Connect with us

TIMUR TENGAH

10 Anggota Penjinak Ranjau Tewas Akibat Serangan di Afghanistan

10 Anggota Penjinak Ranjau Tewas Akibat Serangan di Afghanistan

[ad_1]

Sekelompok orang bersenjata menewaskan 10 orang dan melukai 14 lainnya dalam serangan terhadap organisasi penjinak ranjau HALO Trust di Afghanistan, kata seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Rabu (9/6).

Tariq Arian, juru bicara kementerian itu, menuding Taliban bertanggung jawab atas serangan Selasa malam terhadap kamp organisasi itu di distrik Baghlan Markazi di Provinsi Baghlan, Afghanistan Utara.

Taliban segera membantah hubungan apa pun dengan serangan tersebut, sebagai tanggapan atas pertanyaan Associated Press.

PBB telah memperingatkan bahwa penggunaan bom rakitan di negara itu meningkat, seiring meningkatnya konflik di kawasan perkotaan dan menjamurnya kelompok-kelompok bersenjata.

Afghanistan adalah satu dari beberapa negara di mana sebagian besar wilayahnya dipenuhi dengan bom dan ranjau darat. Banyak yang ditanam oleh para pemberontak untuk menarget konvoi-konvoi militer pemerintah. Tapi warga sipil sering menjadi korban.

PBB telah berulang kali menuntut pasukan pemerintah dan Taliban mengambil lebih banyak tindakan pencegahan untuk melindungi warga sipil. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, misi PBB di Afghanistan mengatakan bahwa 1.783 warga sipil tewas atau terluka di Afghanistan, meningkat 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

HALO Trust adalah satu dari beberapa organisasi penjinak ranjau di Afghanistan yang membersihkan ranjau-ranjau yang belum meledak.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Afghanistan dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa sebuah helikopter MI-17 telah jatuh karena masalah teknis. Kecelakaan di wilayah timur provinsi Maidan Wardak itu menewaskan tiga awak dan melukai seorang lainnya. [ab/uh]

[ad_2]

Advertisement
Click to comment

TIMUR TENGAH

Irak Harapkan Pengumuman bagi Diakhirinya Misi Tempur AS

Irak Harapkan Pengumuman bagi Diakhirinya Misi Tempur AS

[ad_1]

Anggota delegasi tinggi Irak berharap mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Biden Jumat (23/7) untuk mengakhiri misi tempur Amerika di Irak, kata menteri luar negeri negara itu kepada VOA, Kamis (22/7).

Dalam wawancara eksklusif dengan VOA, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein membahas sifat kerja sama yang diusulkan antara negaranya dan pasukan Amerika setelah kesepakatan tercapai, khususnya dalam perang melawan kelompok ISIS.

“Menurut saya, kami akan mencapai kesepakatan pada Jumat dan kemudian akan diumumkan bahwa pasukan tempur Amerika – saya bicara tentang pasukan tempur – tidak akan ada lagi di Irak. Tetapi bagaimana mereka keluar dan kapan mereka keluar akan bergantung pada batas waktu yang disepakati kedua pihak serta masalah teknis dan masalah lain yang terkait keamanan pasukan,” kata Hussein.

Diskusi di Washington terjadi hanya beberapa hari sebelum pertemuan Senin antara Presiden Amerika Joe Biden dan Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi di Gedung Putih. Keduanya berencana membahas beragam topik, termasuk kerja sama dalam bidang politik, ekonomi, keamanan, dan kebudayaan.

Hussein akan bertemu pada Jumat (23/7) dengan Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken. Pejabat Irak itu mengatakan kepada VOA bahwa mereka “akan membahas berbagai masalah termasuk minyak, energi, listrik, gas, kebudayaan, kesehatan, militer dan keamanan, dan keuangan.”

Awal pekan ini, serangan bom bunuh diri melanda ibu kota Irak, menewaskan sedikitnya 34 orang. Serangan itu, yang diklaim kelompok ISIS, adalah jenis kekerasan yang hendak dicegah oleh pasukan Irak, yang dilatih dan dilengkapi oleh Amerika Serikat.

Ketika ditanya tentang ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok ISIS, Hussein mengatakan, “Tentu saja, sektor keamanan dan militer akan menjadi topik penting dalam pembicaraan. Amerika dan Irak telah menjadi sekutu dan akan tetap menjadi sekutu melawan ISIS.” [ka/ab]

[ad_2]

Continue Reading

TIMUR TENGAH

Iran Ekspor Minyak Mentah Melewati Selat Hormuz

Iran Ekspor Minyak Mentah Melewati Selat Hormuz

[ad_1]

Iran, Kamis (22/7) mulai mengekspor minyak mentah melewati Teluk Oman untuk pertama kalinya, dan tidak melewati Selat Hormuz yang strategis.

