Connect with us

HEADLINE

5 Bahan Alternatif Pengganti Santan yang Lebih Rendah Kalori

5 Bahan Alternatif Pengganti Santan yang Lebih Rendah Kalori


Santan dan masakan Indonesia memang sulit dipisahkan. Sejak zaman dahulu, santan biasa digunakan untuk membuat hidangan lebih gurih dan terasa nikmat. Sebut saja nama-nama masakan seperti lodeh, opor ayam, gulai, kari, rendang, gudeg, soto, garang asem, dan mangut yang semuanya dimasak pakai santan.

Santan sendiri dibuat dari perasan daging kelapa parut atau biasa disebut coconut milk. Cairan berwarna putih mirip susu ini sering jadi bahan baku dalam aneka hidangan khas Nusantara. Tak hanya makanan utama, camilan dan minuman pun banyak yang menggunakan santan, misalnya bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur sumsum, dan kolak.

Meski nikmatnya tak bisa terelakkan, tapi ingat kalau santan termasuk bahan makanan tinggi kalori dan tinggi lemak. Bayangkan, dalam satu cangkir 240 gram santan, di sana terdapat 554 kalori, 57 gram lemak, dan 13 gram karbohidrat. Santan juga mengandung lemak jenuh yang bisa meningkatkan kadar kolesterol serta risiko penyakit jantung, strok, dan kalorinya yang tinggi bisa menyebabkan diabetes.

Sebenarnya, batas konsumsi santan yang aman sehari-hari hanyalah satu sendok makan. Sementara itu, jika sudah dibuat masakan, coba periksa lagi seberapa banyak santan yang Anda makan? Apalagi pada momen Lebaran di mana banyak masakan menggunakan santan dibuat.

Menurut pendapat dokter spesialis gizi, Tatik Bardosono, konsumsi santan sulit dihindari karena sudah jadi tradisi Lebaran. Namun, sebaiknya konsumsi santan dibarengi dengan makan buah dan sayur segar, agar tetap makan gizi seimbang.

“Saat Lebaran sulit menghindari konsumsi makanan bersantan karena memang itu tradisi, yang penting bisa diimbangi dengan konsumsi buah dan sayur segar serta acar yang biasa dihidangkan untuk mengantisipasi kelebihan asupan lemak dari santan,” kata Tatik, kepada CNNIndonesia.

Jika mulai khawatir pada risiko kesehatan tapi tetap sulit menghindari makanan bersantan, cobalah untuk berkreasi dengan alternatif pengganti santan berikut. Meski bukan dari kelapa, bahan-bahan berikut juga bisa membuat masakan jadi lebih gurih dan creamy.

Susu murni

Susu sapi murni dan segar bisa jadi alternatif pengganti santan untuk memasak. Lemak dari susu bisa meningkatkan kadar HDL atau kolesterol baik yang bermanfaat untuk tubuh. Susu juga mengandung kalium yang bisa menyeimbangkan tekanan darah. Bila memilih susu, pastikan tidak pada masakan yang harus dimasak sangat lama karena bisa merusak kandungan nutrisinya. Jangan lupa pilih susu murni tawar agar tak merusak citarasa makanan. Susu kedelai

Ya, susu kedelai juga bisa dimanfaatkan untuk jadi pengganti santan. Namun, pastikan Anda memilih susu tanpa pemanis dan tanpa gula agar rasa masakan tidak terasa aneh. Pada dasarnya, kandungan lemak susu kedelai tak sebanyak santan lho. Dalam secangkir susu, lemaknya hanya 4 gram dan kalorinya 80 kkal saja.

Susu almon

Masih dalam kategori susu kacang, Anda bisa mengganti santan dengan susu almon. Kalorinya rendah, sekitar 30 saja, lemaknya pun hanya 2,5 gram dalam secangkir. Rasa susu almon tanpa gula juga cenderung netral dan cocok untuk dicampur dengan masakan. Namun, kekurangannya adalah susu almon cenderung lebih mahal dan tidak bisa membuat masakan jadi lebih kental seperti waktu menggunakan santan.

