Connect with us

HEADLINE

10 Merek Mobil Paling Laris di Indonesia Sepanjang 2020

10 Merek Mobil Paling Laris di Indonesia Sepanjang 2020


Pandemi covid-19 terbukti mampu menurunkan omset dan penjualan berbagai sektor ekonomi, termasuk sektor otomotif Tanah Air.

Pasalnya, masyarakat cenderung melakukan penundaan dalam membeli barang tersier seperti mobil karena desakan kebutuhan lain. Sementara aktivitas industri sempat melandai usai berbagai wilayah menerapkan pembatasan sosial lewat PSBB.

Setelah pada artikel beberapa waktu lalu mengulas merek mobil paling laris secara retail sales (dari dealer ke konsumen). Tulisan kali ini akan membahas merek mobil paling laris di Tanah Air berdasarkan penjualan wholesales atau distribusi pabrikan ke dealer sepanjang 2020.

Baca juga:Naik 108 Persen, Ekspor Suzuki Indonesia Paling Signifikan di Februari 2021

10 merek mobil terlaris di Indonesia sepanjang 2020, Toyota dan Daihatsu masih menjadi penguasa. Merek Cina (Wuling) masuk dalam daftar. © GNFI

info gambar

Berdasarkan data yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan secara wholesales sepanjang 2020 mencatatkan angka sebanyak 532.027 unit. Turun 48,5 persen dari tahun sebelumnya (year on year) yang mencapai 1.032.907 unit.

Toyota masih menjadi penguasa, pabrikan asal Jepang ini berhasil menjual sebanyak 161.256 unit produknya. Angkanya menurun cukup signifikan dari penjualan tahun 2019 (331.004). Tipe Avanza menjadi yang paling laris dengan penjualan ritel sebanyak 35.754 unit (dari dealer ke konsumen).

Daihatsu berhasil membuntuti Toyota dengan angka penjualan sebanyak 90.724 unit. Sepanjang 2020, Sigra menjadi varian Daihatsu paling laris dengan total penjualan 23.295 unit.

Urutan ketiga diisi oleh Honda dengan angka penjualan sebanyak 73.315 unit. Tipe Brio mencatatkan penjualan yang cukup fenomenal, angkanya mencapai 40.897 unit seklaigus berhasil menyigkirkan Avanza.

Seperti posisi tahun 2019, Mitsubishi dan Suzuki masih berada di posisi keempat dan kelima. Pabrikan dengan lambang tiga berlian itu berhasil mencatat angkat penjualan sebanyak 66.130 unit, disusul merek berlogo “S” dengan angka penjualan ritel sebanyak 57.906 unit. Tipe Expander dan Carry Pikap masih menjadi penyumbang terbesar penjualan kedua merek tersebut.

Tiga merek mobil yang terkenal dengan mesin bertenaga besar, Fuso, Isuzu dan Hino menempel di posisi 6-8. Ketiga pabrikan asal Jepang itu mencatatkan penjualan sebesar 21.359 unit, 16.442 unit dan 12.621 unit.

Nissan yang tahun lalu menempati peringkat tujuh harus turun ke posisi sembilan dengan total penjualan 10.849 unit. Tipe Grand Livina menjadi model paling laris dari merek ini.

Wuling pun tidak mau ketinggalan, pabrikan otomotif asal Cina ini berhasil mencatatkan penjualan sebanyak 21.112 unit. Meskipun berada di peringkat 10, catatan tersebut merupakan suatu pencapaian yang menjanjikan bagi perusahaan yang belum lama bertarung di pasar otomotif Tanah Air.

Bagi Kawan GNFI yang pensaran dengan perkembangan merek mobil terlaris di Indonesia, berikut kami sajikan videonya.

Baca juga:





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Mengapa Tim Balap Italia Sangat Tertarik dengan Indonesia?

Mengapa Tim Balap Italia Sangat Tertarik dengan Indonesia?


Selain berlaga di kelas Moto2 dan Moto3 di ajang MotoGP, tim Indonesian Racing juga hadir dalam gelaran MotoE, yang merupakan balapan motor listrik yang masih berada dalam kalender MotoGP. Di kelas Moto2, Moto3, dan MotoE, tim Indonesian Racing terlibat kerja sama dengan Gresini Racing, yang merupakan ‘pemain lama’ di MotoGP.

