Connect with us

HEADLINE

76 Rumah Gadang Tua Menghiasi Perkampungan Adat di Nagari Sijunjung

76 Rumah Gadang Tua Menghiasi Perkampungan Adat di Nagari Sijunjung


“Selamat Datang di Kawasan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung”, Begitulah sekiranya sambutan awal ketika memasuki perkampungan ini. Tak jauh dari gerbang, kita akan menjumpai patung perempuan berpakaian adat yang dikenal dengan sebutan Puti Junjung.

Jika Kawan berdiri persis di dekat patung yang menjulang setinggi lima meter tersebut. Maka, tampaklah sederetan rumah gadang yang tertata rapi di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan.

Kampung yang berlokasi di Jorong Padang Ranah Sijunjung, Sumatra Barat ini memang terkenal sebagai nagari yang masih punya banyak rumah gadang tua.

Rumah-rumah ini dibangun pada abad ke 14 dan ditempati oleh beragam masyarakat dari suku Minang. Mulai dari suku Chaniago, Piliang, Malayu, Tobo, Panai sampai Malayu Tak Timbago.

Menariknya lagi, Kampung Adat ini memilik total 76 rumah gadang tua yang bahan bangunannya masih menggunakan material lokal, seperti kayu dan bambu.

Melihat arsitektur bangunan rumah gadang sijunjung

Salah satu rumah gadang yang berada di Nagari Sijunjung © Canro S/Shutterstock

info gambar

Dari segi bentuk bangunan, arsitektur rumah gadang di Kampung Adat Nagari Sijunjung merupakan tipe rumah gadang yang tergolong kecil. Bentuk bangunannya memiliki konsep persegi panjang dengan jumlah ruangan rumah gadang bisa sampai lima ruang.

Kayu menjadi salah satu material yang digunakan pada bangunan tersebut. Hal ini bisa terlihat dari tiang atau tonggak penyangga bangunan rumah gadang. Selain kayu, bambu juga menjadi material yang digunakan sebagai dinding, atap, dan lantai rumah gadang.

Khusus untuk material lantai rumah gadang maka saat ini penggunaan bambu mulai digantikan oleh papan dari kayu surian atau kayu dari pohon kelapa.

Layaknya lantai rumah gandang, saat ini penggunaan material penutup atap yang dulunya terbuat dari ijuk juga sudah tergantikan dengan seng. Hal ini dikarenakan material tradisional ijuk membutuhkan waktu lama dalam proses pembuatannya dan semakin sedikit orang yang mampu merakitnya.

Tidak ada bangunan rangkiang di halaman rumah gadang

Dari 76 rumah gadang di Kampung Adat Nagari Sijunjung, tidak ada satupun berdiri bangunan rangkiang di halamannya. © NGI

info gambar

Tidak seperti kebanyakan rumah gadang di Sumatra Barat. Deretan 76 rumah gadang di Kampung Adat Nagari Sijunjung ini tidak ada satupun berdiri bangunan rangkiang di halamannya.

Rangkiang sendiri memiliki bentuk seperti rumah kecil yang digunakan untuk menyimpan padi. Walaupun tidak memiliki rangkiang, rumah gadang ini menyimpan hasil panennya dibawah lantai rumah yang tinggikan.

Padi hasil panen itu dimasukkan di bawah lantai kemudian ditutup dengan tikar. Tumpukan padi itu kadang juga sebagai pengganti kasur. Bahkan, konon katanya apabila tidur di atas tumpukan padi bisa sebagai terapi kesehatan.

“Ciri khas memang disimpan di bawah lantai. Mayoritas memang kayak gini, tak ada rangkiang. Apabila perlu padi tinggal dibuka tikar lalu ambil. Kalau punya saya ini ada sekitar 60 goni (karung),” kata Yeni pada langgam (13/11/2019)

Masuk daftar warisan dunia UNESCO

Pada 2015 perkampungan Adat Nagari Sijunjung secara resmi masuk dalam daftar tentatif warisan dunia UNESCO. © NGI

info gambar

Nagari Sijunjung yang berjarak 122 kilometer dari Padang ini merupakan salah satu contoh perkampungan adat di Indonesia. Deratan 76 bangunan rumah gadangnya ini dapat menjadi penawar rindu dari kian langkanya rumah gadang di negeri tanduk kerbau.