Greek yoghurt

Perbedaan Greek yoghurt dengan minuman yoghurt biasa terletak pada teksturnya yang kental dan tebal. Anda bisa mengganti santan dengan Greek yoghurt untuk membuat makanan jadi lebih kental dan gurih. Agar tak terlalu kental, yoghurt bisa dicampur dengan sedikit air. Dari segi rasa memang agak berbeda, tapi bisa dicoba mencari yoghurt dengan rasa kelapa agar semakin mirip dengan santan.

Krimer tanpa pemanis

Umumnya, krimer digunakan untuk campuran kopi atau minuman manis. Biasa juga ditambahkan dalam masakan seperti pasta yang creamy. Anda pun bisa mencoba mengganti santan dengan krimer tanpa pemanis dengan cara dilarutkan dulu dengan air, baru dicampurkan dengan masakan. Saat ini, di pasaran cukup mudah untuk menemukan krimer tanpa pemanis dan rendah kalori yang biasa dicari orang-orang yang sedang diet.

Kemiri

Mungkin Anda kaget kenapa kemiri bisa digunakan untuk pengganti santan. Namun, nyatanya bumbu dapur ini memang bisa membuat masakan jadi lebih gurih dan memberikan kekentalan. Kemiri juga bisa meningkatkan kadar HDL dan menurunkan kadar koleksterol jahat atau LDL.

Ketika menggunakan kemiri dalam masakan, memang warna masakannya tak bisa seputih pekat santan, tetapi rasa gurihnya cukup mirip lho. Untuk menggunakan kemiri, bisa disangrai terlebih dahulu kemudian dihaluskan sebelum dicampur masakan.

Baca juga:





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Semakin Diandalkan, Instalasi Fintech di Indonesia Ungguli AS dan Rusia

Semakin Diandalkan, Instalasi Fintech di Indonesia Ungguli AS dan Rusia


Financial Technology (fintech) bukan lagi menjadi hal yang baru di kalangan masyarakat Indonesia. Jauh sebelum situasi pandemi yang melanda, penggunaan layanan satu ini sejatinya memang sudah cukup populer berbarengan dengan tren cashless yang banyak diandalkan oleh mereka yang menginginkan mobilitas serba praktis.

Terbukti melalui pertumbuhan yang ada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekonomi) Airlangga Hartarto, dalam salah satu kesempatan menjelaskan mengenai pertumbuhan fintech yang sudah tumbuh pesat di tanah air sejak tahun 2016.

Dalam gelaran Indonesia Fintech Summit 2020 tahun lalu, Airlangga bahkan menyebut bahwa industri fintech di Indonesia akan tumbuh paling kencang di ASEAN dalam lima tahun ke depan, yang berarti diperkirakan sampai tahun 2025 mendatang.

Hal tersebut rupanya terbukti, dan didukung dengan kondisi pandemi yang melanda, di mana hampir sebagian besar kegiatan keuangan atau pembayaran yang awalnya masih banyak mengandalkan transaksi tunai, namun karena situasi yang ada mendorong masyarakat untuk beralih melakukan transaksi cashless sebagai salah satu fitur yang dimiliki oleh layanan fintech.

Tak hanya itu, kondisi perekonomian sebagian besar masyarakat yang sempat terpuruk di tengah situasi pandemi, nyatanya juga mendorong angka pengguna layanan fintech dalam hal pinjaman dana, baik oleh perorangan maupun kelompok atau organisasi.

Fenomena Gerilya Fintech Ternyata Bisa Bantu Pulihkan Ekonomi Indonesia

Tingginya permintaan yang dibarengi dengan masifnya instalasi fintech

transaksi keuangan yang mengandalkan fintech di Indonesia

info gambar

Melihat peluang dan kebutuhan masyarakat yang ada, maka tak heran jika belakangan banyak bermunculan pihak yang menghadirkan layanan fintech baru, atau bahkan mentransformasi layanan keuangan konvensional yang sebelumnya dimiliki ke arah layanan keuangan berbasis teknologi.

