu dan pari lainnya masih dapat dimanfaatkan secara bebas.

Seiring berjalannya waktu, regulasi tentang penetapan perlindungan jenis hiu dan pari terus diperluas. Seperti halnya, pada 2013 disusul dengan status penetapan perlindungan ikan hiu paus dan pada 2014 terhadap hiu koboi dan hiu martil. Pada tahun 2014 juga, dikeluarkan Kepmen KP nomor 4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta.

Adapun tantangan terbesar dari penyusunan regulasi konservasi terkait hiu dan pari di Indonesia adalah pengumpulan informasi ilmiah mengenai sumber daya ikan tersebut. Menurut CEO Yayasan WWWF Indonesia, Dicky P. Simorangkir, basis kajian ilmiah terkait populasi dan perilaku spesies hiu dan pari harus dikumpulkan agar regulasi nantinya kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Lewat simposium hiu dan pari ini kami harap dapat mengumpulkan banyak informasi mengenai populasi dan perilaku spesies ini dari seluruh pelosok dunia. Laut kita sangat luas, kita perlu berkolaborasi dari semua pihak, mulai dari nelayan, petugas penyuluh perikanan, mahasiswa, sampai pengelola wisata bersama hiu,” ujarnya dikutip greeners.co (10/4/2021).

Peta persebaran enumerator hiu-pari di Indonesia

Enumerator hiu-pari di Indonesia periode 2014-21021 | GoodStats

info gambar

Enumerator hiu-pari di Indonesia periode 2014-21021 | GoodStats


Untuk menjaga habitat penting dan populasi hiu-pari di Indonesia, Yayasan WWF Indonesia melakukan upaya konservasi melalui beberpa strategi-strategi, salah satunya Pengumpulan Enumerasi atau Pendataan pendaratan hiu dan pari di beberapa lokasi di Indonesia

Enumerator menjadi bagian penting dari kegiatan perlindungan dan pemanfaatan hiu dan pari di perairan Indonesia. Dengan fungsinya, sebagai konsultan yang melakukan pengumpulan data hiu dan pari. Maka diharapkan hasil penelitian nantinya dapat meningkatkan keakurasian data informasi perikanan nasional dan regional.

Yayasan WWF Indonesia menjadi salah satu yang berkomitmen mendukung upaya penyediaan data mengenai hiu dan pari. Organisasi nirlaba tersebut telah melakukan program enumerasi di berbagai lokasi di Indonesia sejak tahun 2014.

Tercatat, lebih dari 50 enumerator dari 27 Universitas di Indonesia yang tersebar di 12 lokasi untuk melakukan penelitian.

Persebaran enumerator hiu-pari di Indonesia pun telah menghasilkan lebih dari 30 kajian ilmiah, baik dipublikasin berupa skripsi, thesis, prosiding, maupun jurnal.

Misteri Hiu Purbakala Megalodon di Pangandaran

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close