Keindahan dan sejarah yang ada di Kampung Adat Nagari Sijunjung pun membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menetap daerah tersebut sebagai kawasan cagar budaya nasional.

Tak hanya itu, pada 2015 perkampungan Adat Nagari Sijunjung juga masuk dalam daftar tentatif warisan dunia UNESCO. Tujuannya sendiri adalah untuk melestarikan rumah gadang dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

==

Sumber Referensi:

Kemendikbud.go.id | Langgam.id | Laporan Green Architecture

Baca Juga:





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Legenda Maselihe, Kerajaan di Kepulauan Sangihe yang Tenggelam ke Bawah Laut

Legenda Maselihe, Kerajaan di Kepulauan Sangihe yang Tenggelam ke Bawah Laut


Jembatan Maselihe merupakan jembatan tertinggi di Kepulauan Sangihe. Ketika berada di atas jembatan ini, kita dapat melihat keindahan panorama hutan tropis yang masih lebat serta tebing yang kokoh di tepi pantai.

Bukan hanya panorama indah, jembatan ini pun menyimpan cerita legenda tentang kerajaan yang tenggelam ke bawah laut. Disini tersimpan misteri kerajaan Maselihe yang saat itu hilang ditelan laut akibat skandal yang dilakukan Raja Sjam Sjah Alam (Samansialang) memerintah dari tahun 1685 – 1711, dengan kursi kerajaan dan Mahkota emas yang dijaga ikan Hiu di Patahan Maselihe .

Ada keyakinan pada sebagian besar masyarakat (namun ada juga yang menolak teori ini) bahwa bencana besar itu merupakan jawaban alam akan pelanggaran besar yang dilakukan oleh sang raja yakni mengawini anak kandungnya sendiri.

Lokasi jatuhnya Kerajaan ini dijadikan objek wisata bahari dengan sebutan ” Maselihe” . Pantai / laut Maselihe memiliki kedalaman yang sangat dalam dan tidak memiliki pantai sehingga masyarakat menyebutnya Patahan Maselihe.

Menurut penelitian, kerajaan ini tenggelam oleh karena peristiwa Dimpuluse (air jatuh dari langit), yang mengakibatkan mereka terdampar di tempat yang bernama Panimbuhing. Bukti peristiwa ini adalah Tanjung Maselihe, yang di dalam lautnya ditemukan kursi emas dan mahkota raja.

Baca juga Menjelajah Surga Wisata Alam di Kepulauan Sangihe

“Kerajaan ini dulu merupakan sebagian daratan pulau Sangir (Sangihe) yang tenggelam karena impuluse (awan hitam tebal berkumpul jadi satu, lalu jatuh dalam bentuk air yang berat), sehingga daratan menjadi laut, termasuk pulau Kaluwulang. Nah ini diperkirakan tahun 1654 Masehi tenggelam,” Ucap Asisten Deputi Lingkungan dan Kebencanaan Maritim, Kemenko Maritim Sahat Panggabean, Selasa (02/05/2017) yang dikutip dari Maritim.go.id.

Menurutnya Pulau Sangihe ini dulu bersambung dengan pulau-pulau yang lainnya, tapi kini dataran tersebut terputus menjadi beberapa pulau kecil yang berada di antara Pulau Sangihe dan Pulau P. Marulung (Balut). Di mana terdapat Tandusan Napong Elise, sebuah karang yang menonjol menyerupai pasangan manusia yang sedang bercumbu.

“Dengan bagian yang terbesar daratan sudah tenggelam ke dasar laut, akibat dari letusan gunung api dahsyat yang terjadi beberapa kali,” tambahnya.