Hal tersebut ternyata dibuktikan dengan sebuah laporan berjudul State of Finance App Marketing 2021 yang dimiliki oleh AppsFlyer, sebuah perusahaan atribusi global yang berpusat di San Francisco, California.

Dijelaskan di sana, bahwa Indonesia menempati posisi ke-3 di dunia dalam hal instalasi fintech melalui aplikasi keuangan, bahkan mengungguli Amerika Serikat dan Rusia yang masing-masing berada di peringkat 4 dan 5, namun masih kalah unggul dengan India yang berada di peringkat 1 dan Brazil di peringkat 2.

Laporan yang dimiliki AppsFlyer tersebut diperoleh berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 2,7 miliar instalasi aplikasi di kawasan Asia Pasifik dari kuartal I (Q1) 2019 hingga kuartal I (Q1) 2021. Dengan memantau aplikasi yang terdaftar di kawasan Asia Tenggara–termasuk Indonesia–jajaran aplikasi yang diteliti ini, di antaranya: bank digital, bank konvensional, layanan keuangan, pinjaman, dan investasi online.

Disebutkan pula, bahwa besarnya populasi penduduk yang dimiliki dan penggunaan layanan fintech oleh masyarakat di Indonesia juga menjadi faktor pendorong negara ini menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berada di posisi lima besar, dalam hal instalasi aplikasi keuangan.

Masih berdasarkan laporan yang sama, dijelaskan pula jenis aplikasi keuangan yang paling banyak diunduh dan diandalkan oleh masyarakat Indonesia. Di peringkat pertama, layanan transaksi keuangan layaknya pembayaran nirtunai (mobile payment) yang biasanya berupa layanan dompet digital untuk transaksi cashless, dan manajemen keuangan, dengan persentase sebanyak 40,9 persen.

Selanjutnya, peringkat kedua dari jenis aplikasi keuangan yang banyak diandalkan masyarakat tanah air yaitu layanan pinjaman online (pinjol) sebanyak 35,7 persen, diikuti layanan bank konvensional–mobile banking–sebesar 13,9 persen, dan aplikasi investasi sebesar 9,5 persen.

Mengenal Inovasi Keuangan Digital(IKD) Dalam Penyelenggaraan Fintech di Indonesia

Dampak positif dan negatif pertumbuhan fintech di tanah air

ilustrasi pengguna layanan fintech

info gambar

Bicara soal dampak positif yang dihadirkan oleh pertumbuhan instalasi fintech jelas dirasakan oleh semua pihak, tidak hanya masyarakat yang diberikan kemudahan namun juga pihak penyedia layanan keuangan yang mendapat keuntungan serupa.

Sebagai contoh dari segi perbankan, deretan layanan perbankan atau bank di Indonesia mengakui adanya peningkatan setelah menerapkan sistem layanan berbasis teknologi kepada masyarakat, baik dari segi peningkatan nasabah ataupun transaksi secara menyeluruh.

Salah satu yang mengalami pertumbuhan ini di antaranya Bank Central Asia (BCA) yang sejak tahun 2019 memiliki layanan keuangan baru yang memungkinkan masyarakat membuka rekening tabungan dengan sistem online tanpa perlu mendatangi kantor cabang secara langsung.

Dijelaskan bahwa berkat layanan baru tersebut, BCA mencatatkan jumlah rekening mencapai 2,8 juta di Q1 2021 ini. Lebih detail, persentasi kenaikan pembukaan rekening mencapai 193 persen dibanding tahun sebelumnya atau setara pembukaan 8 ribu rekening per hari.