Tentunya, banyak alasan mengapa tim Gresini Racing tertarik bekerja sama dengan tim Indonesian Racing yang belakangan dikatakan memiliki banyak potensi untuk berkembang. Dalam sebuah kesempatan, Carlo Merlini, Manajer Pemasaran Gresini Racing mengungkap alasannya kepada MP1, soal mengapa perusahaannya sangat tertarik bekerja sama dengan tim Indonesian Racing.

”Indonesian Racing adalah merek yang dibuat oleh mitra kami MP1, sebuah perusahaan asal Indonesia yang bergerak di bidang manajemen olahraga, dan yang bertujuan untuk mengembangkan olahraga motor di Indonesia, juga dengan menciptakan akademi untuk mencari pebalap terbaik Indonesia yang akan didukung dan dibimbing dalam perjalanan ke Kejuaraan dunia,” demikian kata pembuka Merlini dalam keterangan yang diterima GNFI, Senin (12/4/2021).

Secara umum, sambung Merlini, Tim Gresini sangat berakar di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan telah lama menjalin kerja sama selama 10 tahun dengan banyak sponsor dan tim asal Indonesia, terutama untuk kelas Moto3 dan Moto2.

Lain itu, Indonesia menurut Gresini Racing adalah negara yang strategis untuk gelaran MotoGP. Mereka menilai, Indonesia adalah pasar yang strategis–selain beberapa negara lain di Asia–selain Malaysia, Thailand, dan tentunya Jepang.

Salah satu negara dengan basis pengguna motor terbanyak

Sebagai salah satu negara dengan basis pengguna motor terbanyak di dunia, adalah alasan lain kenapa Gresini Racing cukup antusias menjalin hubungan baik dengan tim maupun sponsor asal Indonesia. Jika mengukur perbandingan, di setiap 1 mobil akan berbanding dengan 4 motor. Tak heran jika olahraga balap motor cukup populer di Indonesia.

Satu fakta lain yang mencengangkan adalah, pada berbagai platform media sosial, negara yang paling banyak mengikuti MotoGP adalah Indonesia, jauh pesat dan militan ketimbang negara lain, termasuk jika dibandingkan dengan Italia atau Spanyol yang merupakan basis tim-tim di ajang MotoGP.

Lantas, mengapa MotoE?

indonesian racing tim motoE

info gambar

Tak dimungkiri jika pertumbuhan motor berbasis listrik di Indonesia juga tak kalah moncer ketimbang negara lainnya. Bahkan di beberapa ajang pameran, tak sedikit pengembang asal Indonesia yang memamerkan motor listrik hasil karyanya. Sebut saja Katalis EV, racikan rumah modifikasi Katalis Company, atau BL-SEV01 buatan Universitas Budi luhur.

Pendek kata, ketertarikan publik Indonesia atas motor berbasis listrik tentu akan menjadi fenomena baru, ketika gelaran balap motor listrik paling bergengsi di dunia–MotoE–bisa disaksikan dengan pesertanya adalah tim Indonesia.

“Bagi kami MotoE itu adalah dunia yang benar-benar baru dan pengalaman yang sangat menarik terlepas dari kesulitan awal yang kita semua ingat. Dorna dan FIM sangat reaktif untuk menangkap tren baru mobilitas ramah lingkungan, khususnya yang berjenis listrik,” beber Merlini.

Memang, sambungnya, bagi sebagian pencinta sepeda motor terdengar aneh ketika mendengar tentang balapan motor listrik di arena MotoGP, karena memang motor listrik sejatinya lebih kepada pengembangan teknologi masa depan dan isu ramah lingkungan.

Tapi bagi Dorna–selaku promotor MotoGP, ini adalah situasi yang mirip dengan tahun 2002 ketika MotoGP pindah dari jenis mesin 2-tak (2T) ke 4-tak (4T), untuk memastikan bahwa balapan tetap menjadi bidang penelitian dan pengembangan (R&D) untuk melayani pasar, dan sebagai ajang promosi pabrikan/produsen motor.

Apa yang membuat balapan MotoE jadi menarik?

Pertanyaan tadi pun langsung dijawab oleh Merlini dengan lugas.