Letusan dahsyat Gunung Awu

Gunung Awu merupakan salah satu dari 129 gunung berapi yang ada di lintasan cincin api nusantara meskipun tidak berada di lempeng Indo-australia, Pasifik atau Eurasia melainkan di lempeng Filipina. Awu dalam Bahasa Sangihe berarti abu atau sisa.

Sehingga dipahami oleh masyarakat Sangihe bahwa sosok Gunung Awu saat ini. Hanyalah sisa dari sosok Gunung Awu di masa lalu yang pernah menghadirkan katastrofi yang begitu dahsyat.

Gunung Awu adalah satu gunung bertipe stratovolcano yang berlokasi di bagian utara Pulau Sangihe Besar, Kepulauan Sangihe. Memiliki profil setinggi 1320 m dari permukaan laut namun jika dihitung dari dasar laut tingginya mencapai 3300 meter.

Dari catatan Smithsonian Global Volcanism Program, Gunung Awu pernah meletus pada tahun 1640-41, 1711, 1812, 1856, 1875, 1883, 1885, 1892, 1893, 1913, 1921, 1922, 1930, 1966, 1992, dan yang terakhir adalah 2004. Total telah merenggut sekitar 8000 nyawa dan ribuan orang harus mengalami cidera, kerusakan pemukiman, dan pengungsian besar-besaran.

Baca juga Burung Endemik Seriwang Sangihe Kini Terancam Pertambangan Emas DA

Dari daftar peristiwa letusan di atas, letusan pada tahun 1711, 1856 serta 1966 adalah yang tercatat cukup besar. Menurut Ridion Sasiang, seorang tokoh masyarakat Kendahe, sebelum gunung meletus akan muncul orang gila di kampung entah dari mana yang berteriak-teriak bahwa gunung meletus dan menyuruh orang-orang pergi.

Menurut Science Daily, kejadian erupsi gunung ini pada tahun 1711 menjadi yang paling monumental. ledakan berskala indeks Moderate-Large menghancurkan beberapa kawasan di pulau ini dan merenggut 3000 jiwa akibat awan panas serta gelombang ledakan dari magma.

Akan tetapi terdapat sebuah catatan yang sangat menarik selain kejadian geologis semata mengenai kejadian ini. Masyarakat Sangihe khususnya Kendahe mengingat masa ini sebagai masa paling kelam dalam sejarahnya karena dalam angka 3000 tersebut, juga terdapat anggota kerajaan, nenek moyang mereka yang tenggelam bersama seluruh kerajaan dan “kota” Maselihe yang indah.

Menurut masyarakat Kendahe dan Sangihe umumnya, pada saat itu tak hanya letusan gunung yang membunuh melainkan juga terjadi angin puting beliung dan tsunami hebat sehingga kejadian itu dianggap sebuah malapetaka besar.

Keyakinan lain adalah bahwa kejadian multibencana inilah yang menyebabkan kerajaan tenggelam (secara harafiah) ke dalam laut dan meninggalkan sebuah daerah tak berpenghuni yang sekarang dikenal dengan nama Tanjung Maselihe.

Selain itu keberadaan mitos dan legenda ini seperti ingin mengingatkan bahwa masyarakat Sangihe pernah mengalami bencana di masa lalu. Jadi mereka akan selalu diintai oleh ancaman yang sama selama mereka tinggal di sana.

Maka penting waspada dan mengingat untuk menjaga setiap perilaku baik kepada manusia dan lingkungan. Selain memberikan bencana, pada sisi lain Gunung Awu juga memberikan kesuburan luar biasa bagi kebun-kebun pala, cengkeh, dan kelapa milik masyarakat.

Laut Sangihe menyimpan kekayaan bahari luar biasa

Tim UGM Maritim Culture Expedition melakukan ekspedisi di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara pada 25 April-10 Mei 2017. Pada ekspedisi The Northen of Nusantara ini, mereka berhasil mengungkap potensi bawah laut Sangihe dari memetakan dan menginventarisasi peninggalan budaya maritim.

“Kami dapatkan 25 situs tersebar di tiga Sangihe,” katanya yang dilansir dari Mongabay.