Hal yang sama juga diakui oleh pihak layanan perbankan milik negara yaitu Bank Mandiri. Menukil Kontan, layanan pembukaan rekening secara online yang juga dihadirkan membuat Bank Mandiri mendapatkan pembukaan rekening baru yang dilakukan oleh kisaran 3.000 nasabah saban harinya.

BCA dan Mandiri Masuk 10 Besar Bank Paling Kuat di Dunia Tahun 2021

Pencapaian yang diraih oleh dua layanan perbankan tersebut nampaknya sejalan dengan harapan yang diungkap oleh Menko Airlangga pada pernyataan sebelumnya, yang menyebut bahwa kemajuan fintech yang ada diharapkan dapat meningkatkan inklusi keuangan di tanah air.

Terlepas dari segala kemajuan layanan keuangan berbasis fintech yang ada, bukan berarti bahwa industri satu ini aman dari risiko dan dampak negatif yang dikhawatirkan muncul. Nyatanya, kekinian salah satu jenis fintech yaitu pinjaman online (pinjol) yang umumnya menargetkan masyarakat perorangan kerap kali dikeluhkan oleh masing-masing pengguna.

Permasalahan dan keluhan yang umumnya dijumpai biasanya berupa layanan pinjaman dari fintech yang ada, sering kali dilaporkan memiliki metode penagihan yang bermasalah dan bunga pinjaman yang dianggap terlalu tinggi.

Oleh karena itu, tak heran jika saat ini banyak dijumpai imbauan sekaligus pedoman mengenai penggunaan berbagai layanan fintech di tanah air, yang sepatutnya dipahami oleh masyarakat sejalan dengan pesatnya pertumbuhan fintech yang kian masif dan diperkirakan akan terus terjadi hingga beberapa tahun ke depan.

Fintech di Indonesia: Perlu Adanya Perlindungan Masyarakat





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Sepeda, Penguasa Jalan Ibu Kota pada Zaman Hindia Belanda | Good News From Indonesia

Sepeda, Penguasa Jalan Ibu Kota pada Zaman Hindia Belanda | Good News From Indonesia


Beberapa waktu lalu, media sosial kembali heboh setelah viral foto pengendara motor yang mengacungkan jari tengah kepada para pesepeda.

Pemotor yang berpelat nomor wilayah Kebumen itu diketahui melakukan tindakan itu lantaran kesal kepada pesepeda yang menguasai ruas jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Kejadian ini mengingkatkan kembali pada zaman dulu, saat kereta angin–julukan sepeda kala itu–sempat menjadi kendaraan yang menguasai Ibu kota.

#makintahuindonesia#Indonesia#sepeda





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Serba-Serbi Mobil Listrik, dari Cara Kerja Hingga Keunggulan dan Kelemahannya

Serba-Serbi Mobil Listrik, dari Cara Kerja Hingga Keunggulan dan Kelemahannya


Saat ini, mobil listrik tengah meramaikan dunia otomotif. Sepanjang tahun 2020, ada beberapa merek mobil listrik yang mulai debut di Indonesia, misalnya Lexus UX 300e, Nissan Kicks e-POWER, Toyota Corolla Cross Hybrid, dan Hyundai Ioniq EV.

Pemerintah juga tengah menargetkan agar semakin banyak mobil listrik mengaspal di jalanan Tanah Air. Menurut Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, target produksi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) pada 2030 adalah 600 ribu unit untuk roda empat atau lebih dan 2,45 juta unit untuk roda dua.

Taufiek Bawazier selaku Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian mengatakan road map tahun 2025 targetnya 20 persen kendaraan mobil listrik.

“Dari 2 juta targetnya kalau 20 persen ada sekitar 400 ribu mobil listrik beredar di Indonesia,” ujarnya, seperti dikutip CNBC Indonesia.

Membahas soal mobil listrik, mungkin masih banyak masyarakat awam yang belum mengerti konsep kendaraan ini, bagaimana cara kerjanya, hingga apa keunggulan mobil ini. Berikut coba kami rangkum dari berbagai sumber.