Dalam sebuah upacara yang menandai peresmian proyek tersebut, Presiden Hassan Rouhani menyebut rencana itu “paling strategis.”

Media pemerintah Iran menggambarkan langkah itu sebagai suatu indikasi bahwa sanksi-sanksi yang dijatuhkan AS sedang dikalahkan.

Presiden Iran Hassan Rouhani (atas-kanan) meresmikan terminal minyak Jask secara virtual di ibu kota Teheran, 22 Juli 2021. (AFP/Iranian Presidency)

Presiden Iran Hassan Rouhani (atas-kanan) meresmikan terminal minyak Jask secara virtual di ibu kota Teheran, 22 Juli 2021. (AFP/Iranian Presidency)

Washington menjatuhkan beberapa sanksi terhadap Teheran setelah mantan Presiden Donald Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir antara Iran dan kekuatan dunia.

Proyek yang dimulai tahun 2019 diperkirakan menelan biaya sekitar 2 miliar dolar AS itu, membantu Iran mengurangi ketergantungan pada terminal ekspor minyak utamanya di pulau Kharg, Teluk Persia.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh, menyampaikan pidato saat peresmian terminal minyak Jask di ibu kota Teheran, 22 Juli 2021. (AFP/Iranian Presidency)

Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh, menyampaikan pidato saat peresmian terminal minyak Jask di ibu kota Teheran, 22 Juli 2021. (AFP/Iranian Presidency)

Jalan pintas itu juga mengurangi biaya transportasi dan asuransi untuk kapal tanker minyak.

Fasilitas tersebut saat ini memungkinkan pemompaan sekitar 30.000 barel minyak mentah per jam ke kapal-kapal tanker, lewat dermaga lepas pantai yang mengapung. Dermaga itu terletak sekitar tujuh kilometer (4,7 mil) di lepas pantai. [mg/jm]

[ad_2]

Continue Reading

TIMUR TENGAH

Es Krim “Ben & Jerry’s” Hentikan Penjualan di Wilayah Pendudukan Tepi Barat

Es Krim “Ben & Jerry’s” Hentikan Penjualan di Wilayah Pendudukan Tepi Barat

[ad_1]

Es krim Ben & Jerry’s sangat populer di Israel dan Palestina. Perusahaan ini didirikan di negara bagian Vermont, AS pada tahun 1978 dan kini dimiliki jaringan perusahaan barang-barang konsumen Unilever.

Meskipun didirikan di AS, negara yang dianggap bersahabat dengan Israel, namun perusahaan ini tidak segan menerapkan prinsip-prinsip kemanusiaan dalam praktik penjualannya.

Ben & Jerry’s sebagaimana dilaporkan kantor berita Associated Press sebelumnya mengatakan penjualan es krimnya di wilayah pendudukan Tepi Barat, yang dituntut oleh Palestina sebagai negara mereka kelak, tidak konsisten dengan nilai-nilai yang dianutnya.

Pengumuman tersebut merupakan salah satu teguran yang paling keras dan paling menonjol dari perusahaan terkenal, terkait kebijakan Israel yang menempatkan warganya di daerah pendudukan, yang direbut Israel melalui perang.

Pabrik es krim Ben & Jerry's di Beer-Tuvia, Israel (foto: dok).

Pabrik es krim Ben & Jerry’s di Beer-Tuvia, Israel (foto: dok).

Menurut pernyataan yang dipasang di situs web perusahaan, Ben & Jerry’s memberi tahu pemegang lisensi lama yang bertanggung jawab untuk memproduksi dan mendistribusikan es krim di Israel bahwa perusahaan itu tidak akan memperbarui perjanjian lisensi ketika berakhir pada akhir tahun depan.

Pejabat dan penduduk Israel bereaksi marah terhadap pengumuman oleh perusahaan es krim Ben & Jerry’s setelah mengatakan akan berhenti menjual produknya di Tepi Barat yang diduduki Israel dan memperebutkan Yerusalem timur.

Yossi Dagan, kepala Dewan Regional Samaria, yang mewakili pemukiman di Tepi Barat utara meminta pelanggan untuk memboikot Unilever.

Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid menyebut keputusan itu sebagai sikap menyerah yang memalukan terhadap pihak-pihak yang anti-Yahudi

Banyak perusahaan bersikap lunak terkait kebijakan politik, karena khawatir akan kehilangan pelanggan, tapi pembuat es krim ini justru mengambil pendekatan yang berlawanan, yang kerap dianggap sebagai mendukung upaya-upaya progresif. [my/jm]

[ad_2]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close