Dulu masyarakat Sangir mengandalkan kehidupan dari laut, setelah pembajak laut dari Sulut termasuk Mindanau untuk ekspansi, orang Sangir berpindah pemukiman ke pegunungan.

“Selama mereka bersembunyi di hutan-hutan, perbukitan, tradisi nelayan dan pertanian mereka tak maju,” katanya.

Fairuz Azis, salah satu tim ekspedisi mengatakan, hasil survei di Tahuna ada 12 situs meliputi kompleks bangunan dan benda arkeologi. Bangunan bergaya kolonial mendominasi tinggalan di Kecamatan Tahuna, antara lain gereja, makam, rumah, jangkar tua, dan kapal karam.

Sultan Karunia AB mengatakan, di Manganitu terdapat lima situs arkeologi meliputi makam raja rumah raja, gereja, dan goa yang tersebar di beberapa desa.

Baca juga Punya Banyak Pulau, Indonesia Jadi Negara dengan Garis Pantai Terpanjang Ke-2 di Dunia

Goa merupakan tinggalan zaman prasejarah, berada di tepi pantai dan ada lukisan bergambar wajah dan manusia pakai pahat.

“Hasil ekspedisi telah kami presentasikan di Balai Arkeologi Manado (Balar). Mereka apresiasi hasil temuan kami,”katanya.

Banyaknya bukti kekayaan bahari di laut Sangihe membuat pemerintah di bawah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Akan melakukan ekplorasi atau observasi untuk dihubungkan bilamana ada kesesuaian bukti yang bisa mengarah ke tenggelamnya Benua Atlantis.

Letak geografi kepulauan Sangihe Talaud ini berada di bibir pasifik, sehingga bagian daratan kepulauan Sangihe Talaud yang tenggelam mempunyai kait-mengait tenggelam pulau (Benua) Atlantik.

“Selain itu, ditemukan pula ikan-ikan purba yang hidup di perairan Sangihe Talaud, yang diperkirakan sudah ada sejak 150 ribu sampai 200 ribu tahun yang lalu,” jelas Kabid Pengelolaan Lingkungan Laut Nurul Istiqomah pada 2017 lalu.

Lokasi itu akan disurvei oleh Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dan akan diidentifikasi untuk dilaporkan ke pemerintah baik pusat maupun daerah. Hasil dari identifikasi ini nantinya akan menjadi bahan bagi pengambil kebijakan pemerintah pusat dan daerah.

“Pengelolaan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di Kepulauan Sangihe ini sangat diharapkan, karena akan membuka sejarah yang terkandung di dalamnya untuk meningkatkan pengetahuan sejarah Kepulauan Sangihe yang merupakan bagian dari sejarah bangsa Indonesia,” tambahnya.





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Ikuti 5 Langkah Membuat Copywriting Menarik yang Dapat Memikat

Ikuti 5 Langkah Membuat Copywriting Menarik yang Dapat Memikat


Penulis: Ega Krisnawati

#WritingChallenge#InspirasidariKawan#NegeriKolaborasi

Umumnya penjualan suatu produk atau barang dilakukan dengan cara diiklankan melalui media, papan iklan, hingga koran. Kendati begitu, iklan juga bisa dibuat dalam satu kalimat caption di media sosial saja lho Kawan!

Upaya penjualan produk melalui caption disebut dengan copywriting. Menurut laman Niagahoster, Copywriting adalah teknik membujuk pembaca untuk mengikuti perintah Kawan.

Tentu saja perintah itu berisi ajakan untuk membeli, berlangganan, mendaftar, mengkonsumsi produk yang dijual. Semula, copywriting hanya digunakan dalam pembuatan advertorial, sales letter, billboard, dan media pemasaran tertulis lainnya.

Hal ini pula yang membuat teknik ini disebut dengan “copywriting”. Kendati demikian, di zaman serba digital ini teknik copywriting menjadi lebih luas penggunaannya, salah satunya adalah teknik pembuatan naskah video dan podcast.