Deretan Mobil Listrik yang Dijual di Indonesia, Termahal Dibanderol Rp4 Miliar

Apa itu mobil listrik?

Pada dasarnya mobil listrik adalah kendaraan yang sebagian atau sepenuhnya digerakkan oleh motor dengan tenaga listrik. Ini merupakan salah satu inovasi terbarukan dari dunia otomotif. Dengan beralih ke mobil listrik, tentunya hal paling beda adalah pengguna hampir tidak lagi membutuhkan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti pada kendaraan konvensional.

Secara umum, bagian penting dari mobil listrik adalah baterai, motor listrik, dan modul pengontrol motor. Selain merupakan bagian dari teknologi yang makin canggih, mobil listrik juga diciptakan untuk mengatasi isu lingkungan seperti polusi udara, pemanasan global, dan menipisnya energi minyak bumi.

Mengisi daya mobil listrik | @Slavun Shutterstock

info gambar
Indonesia 2050: Kendaraan Listrik, dan Ambisi Besar Nol Emisi Karbon

Jenis mobil listrik berdasarkan cara kerja

Saat ini, jenis mobil listrik terbagi menjadi empat jenis dan dibedakan dari cara kerjanya, yakni Battery Electric Vehicle, Hybrid Electric Vehicle, Plug-in Hybrid Electric Vehicle, dan Fuel Cell Electric Vehicle.

Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai empat jenis mobil listrik:

Battery Electric Vehicle (BEV)

BEV merupakan kendaraan yang sepenuhnya beroperasi menggunakan listrik pada baterai. BEV tidak memiliki mesin pembakaran dan untuk mengisi daya dilakukan dengan menghubungkan langsung pada jaringan listrik eksternal. Contoh mobil BEV antara lain Tesla Model 3, BMW i3, Hyundai Ioniq, dan Toyota Rav4.

Hybrid Electric Vehicle (HEV)

Umumnya HEV memiliki dua sistem penggerak, yaitu mesin pembakaran dan motor traksi. Nah, untuk mesin pembakaran ini mendapatkan energi dari BBM. Sedangkan untuk motornya mendapat daya dari baterai.

Disebut standard hybrid, jenis mobil listrik ini baterainya hanya diisi oleh putaran mesin, gerakan roda, atau kombinasi. HEV juga tidak memiliki charging port sehingga baterainya tidak dapat diisi ulang dari luar sistem seperti jaringan listrik PLN. Jenis mobil listrik yang termasuk HEV antara lain Honda Civic Hybrid, Toyota Camry Hybrid, dan Toyota Prius Hybrid.

Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV)

Untuk jenis PHEV juga memiliki mesin pembakaran dan motor traksi listrik. Prinsip kerjanya disebut series hybrid, ia menawarkan pilihan untuk tenaga dari sumber energi fosil (seperti bensin), sumber alternatif (seperti biodiesel), dan baterai.

Perbedaan dengan HEV sebenarnya jenis ini memiliki baterai yang dapat diisi ulang dari sumber listrik eksternal ke charging port di stasiun pengisian mobil listrik. Adapun jenis mobil listrik PHEV yakni Porsche Cayenne S E-Hybrid, Mercedes GLE550e, Mini Cooper SE Countryman, Audi A3 E-Tron, BMW 330e, dan Volvo XC90 T8.

Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV)

Kemudian ada jenis yang disebut FCEV, kendaraan yang menggunakan teknologi fuel-cell untuk menghasilkan listrik dan dipakai untuk mengaktifkan motor dalam menjalankan kendaraan.

Secara umum, prinsip kerjanya mirip dengan BEV, akan tetapi jenis ini punya sistem yang dapat mengkonversi energi kimia pada fuel-cell menjadi listrik. Beberapa merek mobil dengan kategori FCEV yaitu onda Clarity Fuel Cell, Hyundai Nexo, dan Toyota Mirai.