”Pastinya jumlah balapan. Saat ini jumlahnya–balapan MotoE–sangat terbatas, sementara kategorinya membutuhkan kalender yang lebih panjang. Saya mengatakan ini dari perspektif pemasaran, karena ada aspek lain yang perlu dipertimbangkan yang saat ini tidak memungkinkan,” jelasnya.

”…Saya yakin dalam jangka menengah, kalender akan lebih luas dengan lebih banyak balapan dan akan menjangkau pasar strategis untuk kelas listrik (MotoE).”

Hal lainya yang menjadi konsentrasi adalah soal teknis, karena menurut semua orang, motor balap MotoE masih sangat berat. Hingga pada akhirnya para pihak akan mengharapkan revolusi dalam teknologi baterai yang merupakan bagian yang paling menentukan bobot sepeda motor.

Tentunya, bobot motor yang lebih ringan akan banyak membantu para joki balap saat melakukan pengereman, yang menjadi fase paling kritis untuk menemukan titik yang tepat untuk mengerem.

”…Jika Anda melakukan kesalahan, sepeda motor berat seperti itu tidak akan bisa berhenti.”

Kalender gelaran MotoE

Secara umum, gelaran MotoE pada musim balap 2021 bakal hadir pada beberapa sirkuit di Benua Biru, yakni:

  • 2 Mei, di Sirkuit Jerez, Spanyol
  • 16 Mei, di Sirkuit LeMans, Prancis
  • 6 Juni, di Sirkuit Catalunya, Barcelona
  • 27 Juni, di Sirkuit Assen, Belanda
  • 15 Agustus, di Sirkuit Red Bull Ring, Austria
  • 18-19 September, di Sirkuit Misano Marco Simoncelli, San Marino.

Jadi, kita tunggu saja apakah kolaborasi tim Indonesian Racing (Indonesian E-Racing) bersama Gresini Racing bisa memberikan performa terbaiknya di sana.

Baca juga:





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Melihat Lebih Dekat, 5 Ayam Kampung yang Populer di Indonesia

Melihat Lebih Dekat, 5 Ayam Kampung yang Populer di Indonesia


Ayam kampung merupakan hewan ternak yang cukup banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan.

Dari segi pemeliharaan, budidaya ayam kampung tidak memakan modal yang cukup besar sebab hemat dalam biaya pakan, dapat dipelihara di hampir semua tempat, bahkan pada kondisi lingkungan yang penuh keterbatasan.

Adapun asal muasal ayam kampung berasal dari ayam liar atau ayam hutan. Konon, nenek moyang ayam kampung tersebut sudah ribuan tahun dibudidayakan secara tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Pada zaman Kerajaan Kutai saja, ayam hutan sudah dibudidayakan sebagai upeti dari rakyat untuk persembahan bagi raja. Oleh karena citarasa dagingnya disukai raja, kemudian ayam tersebut selalu dipelihara dan diternakkan.

Seiring dengan pekembangan zaman, ayam kampung pun telah tersebar ke seluruh pelosok nusantara. Alhasil, menyebabkan unggas tersebut memiliki keanekaragaman di setiap daerah mulai dari daya produksi daging, telur, warna bulu, suara, dan lain sebagainya. Berikut, rangkuman berbagai jenis ayam kampung yang populer buat Kawan GNFI:

1. Ayam Kokok Balenggek

Seekor pejantan Ayam Kokok Belenggek © Dunia Binatang

info gambar

Ayam kampung asli Sumatera Barat ini pada awalnya ditemukan di Kecamatan Paung Sasaki dan Tigo Lurah, Kabupaten Solok. Menurut masyarakat setempat, Ayam Kokok Balenggek berasal dari keturunan ayam kinantan milik Cindua Mato yang mengawini ayam hutan di Bukit Sirayuah, Kecamatan Payung Sekaki, dan berkembang biak hingga sekarang.

Pemilik ayam kokok balenggek bisa dikatakan beruntung, sebab dapat mendengarkan kokokan merdu dari suara unggas tersebut. Sehingga, keistimewahan dari ayam kampung ini pun menjadikannya sebagai tipe ayam penyanyi yang memiliki suara kokok merdu dan enak didengar.