Baca juga Petuah Nenek Moyang, 5 Desa Ini Dilarang Menjual Nasi

Beberapa contoh penggunaan teknik copywriting lainnya terletak di media pemasaran seperti, teks di landing page, artikel blog, email newsletter, unggahan media sosial, headline dan meta description pada hasil pencarian Google, iklan berbayar di Google maupun media sosial, serta judul dan deskripsi video YouTube. Rupanya banyak juga, ya, Kawan cakupan pekerjaan seorang copywriter?

Memahami teknik copywriting sangatlah penting. Jika tidak, maka Kawan akan mengalami hal-hal seperti, tingkat konversi pelanggan rendah, traffic situs tidak kunjung naik, unggahan di media sosial tidak mendapat banyak respon, dan artikel blog Kawan jarang dibaca atau dibagikan orang lain. Selain itu, tidak banyak yang berminat untuk mengunduh ebook Kawan, email list sepi pendaftar, dan usaha pemasaran afilasi sepi peminat.

Langkah membuat copywriting

Copywriting | Foto: Mas Fkr

info gambar

Baca juga Mengenal Lebih Jauh Arti Emotional Blackmail

1. Pelajari produk atau layanan Kawan

Mempelajari produk atau layanan Kawan adalah hal yang sangat penting. Kawan tidak perlu melakukan hal ini lagi apabila produk tersebut diciptakan oleh Kawan sendiri. Maka itu, agar dapat membuat copywriting yang mampu mencapai target pemasaran, Kawan perlu menanyakah hal-hal berikut terlebih dahulu.

  • Apa yang unik dari produk tersebut?
  • Apa saja fiturnya?
  • Apa manfaat yang didapatkan konsumen dari fitur tersebut?

2. Pahami kebutuhan audiens

Proses memahami kebutuhan audiens terbilang lebih penting daripada mempelajari produk itu sendiri. Hal ini disebabkan karena, bila Kawan sudah mempelajari produk tapi tidak mampu memahami kebutuhan audiens, maka copywriting tidak akan tepat sasaran.

Teknik untuk memahami audiens adalah membagikan survei ataupun menanyakan langsung pendapat audiens terkait kebutuhan mereka terhadap produk yang dipasarkan. Pertanyaan terkait kebutuhan audiens dapat dikirim melalui email ataupun melalui interactive content di media sosial. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan, yaitu:

  • Apa yang membuat Anda tertarik dengan produk kami?”
  • “Apakah Anda pernah menggunakan produk serupa?”
  • “Bagaimana pengalaman Anda menggunakannya?”

3. Tentukan headline yang memikat

Sebanyak delapan dari 10 audiens hanya akan membaca judul atau headline copywriting Kawan. Hal ini berarti, Kawan harus bisa menciptakan judul yang betul-betul menarik perhatian.

Hal yang dibutuhkan untuk mewujudkan hal ini adalah kreatifitas yang tinggi. Pertanyaan kunci yang bisa diberikan untuk Kawan sebelum membuat headline, yaitu:

  • Jelaskan manfaat yang anda tawarkan
  • Buat pembaca ingin segera membeli
  • Cantumkan persentase

Baca Juga Apa Bedanya Vaksin Sinovac dan Astrazeneca?

4. Buat copy yang berkualitas

Meski lead adalah bagian yang penting, tapi membuat copy yang berkualitas juga tidak kalah penting. Terdapat beberapa formula agar Kawan dapat membuat copy yang berkualitas, yaitu:

  • Gunakan kata dan kalimat sederhana
  • Tulis untuk satu orang saja
  • Jelaskan manfaat bagi audiens
  • Manfaatkan subheading

5. Akhiri dengan kalimat persuasif

Kalimat persuasi ini dapat berupa, ajakan untuk membeli produk, subscribe konten, daftar newsletter, atau lainnya. Agar dapat mewujudkan ajakan tersebut, Kawan dapat menggunakan teknik Call-To-Action (CTA). Dilansir dari Alona, CTA adalah tombol, banner, atau formulir yang berisi perintah bagi audiens. Contoh kalimat CTA, yaitu “Mulai Sekarang” atau “Daftar Sekarang”.