Stasiun pengisian daya mobil listrik | @Bigpixel photo Shutterstock

info gambar
Mimpi Panjang Mobil Listrik Indonesia yang Kini Dirajut Kembali

Plus minus menggunakan mobil listrik

Mobil listrik memang merupakan tipe kendaraan yang baru. Di Indonesia, penggunanya pun belum sebanyak mobil konvensional. Maka, tentu banyak pertimbangan apakah orang berminat mengganti mobil lamanya atau memutuskan apakah mobil listrik akan jadi kendaraan pertama seseorang.

Untuk itu, mari kita simak beberapa keunggulan dan apa saja kekurangan dari mobil listrik sebagai bahan pertimbangan.

Keunggulan

Salah satu keunggulan beralih ke mobil listrik adalah biaya harian yang dinilai lebih murah. Menurut Wakil Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, biaya pengisian daya kendaraan listrik lebih murah dibandingkan biaya mengisi bensin.

Kata Darmawan, setiap satu liter BBM setara dengan 1,3 kilo Watt hour (kWh) listrik dengan harga bensin per satu liter sekitar Rp7-8 ribu. Sedangkan, tarif listrik per satu kWh hanya sekitar Rp1.400. Ia menyimpulkan bahwa penggunaan listrik lebih murah seperlima dibandingkan pemakaian satu liter bensin.

Mobil listrik pun tidak memiliki knalpot karena memang tidak mengeluarkan gas buang. Meskipun sebenarnya masih ada emisi pembuangan dari penggunaan ban dan rem, tetapi mobil listrik dinilai relatif lebih aman dalam menjaga kualitas udara karena bebas dari polusi bahan bakar.

Dengan beralih ke mobil listrik pun dianggap bisa meminimalisasi emisi gas rumah kaca, mengurangi jejak karbon, menghemat lapisan ozon, sehingga dapat meminimalisasi pemanasan global.

Dari segi perawatan, mobil listrik pun dinilai lebih hemat. Pada mobil konvensional, mobil harus segera melewati tahap perawatan dengan sekitar 30 item pemeriksaan dan dilakukan setiap 10 ribu kilometer. Sedangkan, untuk mobil listrik, interval perawatannya tiap 15 ribu kilometer dengan pemeriksaan hanya 15 item.

Tak hanya itu, mobil listrik tanpa bensin pun tidak membutuhkan oli. Sehingga Anda bisa menghemat biaya ganti oli.

Pengisi daya baterai mobil listrik | @DariaRen Shutterstock

info gambar
Jajaran Perusahaan Kunci di Balik Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama RI

Kekurangan

Meski banyak keuntungan yang didapatkan, tentunya penggunaan mobil listrik pun tak luput dari kekurangan. Misalnya, stasiun pengisian daya masih minim sehingga menimbulkan kekhawatiran soal bagaimana jika mobil kehabisan daya di tengah perjalanan.

Kemudian, tentu saja penggunaan listrik untuk mengisi daya tidaklah gratis. Bila beralih ke mobil listrik, tentunya pengguna harus memperbesar daya listrik di rumah. Selain itu, pengisian daya baterai pun terbilang lama, sekitar 4-6 jam dari kosong hingga penuh. Berbeda dengan pengisian BBM yang hanya butuh waktu beberapa menit saja.

Hal yang dianggap menjadi kekurangan mobil listrik lain ialah tak ada suara. Memang mobil ini menjadi hening dan mengurangi polusi suara dari mesin dan knalpot. Namun, di sisi lain keheningan ini dikhawatirkan akan menjadi penyebab kecelakaan di jalanan.

Lalu, saat ini kebanyakan mobil listrik berukuran kecil sehingga dianggap belum pas untuk menjadi kendaraan keluarga. Selain itu, harganya pun terbilang mahal dan belum bisa dinikmati masyarakat yang wilayahnya masih mengalami kondisi listrik tidak stabil.





Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close