Kokokan suara ayam kampung tersebut bahkan sudah terdengar sampai ke negara Belanda dan Jepang. Tepatnya ketika insinyur Belanda pada 1981, membawa sepasang ayam kokok balenggek ke negara kincir anginnya karena terkesan dengan suara ayam kampung tersebut.

Lalu pada 1994, ketika Pangeran Akishinonomiya Fumihito dari Jepang terkesan dengan keanggunan ayam tersebut. Adapun ciri dari ayam kokok balenggek, unggas ini memiliki jengger bergerigi berwarna merah, warna bulu punggung yang mengkilap dan warna sayap bervariasi mulai dari hitam, merah, kuning atau putih.

2. Ayam Merawang

Sepasang Ayam Merawang © Ayam Ngampus

info gambar

Masih dari Pulau Sumatera, ayam merawang dari spesies Gallus-gallus, family Phasianidae ini berasal dari Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Menurut masyarakat setempat, ayam merawang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai ayam dwiguna karena mempunyai keunggulan sebagai penghasil daging dan telur.

Bila dibandingkan dengan ayam kampung biasa, produksi telur lebih tinggi rata-rata 165/butir/ekor/tahun, sedangkan ayam lokal lainnya hanya 40-60 butir/ekor/tahun.

Di sisi lain jenis ayam ini memiliki nilai estetika yang tinggi, khususnya untuk masyarakat Tionghoa yang mayoritas di Kepulauan Bangka Belitung.

Keindahannya bisa dilihat dari warna bulu ayam yang coklat merah dan kuning keemasan. Bagian ujung sayap dan ekor berwarna merah. Warna kulit, paruh dan ceker putih atau kekuningan. Jengger jantan berukuran besar, tegak dan bergerigi bagian atasnya.

3. Ayam Kedu

Sepasang Ayam Kedu putih © Zesril Juwito

info gambar

Bermain ke Pulau Jawa, kawan akan melihat ayam kedu yang merupakan ayam kampungnya masyarakat daerah Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Ayam ini diketahui mempunyai keunggulan dalam menghasilkan telur, sehingga diarahkan untuk dipergunakan sebagai ayam petelur yang tercatat dapat menghasilkan 124 butir/ekor/tahun.

Adapun tampilan dari ayam kampung ini berdasarkan warna dapat dibedakan atas dua jenis kedu, yakni ayam kedu hitam dan ayam kedu putih.

Pada ayam kedu hitam, bulu, paruh, kulit dan ceker berwarna hitam. Bila diamati lebih jeli, bulu leher dan punggung pada ayam jantannya ada hiasan warna merah darah atau kuning kemerahan.

Jengger, lidah, dan tenggorokan berwarna kemerahan. Sementara itu, pada ayam kedu putih bulu berwarna putih polos. jengger dan cuping, berwarna merah terang. Paruh berwarna putih, kuning kadang kala ada yang kehitaman.

4. Ayam Cemani

Seekor pejantan Ayam Cemani © Bombastis

info gambar

Ayam ini masih berasal dari daerah Kedu, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Bedanya dengan ayam kedu maka ayam cemani memiliki penampilan sosok tubuh hitam legam, termasuk paruh, kuku, telapak kaki, lidah, telak bahkan daging serta tulangnya juga hitam.

Keunggulan dari ayam cemini dapat dilihat dari hasil produksi telurnya yang tinggi untuk ukuran ayam kampung, sehingga dimanfaatkan sebagai ayam tipe petelur.

Sesuai dengan tujuan pemeliharaannya, ayam cemani dapat menghasilkan sebanyak 56-77 butir/ekor/tahun. Sementara itu, apabila ayam tersebut dipelihara intensif dalam kandang baterai maka produksinya dapat 215 butir/ekor/tahun dengan berat sebesar 41-49 g per butir.

Disamping itu, tujuan penggunaan ayam cemani juga banyak digunakan masyarakat setempat untuk keperluan upacara ritual adat dan dipercaya berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Ayam cemani tidak bersifat endemik karena jenis ayam ini juga ditemukan di India dan bahkan dibudidayakan di Florida, Amerika Serikat (AS), tepatnya oleh Greenfire Farm.

Harga ayam cemani di AS berkisar sekitar 2,78–5,6 juta rupiah per ekor. Sedangkan di Indonesia, seekor anakan ayam cemani harganya mencapai Rp500–750 ribu dan seekor indukan cemani harganya satu juta rupiah sampai belasan juta.