Nah, itulah cara membuat copywriting yang menarik. Agar bisa semakin andal dan terbiasa membuat artikel, Kawan bisa mengikuti Writing Challenge dari Kawan GNFI. Informasi lebih lanjut, klik tautan berikut, ya!*

Referensi: Alona | Niagahoster





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Menilik Tantangan dan Masa Depan Pendidikan Berbasis Teknologi di Tanah Air

Menilik Tantangan dan Masa Depan Pendidikan Berbasis Teknologi di Tanah Air


Situasi pandemi memang belum menunjukkan tanda-tanda usai, tapi jika menilik kemunculannya yang sudah memberikan dampak pola kehidupan baru di berbagai aspek, ada satu bidang yang dalam keberlangsungannya selama situasi pandemi tak kalah menyita perhatian karena perubahan drastis yang terjadi, yaitu pendidikan.

Kita semua tahu, kalau sudah lebih dari setahun ini sistem pembelajaran di berbagai tingkatan pendidikan mau tidak mau harus menjalani sistem pembelajaran daring, yang di mana dalam penerapannya sudah pasti mengandalkan teknologi.

Walau terlihat dapat dijalankan dengan lancar dan dinilai berhasil bagi beberapa masyarakat tertentu, tidak dimungkiri kalau nyatanya masih banyak tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan berbasis teknologi, terutama apabila dikaitkan pada pendidikan di jenjang lebih tinggi yang menjadi pengantar lanjutan untuk menciptakan SDM di industri pembangunan tanah air.

Beruntungnya, salah satu pelaku bisnis di industri pembangunan tanah air yaitu PT Trakindo Utama (Trakindo), memandang tantangan pendidikan berbasis teknologi yang berjalan selama situasi pandemi sebagai persoalan yang serius dan sepatutnya ditelaah bersama dengan berbagai pemangku kepentingan, baik dari pihak institusi pendidikan maupun pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), melalui forum Bincang PERSpektif Trakindo, Kamis, (10/6/2021).

Baca juga Angkatan Corona: Wisuda Daring, Susah Cari Kerja, Hingga Quarter Life Crisis

Tantangan pendidikan berbasis teknologi menurut Kemendikbudristek

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikbudristek, Dr. H. Yaswardi, M.Si, menyampaikan kondisi keberlangsungan pembelajaran secara virtual atau sekolah daring yang berjalan selama lebih dari satu tahun ke belakang ini.

Menurutnya, tantangan besar utama dihadapi oleh para tenaga pengajar baik bagi guru di sekolah menengah atau dosen di perguruan tinggi, yang dituntut untuk terus berkreasi menciptakan situasi pembelajaran daring yang menarik dan kondusif bagi para pelajar.

“Covid-19 memang mendorong para dosen universitas dan guru di sekolah lebih banyak fleksibilitas dan kreativitas dengan alat interaktif digital daring yang mendukung kolaborasi antara mahasiswa atau siswa, dosen, dan guru. Bagian paling menarik adalah melihat bagaimana para guru inovatif dalam hal membuat pengalaman belajar lebih baik bagi siswa mereka,” papar Yaswardi.

Baca juga Infrastruktur Daring Pendukung Pembelajaran di Rumah

Cara institusi hadapi tantangan pendidikan berbasis teknologi

Dalam forum yang sama, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Mochamad Ashari M. Eng. menjadi pihak yang berkesempatan menyampaikan pandangan dari sisi institusi pendidikan.

Ashari dalam pernyataannya mengajak masyarakat untuk sama-sama merefleksikan dampak positif dan negatif pembelajaran virtual secara bijaksana, baik di level sekolah dasar dan menengah maupun pendidikan tinggi.

“Situasi pandemi nyatanya mengilhami percakapan dan gagasan baru tentang cara terbaik dalam sistem pembelajaran pelajar. Banyak pendidik mengubah metode pengajaran mereka untuk mendorong lebih aktif berinteraksi dan berkomunikasi melalui pengaturan virtual. Hal ini menjadi bagian dari perubahan yang bisa kita lihat dalam pendidikan teknologi,” ungkap Ashari.