5. Ayam Pelung

Seekor Ayam Pelung pejantan © Wikipedia

info gambar

Ayam pelung yang berasal dari Warung Kondang, Kabupaten Cianjur Jawa Barat ini juga tak kalah dari Ayam Kokok balenggek dari Sumatera Barat.

Dari suara kokonya sangat khas, mengalun panjang, besar, dan mendayu-dayu. Durasi kokok ayam pelung cukup panjang dapat mencapai waktu 10 detik bahkan lebih, itulah sebabnya ayam pelung dapat dikelompokkan dalam ayam berkokok panjang. Uniknya, bila berkokok leher ayam ini pun dilengkungkan ke bawah bahkan kadang-kadang sampai menyentuh tanah.

Keistimewahan suara dari ayam kampung ini pun sudah banyak membius hati penggemar dari luar daerah Cianjur. Penyebarannya sudah meluas ke berbagai daerah sekitar Bandung, Bogor, Sukabumi, dan daerah lainnya.

Sehingga, ayam ini juga dikenal sebagai ayam kontes yang pertunjukannya pernah diadakan oleh pemerintah maupun inisiatif perhimpunan penggemar ayam pelung.

Selain unjuk gigi dari alunan suara, ayam pelung juga dapat dimanfaatkan sebagai ayam penghasil telur dan daging. Hal ini karena perkembangan pertumbuhan ayam pelung yang pesat serta produksi telurnya yang tinggi.

Adapun ciri dari ayam pelung, yakni mempunyai warna bulu campuran merah dan hitam. Bentuk cakarnya panjang dan besar dengan warna bervariasi dari hitam, kuning, atau putih kekuning-kuningan. Jenger pada umumnya berbentuk tunggal, berdiri tegak dan bergerigi seperti gergaji. Kepala berbentuk oval, cuping telinga merah dihiasi oleh warna putih di bagian tengah.

==

Sumber Referensi:

Buku Sukses Budi Daya Ayam Kampung | Buku Ayam Burgo Ayam Buras Bengkulu | Kompas.com

Baca juga:





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Sakralnya Ramadan dan Lebaran di Kampung Surabaya Tahun 1950-an

Sakralnya Ramadan dan Lebaran di Kampung Surabaya Tahun 1950-an


*Penulis senior GNFI

Ramadan merupakan waktu yang membahagiakan bagi kami anak-anak kampung; suasana religiusnya begitu kental. Seperti pada umumnya keluarga santri, saya berssama mbakyu dan mas saya berpuasa. Namun karena saya anak yang paling bungsu maka puasa saya adalah “puasa beduk” artinya saya sudah berbuka pada waktu beduk siang/dhohor berbunyi. Tak jarang karena tidak kuat berpuasa, sebelum waktunya dhohor saya diam-diam ke kamar mandi pura-pura buang air kecil, tapi minum air PDAM.

Yang mengasyikkan bagi kami adalah sebelum salat tarawih di musala milik keluarga besar saya di kampung Kapasari Surabaya, kami sama-sama naik tangga musala itu tempat berdirinya beduk besar. Kami bermain beduk – kami sebut bermain “Beduk Keter”.

Menabuh bedug dari kulit sapi itu dengan gerakan yang rancak mengingatkan saya permainan drum tradisional dari Korea dan Jepang. Kami berlama-lama bermain menabuh bedug ini sampai waktunya sholat Isya’ dan tarawih.

Seperti umumnya anak-anak kecil kampung ketika salat tarawih, tidak tidak ada yang fokus sholat tapi bergurau, misalkan menggoda teman yang lagi sujud dengan menyingkap sarungnya karena dia tidak pakai celana dalam, atau memperlebar rentangan kedua tangan waktu sujud agar merintangi teman sebelah yang akan sujud.

Seingat saya, kami tidak dimarahi oleh orang-orang yang lebih tua. Mungkin beliau-beliau ini punya pikiran yang sama seperti pengumuman yang ada di salah satu Masjid di Kairo Mesir yang berbunyi antara lain agar orang-orang tua tidak memarahi anak-anak kecil yang berlarian dan berteriak-teriak di Masjid, karena merekalah nanti menjadi generasi penerus yang mengurus dan memakmurkan Masjid.

Dalam bulan puasa itu kadang saya ikut bapak-bapak dan anak-anak melakukan “Patrol”- bukan patrol untuk menjaga keamanan, tapi berkeliling kampung untuk membangunkan warga kalau waktunya sahur. Dengan berbekal alat dari bambu yang tengahnya berlubang dan ditabuh berkali-kali sambil teriak-teriak “Sahur-Sahur !!!”.

Dua-tiga hari menjelang lebaran, saya selalu ikut menunggu dan melihat ibu saya menjahit pakain baru untuk kami dan membuat kue-kue yang dimasukkan oven terbuat dari seng tipis, dan diletakkan diatas tungku (kami menyebutnya Angglo) yang membara dengan arang sebagai bahan bakarnya.

Jangan dibayangkan seperti sekarang dimana ibu-ibu tidak membuat sendiri kue-kue itu, tapi beli yang sudah jadi di mal atau order di toko online. Namun membuat kue sendiri seperti yang dilakukan ibu saya, kita bisa merasakan kesakralan Ramadan dan menjelang lebaran.

Selain itu, bagi warga Surabaya yang memunyai uang tentu belanja persiapan lebaran untuk anak-anaknya, misalkan membelikan sepatu di Jalan Tembaan (sebelum Blauran) atau membeli baju di Pasar Atom.

Biasanya sehari-dua hari menjelang lebaran warga “Nyumet” atau menyalakan mercon (petasan), baik yang dinyalakan di halaman rumah dan meledak atau menyalakan “Mercon Sreng” – yaitu mercon yang melesat keatas setelah dinyalakan seperti peluru kendali. Kita bisa melihat tetangga kita itu kaya atau tidak dari ketebalan sisa-sisa mercon dihalamannya.

Bagi warga yang kurang mampu yang tidak bisa membeli petasan, tetap bisa menikmati kebahagiaan yang sama yaitu dengan membuat “Mercon Bumbung” – terrbuat dari bambu yang agak panjang dan dilubangi kemudian dimasukkan karbit, disulut api dan mengeluarkan suara ledakan seperti meriam artileri.

Di hari lebaran,warga kampung kami menuju Lapangan Tambaksari untuk salat Idulfitri, dan setelah salat kami melakukan “Unjung-Unjung” atau pergi ke tetangga–tetangga atau famili di kampung lain untuk saling memaafkan.

Anak-anak sebaya kami juga melakukan kegiatan itu sendiri, bukan untuk minta maaf atau mengucapkan selamat lebaran, tapi menunggu diberi uang oleh pemilik rumah atau mengambil kacang goreng di toples tanpa sepengetahuan pemilik rumah.

“Unjung-Unjung” ini adalah budaya kearifan lokal yang dilakukan selama stu minggu atau lebih. Kegaiatan budaya ini juga menimbulkan perasaan religi dan tradisi yang dalam, sehingga kesakralan lebaran itu begitu terasa.

Sayang sekarang di dunia modern dengan IT yang canggih ini, budaya “Unjung-Unjung” itu sudah hilang, diganti dengan silaturahim singkat lewat dunia maya, lewat aplikasi obrol WhataApps (WA), Instagram, Twitter dan Facebook sambil mengucapkan selamat lebaran dan mohon maaf lahir batin.

Dengan cara ini sepertinya kita sudah bersilaturahmi, padahal itu maya atau virtual. Selain dengan sosmed, kita sekarang melakukan “Unjung-Unjung” singkat yaitu Halal Bi Halal di suatu gedung atau restoran, dan tidak pernah menginjakkan kaki di rumah saudara, atau sahabat.

Karena itu wajar, kita sekarang tidak melihat kesakralan lebaran itu, karena sehari setelah lebaran, jalan-jalan sudah macet lagi dan banyak orang sudah masuk kantor. Yang dirasakan oleh warga tentang lebaran dewasa ini hanyalah hiruk pikuk mudik yang kemacetannya di siarkan TV berhari-hari.

Untuk semua pembaca GNFI, saya menghaturkan selamat menunaikan ibadah puasa, semoga senantiasa mendapatkan ampunan dan berkah dari Allah SWT.





Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close