Baca juga Yuk, Belajar dengan Kursus Daring Karya Anak Bangsa!

Dirinya juga tidak menampik, bahwa bagi hampir sebagian besar institusi pendidikan di tingkat perguruan tinggi nyatanya sudah memiliki sistem pembelajaran daring atau virtual di beberapa mata kuliah tertentu jauh sebelum kondisi pandemi terjadi. Sehingga saat kebijakan pembelajaran daring dilakukan secara penuh, berbagai perguruan tinggi rata-rata hanya perlu menyesuaikan sistem yang sudah ada.

Lain halnya bagi sistem pembelajaran di tingkat sekolah dasar atau menengah yang memang hampir sebagian besar masih asing dengan pembelajaran daring, yang mau tidak mau menjadi kebiasaan baru dan masih perlu melalui beberapa proses untuk bisa menyesuaikan secara sepenuhnya walau sudah berjalan selama hampir satu tahun lebih sampai saat ini.

ITS yang pada dasarnya merupakan perguruan tinggi dengan label keunggulan di bidang Teknologi, kenyataanya berhasil memberikan pembuktian bahwa situasi pandemi yang terjadi tidak menghalangi sistem pendidikan yang tetap bisa bejalan dengan semestinya dan dibarengi dengan berbagai prestasi yang dimiliki oleh para pelajar.

Baca juga VIOLETA, Robot Sterilisasi Covid-19 Berbasis Sinar UV Kolaborasi ITS – Unair

Berangkat dari hal tersebut, bukan tidak mungkin jika hal serupa juga bisa dijalankan oleh berbagai insitusi pendidikan dari berbagai tingkatan dengan dibarengi penyesuaian budaya dan kapasitas, terutama dalam hal teknologi digital bagi SDM, termasuk guru, dosen, serta tenaga kependidikan.

Peran perusahaan dalam dunia pendidikan berbasis teknologi

Beruntungnya, di Indonesia ada banyak perusahaan yang menaruh perhatian dan kepedulian tinggi terhadap berbagai aspek keberlangsungan masyarakat atau yang lebih umum dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR), tak terkecuali untuk bidang pendidikan.

Salah satu yang memiliki kepedulian tinggi terhadap hal tersebut di antaranya Trakindo, lewat komitmen memberikan kontribusi pada kemajuan dunia pendidikan Indonesia. Yulia Yasmina selaku Chief Administration Officer Trakindo menyatakan tanggung jawab perusahaan, sebagai pemain di industri yang membutuhkan SDM berkualitas terutama yang memiliki keahlian di bidang teknologi.

Kontribusi Trakindo

info gambar

Melihat fenomena teknologi yang menjadi tulang punggung dalam pembangunan Indonesia, terlebih dalam segi infrastruktur, Trakindo turut serta berkontribusi lebih jauh dalam pendidikan Indonesia yang berbasis teknologi, yaitu dengan mendukung pengembangan di jurusan-jurusan terkait teknologi, serta menambah dukungan dan kerja sama di bidang terkait.

“Langkah tersebut diperlukan untuk menyiapkan tenaga dan SDM terlatih yang siap kerja dan mampu menghadapi tuntutan teknologi di masa depan,” ungkap Yulia.

Setelah mendapat pandangan dari berbagai pemilik kepentingan baik dari sisi pemerintah melalui Kemendikburistek, Institusi pendidikan yang diwakili oleh ITS, dan Trakindo sendiri sebagai pemain di industri teknologi, Yulia meyakinkan bahwa dengan sinergi berkelanjutan yang ada dari semua pihak, pendidikan berbasis teknologi di Indonesia akan mampu mencetak SDM yang unggul dan bermutu.

“Pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak dan membutuhkan kolaborasi yang sinergis untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang unggul dan pembelajaran yang bermutu,” tutup Yulia.

Baca juga Indonesia di Jajaran Tertinggi Penggunaan Teknologi Pendidikan





Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close